Memuji Eddie Howe

Foto: Newcastle United

Howe berhasil meniupkan nyawa Newcastle United yang sebelumnya hilang. Sembilan pertandingan beruntun mereka tak terkalahkan dan kini berjarak 10 poin dari zona degradasi.

Usai pertandingan, setiap pemain dan staf berkumpul ke ruang ganti tanpa terkecuali. Totalnya ada 46 orang. Serena Taylor lebih dulu sampai. Tak lama menunggu, dia kemudian mengatur posisi dan membebaskan mereka untuk berpose di depan kameranya.

Kieran Trippier dengan kruknya ada di barisan terdepan. Dan Burn, di sebelahnya, merangkul Ryan Fraser sambil bertelanjang dada. Di ujung kanan, Miguel Almiron mengepalkan tangan sambil menduduki koper. Cekrek, jadilah foto yang kemudian diunggah Fabian Schaer di Instagram miliknya.



Itu menjadi ritual baru Newcastle United. Tak peduli menang atau kalah, pemain cadangan atau bukan, mereka akan menunjukkan kekompakkan usai laga. Eddie Howe yang mengajarkan ini.

“Ini adalah sesuatu yang kami lakukan untuk mendorong kenikmatan memenangi pertandingan. Kedengarannya konyol, tetapi Anda harus menikmati momen-momen ini karena jarang terjadi,” kata Howe dilansir situs resmi klub.

Jelas, apa yang dilakukan Howe itu bukan sebuah kekonyolan. Dia berhasil mengembalikan martabat Newcastle sebagai klub terpandang. Para pemain dan staf menjadi lebih solid dari sebelumnya. Kemenangan pun terasa lebih dekat.

Sudah sembilan pertandingan The Magpies tak terkalahkan. Enam di antaranya bahkan diakhiri dengan poin penuh. Ini jauh dari rezim sebelumnya, Steve Bruce. Sudah keok mulu, internal retak pula.

Howe datang saat Newacastle berkubang di dasar klasemen. Sekarang mereka nangkring ke urutan 14 klasemen sementara. Setidaknya ada margin 10 poin dengan Burnley yang berada di batas atas zona degradasi. 



Sebenarnya pendekatan yang dilakukan Howe ini bukan hal baru. Semangat kolektivitas telah diterapkannya semasa melatih Bournemouth. Bedanya, The Cherries jauh dari sorotan media sementara Newcastle kebalikannya. Apalagi setelah mereka diakuisisi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

Jangankan sampai sana, awal penunjukan Howe saja sempat dipandang sebelah mata. Dia dianggap sebagai opsi terakhir dari Unai Emery atau Paulo Fonseca. Bahkan, Zinedine Zidane atau Antonio Conte yang akhirnya merapat ke Tottenham Hotspur.

Kendati begitu, duo petinggi Newcastle, Amanda Staveley dan Mehrdad Ghodoussi, meyakini bahwa Howe adalah sosok yang tepat untuk membangun pondasi awal tim. “Kami ingin Eddie Howe menjadi Alex Ferguson berikutnya,” kata mereka.

Harapan Staveley dan Ghodoussi terwujud, setidaknya untuk saat ini. Selain dari segi manajerial, Howe berhasil memacu Newcastle untuk berprogres dari pertandingan satu ke pertandingan lainnya.

Skema main Jonjo Shelvey dkk. tampak lebih terstruktur. Howe menerapkan kolektivitas antarpemain. Berbeda dengan era Bruce yang cenderung mengandalkan spesialisasi dribel Allan Saint-Maximin. Nyatanya, Newcastle berhasil meraih 10 poin tanpa kehadiran winger asal Prancis itu.

Sekarang permainan Newcastle tak lebih direct dari sebelumnya. Build-up serangan dari lini belakang menjadi opsi primer Howe. Jarak antarpemain menjadi lebih dekat dan itu memudahkan mereka untuk tetap menjaga penguasaan bola.

Ketika Newcastle seri dengan West Ham United tiga pekan silam, misalnya, kita bisa melihat ada perbaikan dari segi pengorganisasian pemain. Jarak antara bek dengan gelandang lebih rapat sehingga menyulitkan West Ham untuk melakukan serangan.

