Memuji Alessandro Bastoni

Foto: Twitter @SempreIntercom.

Dengan seabrek kemampuan yang dimilikinya, tak sulit menerka Bastoni sebagai calon bek terbaik Italia.

Keromantisan Alessandro Bastoni dan sepak bola tidak terjadi secara kebetuan. Ayahnya, Nicola Bastoni, sudah memperkenalkannya sejak dini. Nicola bukan pemain kondang, dia cuma pernah bermain untuk klub semenjana macam Cremonense. Namun, dia punya mimpi agar anaknya menjadi pemain hebat.

Langkah pertama adalah dengan mengajak Bastoni gabung dengan klub junior yang ia latih, Cannatese. Lalu, setelah Bastoni berumur 7 tahun, Nicola mendaftarkannya ke Akademi Zingonia milik Atalanta. Nyaris 10 tahun lamanya dia mengantar Bastoni bolak-balik dari Casalmaggiore ke Bergamo yang berjarak 113 kilometer. 

"Aku harus berterima kasih kepada ayahku. Dia masih memiliki hasrat untuk sepak bola, ia tak bosan melakukan semua ini untukku," ujar Bastoni kepada L'Ultimo Uomo.

Sebagai eks pesepak bola Italia, Nicola tahu betul kualitas akademi Atalanta. Selama beberapa dekade ke belakang mereka telah menelurkan bintang-bintang Italia macam Roberto Donadoni, Alessio Tacchinardi, Domenico Morfeo, Rolando Bianchi, Giampaolo Pazzini, dan Riccardo Montolivo. Sementara Roberto Gagliardini, Mattia Caldara, Andrea Conti, dan Franck Kessie, Dejan Kulusevski adalah beberapa alumni terbaru akademi Gli Orobici.

Sejak medio 90-an Atalanta memang aktif memproduksi pemain muda. Apalagi setelah sang presiden, Antonio Percassi, menyewa Stefano Bonaccorso untuk mengelola tim junior.

Kebijakan semacam ini kemudian memudahkan Atalanta dalam bertirakat saat klub-klub Serie A lainnya sibuk belanja pemain bintang. Mereka memilih mengorbitkan personel akademi alih-alih boros di bursa transfer. Karena, ya, secara kualitas jebolan tim junior Atalanta relatif di atas rata-rata.


“Mari kita lupakan dulu tentang formasi 3-5-2, 4-3-3, atau 4-5-1. Semuanya hanya nomor telepon jika para pemain tidak dapat mengeksekusi teknik dengan benar,” begitu Bonaccorso berkata kepada Cano Football.

Saat itu Bonaccorso telihat mengawasi latihan taruna Atalanta. Kontrol bola dan juggling menjadi drill para pemain. Bonaccorso menganggap bahwa teknik merupakan fondasi utama seorang pemain bola. Bila itu sudah beres, para pemain nantinya bisa melakukan tugasnya dengan sempurna di mana pun posisinya.

So, jangan heran kalau Bastoni punya daya olah bola bagus meski beroperasi sebagai bek. Apalagi sebelumnya dia sempat ngepos di sebagai winger dan bek sayap selama akademi. Deretan atribut itu membantunya menjadi ball-playing defender. Nilai jual Bastoni makin tinggi dengan fisiknya yang menjulang (1,9 meter). Selain jangkauan kaki yang lebar, itu juga bisa memperbesar kemungkinan memenangi duel udara.

Rangkaian potensi itulah yang mendorong Inter mendatangkan Bastoni. Tak tanggung-tanggung, 31 juta euro mereka rogoh untuk menebusnya dari Atalanta. FYI, Bastoni menjadi rekrutan termahal Inter pada periode 2017/18 itu.

Meski demikian, Inter tak langsung mempersilakannya mentas. Mereka mengembalikan Bastoni ke Atalanta dengan status pinjaman. Alasannya masuk akal, dia baru berusia 18 tahun dan kudu meningkatkan jam manggungnya. Apalagi Inter saat itu masih punya Miranda, Milan Skriniar, dan Andrea Ranocchia. Makin kecil pula kans Bastoni buat tampil.

Pun dengan periode 2018/19. Kedatangan Stefan de Vrij pada musim panas membuat lini belakang kian sesak. Alhasil, Bastoni direntalkan untuk keduanya kalinya. Kini Parma destinasinya. 

Hasilnya tak buruk. Bastoni mendapatkan atensi lebih dari arsitek Parma, Roberto D'Aversa. Di Serie A, dia tampil 24 kali dan sukses menyumbang 1 gol.

Baru pada musim 2019/20 Bastoni resmi menjadi "karyawan tetap" Inter--seiring dengan kedatangan Antonio Conte. Wajar, sih, karena dia membutuhkan stok bek sentral untuk menyempurnakan pakem tiga bek. Itulah mengapa Conte kemudian memasukkan Bastoni dalam proyeknya.

