Memphis

Foto: @memphisdepay.

Memphis Depay terbiasa dengan kesukaran sedari kecil. Namun, segala kesukaran itu membebaskannya di kemudian hari dan membuat ia berkuasa atas dirinya sendiri.

Memphis Depay memanggul nama ‘Memphis’ di punggungnya. Seolah-olah, ia ingin berkata bahwa ia berkuasa atas dirinya sendiri.

Bagi Memphis, nama ‘Depay’ yang jadi nama belakangnya serupa sebuah kepemilikan. Nama tersebut merupakan nama belakang ayahnya. Bukan ia yang memilikinya, tetapi ayahnya itu.

Ketika Memphis berusia 4 tahun, ayahnya memilih pergi meninggalkan ia dan ibunya. Ia kemudian mendapatkan sosok seorang ayah dari kakeknya. Untuk mengabadikan sang kakek, Memphis lantas merajah sebuah tato di badan.

Di tubuhnya terajah 47 tato. Selain tato untuk sang kakek, ada tato singa besar di punggung yang menjadi ikon dirinya. Selebihnya, tidak ada apa-apa lagi di punggungnya selain nama ‘Memphis’ itu.

Ketika sang ayah pergi begitu lama dari hidupnya, sudah tidak ada alasan lagi untuk lama-lama memanggul namanya—selain untuk identitas di atas dokumen belaka. Memphis yang sekarang adalah Memphis yang merdeka dari keterikatan sebuah nama. Ia adalah dirinya sendiri.

Bahkan untuk urusan kariernya selepas meninggalkan Olympique Lyon, Mei 2021, Memphis tak lagi menggunakan jasa agen. Ia menyebut, lewat sebuah pernyataan resmi di akun media sosial pribadi, bakal mengurus segala sesuatunya sendiri, dengan dibantu orang-orang tepercaya dan ahli hukum.

“Sudah waktunya bagiku untuk mengontrol karierku sendiri,” tulis Memphis.

Pada masa ketika pendekatan terhadap seorang pemain membutuhkan beragam tetek-bengek, mulai dari meyakinkan orang tua si pemain hingga tarik-ulur dengan agen, apa yang dilakukan Memphis bak membebaskan diri dari pasungan.

Ia tak lagi harus mendengar bisik-bisik soal klub mana yang bisa memberikan prospek lebih baik atau menggajinya lebih mahal. Yang ia tahu, ia kini bisa bermain di klub sesuai yang ia mau.

Perkara kebebasan itu pula yang akhirnya mendewasakan Memphis. Sedari awal, ia selalu mendongak. Ketika kariernya melesat bersama PSV Eindhoven, lalu kemudian mendapatkan pengakuan dunia bekat penampilannya di Piala Dunia 2014, Memphis selalu merasa bahwa dirinya Daud yang bisa menebas raksasa mana pun.

Oleh karena itu, tantangan sebesar apa pun sebisa mungkin ia lawan dengan tangan kosong, termasuk ketika muncul pada panggung sebesar Piala Dunia. Masih berusia 20 tahun, Memphis masuk lapangan dan langsung mengubah arus laga.

Cuaca di Porto Alegre kala itu sedang terik-teriknya dan Belanda tengah tertinggal 1-2 setelah sepakan penalti Mile Jedinak menaklukkan kiper Jasper Cillessen. Memphis sendiri sudah masuk sejak ujung babak pertama menggantikan Bruno Martins Indi yang cedera. Namun, baru pada babak kedua ia unjuk kebolehan.

Pertama-tama, ia memberikan assist untuk gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Robin van Persie. Kedua, ia sendiri yang menjadi pencetak gol untuk membawa Oranje berbalik unggul 3-2. Kontan, namanya langsung wangi. Sepanjang sisa pertandingan Belanda pada turnamen itu, Memphis beberapa kali ambil bagian meski cuma berstatus pemain pengganti.

Turnamen itu menjadi turnamen memorial untuknya karena itulah turnamen besar pertamanya. Selain satu gol lagi yang ia cetak ke gawang Chile, Memphis juga masuk sebagai nomine untuk penghargaan Best Young Player kendati akhirnya kalah dari Paul Pogba.

Dari situ, kariernya kian melejit. Tawaran Manchester United pada 2015 langsung ia terima. Melihat betapa agresif, direct, dan tajamnya Memphis pada musim terakhirnya bersama PSV—ia mencetak 22 gol dari 30 laga di Eredivisie—semestinya ia bisa nyetel dengan gaya permainan Premier League. Toh, ia juga punya fisik yang kokoh.

