Liverpool vs Chelsea: Bukan Sekadar Van Dijk dan Lukaku

Ilustrasi: Arif Utama

Ini adalah duel grande antara dua tim yang punya sistem hebat dalam urusan bertahan dan menyerang. Siapa yang akan jadi pemenang?

Semua menunjuk duel Virgil van Dijk vs Romelu Lukaku ketika berbicara tentang laga Liverpool vs Chelsea pada akhir pekan nanti. Dua sosok ini memang sedang panas.

Virgil van Dijk kembali dari cedera dan tampil penuh di dua laga awal musim ini. Dari dua laga itu, Liverpool tak pernah kebobolan. Tak cuma itu, performa Van Dijk juga baik dan memberikan impak baik buat permainan Liverpool. Tak cuma dalam hal bertahan, tapi juga menyerang.

Sementara Lukaku baru menjalani debut bersama Chelsea dalam laga vs Arsenal akhir pekan kemarin. Menariknya, dalam laga itu, Lukaku langsung bisa mencetak satu gol. Secara keseluruhan performanya gemilang sampai-sampai WhoScored memberikan ponten 8,2 (tertinggi kedua di Chelsea) buatnya.

Memang, duel Van Dijk vs Lukaku akan menarik untuk disimak. Terlebih ini duel seimbang dalam aspek fisik dan performa. Namun, duel Liverpool vs Chelsea bukan hanya tentang dua pemain ini. Ada banyak aspek menarik, menyoal taktik, yang juga layak mendapat perhatian.

***

Liverpool Telah Kembali

Musim lalu, Liverpool takluk 0-1 dari Chelsea di Anfield. Saat itu, mereka memang menguasai jalannya pertandingan, tapi tak mampu menciptakan satu gol pun. Bahkan angka expected goal (xG) Liverpool di laga itu hanya 0,3. Ya, 0,3. Tak ada peluangnya.

Musim ini, mereka boleh berharap akan meraih hal berbeda. Serangan-serangan Liverpool yang melempem musim lalu sudah terlihat kembali jika kita merujuk dua laga awal Premier League musim ini. Per Fbref, Liverpool mencatat xG 5,0 dan dari situ mereka mampu mencetak lima gol. Peluang ada dan bisa diselesaikan secara klinis.

Jika ditelaah lebih jauh, penyebabnya tentu saja karena sistem permainan Liverpool sudah kembali seiring dengan pulihnya para pemain andalan. Salah satunya tentu saja kehadiran Van Dijk.

Pada artikel Liverpool sebelumnya, kami sudah bilang bahwa kehadiran Van Dijk mampu membuat serangan Liverpool lebih cepat. Umpan panjangnya bikin Liverpool bisa mem-by-pass lini tengah, sehingga bola langsung tiba di area sepertiga akhir lawan.

Foto: Premier League Panel

Plusnya lagi, ketika bola diterima pemain lain, tim lawan belum merapatkan barisan pertahanan. Bisa masih dalam mode mid/high block. Artinya, pemain depan Liverpool tak inferior dalam hal jumlah. Dengan kualitas individu masing-masing pemain yang di atas rata-rata, serangan pun jadi makin berbahaya.

Kembalinya Van Dijk, dan juga Joel Matip, juga membuat dua full-back Liverpool lebih leluasa dalam menyerang. Bahkan Trent Alexander-Arnold tak cuma bisa mengokupasi flank depan saja, tapi ia juga bisa bergerak ke half-space sesukanya. Ia tak perlu takut areanya diserang balik karena pemain yang akan mengover punya kualitas.

Ada Matip, Jordan Henderson, dan juga Fabinho yang siap mengover area yang ditinggalkan Alexander-Arnold. Makanya tak heran kalau sejauh ini ia sudah mencatatkan satu assist dan jadi pemain dengan jumlah umpan kunci terbanyak di Premier League (total 10).

Foto: The Athletic

Di sisi kiri, Kostas Tsimikas juga sudah mengoleksi sebiji assist dan melepaskan lima umpan kunci sejauh ini. Meski terhitung sebagai debutan karena tak pernah jadi starter sama sekali musim lalu, Tsimikas mampu menjalankan tugas dengan baik dan memberikan dimensi serangan tersendiri buat Liverpool.

Ketika dua full-back-nya sudah bebas menyerang, Anda tahu betapa mengerikannya Liverpool 'kan? Keduanya bisa memaksimalkan celah di antara bek dan wing-back Chelsea, terutama di sisi kiri mengingat Marcos Alonso sering naik terlalu jauh dan lamban dalam bertahan.

Belum lagi pergerakan Sadio Mane, Mohamed Salah, dan Diogo Jota di lini depan juga makin cair. Ketiganya bisa saling bertukar posisi. Salah dan Mane bisa kapan saja jadi penyerang tengah. Jota pun acap kali tiba-tiba menjadi penyerang sayap. Ini jelas bisa membingungkan lawan.

Salah kanan, Mane tengah, Jota kiri. Foto: Youtube LFC

Soal pertahanan, mereka juga cukup baik. Kendati lawan-lawannya berhasilkan mencatat 2,1 xG, Liverpool sama sekali belum pernah kebobolan. Lagi-lagi, faktor kembalinya Van Dijk dan Matip yang jadi penyebab. Selain itu, kembalinya Fabinho ke pos gelandang bertahan juga membuat lini pertahanan punya perisai yang baik.

Namun, bukan berarti Liverpool tanpa cela. Garis pertahanan tinggi mereka masih bisa dieksploitasi lewat umpan-umpan terobosan. Beberapa kali Burnley dan Norwich, lawan mereka sebelumnya, mampu mendapatkan peluang dari situasi tersebut.

