Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Mati Kutu Diimpit Park Ji-sung

Ilustrasi: Arif Utama

Pada babak 16 besar Liga Champions 2009/10, Park Ji-sung bertanding seperti orang kesetanan. Andrea Pirlo frustrasi, lalu menaruh hormat dan kejengkelan yang sama besar padanya.

Park Ji-sung hanya tahu sepak bola. Yang pertama kali masuk ke dalam mimpinya ketika tertidur pulas adalah berlaga di Piala Dunia. Yang pertama kali menghentak hingga membangunkannya dan bergegas melompat dari tempat tidur adalah keharusan untuk melatih kaki-kakinya. 

Pada suatu waktu ketika menonton tayangan pertandingan, ia menunjuk beberapa pemain. Kepada ayahnya yang duduk di sebelahnya, Park berkata, “Kalau sudah besar nanti, aku mau bermain di tim itu.” Tim itu adalah Manchester United.

Sebagian kita pernah menjadi seperti Park: Menunjuk beberapa pemain dan berkata dengan mantap bahwa suatu saat nanti kita akan menjadi penggawa Manchester United, menggiring bola di Old Trafford, merayakan gelar juara dengan berkeliling Kota Manchester.

Dinding kamar kita penuh dengan poster Roy Keane. Kita kegirangan bukan kepalang menyambut kedatangan ayah kita masing-masing yang memberikan jersi Paul Scholes dan Dwight Yorke sebagai hadiah kenaikan kelas. Kita bangun lebih awal setiap hari sekolah, lantas menghabiskan satu jam penuh dan gel rambut entah berapa banyak untuk membuat rambut belah tengah ala David Beckham dengan sempurna dan presisi.

Begitu mendengar bel sekolah tanda pelajaran usai, kita berlari lebih dulu keluar kelas. Mengompori entah berapa banyak anak satu sekolah yang namanya pun tidak kita tahu demi bisa main bola dengan dua tim berformasi lengkap. 

Tentu saja susunan pemain dan taktiknya acak-adut, yang penting kita menendang bola. Yang penting kita tertawa-tawa karena kita semua tahu, begitu tiba di rumah, kita bakal digempur omelan ibu yang melihat baju seragam dan kaus kaki putih berubah warna menjadi cokelat.

Yang membedakan kita dengan Park Ji-sung, ia betul-betul berlaga sebagai pemain Manchester United. Sementara, kita menghabiskan jam-jam pulang kuliah dengan kepulan asap rokok, lalu megap-megap dan minta diganti saat baru 15 menit bermain futsal.

Park tidak mau memikirkan yang lain. Ia menutup pintu kepalanya rapat-rapat dan hanya memasukkan sepak bola ke dalam sana. Maka ketika Old Trafford memanggilnya, Park hanya mampu berkata ya. Sir Alex Ferguson resmi menjadi pelatihnya pada Juli 2005. 

Park adalah orang Asia Timur kedua yang berlaga bersama Setan Merah. Setahun sebelumnya, United mendatangkan Dong_Fangzhuo dari China. Namun, kita semua mengingat apa yang terjadi padanya. Fangzhou dipinjamkan ke klub Belgia, Royal Antwerp, dan menjadi bintang di sana selama dua tahun. Lalu, ia angkat kaki dari United pada 2008.

Berlaga di United bukan hanya impian yang menjadi kenyataan, tetapi juga kesempatan langka. Eropa dan Asia adalah dua benua yang dipenuhi dengan penggila sepak bola. Namun, tidak semua klub papan atas Eropa, terlebih Premier League, mau mengarahkan pandangan sedemikian jauh ke Asia. 

Park pun merasakannya. Barangkali ia tak akan masuk hitungan Sir Alex jika tidak mengiyakan tawaran PSV Eindhoven. 

Hari-hari Park di Eindhoven asuhan Guus Hiddink itu tak selamanya menyenangkan. Berbeda dengan koleganya di Timnas Korea, Lee Young-pyo, yang juga merantau ke Eindhoven, Park lebih banyak diparkir karena cedera lutut. 

