Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Mau ke Mana Camavinga?

Foto: @Camavinga.

Apa yang membuat Eduardo Camavinga begitu spesial karena ia masih berusia 18 tahun. Ia seperti memangkas masa. Seakan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi ranum.

Eduardo Camavinga memulai kariernya secara akas. Ia sudah melakukan debut profesionalnya di usia 16 tahun, empat bulan, dan 27 hari. 

Catatan tersebut sekaligus memecahkan rekor sebagai pemain utama termuda dalam sejarah Rennes. Setahun kemudian, rekor Timnas Prancis ia ukir, tepatnya saat mentas melawan Kroasia di UEFA Nations League. Camavinga melampaui catatan legendaris Maurice Gastiger sebagai pemain termuda Les Bleus yang bertahan sejak 1914. Umur Camavinga waktu itu 17 tahun, 9 bulan, dan 29 hari.

"Aku selalu seperti itu. Aku sering naik level setahun dari yang seharusnya. So, bermain dengan pemain yang lebih besar tidak membuatku takut," jelasnya kepada Canal+.

***

Di antara semua mentor, Nicolas Martinais adalah yang pertama kali mengendus potensinya. Ia melatih Camavinga pada September 2011 pada sebuah klub amatir di Fougeres, kota yang terletak 50 kilometer di timur laut Rennes, Prancis Barat.

Bocah cerdas, begitu ingatan Martinais soal Camavinga. Ia hanya membutuhkan sekali arahan untuk melakukan apa yang diinginkan sang pelatih saat teman-temannya harus melewati 2-3 kali percobaan. Setelah 4 tahun menimba di Fougeres, Camavinga mulai mendapatkan tawaran-tawaran dari klub besar Prancis. Salah satunya Rennes.

Foto: @Camavinga

Namun, terkadang nasib seorang genius tak selalu mulus. Mereka dihadapkan pada cobaan yang bertolak belakang dengan harapan. Ironisnya momen semacam ini kerap terjadi di detik terakhir penantian.

Beberapa saat sebelum perekrutan, keluarga Camavinga tertimpa bencana. Rumah mereka terbakar akibat korsleting listrik. Tak ada korban jiwa, tetapi paspor keluarga dan beberapa dokumen pribadi hangus karenanya. Kepindahan Camavinga ke Rennes pun terancam batal. Pun dengan rencananya untuk mendapatkan kewarganegaraan Prancis.

Keluarga Camavinga bukan orang Prancis asli murni. Mereka berasal dari Kongo dan sempat mengungsi ke kamp yang terletak Miconge, Angola. Camavinga lahir di sana. Orang tuanya kemudian membawanya hijrah ke Prancis saat ia berusia 2 tahun.

Berbagai kesulitan hidup itulah yang mendorong Camavinga untuk berkembang cepat. Pahitnya hidup memaksanya untuk lekas dewasa. Sementara kecerdasan dibentuk dari rasa ingin tahunya yang besar.

"Dia ditakdirkan untuk hal-hal hebat sejak pertama kali bergabung dengan kami pada usia 10 tahun," kata Landry Chauvin kepada ESPNFC. Direktur akademi Rennes itu menambahkan, "Dia selalu berada di depan semua pemain pada kelompok usianya. Bahkan, juga satu atau dua kelompok usia di atasnya dalam hal bakat, kecerdasan, dan kedewasaan".

Ya, pada akhirnya Camavinga berhasil merealisasikan mimpinya untuk bergabung dengan Rennes. Semuanya berkat Martinais yang membantu penggalangan dana untuk membenahi rumah keluarga Camavinga yang terbakar. Ia juga negosiator saat berbicara dengan Julien Stephan yang kala itu menjabat pelatih tim U-19 Rennes.

Kendati setuju, Stephan tidak mau terburu-buru. Camavinga mesti lebih dulu ditempa setidaknya lima tahun di tim junior sebelum mentas dengan skuad utama. Akan tetapi, Stephan mengurungkan niatnya di tengah jalan. Ia sadar Camavinga sudah matang duluan. Makanya pria 40 tahun itu tak berpikir panjang untuk memberikannya debut setelah menjabat sebagai pelatih utama Rennes.

"Kami tidak ingin membuatnya terburu-buru masuk ke tim utama. Tetapi, ada saat ketika Anda menyadari bahwa itu tidak lagi perlu. Dia sudah siap dan akan membawa banyak hal ke tim bahkan di Ligue 1," terang Stephan.

Stephan tak salah ukur. Empat bulan setelah mengukir laga pertama, Camavinga langsung menunjukkan performa terbaiknya. Ia menjadi pemain terakhir yang memberikan umpan atas gol Romain Del Castillo ke gawang Paris Saint-Germain. Itu sekaligus mengantarnya sebagai pendulang assist termuda di Ligue 1. Happy ending, Rennes menang 2-1 atas jagoan Prancis tersebut. Sementara Camavinga dinobatkan sebagai pemain terbaik Ligue 1 pada bulan Agustus itu.

Harum Camavinga kemudian mulai semerbak di Eropa. Performa moncernya di periode 2019/20 itu membuai klub-klub besar. Adalah Borussia Dortmund dan Real Madrid yang paling santer menginginkannya.

