Memangnya Pemain Depan Tak Boleh Ikut Bertahan?

Foto: LFC.

Di dunia sepak bola yang makin modern, pemain depan dituntut harus bisa terlibat dalam sistem bertahan sebuah tim. Menihilkan kontribusi defensif mereka adalah sebuah kekonyolan.

Ketika ada seorang warganet yang mengejek kami karena mengkritisi aksi defensif Cristiano Ronaldo, saya merasa dia tengah terjebak di tahun 2000-an awal. Tahun di mana seorang penyerang cuma dinilai berdasarkan jumlah golnya saja. Kalau mau effort sedikit, paling, ya, bisa dihitung berapa jumlah tembakannya.

Ketika sudah menginjak era modern seperti ini, di mana permainan makin berkembang dan statistik sepak bola semakin banyak--Anda bisa mengukur angka harapan peluang (xG) sampai jumlah pressing sukses--menihilkan aspek defensif dari seorang pemain depan adalah sebuah kekonyolan.

Juergen Klopp, dalam konferensi persnya jelang laga vs Manchester City, mengatakan soal betapa pentingnya pemain depan melakukan aksi defensif. Bahwa di sepak bola modern ini, penting untuk memenangkan penguasaan bola sedini mungkin dan itu adalah tugas pemain depan

"Kami (Liverpool) cukup stabil secara defensif karena kami bekerja sama sebagai unit defensif. Para pemain depan ikut bertahan," ujarnya.

"Mereka (City) memiliki angka penguasaan bola yang tinggi dan mereka juga punya counter-pressing yang luar biasa. Jika mereka kehilangan bola, mereka akan mengambilnya kembali secepat mungkin," tambah Klopp.

Contoh pressing Liverpool. Foto: Youtube 'Liverpool is My DNA'

Semakin cepat bisa merebut bola dari lawan, semakin sulit pula sebuah tim kebobolan. Kenapa? Karena mereka bisa meminimalisir peluang lawan sedini mungkin. Itulah yang dilakukan pelatih seperti Klopp atau Pep Guardiola, misalnya.

Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Liverpool dan City mampu menguasai Premier League dalam tiga musim terakhir. Mereka mampu menciptakan sistem defensif kuat dan itu dimulai dari pemain depan; dimulai dari Roberto Firmino, Diogo Jota, Mohamed Salah, Gabriel Jesus, Phil Foden, sampai Raheem Sterling.

Musim ini pun situasinya sama. Manchester City masih menerapkan hal serupa. Tengok saja catatan pressing per 90 menit milik Foden yang mencapai angka 23,2 dan Jesus yang mencatatkan 16,6. Semua dilakukan agar City bisa merebut bola secepat mungkin dari lawan.

Lihat hasilnya: City menjadi tim dengan catatan kebobolan paling sedikit sejauh musim ini berjalan. Cuma ada tiga gol yang bersarang di jala gawang Ederson Moraes, dan dua di antaranya pun dari musuh yang kuat, Liverpool.

Contoh pressing City. Grafis: Michael Cox - The Athletic

The Reds pun serupa. Jota sudah mencatatkan 21,6 pressing dan 1,07 tekel per 90 menit, sedangkan Salah mencatatkan 15,6 pressing dalam periode yang sama. Roberto Firmino, yang lebih banyak memulai laga dari bangku cadangan, bahkan sudah mencatatkan 2,1 tekel per 90 menit (3 besar di jajaran penyerang tengah).

Di Premier League musim ini, selain City dan Liverpool, ada tim-tim lain yang mulai mengaplikasikan cara itu: Memulai aksi defensif sejak dini, dengan melibatkan para pemain depan sebagai aktornya.

Brighton & Hove Albion, yang baru kebobolan lima gol sejauh ini, memiliki Neal Maupay yang per 90 menit rerata mencatatkan 18,9 pressing sukses dan 1,08 tekel. Ia, beserta pemain depan Brighton lain, adalah alasan mengapa angka PPDA (passes allowed per defensive action) Brighton jadi yang terbaik kedua di liga.

Buat yang belum tahu, PPDA ini adalah salah satu statistik yang bisa mengukur intensitas pressing sebuah tim. PPDA akan menghitung berapa banyak operan yang dilakukan tim lawan sebelum sebuah tim coba merebut bola kembali dengan aksi defensif (tekel, intersep, sampai pelanggaran). Semakin kecil angka PPDA, semakin intens pula pressing sebuah tim.