Mengingat Chelsea punya pemain-pemain depan yang licin dan cepat, Liverpool harus ekstra waspada bila tak mau gawangnya kebobolan untuk pertama kali musim ini. Terlebih, soal menyelesaikan peluang Chelsea adalah jagonya.

Chelsea yang Klinis

Ya, soal keklinisan dalam menyelesaikan peluang, Chelsea adalah salah satu yang terbaik di Premier League. Musim ini, dari xG yang cuma 3,8, mereka berhasil mencetak lima gol. Sekecil apa pun peluang mampu diselesaikan dengan baik oleh Lukaku dkk.

Rahasianya ada pada sistem menyerang yang diterapkan Thomas Tuchel. Dengan pola 3-4-2-1 andalannya, Tuchel bisa membuat Chelsea menyerang dengan punya lima pemain di garda terdepan. Shape akan membentuk pola 3-2-5. Dan yang bikin spesial, jarak antarpemain tidak terlalu jauh.

Foto: The Athletic

Itu memudahkan Chelsea dalam mengalirkan bola. Artinya, akan selalu ada opsi dalam setiap serangan mereka. Serangan tidak mudah putus, penguasaan bola jalan terus. Makanya jangan heran dengan fakta bahwa Chelsea, sejauh ini, adalah tim dengan rerata penguasaan bola tertinggi kedua di Premier League (59,9%).

Biasanya serangan Chelsea akan berpusat di kedua wing-back mereka. Alonso di kiri dan Reece James di kanan akan memaksimalkan kelebaran untuk membuat pertahanan lawan renggang. Dari situ, dua gelandang serang akan mengokupasi half-space dan berupaya menarik bek tengah lawan agar menimbulkan ruang yang lebih kosong di kotak penalti.

Jalur serangan Chelsea. Dominan lewat samping. Grafis: WhoScored

Situasi ini ideal untuk menghadapi tim yanng main dengan empat bek seperti Liverpool. Jika saja Kai Havertz, Mason Mount, atau siapa pun yang nanti diturunkan bisa menarik Van Dijk dan Matip untuk keluar dari shape-nya, maka Chelsea punya peluang besar untuk bisa menghukum Liverpool.

Kehadiran Lukaku juga jelas amat berpengaruh. Ia bisa jadi pemantul yang mampu menciptakan ruang buat pemain lain. Selain itu, ia juga bisa menggaransi satu bek lawan ketarik untuk menempelnya, seperti kasus Pablo Mari di laga vs Arsenal yang dibuat tidak berdaya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Lukaku punya fisik yang ideal untuk berduel dengan dua bek Liverpool, Van Dijk dan juga Matip. Jika dalam kondisi sempurna, ia akan sulit dihetikan. Terlebih kemampuan Lukaku dalam mengendus ruang kosong di kotak penalti lawan juga semakin membaik.

Bahkan di laga vs Arsenal, ia mampu mencatat xG sebesar 1,44. Angka itu adalah yang tertinggi dibanding pemain Premier League lainnya. Semua peluang itu diciptakan Lukaku di dalam kotak penalti lawan. Jelas lawan sepadan buat bek-bek tangguh Liverpool.

Nah, menyoal pertahanan, Chelsea sejauh ini jadi tim yang paling jarang diserang lawan. Dari dua laga awal, lawan-lawannya cuma mampu membuat xG 0,6. Itulah alasan mengapa Chelsea belum pernah kebobolan. Sistem pertahanan mereka rapat, sulit ditembus.

Salah satu penyebabnya juga sistem 3-2-5 itu tadi. Dengan banyaknya pemain di depan, Tuchel selalu menginstruksikan anak asuhnya untuk bisa secepat mungkin merebut bola dari lawan. Chelsea mencatatkan 90 pressing di sepertiga akhir pertahanan lawan sejauh ini dan itu membuat mereka sulit diserang.

Namun, lawan yang mereka hadapi kali ini memang lebih baik dari dua lawan sebelumnya. Chelsea juga harus ekstra waspada. Terutama di celah-celah kosong yang ditinggalkan para wing-back mereka. Itu bisa dimanfaatkan betul oleh Liverpool yang punya kepekaan sangat bagus terhadap ruang.

Selain itu, jika Kante tak bisa tampil 90 menit, Chelsea juga kudu waspada karena Jorginho dan Kovacic akan menghadapi lawan yang tak kalah tangguh. Henderson, Fabinho, dan Keita atau Thiago cukup jago soal urusan duel dan mampu mendistribusikan bola dengan cepat.

Dua gelandang tengah Chelsea harus lebih disiplin dan mungkin pelanggaran-pelanggaran 'kotor' untuk memutus serangan Liverpool diperlukan. Karena jika saja mereka terlewati, maka lini pertahanan akan menghadapi ancaman yang sangat serius.

***

So, ini memang bukan sekadar duel Van Dijk vs Lukaku. Ini adalah duel grande antara dua tim yang punya sistem hebat dalam urusan bertahan dan menyerang. Kebetulan, sistem itu sama-sama sedang berapi-api karena kedatangan pemain-pemain terbaiknya.

Karena itu, laga ini akan sangat menarik untuk disimak. Dan jika bicara soal siapa yang akan menang, maka kita akan berbicara soal siapa yang mampu menjinakkan sistem lawan dengan sempurna. Saat ini, sih, Liverpool dan Chelsea punya peluang sama kuat untuk melakukannya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.