Madrid cukup serius dan sudah mengutus pemandu bakat mereka, Juni Calafat. Pria yang juga memantau Marco Asensio, Martin Odegaard, dan Takefusa Kubo itu ditugaskan untuk memantau perkembangan Camavinga.

Saat itu El Real memproyeksikan Camavinga sebagai alternatif Casemiro. Karena, ya, mereka tak punya stok gelandang bertahan lagi selain dirinya. Camavinga, cukup kapabel untuk itu. Walau akhirnya Madrid urung merealisasikan transfer tersebut.

Terlepas dari itu, performa Camavinga memang menawan. Ia menjadi pemain dengan rata-rata tekel terbanyak di Ligue 1 2019/20. Torehannya menyentuh 4,2. Jumlah itu jauh meninggalkan Idrissa Gueye sang tukang jagal PSG yang 'cuma' mengemas rerata 3,3 di tiap pertandingan. 

Kecerdasan Camvinga tertuang dalam kecakapannya membaca permainan: Inisiatif dalam mengisi ruang sekaligus memutus serangan lawan. Sejujurnya, spesialisasi semacam ini cukup jarang dimiliki oleh para pemain muda. Selain membutuhkan insting membaca permainan yang baik, pengalaman bertanding yang cukup menjadi pondasi penting. Namun, nyatanya Camavinga sudah memilikinya di usia remaja.

Perspektif bermainnya menjadi lebih luas di musim 2020/21, seiring dengan pergantian jabatan pelatih dari Stephen ke Bruno Genesio. Rennes mulai menanggalkan pakem 4-4-2 dan beralih ke 4-1-4-1 atau 4-3-3.

Praktis, Camavinga pun mengalami perubahan peran. Ia lebih intens bermain sebagai gelandang box-to-box ketimbang sekadar pelindung back four atau bermain sebagai holding midfielder. Pasalnya, satu spot gelandang bertahan rutin diberikan Genesio Steven Nzonzi.

Itulah kenapa catatan ofensif Camavinga meningkat dibanding musim sebelumya. Rataan umpan kuncinya dua kali lipat lebih banyak. Begitu juga dengan rata-rata dribelnya yang mengalami peningkatan dari 0,8 ke 1,2 per pertandingan.

Walaupun berposisi lebih ofensif dibanding sebelumnya, bukan berarti Camavinga tak lagi berkontribusi dalam aksi bertahan. Justru ia menjadi tumpuan Rennes saat mereka kehilangan penguasaan bola. Ini yang kemudian menyulitkan lawan untuk melakukan serangan balik. Sebagai gambaran, Rennes "cuma" kebobolan 4 gol dari counter attack atau setengah dari catatan Nimes sebagai yang terburuk di Ligue 1.

Bila dikomparasi dengan para koleganya, intensitas aksi bertahan Camavinga juga masih lebih mewah. Rata-rata tekelnya menyentuh 2,8 per laga atau tertinggi di antara seluruh pemain Rennes.

Dengan rasa aman yang ia tawarkan, jangan heran kalau eksistensinya di Rennes begitu kuat. Ia mengecap 2.413 menit mentas di Ligue 1. Jumlah itu membuatnya masuk ke daftar tiga besar remaja dengan menit bermain terbanyak di liga top Eropa, bersama Bukayo Saka dan Pedri.

***

Camavinga berencana memulai petualangan baru. The Athletic melaporkan bahwa ia tak berniat untuk memperpanjang kontrak dengan Rennes yang tinggal tersisa setahun.

Well, Camavinga memang terlalu besar untuk Rennes. Sulit terbantahkan bahwa kecil kans Les Rennais untuk berjaya di Ligue 1 apalagi panggung sekelas Liga Champions. Problem selanjutnya yang akan muncul adalah saat Rennes berniat memasukkan klausul pembelian yang besar dalam kontrak barunya nanti. Ini akan menghambat transfer Camavinga di masa depan--terlebih dengan kondisi klub-klub Eropa sekarang.

Agen Camavinga, Jonathan Barnett, mengisyaratkan kliennya akan berlabuh ke Premier League pada April silam. Adalah Manchester United dan Chelsea kandidat terkuatnya. Masuk akal karena kedua klub ini relatif kuat secara finansial. Namun, soal urgensi, United lebih membutuhkannya ketimbang Chelsea yang masih memiliki Jorginho, N'Golo Kante, dan Mateo Kovacic.

Ole Gunnar Solskjaer masih memerlukan gelandang ideal, kendati Camavinga sendiri tidak pernah bermain sebagai holding midfielder--spesifikasi role dari seorang gelandang yang dibutuhkan United pada saat ini. Namun, Camavinga adalah gelandang enerjik yang cakap dalam melakukan aksi defensif dan ofensif. Ia bisa menjadi opsi bagus bagi United. Lagi pula Camavinga juga pilihan pas dengan kerangka muda yang tengah dibangun 'Iblis Merah'.

Namun, sebentar. Itu semua baru sebatas angan. Belum ada keputusan pasti dari Camavinga sendiri. Masih ada beberapa kemungkinan sekaligus kesempatan bagi klub-klub lain untuk merekrutnya. Bukan begitu, Madrid?

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now