Park berulang kali bertanding sambil menahan rasa sakit. Namun, upayanya gagalnya, penampilannya makin berantakan. Beban di pundaknya bertambah berat karena dia disebut-sebut sebagai pemain titipan Hiddink yang pernah melatih Korea Selatan. 

Cemooh dan cibiran menghantam Park.  Ia bahkan memilih tidak keluar rumah karena takut bertemu penggemar yang tidak puas. Itulah pertama kalinya Park takut pada sepak bola. 

Akan tetapi, ketakutan Park tak beranak cucu dan bersemayam terus dalam kepalanya. Park bangkit, memaksa tubuhnya untuk terbiasa dengan sepak bola Eropa. Perlahan, tetapi pasti, ejekan itu berubah menjadi elu-elu. Lalu ia berlaga di Liga Champions sambil diamati oleh Sir Alex yang duduk di tribune VIP.

Begitu United membukakan pintu, Park habis-habisan. Ia berlatih seolah-olah besok akan kiamat, bertanding selayaknya berada di ambang batas kematian. Sepak bola Korea Selatan memang mendidiknya menjadi anak patuh di hadapan para pelatihnya meski ia harus mulai menyesuaikan diri ketika bertanding di Eropa.

Maka ketika Sir Alex memintanya untuk menjadi anjing penjaga bagi Andrea Pirlo ketika United bertanding melawan AC Milan di babak 16 besar Liga Champions 2009/10, Park menyanggupi.

Rossoneri ketika itu unggul rekor pertemuan. Dalam empat laga, mereka menang empat kali atas United. Tak mau menanggung malu untuk kali keempat, Sir Alex meminta Park hanya fokus menempel Pirlo. 

Maestro Italia itulah adalah sebenar-benarnya mimpi buruk untuk lawan lewat perannya sebagai kreator serangan utama Milan. Lagaknya boleh klemar-klemer menyelipkan rambut ke belakang telinga kanannya. Namun, pada masa itu Pirlo membuat rerata 110 umpan per pertandingan dengan 60-70 di antaranya di lepas ke arah depan dan berpotensi memorak-porandakan tim.

Salah besar jika mengira Park hanya menempel ketika Pirlo sudah mendekati gawang. Bahkan saat Pirlo menerima lemparan bola ke dalam dari Antonini, ia langsung mendekat dan mengganggu permainannya. 

Pressing itu membuat Pirlo melepas manuver-manuver selayaknya pemain frustrasi yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. Pada leg pertama di San Siro saat United sudah unggul 3-1 misalnya, Pirlo yang dikejar oleh Park menyerah, lalu melepas bola jauh ke depan. 

Masalahnya, saat itu Pirlo masih ada di paruh lapangan. Tendangannya pun asal lepas dan tak terukur. Tentu saja operan itu berhasil dipotong dan berubah menjadi awal serangan balik bagi United.

"Di Milan, Sir Alex menugaskan Park Ji-Sung untuk membayangi saya. Park bergerak sangat cepat. Dia menekan saya dengan pergerakan tubuhnya, tangannya bahkan sampai terasa ke punggung. Di sepanjang laga ia selalu mengintimidasi saya," papar Pirlo.

Park waktu itu tak peduli dengan bola. Ia mempersetankan keinginan untuk mencuri bola, lalu menggiringnya ke depan, dan membuat dirinya sebagai bintang pertandingan. Itu bukan perkara mustahil bagi Park, terlebih Milan sudah tertinggal 1-3. Namun, apa pun yang diminta Sir Alex, itulah yang dikerjakannya.

“Park sama sekali tidak melihat bola. Mereka telah memprogramnya untuk menghentikan saya. Kegigihan dan dedikasinya untuk menjalankan tugas itu benar-benar hebat," ujar Pirlo dalam bukunya, 'I Think therefore I Play'.

Penjagaan Park efektif. Perhitungan laga menyebut bahwa Pirlo hanya sanggup membuat rerata umpan yang tak sampai menyentuh angka 40. Pirlo tak berkutik. Ketika Pirlo mati kutu, Milan pun habis.

Seandainya suporter United mengetahui perintah Sir Alex sebelum laga itu berlangsung, mungkin mereka akan datang ke stadion dengan perasaan waswas. Jika kreator serangan Milan tak bisa berbuat apa-apa, kemungkinan besar laga hanya berlangsung satu arah.

