Membedah Chelsea, Membedah Lampard

Foto: Frank Lampard dan para pemainnya (Twitter @ChelseaFC)

Frank Lampard datang ke Chelsea dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Taktiknya memang tidak luar bisa, tetapi ia cukup adaptif.

Pada manga 'Giant Killing', Takeshi Tatsumi bergelut mencari beragam cara supaya si kerdil bisa mengangkangi raksasa. Ia tadinya adalah legenda klub, lalu kembali ke klub tersebut untuk membesarkannya. Kisahnya di dunia nyata punya beberapa persamaan dengan pelatih Chelsea saat ini, Frank Lampard.

Selama masa aktifnya sebagai pemain, Tatsumi adalah pemain andalan East Tokyo United (ETU). Ia rutin menyumbang gelar. Kemampuan individunya yang apik, dibarengi etos kerja dan kharismanya yang unik, membuatnya jadi sosok yang dielukan di Sumidagawa.

Namun, pada usia 25 tahun, ia akhirnya memutuskan hengkang ke luar negeri. Banyak sebab yang melatarbelakangi ini, termasuk perselisihannya dengan presiden klub saat itu yang terlalu mengekspos dirinya. Nahas, saat bermain di luar negeri, bukannya sukses yang ia dapat.

Namun, cedera memaksa Tatsumi pensiun dini. Sempat putus asa, ia akhirnya memutuskan banting setir menjadi manajer. Setelah sempat memanajeri klub FC Eastham di Inggris, ia pulang untuk menjadi manajer ETU.

Cerita Lampard pun tidak beda jauh dengan Tatsumi. Selama menjadi pemain, ia adalah idola di Chelsea. Stamford Bridge tak henti mengelukan namanya setiap ia membawa bola dan mencetak gol. Namun, berbeda dengan Tatsumi, Lampard tidak mengalami cedera panjang yang memaksanya pensiun dini.

Setelah lama membela Chelsea, Lampard sempat singgah di New York City dan Manchester City. Kemudian, ia memutuskan untuk pension sebagai pemain pada 2017, dan fokus memulai karier sebagai pelatih. Derby County jadi tim pertama yang ia latih, hingga akhirnya, pada musim 2019/20, Chelsea memanggilnya pulang.

***

Saat Tatsumi pulang ke Jepang sebagai manajer, Tatsumi menemukan ETU tengah dalam kondisi limbung. Mereka urung berprestasi dan lebih banyak berkutat di papan tengah dan papan bawah. Sebagai orang yang tahu betul luar dalam klub, Tatsumi punya cara yang unik sekaligus antik dalam membangkitkan ETU.

Mulai dari training camp aneh yang akhirnya menyatukan pemain, pendekatan strategi yang cerdas (kalau tidak mau dibilang pragmatis), serta pendekatan emosional yang intim kepada para pemain, akhirnya ETU sanggup kembali ke papan atas. Hasil kerja Tatsumi diakui dan ia menepati janji yang ia ucapkan dalam pertemuan antarmanajer di awal musim: Menjadikan ETU sebagai pusat mata badai.

Kondisi Lampard tentu saja sedikit berbeda. Ia tidak kembali ke Chelsea ketika kesebelasan London Barat itu sedang naik-turun sebagai tim papan tengah dan papan bawah. Problem The Blues ketika ia datang hanyalah embargo transfer.

Ilustrasi: Takeshi Tatsumi (tengah, jaket hijau) pada manga 'Giant Killing'.

Ia tidak juga berusaha mengubah si kerdil mengangkangi raksasa. Yang Lampard lakukan adalah berusaha membuat Chelsea konsisten berada di papan atas —atau kalau bisa menjadi juara.

Lalu, di mana lagi letak persamaan Tatsumi dan Lampard? Well, di urusan taktik itu tadi. Lampard juga memiliki pendekatan taktiknya sendiri dalam upayanya mempertahankan muruah Chelsea sebagai tim papan atas Premier League.

Mewarisi skuat ofensif dari Maurizio Sarri, plus lulusan-lulusan akademi yang juga ia bawa dari Derby County, Lampard meramu skuat Chelsea versi dirinya sendiri. Sama seperti Tatsumi, Lampard juga terbilang adaptif.

Sejak kehadirannya di Stamford Bridge pada musim 2019/20, Lampard kerap menerapkan formasi dasar 4-2-3-1 atau 4-3-3. Formasi dasar ini sudah biasa ia terapkan ketika ia menangani Derby County pada 2018 lalu. Lalu, soal taktik yang ia gunakan, mari kita bedah dalam dua fase.

