Marcos Llorente Bukan 'Real Madrid Reject'

Foto: Twitter @marcosllorente.

Tumbuh dan dikelilingi keluarga yang mengabdi buat Real Madrid, Marcos Llorente justru mengambil langkah berbeda. Dia menyeberang ke Atletico Madrid dan menjadi besar dengan sendirinya.

"Mereka selalu mengatakan kepadaku bahwa aku sangat mirip dengan kakekku ketika aku bermain bola dan ketika aku memberikan semua yang kupunya di lapangan."

Marcos Llorente masih remaja saat mengucapkan itu. Meski begitu, dia tak sedang berkelakar. Keluarganya memang begitu lekat dengan sepak bola dan mereka ini bukan pemain kaleng-kaleng.

Kakeknya dari sang ibu, Ramon Moreno Grosso, merupakan salah satu striker legendaris Real Madrid. Dia bermain di sana dari pertengahan 1960-an sampai 19 70-an dengan total 265 pementasan.

Grosso bahkan berhasil menjadi topskorer Madrid pada dua musim pertamanya. Ia mengalahkan jagoan-jagoan El Real kala itu: Amancio Amaro, Ferenc Puskas, dan Francisco "Paco" Gento Lopez.

Sebagai gambaran, Amaro adalah bomber andalan Madrid dan Spanyol. Penyabet dua gelar El Pichichi itu sukses membawa 'Tim Matador' menjuarai Piala Eropa pada edisi 1964.

Puskas jangan ditanya. Legenda Hongaria tersebut berhasil mempersembahkan 5 titel La liga dan 3 trofi European Cup (sekarang Liga Champions) buat Madrid.

Sementara itu, Gento lebih "gila" lagi. Nyaris 2 dekade dia mengabdi buat Madrid dan dari situ pula Gento mengukuhkan diri sebagai pemain dengan gelar La Liga (12) dan Liga Champions (6) terbanyak.

Menariknya, Gento juga masih punya hubungan saudara dengan Grosso. Kalau dirunut, Llorente adalah keponakan Gento.

Tak berhenti sampai di situ, Ayah Llorente, Francisco "Paco" Llorente Gento, juga merupakan personel Madrid dengan lebih dari 100 pementasan. Paco sempat mencicipi 3 titel La Liga di Santiago Bernabeu kendati akhirnya kalah bersaing dengan Michel, Hugo Sanchez, dan Emilio Butragueno di lini depan.

Namun, pohon keluarga yang rimbun itu tak menyelamatkan Llorente. Alih-alih mengorbitkannya, Madrid justru melepasnya ke sang tetangga, Atletico Madrid.

Sebenarnya, keputusan Los Blancos itu bisa diwajarkan. Pasalnya, mereka masih punya trio Casemiro, Luka Modric, dan Toni Kroos di area sentral. Belum lagi dengan James Rodríguez dan Federico Valverde. Makin sempit saja kans Llorente menembus pos gelandang reguler di Madrid.

Toh, menyeberang ke Atletico tak membuat Llorente berdosa. Agen yang juga pamannya sendiri, Julio Llorente, telah mempertimbangkan transfer ini matang-matang.

Lagipula ayah Llorente, Paco, pernah membela Atletico sebelum Madrid menebus klausul pelepasannya pada 1987. Pun demikian dengan kakeknya. Grosso muda kala itu sempat dipinjamkan ke Los Colchoneros pada musim 1963/64 sebelum akhirnya mejadi andalan Madrid.

"Seluruh keluarga kami adalah Madridistas. Namun, di sinilah Marcos berdiri, kembali hidup dan membuat sejarah untuk sisi lain kota Madrid," kata Jose kepada Marca.


Berbeda dengan Madrid, Atletico punya urgensi lebih kepada Llorente. Karakteristiknya dianggap cocok untuk memenuhi kebutuhan gelandang box-to-box Diego Simeone. Terlebih mereka baru saja melepas Rodri ke Manchester City.

Dari segi taktik, Simeone menggunakan pakem dasar 4-4-2 yang unik. Pada praktiknya empat gelandangnya itu asimetris alih-alih sejajar. Satu di antaranya bertugas untuk menyisir sisi tepi--antara Angel Correa, Yannick Carrasco, dan Thomas Lemar--sedangkan tiga lainnya beroperasi di tengah. Musim lalu, Simeone mengandalkan Koke, Saul Niguez, dan Thomas Partey.

Betul bahwa komposisi semacam ini membuat sisi sentral ke belakang begitu stabil. Pasalnya, ketiga gelandang di atas memiliki atribut defensif yang mumpuni. Meski demikian, hal tersebut memengaruhi agresivitas Atletico karena hanya satu pemain tengah yang aktif membantu aksi ofensif.

