Manusia Es yang Meleleh

Foto: Instagram @victorlindelof.

Sebagai bek tengah, Victor Lindeloef memang piawai memberikan operan. Namun, itu tak lantas jadi satu-satunya pertimbangan untuk memainkannya sebagai holding midfielder.

Oleh teman-temannya, Victor Nilsson Lindeloef dijuluki ‘Manusia Es’. Belakangan, dia berada dalam situasi yang cukup bikin gerah dan perlahan-lahan membuatnya meleleh: Kehadiran Raphael Varane.

Sebagai bek tengah, Varane membuat lini tengah United naik satu level. Ini bukan bicara soal permainan di atas lapangan saja, melainkan aspek-aspek non-teknis lainnya. Sebelum pertandingan debutnya melawan Wolverhampton Wanderers, bek asal Prancis itu tertangkap kamera tengah memberikan instruksi (atau mungkin masukan) kepada rekannya di sisi kanan, Aaron Wan-Bissaka.

Sebagai bek peraih gelar juara La Liga, Liga Champions, dan Piala Dunia, Varane tidak cuma punya CV mentereng, tetapi juga pengalaman segudang. Ketika ada seseorang seperti dia menjelaskan dengan seksama, sudah sepatutnya yang lebih hijau manggut-manggut mendengarkan.

Ketangguhan Varane terbukti dengan sendirinya. Pada pertandingan melawan Newcastle United di Old Trafford, Sabtu (11/9/2021), bek asal Prancis itu betul-betul menjadi benteng. Dari 8 duel yang ia hadapi (3 ground duels, 5 aerial duels), seluruhnya berhasil ia menangi.

Tak hanya itu, Varane juga melepaskan 5 operan panjang sukses dari 5 percobaan. Kehadirannya memudahkan United untuk melakukan progresi bola dari lini belakang lewat dua cara berbeda, yakni dengan Harry Maguire sebagai carrier (penggiring bola) dan Varane sebagai passer (pemberi operan).

Dengan keberadaan kedua bek tengah tersebut, United menjadi lebih berani untuk menaikkan garis pertahanan. Sky Sports baru-baru ini melansir sebuah statistik yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan empat musim sebelumnya, United memulai sebuah passing sequence dari sebuah open play lebih tinggi daripada sebelum-sebelumnya, yakni 45,4 meter dari gawang.

Sampai di sini, United sesungguhnya sudah mendapatkan pasangan bek tengah yang cukup menguntungkan mereka. Terlebih, Solskjaer, menurut laporan ESPN, memang berniat untuk memainkan sistem yang lebih agresif. Ini ditandai dengan makin tingginya garis pertahanan mereka tersebut.

Satu-satunya persoalan adalah duet Maguire dan Varane baru mendapatkan 1 clean sheet pada Premier League musim ini. Ini, tentu saja, bukan sepenuhnya salah mereka. Melihat United gampang betul diterobos lawan karena transisi yang buruk dari fase menyerang ke bertahan, persoalan ini lebih tepat ditujukan kepada sistem permainan United ketimbang menyorot Maguire atau Varane.

Duet tersebut bertahan selama beberapa laga sampai akhirnya Maguire cedera pada pertandingan melawan Aston Villa di Old Trafford, Sabtu (25/9/2021). Penggantinya adalah Lindeloef yang semenjak Varane bergabung seperti terlupakan begitu saja.

Sebagai bek tengah, Lindeloef sesungguhnya bukanlah pemain yang buruk. Malah, ia punya segala modal untuk menjadi seorang bek tengah modern. Selain peka terhadap penempatan posisi, Lindeloef piawai melepas umpan. Ia bisa menjadi pangkal dari bangunan serangan United atau pemberi umpan direct dari lini belakang.

Assist yang ia berikan kepada Bruno Fernandes pada pertandingan melawan Leeds United, 14 Agustus 2021, adalah salah satu contohnya. Lindeloef, yang naik hingga ke middle third, melepaskan umpan panjang ke arah kotak penalti Leeds, yang kemudian disambar Fernandes dengan sepakan voli.

Kepiawaian Lindeloef dalam mengirimkan operan itulah yang kemudian membuat sejumlah pendukung United merasa bahwa ia layak dicoba untuk bermain di pos baru, yakni sebagai gelandang bertahan dengan role sebagai holding midfielder. Catatan statistik Lindeloef pun ikut mengatakan bahwa ia adalah pemberi operan yang bagus.