Hanya 3 tembakan tepat sasaran yang dilepaskan The Hammers, padahal mereka diperkuat Michail Antonio dan Jarrod Bowen yang notabene pilar di area depan. Ini jauh berbeda dengan era Bruce yang cenderung memberikan ruang kepada Said Benrahma cs. Hasilnya buruk, Newcastle kecolongan 9 tembakan tepat sasaran dan 4 di antaranya berujung gol.

Peningkatan juga ada di persentase penguasaan bola. Memang, itu hanya 7% (dari 46% ke 53%). Akan tetapi, itu menunjukkan bahwa Newcastle mulai berani untuk memainkan bola. Terlebih lagi laga itu digelar di markas West Ham, London Stadium.

Overall, format dasar 4-3-3 yang diusung Howe beralih ke 2-4-4 dalam fase menyerang. Shelvey diplot sebagai gelandang bertahan. Catatan aksi bertahannya memang tak spesial. Akan tetapi, dia berguna untuk menjembatani bola dari lini belakang. Persentase kesuksesan umpannya menyentuh 81%, tergolong tinggi untuk ukuran Newcastle. Howe juga masih mempunyai Bruno Guimaraes yang lebih komplet. Hanya saja dia masih membutuhkan waktu beradaptasi sejak didatangkan musim dingin lalu.

Sementara dua gelandang lainnya, Joelinton dan Joe Willock, diutus untuk menahan lebar lapangan sehingga shape pertahanan lawan merenggang, apalagi keduanya memang jago untuk urusan menggiring bola. Whoscored mencatat rata-rata dribel Joelinton dan Willock di angka 1,2 dan 1,3 per laga. Hanya Saint-Maximin yang mengemas lebih banyak.  

Dalam situasi ideal, Joelinton dan Willock dilegalkan untuk menyelesaikan peluang. Nyatanya mereka berhasil mengemas masing-masing 2 gol sejauh ini. FYI, tak ada satu gol pun yang dibuat Joelinton sebelum Howe datang.

Pergerakan dua gelandang itu ke sisi tepi tentu berimpak kepada dua winger Newcastle, Fraser dan Jacob Murphy. Dengan adanya bala bantuan, mereka menjadi lebih leluasa untuk masuk ke kotak penalti lawan.

Fraser khususnya, dalam mode serangan balik dia bisa mengisi garis terdepan untuk segera mengonversi peluang. Golnya ke gawang Brighton and Hove Albion menggambarkan itu. Di pertandingan yang sama winger Skotlandia itu juga sukses mengirimkan umpan yang dikonversi Schaer.

Well
, Fraser ini cukup komplet sebagai seorang winger. Selain mampu mencetak gol, dia juga piawai mendulang peluang. Baik itu via open play maupun bola mati. Tak mengherankan kalau kemudian Howe begitu mengandalkan Fraser. Dia merupakan produsen peluang utama sewaktu masih di Bournemouth. Perlu diingat, di musim 2018/19 Fraser menorehkan 14 assist dan hanya terpaut satu dari Eden Hazard sebagai yang terbanyak. 

Fraser bukan satu-satunya pengumpan andalan. Newcastle masih punya Trippier (yang sayangnya cedera), Matt Targett, dan Shelvey. Eksistensi mereka penting karena Howe juga kerap memanfaatkan bola lambung untuk mencetak gol.

Di tiga pertandingan terakhir, Newcastle rutin mencetak gol via duel udara. Gol Schaer saat melawan Brighton, ada juga lesakan Joelinton di laga versus Brentford. Terbaru, lesakan Chris Wood yang diawali umpan silang Shelvey. Variasi serangan inilah yang kemudian membuat Newcastle lebih produktif. Sejak kedatangan Howe, rasio gol per laga mereka meningkat dari 1 menjadi 1,25.

Apa yang sudah dilakukan Howe untuk Newcastle sejauh ini sangat layak mendapatkan kredit. Dia bisa meniupkan nyawa The Magpies yang sebelumnya hilang. Karakter permainan mereka mulai tampak dan hasilnya positif.

Di sisi lain, konsistensi Newcastle masih harus dites lebih lanjut. Betul bahwa mereka belum tak terkalahkan di sembilan pertandingan terakhir. Tapi hanya Manchester United yang tergolong Big Six (itu pun jika masih dianggap). Sisanya, tim papan tengah ke bawah.

Ujian pasukan Howe yang sesungguhnya ada di sisa 11 pertandingan ke depan. Ada Chelsea, Tottenham, Liverpool, Manchester City yang menunggu mereka.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.