Mari Berbicara soal Jack Grealish

Twittter @Jack Grealish

Jack Grealish jadi sensasi. Tak hanya moncer bersama Aston Villa, dia juga tampil ciamik saat membela Timnas Inggris. Layak enggak, sih, menyebut Grealish sebagai winger terbaik Inggris saat ini?

"Itu adalah malam yang indah baginya. Dia melakukan hal-hal hebat saat jadi starter untuk kedua kalinya. Tidak diragukan lagi. Jack membuktikan pengalamannya masuk ke skuat Inggris, bekerja dengan pemain top. Anda tidak bisa meragukannya."

Begitu Roy Keane memuji Jack Grealish usai duel Inggris versus Republik Irlandia. Pujian ini tak sembarangan. Pertama, Irlandia adalah negara asal Keane. Kedua, eks kapten Manchester United itu punya mulut yang serampangan dan pelit pujian.

Ya, Grealish memang tampil molek malam itu. Tampil sebagai starter, dia jadi pemrakarsa gol Jadon Sancho pada menit 31. Itu merupakan satu dari tiga gol yang dibuat Inggris ke gawang Irlandia malam tersebut.

Ngomong-ngomong soal kiprah di Timnas, sebenarnya harum Grealish bersama Inggris sudah semerbak sejak 2016. Bersama Jordan Pickford, Ruben Loftus-Cheek, dan Ben Chilwell, dia sukses membawa tim asuhan Gareth Southgate itu jadi juara Turnamen Toulon.

Grealish juga sempat bermain untuk Timnas Irlandia Junior. Bahkan dia sukses menyabet titel individual sebagai pemain internasional terbaik di level U-17 dan U-21 versi Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI).

Sampai akhirnya Grealish memutuskan untuk membela Inggris. Namun, butuh waktu lama buatnya untuk debut bersama 'The Three Lions'. Grealish baru melakoni laga perdananya dua bulan lalu, saat Inggris melawan Denmark di UEFA Nations League.

Nah, laga versus Irlandia itu jadi yang ketiga buatnya. Gareth Southgate bahkan memasukkannya dalam duel versus Belgia akhir pekan lalu. Memang, Jordan Henderson cs. akhirnya takluk. Namun, performa Grealish tak bisa dibilang buruk. Persentase kesuksesan dribelnya jadi yang tertinggi di antara seluruh pemain. Torehan umpan kuncinya juga mencapai angka dua, cuma kalah dari Bukayo Saka.

Overall, Grealish sudah membukukan dua assist dalam empatcaps bersama Inggris. Not bad-lah, ya.

Eksistensi Grealish sebenarnya sudah mulai terendus sejak lima tahun ke belakang. Kala itu Aston Villa masih dibesut Tim Sherwood. 

Grealish sukses mengumpulkan satu gol dan dua assist dalam 17 penampilan di Premier League edisi 2015/16 itu. Perlu diingat, usianya saat itu belum menyentuh 20 tahun. Well, sebuah catatan yang mentereng bagi remaja yang mentas di Premier League dengan klub sekelas Villa.

Perlahan tetapi pasti, Grealish bertumbuh menjadi personel vital Villa. Puncaknya, ya, saat berhasil membawa The Villans promosi pada musim 2018/19. Betul, dengan sepatu bututnya yang ikonik itu.

Meski moncer, Grealish tak lantas terlepas dari kritik. Dia dianggap terlalu individualis, kelewat dominan dibanding rekan-rekan setimnya.

Tentu kita tak bisa menyalahkan Grealish soal itu. Salahkan saja Villa yang tak punya kreator serta algojo mumpuni. Itulah mengapa Dean Smith amat bertumpu kepada aksi individu Grealish untuk mendongkrak permainan tim.

Total delapan gol dan enam assist dicatatkan Grealish di Premier League musim lalu. Jumlah itu menjadi yang tertinggi di antara rekan-rekan setimnya.

Lantas, apakah Grealish se-individualis itu? Oh, enggak juga. Nyatanya dia cukup adaptif dan mampu bersinergi dengan para pemain anyar Villa.

Performa Grealish justru mengalami eskalasi dibanding musim lalu. Dari produksi big chance misalnya, saat ini dia sudah menyentuh rata-rata 0,86 per laga atau empat kali lipat dari torehan periode lalu.

Dengan kehadiran Ollie Watkins dan Ross Barkley, Grealish tak perlu bergerak sporadis seperti di musim-musim sebelumnya. Barkley jadi motor di area sentral sedangkan Watkins bergerak dinamis di sepertiga pertahanan lawan. Itulah mengapa Grealish sekarang lebih intens menyisir tepi kiri.

Lihat saja performanya saat Villa menggebuk Liverpool 7-2. Penetrasinya membuat pertahanan The Reds kocar-kacir. Lebih dari setengah gol Villa lahir dari sisi kiri. Grealish mencetak dua gol dan tiga assist pada laga tersebut.

Grealish merupakan pemain Premier League yang paling banyak dilanggar di musim ini dengan rata-rata 4,1 per laga. Ini merepresentasikan beberapa hal. Paling kentara, ya, menunjukkan bahwa Grealsih merupakan otak serangan Villa.

Selain visi, pemain kelahiran Birmingham itu memiliki kemampuan dribel ciamik. Spesialisasi inilah yang dimaksimalkan Smith buat membongkar pertahanan lawan yang menggunakan garis defensif rendah dan juga pressing tinggi.

Pergerakan Grealish bisa membiaskan penjagaan bek lawan sekaligus menciptakan ruang bagi rekan-rekan setimnya. Ambil contoh gol Sancho ke gawang Irlandia. Usai memaksa Jeff Hendrick out of position, Grealish melepaskan umpan yang dengan mudah dikonversi oleh Sancho.

Soal keampuhan visi, Grealish juga membuktikannya saat menciptakan assist di duel lawan Arsenal. Dengan jeli dia melepaskan umpan kepada John McGinn yang masuk dari lini kedua.

Grealish sudah menorehkan empat gol dan lima assist dalam tujuh laga di Premier League 2020/21. Perlu diingat, jumlah itu masih lebih banyak ketimbang kalkulasi raihan Raheem Sterling dan Marcus Rashford yang juga turun arena di tujuh pertandingan. Ya, dua nama itu merupakan winger kiri terbaik Inggris sekarang.

Kalau masih kurang yakin, ambil sampel akurasi tembakan, deh. Menyitat Opta, akurasi tembakan Grealish mencapai 75% alias unggul atas Sterling yang membukukan 72,73% dan Rashford yang cuma mencapai 60%.

Belum lagi dengan kreasi peluang, dribel, serta sentuhan di kotak penalti lawan. Grealish masih lebih baik dibanding dua kompatriotnya itu. So, mulai sekarang tak perlu ragu buat menyebut Grealish sebagai winger kiri terbaik Inggris saat ini.