"Ketika tiba di sini, aku tidak berpikir aku akan cukup layak masuk ke skuat yang hebat ini. Namun, pelatih memberiku kepercayaan diri dan aku berhasil memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," kata Bastoni dalam wawancara dengan Sport Mediaset.

Wajar Bastoni minder. Wong saat itu Inter masih punya Diego Godin selain Skriniar, Ranocchia, dan De Vrij di departemen bek tengah. Untungnya Bastoni punya banyak bekal selepas bersekolah di Atalanta. Kadar teknik serta kualitas distribusi bola mumpuni membuatnya dilirik Conte.

Bukan rahasia lagi kalau pelatih kelahiran Lecce itu doyan memainkan bek yang jago mengalirkan bola. Lihat saja Leonardo Bonucci yang menjadi tumpuannya selama di Juventus, kemudian Cesar Azpilicueta semasa menukangi Chelsea.


Bastoni tampil mengesankan pada periode pertamanya di Inter. Menit bermainnya di Serie A menyentuh 1.922, lebih banyak Godin dan Ranocchia. WhoScored mencatat Bastoni menorehkan 56,4 umpan per laga atau terbanyak ketiga setelah Marcelo Brozovic dan Skriniar. Sementara FBRef mencatat Bastoni telah mengukir 5,51 umpan sukses ke kotak penalti lawan per 90 menitnya (tertinggi kelima di Serie A). Dalam rentang waktu itu pula dia sukses mengumpulkan sepasang gol.

Bebicara soal produktivitas, Bastoni sebenarnya punya rekam jejak yang impresif. Sebanyak 5 gol pernah dibuatnya untuk Atalanta selama di Primavera, termasuk saat berhadapan dengan Juventus dan Inter. Setali tiga uang dengan kiprahnya di level internasional. Dari U-15 hingga U-21 Italia, sudah 4 gol yang Bastoni buat.

"Tujuan utama bek tetap untuk menjaga timnya dari kebobolan. Namun, Anda juga harus bisa berevolusi untuk mengikuti situasi pertandingan dan di mana Anda berada di lapangan pada saat itu," terang Bastoni kepada L'Ultimo Uomo.

Aksi ofensif Bastoni kian berkembang di musim 2020/21. Itu tertuang lewat 4 assist dari 34 pementasan di lintas ajang. Rincinya 3 di Serie A dan satu lainnya di Liga Champions.

Jangan salah, Bastoni tetap punya kapabalitas dalam aksi bertahan. FBRef mencantumkan Bastoni di peringkat keenam dalam aspek bertahan sekaligus kemampuan dribel di Serie A.

Foto: FBRef

Secara garis besar, build-up dari bek dengan umpan-umpan pendek plus serangan sayap merupakan identitas permainan Conte. Namun, dalam situasi tertentu dia juga menginstruksikan anak asuhnya untuk melepaskan umpan jauh demi mem-by pass lini tengah lawan.

Lebih-lebih Conte punya Romelu Lukaku yang berguna sebagai reflektor. Tak cuma itu, malah, karena eks Everton tersebut juga mampu bermanuver dari tepi lapangan.

Nah, di sinilah Conte memaksimalkan kemampuan Bastoni. Kecakapannya dalam mengumpan bakalan manjur untuk mengeliminasi area sentral lawan. Dengan begitu Inter bisa lebih efektif dalam menghadapi tim yang mencanangkan pressing serta garis pertahanan tinggi.

Bisa dilihat assist Bastoni kepada Nicolo Barella ke gawang Juventus. Dari belakang, Bastoni mengirimkan umpan jauh yang kemudian diakhiri dengan sempurna oleh Barella. Skema semacam itu pula yang terjadi pada lesakan ke Crotone bikinan Lukaku awal Januari lalu.

Sementara sepasang assist lain Bastoni lahir via set-piece. Dia memanfaatkan tinggi badannya untuk meneruskan bola ke rekan setimnya. Lukaku dan Skriniar pernah terbantu dengan metode demikian.

***

Tentu bukan perkara enteng untuk melepaskan long ball dengan efektif. Selain akurasi, pemain kudu mafhum membaca ruang dan posisi kawan serta lawan plus timing yang pas.

Makanya tak banyak bek yang piawai dalam melakukan peran seperti ini. Bonucci, Sergio Ramos, Gerard Pique, Jerome Boateng, Virgil van Dijk, dan Aymeric Laporte adalah beberapa di antaranya. Meski belum sejajar, Bastoni bisa dimasukkan dalam kelompok elite di atas. Kemampuannya dalam olah bola serta kecakapan distribusi membuatnya lebih dari sekadar bek biasa.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.