Fase Menyerang

Saat menyerang, Lampard benar-benar ingin timnya menguasai bola. Dominasi ini terlihat dari rataan persentase penguasaan bola Chelsea di ajang Premier League 2019/20 yang mencapai 57,9%, tertinggi ketiga setelah Manchester City dan Liverpool.

Tidak hanya itu, jumlah tembakan yang dilepaskan Chelsea selama musim 2019/20 juga jadi yang tertinggi kedua di liga, yakni 625 tembakan. Angka xG (expected goals) mereka juga jadi yang tertinggi kedua di liga, yaitu 76,23. Semua catatan ini menandakan bahwa Chelsea adalah tim yang agresif saat menyerang sepanjang musim 2019/20.

Berdasarkan skema dasar 4-2-3-1 atau 4-3-3 yang Lampard terapkan, serangan Chelsea sudah dimulai sejak dari area pertahanan sendiri. Peran Jorginho—yang cukup menonjol di era Sarri—juga tampak di era Lampard ini. Ia kerap turun mendekati dua bek, lalu meneruskan bola ke area tengah atau area sepertiga akhir lawan.

Lihat postingan ini di Instagram

Thrilling perf🎃rm👻nce! +3 #Chelsea #CFC #halloween

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jorginho Frello (@jorginhofrello) pada

Dua winger, baik dalam skema dasar 4-2-3-1 atau 4-3-3, kerap merapat ke tengah saat menyerang, memberikan ruang bagi dua full-back untuk merangsek maju ke area pertahanan lawan. Dengan sokongan umpan dari Jorginho, kombinasi antara full-back dan winger jadi sesuatu yang lazim terlihat saat Chelsea menyerang.

Serangan dari Chelsea ini juga ditopang oleh pergerakan dinamis dari para gelandang. Mason Mount kerap masuk ke lini kedua, memberikan opsi umpan bagi para full-back yang maju ke depan. Yang menarik adalah N’Golo Kante. Sejak era Sarri, ia menjelma jadi gelandang dengan peran box-to-box yang keranjingan menyerang.

Total, selain torehan tiga gol, Kante juga mencatatkan 18 tembakan pada musim 2019/20, sama dengan jumlah tembakan Reece James. Aktifnya Kante dalam menyerang ini menjadikan dirinya sebagai opsi lain dalam setiap serangan tim.

Cara menyerang Chelsea mulai berubah seiring masuknya Kai Havertz, Timo Werner, dan Hakim Ziyech pada musim 2020/21. Awalnya, Lampard sempat kebingungan memanfaatkan potensi para pemain ini, terutama Werner dan Havertz yang mesti beradaptasi dengan permainan fisik ala Premier League.

Lihat postingan ini di Instagram

+ 3 points. ✅ well done boys. 👏🏼

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kai Havertz 💥⚽️✌🏼 (@kaihavertz29) pada

Belum lagi, Lampard juga mesti mengkombinasikan kemampuan Havertz dengan armada yang ia miliki musim lalu macam Mount, Tammy Abraham, maupun Christian Pulisic. Akhirnya, pada laga lawan Krasnodar, Lampard menemukan bentuk skema serangan yang ia inginkan.

Pada laga tersebut, Lampard memainkan skema dasar 4-3-3. Ia menempatkan Havertz sebagai gelandang di sisi dengan peran no. 8 dan no. 10. Sedangkan Ziyech, ia ditempatkan sebagai winger dengan keleluasaan untuk menerobos ke tengah. Werner juga diberikan keleluasaan di depan. Ia bisa bergerak ke kiri, kanan, atau mengeksploitasi ruang lewat kecepatannya.

Skema ini juga Lampard gunakan saat laga lawan Burnley. Hasilnya, di dua laga tersebut, penyerangan Chelsea begitu cair dan akhirnya mereka mampu menutup dua lag aitu dengan kemenangan.

Intinya, meski kedatangan pemain baru, model serangan dari Lampard ini tidak berubah. Winger yang merapat ke tengah, serta sokongan dari lini kedua merupakan senjata utamanya dalam menerobos pertahanan lawan. Ada pula peran serta full-back yang memberikan opsi serangan melebar ke sayap.

Fase Bertahan

Pertahanan Chelsea, di zaman manajerial Lampard ini, perlu diakui sedikit bermasalah. Skema serangan yang Lampard gunakan saat fase menyerang, terutama dengan mengandalkan dua full-back untuk maju, kerap meninggalkan lubang di area half-space dan sayap itu sendiri.

