Mari Bicara tentang 5 Laga Pertama Tuchel di Chelsea

Foto: Instagram @chelseafc

Meski tak meraih 100% kemenangan, Tuchel berhasil memberi rasa baru untuk Chelsea.

Dua puluh empat jam setelah memecat Frank Lampard, Chelsea memutuskan untuk mengangkat Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala.

Pelantikan Tuchel diiringi suara minor. Beberapa menyebutkan bahwa ia dipilih karena target utama Chelsea, Ralf Rangnick, menolak tawaran yang diberikan. Belakangan Rangnick mengonfirmasi penolakannya karena tidak mau bekerja hanya dalam tempo singkat.

Suara sumbang tersebut hilang bersamaan dengan dimulainya sesi latihan pada suatu malam di Cobham. Dari sesi tersebut, ia berhasil mengubah pendapat orang tentangnya, dari yang awalnya sinis menjadi optimistis.

Dalam sesi latihan tersebut tampak bagaimana Tuchel amat bergairah. Tak sekali dua kali ia berteriak kencang kepada pemain soal penempatan posisi dan jarak. Ia juga tak segan untuk ikut bermain sembari memberi penerapan yang diinginkan.

***

Tuchel telah menjalani 2 pekan lebih memimpin Chelsea. Ia telah melakoni lima pertandingan. Empat di antara pertandingan tersebut berhasil ditutup dengan tiga poin, sementara satu sisanya berakhir imbang.

Catatan ini memang tidak terlalu mengejutkan. Pada awal musim ini, Lampard juga pernah membawa Chelsea ke tren apik dengan meraih lima kemenangan beruntun di Premier League dan Liga Champions.

Namun, yang kini perlu digarisbawahi bukan soal tren apik yang diraih Chelsea, melainkan bagaimana Tuchel mengubah The Blues sebagai tim yang berbeda. Di bawah kendalinya, Chelsea menjadi tim yang berpegang teguh pada penguasaan bola.

Dari rangkaian pertandingan tersebut, Chelsea meraih rata-rata penguasaan bola 70%. Penguasaan bola tertinggi mereka catat saat menghadapi Wolverhampton dengan 79%, sementara yang paling rendah dibukukan saat melawan Tottenham Hotspur dengan 58%.

Kunci utama penguasaan bola Chelsea terletak pada Jorginho dan Mateo Kovacic yang bermain sebagai gelandang tengah. Dalam empat laga mereka dimainkan bersamaan, hanya pada satu pertandingan akurasi umpan mereka tak lebih dari 90%.

Dari keduanya pula Chelsea banyak menyerang lawan. Berdasarkan fbref dalam empat pertandingan tersebut, mereka mencatatkan total 81 umpan progresif atau umpan yang mengarah ke kotak penalti lawan.

Kovacic menjelaskan alasan di balik hal tersebut. Menurutnya, perubahan tersebut adalah impak dari perubahan gaya bermain yang dilakukan oleh Tuchel. “Ia meminta kami mengoper ke depan lebih cepat serta berkontribusi terhadap peluang,” kata Kovacic kepada The Athletic.

Penguasaan bola tak hanya dipengaruhi dari umpan mereka saja, tetapi juga cara mereka mendapatkan bola kembali dari lawan. MengutipWhoscored, dalam empat pertandingan yang berakhir dengan kemenangan itu, mereka berhasil merebut bola 17 kali.

Selain peran besar yang dimainkan oleh Kovacic dan Jorginho, cara Tuchel beradaptasi terhadap lawan juga menjadi satu perubahan terbesar. Jika Lampard kerap kukuh memainkan pemain yang selalu sama, Tuchel bersikap berbeda dengan merotasi wing-back sebelah kanan.

Lima lawan yang sudah dihadapi oleh Tuchel memiliki gaya bermain yang berbeda-beda. Tiga lawan, Wolves, Burnley, dan Barnsley memiliki tembok kokoh, sementara dua lainnya, Tottenham dan Sheffield United, tampil ngotot dan berani.

Saat menghadapi lawan yang memiliki pertahanan kuat, Tuchel bakal menggunakan Callum Hudson-Odoi sebagai wing-back. Pemilihan ini didasari oleh kepiawaian Hudson-Odoi dalam mencari ruang di pertahanan lawan dan melepaskan umpan terobosan.

Hudson-Odoi tak canggung saat dimainkan sebagai wing-back kanan. Hal ini disebabkan mayoritas tugasnya adalah menambah opsi serangan. Jika ditotal, delapan umpan kunci dilepaskan oleh pemain berusia 20 tahun tersebut dalam tiga pertandingan.

Keputusan berbeda diambil oleh Tuchel saat melawan Tottenham dan Sheffield. Dalam dua laga tersebut, ia menurunkan Reece James yang notabene lebih kuat saat bertahan. Pilihan tersebut terbukti ampuh saat hanya ada 2 umpan kunci dari sisi kanan pertahanan Chelsea.

Terakhir, Tuchel coba memanfaatkan para penyerang sayap sebagai playmaker. Tuchel menggunakan dua playmaker dalam empat pertandingan. Itu berarti, ia baru sekali memakai satu playmaker, tepatnya saat Chelsea berhadapan dengan Tottenham. 

Sejauh ini, hanya Hakim Ziyech yang bermain apik saat diberi tugas ini. Dalam dua pertandingan yang ia mainkan, ada enam umpan kunci yang ia lepaskan. Meski demikian, belum ada assist yang berhasil ia ciptakan.

Di balik perubahan apik, Tuchel belum dapat memaksimalkan potensi Kai Havertz. Eks pemain Bayer Leverkusen tersebut selalu gagal memberikan kemampuan maksimal saat dipercaya tampil.

Dalam dua pertandingan yang dimainkan oleh Havertz, melawan Wolves dan Burnley, ia hanya mencatat dua umpan kunci dan empat percobaan ke gawang lawan. Saat melawan Wolves, ia cuma memiliki rasio kemenangan duel 25%. Sementara saat menghadapi Burnley, akurasi umpannya hanya 71% dan menjadi yang terburuk kedua di pertandingan tersebut.

Catatan buruk lainnya adalah mereka kerap kesulitan menjebol gawang lawan. Sejauh ini, Chelsea mencatat rasio satu gol per pertandingan. Angka tersebut di bawah masa kepelatihan Lampard yang mencapai 1,75 gol per pertandingan.

***

Lima pertandingan yang sudah dijalani oleh Tuchel memang tak seluruhnya berakhir dengan kemenangan. Akan tetapi, hasil ini setidaknya bisa menjadi gambaran soal kemampuannya mengatasi berbagai persoalan yang dialami oleh Chelsea.

Musim 2020/21 baru berjalan setengah lebih sedikit. Patut dinanti bagaimana Tuchel menyelesaikan musim ini, berjalan serupa lima pertandingan terakhir atau justru terpeleset dan berakhir seperti yang sudah-sudah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.