Problem untuk membantu lini serang itu makin kentara setelah Antoine Griezmann cabut ke Barcelona. Joao Felixm yang diplot sebagai penggantinya, juga lumayan sering cedera. Alhasil, cuma Alvaro Morata yang jadi sandaran Atletico untuk urusan gol. Jadi jangan heran kalau Atletico cuma mampu memproduksi 51 gol pada akhir edisi 2019/20. Dengan raihan itu, Atletico menempati peringkat ketujuh di antara seluruh kontestan La Liga dalam hal agresivitas gol.


Well, Llorente memang belum bisa berkontribusi banyak pada musim perdananya itu. Penampilannya di pramusim pun jauh dari kata mengesankan: Dikartu merah saat uji tanding versus Guadalajara dan tampil buruk saat bersua Juventus.

Rapor merah itu membuat Llorente tak langsung dilirik Simeone. Dia lebih memilih Thomas sebagai tandem duo paten lini tengahnya, Saul dan Koke.

Namun, semua itu berubah pada pertengahan musim. Simeone mulai memberikan kepercayaan kepada Llorente. Puncaknya, ya, saat Atletico menyambangi sang juara bertahan, Liverpool, pada babak 16 besar Liga Champions.

Simeone menukar Llorente dengan Diego Costa di menit 56. Kebanyakan orang berpikir bahwa Atletico bakal bermain defensif setelah salah satu penyerangnya ditarik keluar.

Namun, kenyatannya tak demikian. Llorente justru bermain sebagai second striker, menjembatani lini tengah dengan Felix sebagai penyerang tunggal. Siapa pula yang menyangka Llorente-lah aktor kemenangan Atletico di Anfield. Dia mencetak 2 gol plus sebiji assist. Hebatnya lagi, kedua gol itu dibuatnya dengan tendangan dari luar kotak penalti.

Menariknya, Llorente sebelumnya tak pernah mencetak 2 gol sepanjang kariernya. Cuma 6 gol yang dibuatnya dari 160 pementasan atau 0,04 gol bila dirata-rata.

"Marcos sendiri tak pernah berpikir untuk bermain sebagai penyerang. Namun, setelah melihatnya berlatih, melihat kemampuan teknik dan fisiknya, serta kemampuannya dalam melepas tembakan, kami mempertimbangkan itu," terang Simeone.

***

Llorente bukanlah seorang penyerang. Dia sudah memulai bermain sebagai gelandang sejak masih berlaga di level junior. Ketika bermain sebagai pemain pinjaman di Deportivo Alaves pada 2016/17, ia juga bermain sebagai gelandang. 

Di sana, Mauricio Pellegrino memasangnya sebagai gelandang bertahan dalam wadah 4-2-3-1. Hasilnya tokcer, Llorente menjadi pemain Alaves dengan rata-rata tekel dan intersep tertinggi. Itu belum ditambah dengan suntikan dua assist-nya.

Makanya Madrid buru-buru memulangkannya semusim kemudian. Niatnya, sih, buat pelapis Casemiro. Namun, proyek itu cuma bertahan sampai musim panas 2019.


Dua gol di Anfield itu jadi titik balik Llorente. Semua orang kini tahu bahwa dia bukan sembarang gelandang, termasuk Simeone. Llorente sekarang menjadi pilihan utama di departemen gelandang Atletico.

Llorente kini jadi sosok yang komplet: Piawai dalam bertahan dan jago bikin gol. Selain meng-cover kepergian Thomas, Llorente juga mengatrol produktivitas Atletico yang terkenal minim.

Toleh saja rata-rata tekelnya menyentuh 1,4 per laga. Sebagai pembanding, torehan itu cuma kalah dari Kieran Trippier.

Produktivitas Llorente lebih bagus lagi. Wong, sudah 8 gol yang dibuatnya di La Liga atau terbanyak setelah Luis Suarez, sang topskorer tim.

Malah Llorente menjadi yang nomor wahid soal konversi peluang. Menurut catatan Understat, jumlah golnya itu berhasil didapat dari xG yang cuma 2,33. Artinya, surplus harapan golnya menyentuh 5,67--terbaik di antara seluruh pemain Atletico. Itu belum ditambah dengan torehan 7 assist yang membuatnya bercokol di daftar teratas La Liga bersama gelandang Levante, Jorge de Frutos.

Sekarang, Atletico berada di jalur juara. Mereka memimpin klasemen La Liga, mengungguli Madrid dengan margin tiga angka. Bila mereka benar-benar kampiun, sudah tahu kepada siapa bisa Simeone berterima kasih.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.