Membela Formasi Tiga Bek
Tak ada yang salah dengan formasi tiga bek. Yang salah adalah cara penggunaannya. Karena itu, yang harusnya dikritisi adalah soal pendekatan, cara main.
Separuh dari 18 tim Bundesliga sedang atau pernah menggunakan formasi tiga bek di musim ini.
Formasi tiga bek memang begitu populer di Jerman dalam beberapa musim ke belakang dan banyak pelatih-pelatih yang meroket karena menggunakan pola ini.
Oliver Glasner, meski pernah juga menggunakan pola empat bek, meroket bersama Frankfurt saat menggunakan pola tiga bek.
Pola itu masih dipakainya hingga saat ini bersama Crystal Palace dan mereka mampu meroket ke papan atas Premier League. Glasner seolah juga menyatakan bahwa pola ini cocok-cocok saja di Inggris, tak seperti opini-opini malas warganet yang berpikir sebaliknya.
Konteks penting, tentu.
— The Flanker (@theflankerID) September 28, 2025
Tapi kalau lihat secara general, United-nya Amorim bisa belajar dari Crystal Palace-nya Glasner soal gimana caranya bikin struktur bertahan nggak mubazir.
Palace itu sering pakai 5-4-1 di mana gelandang/penyerang sayap bisa jaga kelebaran saat bertahan. pic.twitter.com/k8L5GlJt7c
Pep Guardiola, pelatih paling sukses di Inggris dalam satu dekade terakhir, juga acap kali menggunakan pola tiga bek bersama Manchester City, entah itu bertahan atau menyerang.
Ingatan mungkin bisa lompat ke laga vs Arsenal di mana City bermain dengan pola tiga bek (yang menjadi lima bek saat bertahan) pada babak dua. Atau silakan putar ulang laga-laga City saat mereka meraih treble dan lihatlah bagaimana Guardiola acap menggunakan shape 3-2-5 saat timnya memegang bola.
Fabian Hürzeler mungkin belum akan berada di Inggris bila ia tak sukses menggunakan pola tiga bek bersama St. Pauli di Jerman.
Atau contoh gampang lainnya bisa dilihat dari Simone Inzaghi, di mana ia mampu membawa Inter jadi juara Italia dan mencapai final Liga Champions dua kali dengan memakai pola ini. Permainan Inter di bawah Simone bahkan begitu menarik, karena dengan pola ini ia juga menggunakan permutasi posisi yang begitu cair dari para pemainnya.
Di Italia, Gianpiero Gasperini juga konsisten dengan pola yang sama dan sukses bersama Atalanta, juga tengah membawa AS Roma meraih hasil positif di Serie A dengan formasi tiga bek.
Bila kembali ke Bundesliga, Alexander Blessin bisa menjadi sorotan, di mana ia mampu membawa St. Pauli menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit kedua di Bundesliga musim lalu dengan pola tiga atau lima bek.
Bo Henriksen juga mampu membawa Mainz menembus Eropa berkat pola yang mirip, atau Niko Kovac yang membawa Dortmund perlahan-lahan jadi lebih baik berkat main dengan tiga bek.
Atau Kasper Hjulmand juga bisa diperbincangkan karena ia berhasil membersihkan kekacauan yang ditinggalkan Erik ten Hag dan membawa Leverkusen kembali ke zona Eropa juga berkat penggunaan pola tiga bek.
***
Lantas, penggunaan tiga bek juga menjadi menarik karena beberapa pelatih menggunakan sistem dan struktur yang berbeda. Meski di atas kertas menggunakan pola yang sama, penggunaan pola tiga bek nyatanya bisa fleksibel.
Glasner menggunakan strategi mid-block bersama Palace, di mana timnya tak akan lompat untuk melakukan pressing secara agresif, tetapi menunggu agak dalam dengan shape 5-4-1 dengan tujuan untuk menutup jalur serangan seminimal mungkin buat lawan.
Dengan jarak antarpemain yang juga sempit, karena mereka berdiri berdekatan, Palace-nya Glasner mampu membuat overload di banyak area lapangan, memenangkan second ball, juga melakukan aksi-aksi defensive dengan banyak kover.