Pressing Brighton. Foto: Youtube Brighton

Selain Brighton dengan Maupay-nya, masih ada Brentford yang punya Ivan Toney dan Bryan Mbeumo. Keduanya mencatatkan lebih dari 15 pressing kepada lawan per 90 menit. Itu jadi salah satu alasan mengapa Brentford sukses meminimalisir serangan dan baru kebobolan enam gol sejauh ini.

Jangan kaget pula jika kalian menemukan fakta bahwa City, Brighton, Liverpool, dan Brentford menjadi empat tim yang paling sedikit menerima shot on target di Premier League. City bahkan baru menerima delapan shot on target dari lawannya sejauh ini.

Angka harapan kebobolan (xGA) yang dicatatkan lawan-lawan Brentford juga kecil, cuma 7,5. Catatan itu jadi terbaik nomor empat di liga. Ini berarti, sistem seorang pelatih menginstruksikan pemain depannya untuk melancarkan pressing tinggi bisa sangat berguna buat aspek defensif sebuah tim.

Karenanya, ketika Ronaldo hanya mencatatkan 2,65 pressing per 90 menit, dirinya menjadi sorotan The Athletic. Sebab, Ole Gunnar Solskjaer selaku manajer menginginkan para pemainnya melancarkan pressing tinggi--berusaha merebut bola sedini mungkin dari lawan.

Data per 1 Oktober. Grafis: The Athletic

Hal itu jadi salah satu penyebab mengapa Manchester United, sejauh ini, ada di urutan 13 dalam urusan melancarkan pressing di sepertiga akhir pertahanan lawan. Mereka cuma mencatatkan angka 205 pressing, jauh jika dibandingkan Liverpool (293) atau City (265).

Jika ingin meminimalisir serangan lawan, terutama untuk membuat lawan tak masuk ke sepertiga akhir area mereka, Solskjaer kudu meningkatkan angka tersebut. Sejauh ini, sih, lawan-lawan United sudah menyentuh bola 805 kali di sepertiga akhir pertahanan mereka. Lebih sering jika dibanding lawannya Liverpool atau City.

Selain untuk bertahan, aksi defensif yang dilakukan para pemain depan juga sangat berguna untuk melancarkan serangan balik. Anda bisa menjadikan Inter Milan sebagai contoh. Musim ini, di bawah asuhan Simone Inzaghi, Inter sudah mencetak tiga gol setelah berhasil mencuri bola di jarak <40 meter dari gawang lawan.

Gol Lautaro Martinez di laga vs Sampdoria ini memang diawali dari serangan balik, tapi ada satu peluang Inter yang juga layak di-highlight: setelah melakukan pressing ketat Edin Dzeko di area lawan. Sayangnya Hakan Calhanoglu yang mendapat umpan tak bisa menyelesaikan peluang dengan manis.

AC Milan, tetangganya, juga punya kepiawaian yang sama. Milan juga rajin dalam hal melancarkan pressing tinggi pada lawannya. Bahkan tim besutan Stefano Pioli ini jadi tim dengan catatan pressing tertinggi di sepertiga akhir pertahanan lawan dengan angka total 540.

Karena itu, selain sudah mencetak dua gol setelah bisamencuri bola di jarak <40 meter dari gawang lawan, Milan juga hanya memiliki angka harapan kebobolan (xGA) sebesar 6,4. Angka terbaik keempat di Serie A. Mereka juga baru kebobolan lima gol.

Pemain depan yang jadi aktor pressing ini adalah Alexis Saelemaekers dan Ante Rebic. Keduanya rerata mencatatkan lebih dari 20 pressing per 90 menit. Saelemaekers bahkan punya catatan 1,8 tekel dalam periode yang sama. Menunjukkan agresivitas pemain depan Milan.

Pressing Milan.

***

Saat ini, tugas bertahan bukan lagi cuma milik pemain bertahan. Tugas bertahan adalah milik semua pemain, termasuk pemain depan. Karena itu, para pemain depan dituntut punya kontribusi defensif yang baik: Mau melakukan pressing, tak malas melancarkan tekel atau intersep.

Sebab, ketika sebuah tim punya pemain depan yang andal melakukan tugas defensif, sistem bertahan tim tersebut juga akan berjalan baik. Ini akan membuat timmu susah kebobolan. Selain itu, melakukan aksi defensif sejak dini juga memperbesar peluang untuk melancarkan serangan balik yang sulit diantisipasi lawan.

So, if you cetak satu gol, sedangkan lawan tidak cetak gol, you still win the game 'kan? Kalau tak percaya, coba tanyakan saja kepada Juergen Klopp atau Pep Guardiola.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.