Maraton Peter Schmeichel

Ilustrasi: Arif Utama.

Sebelum menjadi kiper besar bersama Manchester United dan memperkuat berbagai klub lain termasuk Manchester City, Peter Schmeichel melalui maraton yang cukup panjang.

Sebelum saya bercerita soal Peter Schmeichel, izinkan saya sedikit berceloteh soal Shizō Kanakuri.

Kanakuri lahir pada 1891 di Kumamoto, sekitar dua dekade setelah era Meiji—era yang menjadi awal modernisasi Jepang—bermula. Kelak, Kanakuri dikenal sebagai ‘Bapak Maraton Jepang’, tetapi sebelum itu ada cerita yang membuatnya dikenang sampai akhir hayat.

Pada November 1911, beberapa bulan sebelum berlangsungnya Olimpiade Stockholm 1912, Kanakuri menorehkan rekor dunia 2 jam, 32 menit, dan 45 detik pada trial maraton pada kualifikasi domestik. Dengan catatan itu, Kanakuri berhak mewakili Jepang di Olimpiade Stockholm.

Bagi (rakyat) Jepang, Olimpiade ketika itu belumlah menjadi sesuatu yang besar. Belum menjadi event yang teramat penting. Maka, atlet yang dikirim ke perhelatan olahraga terakbar dunia itu pun tak banyak, cuma 2 orang dan Kanakuri adalah salah satunya.

Perlu waktu 18 hari bagi Kanakuri dan rekannya, Yahiko Mishima, untuk sampai ke Stockholm. Pertama lewat jalur laut dengan kapal, lalu dengan menaiki kereta Trans-Siberia. Lelah, letih, habis. Sampai di Stockholm, Kanakuri butuh waktu lima hari untuk pulih, meski tidak sepenuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Kanakuri tetap memutuskan untuk berlomba. Apes, suhu hari itu begitu terik dan tidak ada yang menyangkanya. Menurut beberapa laporan, sejumlah atlet maraton lain mengalami hyperthermia gara-gara suhu panas tersebut.

Kanakuri akhirnya juga roboh. Kombinasi kelelahan akibat perjalanan jauh, makanan yang tidak cocok, dan suhu panas membuatnya berhenti di tengah jalan. Ia baru bisa pulih setelah mendapatkan perawatan dari keluarga yang merupakan penduduk lokal.

Sadar bahwa ia telah membuat negaranya malu, Kanakuri memilih untuk pulang diam-diam ke Jepang tanpa mengabari ofisial lomba. Maka, tak ada yang tahu keberadaan Kanakuri begitu lomba tersebut selesai.

Sejumlah suratkabar lokal memberitakan bahwa Kanakuri berhenti di tengah jalan karena kelelahan. Namun, karena tidak ada catatan resmi bahwa ia sampai ke garis finis, bermacam-macam cerita pun beredar di Swedia sana.

Salah satunya adalah kisah (yang dianggap) humoris mengenai “seorang pelari asal Jepang yang hilang di tengah jalan”.

Shizō Kanakuri. Foto: Wikimedia Commons.

***

Jauh sebelum menjadi salah satu kiper terbaik dunia, Peter Schmeichel melakoni apa yang Harrisson Ford lakukan sebelum terkenal sebagai Han Solo. Jika Ford menjadi tukang kayu, pekerjaan Schmeichel lebih serabutan lagi.

Pertama-tama ia bekerja di pabrik tekstil, lalu menjadi tukang bersih-bersih di panti jompo, dan terakhir bekerja kantoran untuk WWF (World Wildlife Fund) sebagai store manager. Namun, jalan akhirnya menuntunnya sebagai pesepak bola profesional.

Di Hvidovre, Schmeichel belajar menelan pahit. Ia melakukan semua yang ia bisa sebagai seorang penjaga gawang, mulai berlatih dengan tekun, mengasah fisiknya, hingga berulang kali lompat dan jatuh untuk menyelamatkan gawangnya.

Namun, ada kalanya usaha mengkhianati hasil. Terlepas dari keberhasilan Schmeichel mempertahankan gawangnya hingga mencatatkan rekor 40 kebobolan dalam 30 laga—tidak terlalu impresif, tapi jelas tidak buruk juga—Hvidovre terdegradasi pada 1985.

Schmeichel berang. Ia protes kepada pelatihnya karena merasa sudah berusaha sebaik-baiknya untuk tim. Di kepalanya, timnya-lah yang gagal karena tidak mampu mengeluarkan segenap kemampuan—dan itulah yang menjadi pangkal kegagalan.

Beruntung, sang pelatih tak ikut-ikutan panas. Alih-alih begitu, ia mengajak Schmeichel untuk memikirkan duduk persoalan secara baik-baik. Di mata sang pelatih, masih ada aspek yang bisa Schmeichel asah dan menjadi kunci penting bagi progresi tim.

Kendatipun bagus dalam melakukan penyelamatan, Schmeichel dianggap masih terlalu satu dimensi oleh sang pelatih. Ia seperti terkungkung di antara dua tiang dan satu mistar yang memang menjadi area kerja utamanya.

Padahal, seorang kiper bisa bekerja lebih dari sekadar mengamankan gawang. Jika ia mau, ia bisa mengontrol dan memberikan instruksi kepada lini belakang yang ada di hadapannya. Dengan begitu, gawang Schmeichel mendapatkan proteksi ganda: Pertama dari kemampuan teknisnya, kedua dari organisasi pertahanan rapi yang ikut ia kontrol.