Sial, yang terjadi justru sebaliknya. Selain tak cocok dengan skema main United dan kalah bersaing dengan Anthony Martial, Memphis dituding terlalu banyak gaya. Banyak yang menyebutnya silau dengan pakaian mahal dan mobil mewah, membuat Wayne Rooney—kapten United kala itu—sampai menegurnya.

Menurut Bart Vlietstra di The Guardian, sulit untuk membayangkan Memphis yang seperti itu lahir di Moordrecht, sebuah kota kecil di selatan Belanda. Jumlah penduduknya cuma 8.700 dan di sana lebih banyak padang rumput daripada lapangan sepak bola.

Dengan akar yang begitu membumi itu, Vlietstra lantas menyebut Memphis tumbuh sebagai “Netherlands troubled teen” alias pemuda bermasalah. Ia terbiasa hidup dengan barang mewah, termasuk koleksi kalung berharga 100.000 euro, dan cukup bangga memamerkan dirinya berpose di atas yacht dengan sebotol whiskey mahal.

Namun, di balik itu, Memphis adalah sosok yang unik. Wawancaranya dengan sejumlah media acap diselipi ayat-ayat Alkitab. Selain itu, ia pernah ikut turun ke jalan pada sebuah unjuk rasa menentang rasialisme di Amsterdam. Tak ketinggalan, yang membuat sosoknya makin unik, ia berbicara Bahasa Inggris dengan aksen jalanan khas Belanda.

Memphis, pada akhirnya, memang terbiasa dengan kesukaran. Ini menjelaskan mengapa sikap sengak dan mendongaknya itu begitu kental. Ketika ayahnya pergi meninggalkan ibunya, kehidupan Memphis tidak pernah sama. Sang ibu kemudian menikah lagi dengan seorang tetangga dan, menurut penuturan Memphis sendiri dalam otobiografinya, ‘Heart of Lion’, sisanya adalah neraka.

Di rumah ayah tirinya itu, Memphis mesti tinggal dengan anak-anak lainnya. Semuanya merundung Memphis. Tidak jarang, ia harus berkelahi dengan tangan kosong dengan mereka. Pada hari lain, ia diancam bakal ditikam dengan pisau. Semua pengalaman ini membuat Memphis sempat emoh percaya pada orang lain dan memilih untuk bergantung pada dirinya sendiri.

Menurut pengakuannya dalam otobiografi yang sama, kehidupan keras tersebut sempat membuatnya mati rasa. Namun, dari situ pula ia mendapatkan insting untuk bertahan hidup. Persis seperti singa yang terbuang ke jurang, tetapi kemudian kembali ke permukaan sebagai hewan yang lebih buas. “Aku menumpahkan rasa sakitku di lapangan. Sepak bola adalah satu-satunya jalan keluarku. Sepak bolalah yang membebaskanku,” tulisnya.

Ketika kariernya di United terpuruk, Memphis melihat jalan keluar lain: Lyon. Selama lima musim, ia membenamkan diri, menunduk, dan bekerja keras, hingga akhirnya muncul kembali ke permukaan sebagai pemain yang lebih dewasa. Kini, ia tak hanya menanggung tanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga untuk timnya.

Baik di Lyon maupun di Timnas Belanda, Memphis adalah salah satu pemain penting. Per 21 Juni 2021, Memphis telah menorehkan 28 gol dan 22 assist dalam 67 pertandingan bersama Oranje. Sulit untuk membayangkan bahwa pemuda yang dulu gagap dengan kebintangan kini telah menjadi pemain penting untuk negaranya sendiri.

The Athletic bahkan menyebut bahwa cara bermain Memphis kini—terutama di Lyon—mirip dengan Lionel Messi. Pasalnya, selain area jelajahnya mirip, ia juga gemar turun ke lini kedua untuk menerima bola atau membantu mengkreasikan peluang. Selama musim 2020/21, ia mencetak 20 gol dan 12 assist di liga, plus rata-rata mengkreasikan 2,5 operan kunci per laga.

Konsistensi yang sama masih ia perlihatkan di Piala Eropa 2020 dengan torehan 2 gol dan 1 assist, plus rata-rata 1,7 operan kunci per laga. Dengan pembuktian ini, Memphis pantas berbangga karena ia bisa memanggul namanya, dan mungkin kelak, Belanda di punggungnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.