Inilah mengapa mereka termasuk salah satu tim dengan pertahanan terbaik di Premier League. Dan jangan lupakan juga bahwa dengan pola tiga bek Palace juga menjadi salah satu tim dengan serangan direct, juga counter attack terbaik di Premier League.
Hjulmand bisa menjadi contoh bagaimana pola tiga bek juga bisa sangat fleksibel dalam fase build-up. Bayer Leverkusen-nya, meski di atas kertas main dengan pola 3-4-3, bisa membuat pola 4-3-3 atau 4-2-4 saat build-up.
Shape itu, selain membantu mereka untuk mampu selalu meng-overload fase build-up sendiri, juga mampu membuat Leverkusen mendapatkan struktur yang mampu mempermudah mereka untuk bermain dengan umpan-umpan diagonal.
Hjulmand bahkan tak benar-benar memaksimalkan wing-back untuk menjaga kelebaran, sebagaimana umumnya mereka yang menggunakan pola tiga bek. Karena nyatanya, Alex Grimaldo acap melakukan gerakan underlap dan beroperasi lebih sebagai gelandang tengah.
Blessin di St. Pauli, meski bermain dengan pola tiga bek, bertahan dengan cukup agresif. Lima pemain terdepan akan naik untuk melakukan pressing terhadap build-up lawan, dengan penyerang memosisikan diri untuk menjaga kelebaran.
Blessin memberikan alternatif atau contoh bahwa, selain dengan cara mid-block seperti Glasner, tim yang bertahan dengan lima bek juga mampu melancarkan pressing yang lebih agresif dan tak selalu menunggu di kedalaman.
Cara ini sejatinya juga diterapkan oleh Ruben Amorim di Manchester United. Dengan pertandingan terakhir vs Sunderland juga menunjukkan bagaimana Amorim menggunakan penyerang sayap atau gelandang serang (terutama Mount) untuk menjaga kelebaran alih-alih memosisikan diri dekat dengan penyerang tengah di depan.
Atau Gasperini juga bisa jadi contoh bagaimana tiga bek juga bisa dipadukan dengan man-to-man marking yang agresif dan membuat, dalam beberapa kesempatan, struktur bertahan tak lagi menjadi lima di belakang.
***
Formasi tiga bek, sama pula seperti formasi lainnya, memang hanya di atas kertas. Sejatinya pola, struktur tim bisa berubah. Cara pressing bisa disesuaikan dengan kebutuhan tim dan keinginan pelatih, cara menyerang pun sama.
Dengan begini, seharusnya tak ada lagi argumen yang menyebut bahwa sebuah formasi itu salah atau tak cocok dengan sebuah liga. Sebab, nyatanya, tak ada yang saklek dalam sepak bola, semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan tim.
Lantas, di sinilah masalahnya. Jika timmu belum berhasil meraih hasil positif, itu mungkin bukan soal formasi yang salah. Melainkan soal pendekatan yang dipakai pelatih, soal bagaimana cara mereka meminimalisir peluang-peluang lawan saat dalam mode bertahan, juga soal bagaimana membuat serangan menjadi jauh lebih berbahaya.
Saya melihat dengan mata sendiri bagaimana Alexander Blessin mengotak-atik susunan pemain, mengubah struktur, mengubah cara timnya bertahan, mengubah pendekatan pressing, mengubah cara timnya menyerang, memperbaiki organisasi sejak awal musim lalu dengan memiliki fondasi yang sama: Pola tiga bek.
Hanya pelatih malas yang tak mau melakukan perubahan ketika timnya menelan hasil buruk, dan saya rasa suporter harus menilai perubahan-perubahan ini. Tentu yang saya maksud bukan perubahan formasi, tapi detail-detail dalam permainan timnya. Perubahan-perubahan yang membawa tim terlihat lebih baik.
Dan terakhir: Perubahan butuh waktu untuk benar-benar masak dan hasil akhir biasanya tak selalu mengikuti keinginan.