Menurut Fbref, akurasi operan bek asal Swedia itu rata-rata mencapai 90,9% per 90 menit dalam 365 hari terakhir. Selain itu, ia rata-rata membuat 7,17 umpan panjang sukses per 90 menit dan membuat rata-rata 3,31 umpan ke final third per 90 menit. Tidak buruk untuk ukuran seorang bek tengah.

Persoalannya, menjadi seorang bek tengah dan menjadi gelandang bertahan yang mendapatkan role sebagai holding midfielder betul-betul berbeda. Menjadi seorang holding midfielder bukan perkara piawai memberikan operan saja, tetapi juga bisa menjadi pelindung yang baik bagi lini pertahanan.

United pernah memiliki seorang holding midfielder jempolan pada diri Michael Carrick. Ia tidak hanya bagus dalam memberikan operan—entah itu untuk sirkulasi bola atau progresi bola dalam membantu membangun serangan—tetapi juga disiplin dalam menjaga area yang wilayah tugasnya.

Pada 2013, Gary Neville pernah menganalisis pergerakan Carrick pada sebuah pertandingan melawan Tottenham Hotspur. Dalam video analisis tersebut, terlihat bagaimana jitunya penempatan posisi Carrick sehingga ia bisa menutup ruang hanya dengan satu atau dua langkah saja, lalu merebut bola dari lawan.

Tak jarang pula, Carrick meladeni duel satu lawan satu sembari mempertahankan area yang sedang ia jaga. Karena kecerdasan dalam menempatkan posisi dan membaca pergerakan lawan, Carrick pun tampil efisien.

Lindeloef, di sisi lain, memang memiliki penempatan posisi yang relatif bagus. Namun, area yang di-cover oleh seorang bek tengah berbeda dengan area yang di-cover oleh seorang holding midfielder. Terlebih, jika ia harus menjadi seorang gelandang bertahan tunggal, bukan sebagai salah satu poros ganda dalam formasi 4-2-3-1.

Salah satu alasan Solskjaer membidik seorang gelandang bertahan yang bisa memainkan peran holding midfielder adalah keinginannya untuk bermain dengan 4-3-3. Pada sebuah wawancara, ia menjabarkan bahwa pemain yang ia bidik mestilah memiliki kemampuan yang komplet. Ia mesti bisa bertahan dan menyerang serta menggiring dan mengoper bola dengan sama baiknya, seperti halnya Bryan Robson pada masa lalu.

Ini menjelaskan mengapa Solskjaer amat kepincut dengan Declan Rice, kendati laporan teranyar menyebutkan bahwa sejumlah staf United menyarankan si pelatih kepala untuk pikir-pikir lagi. Pasalnya, mereka tak yakin Rice adalah pemain yang pas untuk membawa United naik satu level.

Dengan niat Solskjaer dan United untuk bermain dengan satu gelandang bertahan, Lindeloef bisa jadi bukanlah orang yang tepat untuk menambal pos tersebut sembari menunggu pemain yang betul-betul dibutuhkan datang. Selain harus meng-cover area yang lebih luas, Lindeloef acap kesulitan ketika ditantang duel satu lawan satu, terutama oleh pemain yang doyan beradu fisik.

***

Pada sebuah hari di pengujung tahun 2020, Lindeloef duduk di sebuah ruangan dan meladeni beberapa pertanyaan dari seorang wartawan. Di belakangnya, lapangan latihan United terhampar luas. Ia sepertinya baru saja menyelesaikan sebuah sesi latihan dengan tim.

Salah satu pertanyaan yang diloncarkan si jurnalis adalah persoalan julukannya, The Iceman alias Si Manusia Es. Usut punya usut, julukan tersebut tidak ada hubungannya dengan permainannya atau raut mukanya yang kadang nyaris tanpa ekspresi. Lindeloef mendapatkan julukan itu karena ia dulu bermain hoki es.

“Aku suka bermain hoki es. Aku dan saudara laki-lakiku sama-sama menyukainya. Kalau aku terlahir lagi di dunia yang berbeda, mungkin aku bakal mencoba jadi pemain hoki es profesional,” kata Lindeloef.

Suatu ketika Manchester dihantam badai es, membuat salju menumpuk selama berhari-hari dan air membeku. Bagi Lindeloef, itu adalah kesempatan yang bagus untuk menunaikan hobinya yang tak sering ia lakukan lagi begitu pindah ke Inggris. Ia mengeluarkan sepatu luncurnya, lalu bermain di atas lapisan es.

“Tidak ada es di sini selama beberapa waktu, jadi menyenangkan rasanya bisa keluar dan berseluncur sekali lagi,” ucapnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.