Schmeichel adalah pria tinggi-besar. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ia selalu mengenakan kostum berukuran XXXL. Ketika berhadapan dengannya di mulut gawang, kamu bisa menemukan pria bertinggi 191 cm dengan rentang tangan yang begitu lebar.

Dengan fisik yang seperti itu tak heran apabila Schmeichel betul-betul memanfaatkannya untuk sebisa mungkin mengadang bola masuk ke dalam gawang. Lewat tinggi badan dan jangkauan tangannya yang lebar, ia seperti menutupi gawang.

Namun, bukan itu saja yang menjadi kepiawaiannya. Terlepas dari tubuhnya yang besar, Schmeichel juga diberkahi dengan refleks yang bagus dan kelincahan. Ini memungkinkannya untuk melompat dengan luwes dan menjangkau bola yang diarahkan ke tiang jauh.

Ketika pemahamannya akan sepak bola kian menyeluruh, Schmeichel pun menjadi penjaga gawang yang lebih baik. Ia menjadikan seluruh boks sebagai sebuah benteng dengan dirinya berlagak seperti jenderal yang tak henti-hentinya meneriakkan komando.

Eks bek Manchester United, Gary Pallister, sampai merasa gerah diteriaki Schmeichel dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Namun, ingin protes pun tidak bisa. Lagi pula, salah satu kunci keberhasilan pertahanan United kala itu bukan hanya duet Pallister dan Steve Bruce, tetapi juga Schmeichel dengan bekal komando dan kemampuan teknisnya.

Pada tahun 2000, Sir Alex Ferguson menyebut bahwa Schmeichel adalah ‘bargain of the century’ karena ia membelinya dengan harga relatif murah pada 1991. Cukup dengan £505 ribu saja.

Ketika itu, Schmeichel belum terlalu terkenal di luar Denmark sampai akhirnya ia menjadi bagian dari ‘Tim Dinamit’ yang menjuarai Piala Eropa 1992. Bagi Ferguson, harga tersebut tak seberapa jika dibandingkan dengan paket komplet yang ia terima dari Schmeichel.

Salah satu kemampuan tak kasat mata yang mesti dimiliki seorang kiper adalah bagaimana ia bisa memberikan rasa aman kepada barisan bek di depannya. Kemampuan tersebut, tentu saja, tak hanya bisa hadir dari kemampuan teknis, tetapi juga caranya mengontrol lini belakang.

Jika semua itu terpenuhi, presence (hawa kehadiran) seorang penjaga gawang bakal amat terasa. Schmeichel, tentu saja, tidak melulu merasakan pasang. Ia pernah mengenal surut dan gawangnya berulang kali bobol dalam satu laga. Namun, karena presence dan karakter yang ia miliki, tak ada yang bisa membantah bahwa ia adalah salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah ada.

Kita kemudian bisa mengingatnya baik-baik lewat berbagai momen: Penyelamatannya yang seperti bintang laut (dengan merenggangkan kaki dan tangan untuk menutupi gawang), lompatannya yang tinggi ketika hendak menangkap bola, sampai kemampuannya menginisiasi serangan balik lewat lemparan yang bisa menjangkau nyaris setengah lapangan.

Untuk mencapai semua itu, Schmeichel melalui jalan-jalan yang sama sekali tidak mulus. Ia harus berpeluh keringat bergonta-ganti kerjaan demi mendapatkan uang, menghadapi ayah yang ternyata alkoholik, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi ayah yang sama terhadap Kasper yang kelak juga menjadi kiper peraih gelar juara Premier League.

Ketika ia mencapai garis finis, dengan sederet trofi dan segudang pengalaman bermain untuk United, Sporting CP, Aston Villa, dan Manchester City, Schmeichel cuma bisa menoleh dan melihat apa-apa saja yang pernah ia temui di sepanjang perjalanannya.

***

Setelah urung menyelesaikan balapannya pada 1912, Kanakuri sempat berlomba lagi pada Olimpiade 1920 dan 1924. Ia menahbiskan diri sebagai salah satu pionir maraton di Jepang. Pada 1967, Kanakuri mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah tertunda selama hampir 55 tahun.

Pada usia 75 tahun, ia hidup nyaman bersama keluarganya di Tamana, Kumamoto, dan telah dikenal sebagai ‘Bapak Maraton Jepang’ karena menginisiasi Hakone Ekiden, sebuah perlombaan relay marathon yang masih diselenggarakan sampai saat ini, pada 1920. Kendati begitu, masih ada cerita yang belum tuntas.

Sebuah stasiun televisi di Swedia memintanya untuk menyelesaikan lomba yang sudah tertunda sejak 1912, membuatnya masuk ke dalam Guinness World Record sebagai orang yang paling lama menyelesaikan sebuah maraton.

Untuk mencapai garis finis tersebut, Kanakuri membutuhkan waktu 54 tahun, 249 hari, 5 jam, 32 menit, dan 20,3 detik. Di ujung jalan setelah ia melewati garis finis itu, Kanakuri meninggalkan sebuah ucapan menarik.

“Sungguh sebuah lomba yang panjang. Sepanjang perjalanan, aku sempat menikah, memiliki 6 anak, dan 10 cucu.”

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.