Melihat Masalah di Lini Depan Chelsea

Foto: @chelseafc.

Apa yang membuat penyerang tengah jadi masalah terbesar Chelsea musim lalu?

Hanya dalam waktu lima bulan, Thomas Tuchel berhasil mengubah Chelsea jadi tim yang menjanjikan.

Tuchel membawa Chelsea ke dimensi yang tak mampu dijangkau Frank Lampard. Ia berhasil menambal beragam lubang, mulai dari lubang di pertahanan hingga inkonsistensi yang kerap ditunjukkan, dalam tempo yang terbilang singkat.

Imbas dari perbaikan tersebut membuat Chelsea sempat mencatatkan 5 kemenangan beruntun dan 13 laga berturut-turut tanpa kekalahan. Mereka juga melaju hingga final Piala FA dan puncaknya, meraih gelar Liga Champions kedua.

Namun demikian, Chelsea bukan tanpa cela. Satu hal yang kini jadi persoalan terbesar mereka adalah lini depan, terutama pos penyerang tengah. Sejak dipegang Tuchel, tidak ada penyerang tengah yang bisa dijadikan tumpuan untuk mencetak gol.

Musim lalu, ada tiga nama yang mengisi posisi tersebut, Timo Werner, Olivier Giroud, dan Tammy Abraham. Werner menjadi pilihan utama Tuchel dengan total 24 kesempatan. Giroud mendapatkan 13 kesempatan dan Abraham hanya 7.

Werner tidak memiliki kontribusi maksimal terhadap ketajaman The Blues. Dari jumlah pertandingan tersebut, ia hanya mampu mencetak tiga gol. Giroud dan Abraham tidak jauh berbeda. Jika ditotal, ketiganya hanya mampu mencetak tiga gol.

Alhasil, pada bursa transfer musim panas 2021, Chelsea disebut mengincar beberapa penyerang anyar untuk mendongkrak ketajaman. Striker Borussia Dortmund, Erling Haaland, kabarnya jadi incaran utama. Selain itu, ada juga rumor yang menyebut Dusan Vlahovic dan Sasa Kalajdzic.

Pertanyaannya, apakah keputusan Chelsea mengincar nama-nama tersebut tepat? Jika iya, apakah mereka sesuai dengan skema yang digunakan oleh Tuchel?

Persoalan ketajaman Chelsea


Tuchel mulai menangani Chelsea sejak akhir Januari 2021 dan telah melakoni 31 pertandingan. Masalahnya, dari 31 pertandingan tersebut, Chelsea hanya mampu mencetak 39 gol atau rata-rata 1,25 gol per pertandingan.

Jika melihat angka tersebut, rasanya ada yang salah dengan ketajaman Chelsea. Pada era Frank Lampard, Chelsea bahkan memiliki catatan mencetak gol yang lumayan, yakni 2,24 gol per pertandingan.

Per fbref, rasio expected goal (xG) Chelsea per 90 menit adalah 29,3. Angka tersebut berada di bawah total 20 gol non-penalty yang mereka buat. Selisih -9,3 yang dibuat Chelsea bahkan lebih tinggi dibandingkan tiga klub yang terdegradasi pada musim lalu.

Hal serupa juga dialami oleh Giroud. Ia hanya mampu mencetak dua gol meski memiliki 2 xG per 90 menit. Sementara Abraham sedikit lebih baik dengan mencetak satu gol dari 0,9 xG per 90 menit.

Werner jadi yang paling buruk di urusan ini. Sebagai pilihan utama di lini depan, rasio xG per 90 menit miliknya ada di angka 9,7. Angka tersebut selisih jauh dari kontribusi golnya yang hanya 3.

Persoalan Werner juga tampak dari akurasi percobaannya. Meski terhitung sebagai pemain yang rutin melepaskan tembakan ke gawang lawan (2,77 percobaan per 90 menit), akurasinya hanya mencapai 38,8%.

Apakah pola Chelsea mendukung penyerang tengah untuk rajin mencetak gol?


Masalah lain yang membuat Chelsea tidak punya penyerang mumpuni adalah pola serangan yang dikembangkan oleh Tuchel. Lewat formasi 3-4-2-1 atau 3-4-1-2, ia selalu berupaya mengandalkan serangan cepat untuk mencetak gol.

Saat membangun serangan, Chelsea selalu berupaya menjadikan penyerang tengah untuk menjemput bola atau membuka ruang. Saat mereka turun, ada second striker atau gelandang serang yang naik ke pertahanan lawan.

Kondisi tersebut membuat penyerang tengah lebih banyak dilibatkan dalam proses membangun serangan. Gol yang dicetak Kai Havertz ke gawang Manchester City pada final Liga Champions 2021 jadi contoh bagaimana pentingnya peran Werner dalam proses ini.

Pada gol tersebut, Werner berkontribusi terhadap dua hal. Pertama, mengarahkan duet bek tengah City ke sisi kanan pertahanan mereka. Kedua, bergerak diagonal untuk menarik bek tengah City, Ruben Dias, yang kemudian memberikan ruang kosong untuk dieksploitasi Havertz.

Werner memainkan peran tersebut baik. Total, ia mencatatkan 2,1 shot-creating actions dan 0,4 goal-creating actions per 90 menit. Di Premier League, angka tersebut jauh di atas penyerang klub big six lain.

Seperti apa penyerang tengah yang dibutuhkan oleh Chelsea?

Nama-nama penyerang yang dirumorkan bakal bergabung dengan Chelsea, seperti Haaland, Vlahovic, dan Kalajdzic, memiliki gaya bermain yang berbeda dengan Werner. Jika Werner termasuk ke dalam deep-lying forward, maka tiga nama tersebut bertipikal poacher.

Dengan adanya seorang poacher di lini depan, Chelsea jadi punya lebih banyak opsi untuk mencetak gol. Mereka bahkan dapat memanfaatkan para wing back yang musim lalu jadi pilihan alternatif untuk membangun serangan.

Yang jelas dibutuhkan Chelsea adalah penyerang tajam. Entah itu Haaland, Vlahovic atau Kalajdzic. Pasalnya, salah satu persoalan penyerang Chelsea musim lalu adalah ketajaman di kotak penalti lawan.

Dari tiga nama yang jadi buruan, Haaland adalah pemain paling tajam. Ia mampu mencetak 27 gol dari 23,7 xG. Tingkat akurasi percobaan Haaland juga terbilang apik, yakni 52,2% per 90 menit.

Haaland juga tidak perlu diragukan apabila Chelsea butuh penyerang yang dapat berkontribusi membangun serangan. Musim lalu, ia terlibat dalam 16 gol yang dibuat oleh Borussia Dortmund dengan enam di antaranya adalah assist.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.