Saat bertahan, Lampard menerapkan skema yang tidak jauh berbeda dengan Juergen Klopp: pressing dengan intensitas tinggi. Bedanya, pressing yang diterapkan Klopp memiliki tujuan, yaitu merebut bola secepat mungkin dari kaki lawan, sehingga serangan bisa dilancarkan saat lawan belum siap.

Nah, buat Lampard, pressing ini lebih kepada menahan agar lawan tidak segera mengirimkan bola ke wilayah pertahanan Chelsea. Para pemain bertahan diberikan waktu untuk mengorganisasi pertahanan, membentuk skema dasar 4-4-2 atau 4-1-4-1 saat bertahan.

Akan tetapi, pada praktiknya, lawan tetap mampu menemukan celah di lini pertahanan Chelsea, terutama lawan yang lihai bermain direct. Contoh nyata dapat dilihat saat Chelsea tumbang 0-4 di tangan Manchester United pada laga perdana Premier League 2019/20.

United mampu mencecar sisi half-space dan kedua sayap Chelsea saat itu. Apalagi, mereka ditopang oleh pemain-pemain macam Marcus Rashford dan Anthony Martial yang punya kecepatan mumpuni. Tidak hanya itu, masalah pertahanan ini juga kerap muncul saat Chelsea menghadapi lawan yang memilih bermain deep.

Paling dekat, contohnya adalah saat Chelsea menghadapi West Bromwich Albion. Mereka begitu kesulitan menembus pertahanan West Brom yang memilih menumpuk pemain di kotak penalti sendiri. Sialnya, saat berupaya menekan lebih dalam, West Brom justru mampu menyerang balik Chelsea dengan cepat.

Lazimnya, saat serangan Chelsea terputus, itu adalah awal petaka. Selepas itu, biasanya ruang di sayap dan half-space Chelsea akan muncul karena full-back dan gelandang bertahan Chelsea kelewat maju. Ruang itulah yang kerap dicecar lawan. Ditambah lagi, Kepa Arrizabalaga juga kerap melakukan blunder.

Alhasil, untuk memperbaiki pertahanan, Chelsea merekrut Edouard Mendy. Dalam empat laga ia bermain, Mendy selalu sukses mencatatkan clean sheet. Ini jadi perbaikan awal Lampard di area pertahanan. Mendatangkan Thiago Silva juga jadi solusi lain bagi Lampard dalam memperbaiki lini belakang Chelsea.

Silva diharapkan dapat menjadi komandan di lini pertahanan Chelsea, melapisi Kurt Zouma, Antonio Ruediger, atau Andreas Christensen yang masih kerap inkonsisten. Bukan cuma itu, Lampard juga mulai mengembalikan peran Kante yang sejatinya kuat dalam bertahan.

Dalam laga lawan Burnley, hal ini sudah terlihat. Kante menorehkan catatan tekel dan intersep tertinggi di laga itu buat Chelsea, yakni 3 kali (tekel) dan 2 kali (intersep). Ia mampu memberikan proteksi bagi empat bek Chelsea.

***

Dalam perjalanannya sebagai manajer, Tatsumi melakukan beberapa adaptasi dan variasi. Adaptasi dan variasi ini biasanya ia lakukan untuk menyesuaikan diri dan lawan. Tidak hanya itu, adaptasi dan variasi ini juga kerap memberikan pengalaman baru bagi pemain.

Pada akhirnya, adaptasi dan variasi itu meningkatkan level permainan tim secara keseluruhan. Alhasil, ETU yang awalnya hanya tim penghuni papan bawah, mampu menjadi pesaing Osaka Gunners, Kashima Wonderers, dan Shimizu Impulse di papan atas.

Lampard juga bukannya abai terhadap adaptasi dan variasi. Ia pernah menggunakan skema tiga bek musim lalu, dan skema itu membawa Chelsea menundukkan Tottenham Hotspur dan Wolverhampton Wanderers. Fleksibilitas-nya dalam menerapkan skema dasar 4-3-3 dan 4-2-3-1 juga menjadi cermin jika Lampard mampu beradaptasi.

Andai sikap macam ini terus dipertahankan Lampard, apalagi di tengah usianya yang masih muda untuk ukuran manajer, ia bisa menjadi manajer besar dan andal di masa depan. Entah kelak ia masih menangani Chelsea atau saat ia menangani klub lain.

Karena gosipnya, menurut 'Giant Killing', Tatsumi juga tidak akan selamanya menangani East Tokyo United.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.