Mereka memang tidak datang ke stadion untuk menyaksikan United kalah. Namun, suporter dan penonton juga datang ke stadion demi mengejar gelombang naik-turun emosi. Mereka ingin menyaksikan sepak bola Sir Alex yang penuh risiko.

Senam jantung dan keringat dingin adalah harga yang pantas dibayar untuk menyaksikan hiburan ala United. Jangan lupa bahwa fondasi dari watak permainan itu diletakkan diletakkan pada era Sir Matt Busby.

Duel leg pertama yang berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk United ternyata masih bisa menjawab kebutuhan itu. Akan tetapi, tidak demikian dengan leg kedua. Pengawalan Park terhadap Pirlo tambah menjadi. Barangkali, setelah pertandingan tersebut Sir Alex tetap mengamuk karena Milan masih bisa mencetak dua gol.

Saat bertanding di Old Trafford, kegilaan Park tambah menjadi-jadi. Aliran bola dari lini tengah pampat, Milan kehabisan akal. United lolos ke perempat final sambil membawa kemenangan agregat 7-2. Itulah akibatnya jika kau ditekan oleh pemain yang hidup dengan ‘tiga paru-paru’.

Di Korea Selatan sana, Park dipanggil dengan sebutan Mickey Mouse dan Sweet Potato karena postur tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang polos. Namun, sepak bola Eropa menyebutnya sebagai Three Lungs Park (pelesetan dari Ji-Sung Park), manusia berparu-paru tiga, karena ketangguhannya. 

Julukan itu bukan hanya mengacu pada stamina yang tidak ada habisnya, tetapi juga kecerdasannya yang membuat banyak pemain lawan meninggalkan lapangan sebagai pemain kemarin sore. Kerja kerasnya, kata Rio Ferdinand, seperti orang kesetanan. Permainan Park seperti menciptakan dimensi baru yang begitu sukar ditembus oleh lawan-lawannya.

****

Park tak akan melupakan hari ketika United bertanding melawan Chelsea di final Liga Champions 2007/08. 

Ia tidak pernah merasakan kekecewaan sebesar yang menghantamnya ketika berdiri di ruang ganti Stadion Stadion Luzhniki Moskow pada 21 Mei 2008. Dengan setelan lengkapnya, ia menyaksikan kawan-kawan setimnya bersiap melawan The Blues. Meski selalu turun penuh sejak perempat final, Park tidak masuk daftar skuat final. 

Sir Alex menyebut langkah itu sebagai keputusan tersulit dalam hidupnya. Keputusan Sir Alex murni karena taktik. Pada partai final itu, United harus bermain dalam formasi 4-4-2 untuk menghantam Chelsea.

Dalam perasaan yang campur aduk itu, Patrice Evra dan Carlos Tevez merangkulnya untuk memberikan semangat. Park tahu pelukan itu betul-betul tulus karena satu-satunya yang tergambar di wajah mereka adalah kekecewaan yang sama besarnya.

Keputusan Sir Alex tak keliru. United menutup malam itu sebagai Penguasa Eropa dengan menumbangkan Chelsea lewat babak adu penalti.

Ketika para pemain United berhamburan ke lapangan, Park ikut berlari ke sana. Ia mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Perayaan itu terasa janggal karena ia tidak diturunkan di duel final.

“Saya ada di tengah lapangan, melihat tim bergembira. Saya juga bergembira, tetapi ada semacam perasaan janggal yang tak mau menyingkir. Saya tidak bisa berbuat apa pun selain merayakan gelar juara."

"Keputusan itu murni karena taktik, semua demi tim. Kalaupun saya tidak ambil bagian dalam laga final, setidaknya saya mendukung keputusan Sir Alex. Kesempatan, bagaimanapun, pasti akan datang. Saya tahu pasti,” papar Park.

Semua orang tahu Park berlagak tegar. Namun, ia tidak sedang membual. Pada akhirnya kesempatan itu datang. Meski United tidak lagi merengkuh gelar juara, setidaknya, Park berhasil membuat seorang maestro menaruh hormat dan kejengkelan yang sama besar padanya.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now