Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Menakar Mereka yang Akan Terlempar dari Premier League

@premierleague

Di antara Norwich, Burnley, Watford, Everton, Leeds United, dan Newcastle United, siapa yang nantinya gagal meloloskan diri dari jeratan degradasi?

Premier League hanya tinggal menyisakan dua kandidat juara musim 2021/22, Manchester City dan Liverpool. Well, ini mungkin lagu lama. Keduanya rutin mengisi daftar juara atau runner-up sejak empat edisi ke belakang.

Namun, kami belum akan berbicara soal siapa yang paling memiliki kans juara musim ini. Setidaknya hingga pemenangan antara Liverpool dan City akhir pekan nanti. Lagi pula ada yang tak kalah menarik, yakni persaingan di jurang degradasi. Masih ada 8 tim yang koleksi poinnya di bawah 35.

Kalau mengacu musim lalu, batas akhir degradasi ada di angka 28 yang ditorehkan Fulham. Akan tetapi, itu merupakan torehan terendah selama Premier League digulirkan.

Menyitat situs Premier League, sejak kontestan dipangkas menjadi 20 pada musim 1995/96, setidaknya poin yang dibutuhkan klub untuk bertahan ada di 36-37 poin. Musim 2004/05 menjadi pengecualian. Kala itu West Bromwich Albion cukup mengumpulkan 34 poin untuk bisa bertahan di divisi paling elite se-Inggris tersebut.

Nah, berdasarkan torehan poin, form, dan jadwal sisa, kami akan menyoroti Norwich, Burnley, Watford, Everton, Leeds United, dan Newcastle United yang notabene merupakan enam klub peringkat terbawah. So, siapa saja yang paling mungkin terdegradasi musim ini?

Norwich (Peluang Bertahan 10%)



Satu slot degradasi hampir pasti dipegang Norwich musim ini. Bukan cuma torehan poin mereka yang baru 18, tetapi juga penampilan yang amburadul. Sejauh ini baru 18 gol yang mereka buat dan sudah kemasukan 63 kali.

Kedatangan Dean Smith di pertengahan November lumayan memberikan impak. Norwich dibawanya menggamit 5 poin di tiga laga perdana. Namun, setelahnya mereka kembali kumat.

Teemu Pukki dkk. menelan enam kekalahan beruntun dari Desember hingga Januari. Kemenangan atas Everton dan Watford juga tak banyak menolong karena badai kekalahan kembali menyerang. Dari tujuh pertandingan terakhir, hanya satu poin yang dipetik Norwich. Itu pun dari hasil imbang 0-0 melawan Brighton and Hove Albion akhir pekan lalu.

Napas Norwich dalam beberapa ke depan juga bakal berat. Masih ada Manchester United, West Ham United, dan Tottenham Hotspur yang akan mengadang mereka di GW 33, 36, dan 38.

Burnley (Peluang Bertahan 25%)

Burnley ini termasuk berpengalaman soal meloloskan diri dari jerat degradasi. Sejak promosi ke Premier League di musim 2016/17, malah. Di periode itu mereka nangkring di urutan 16. Kemudian di peringkat 15 dua edisi berselang. Sementara di musim lalu, Burnley finis di peringkat 17.

Kemampuan Burnley yang mampu menghindari degradasi berulang kali jelas menjadi nilai plus. Selain itu mereka juga masih mengantongi 2 pertandingan lebih banyak dari mayoritas kontestan Premier League. Mestinya, sih, ini bisa memperbesar peluang pasukan Sean Dyche itu untuk bertahan.

Sayangnya, itu tidak akan berjalan mudah. Jangankan menang, bikin gol aja mereka kesulitan. Sudah empat pertandingan beruntun Burnley takluk tanpa mencetak satu gol pun. Wout Weghorst dan Maxwel Cornet mulai tumpul. Belum lagi tumbangnya Ben Mee gara-gara cedera. Nama yang disebut belakangan itu bukan cuma pilar pertahanan, tetapi juga produsen gol buat tim. Torehan gol Mee menyentuh 3, kedua terbanyak setelah Cornet.

Dari segi jadwal, sebenarnya Burnley terbilang enteng. Hanya Tottenham lawan terkuat mereka hingga 10 pertandingan ke depan. Kalau mencetak gol saja sulit, jangan harap bisa menggamit poin secara konsisten.

Watford (Peluang Bertahan 25%)

Sudah sepatutnya Watford menyesali keputusan mendepak Claudio Ranieri. Alih-alih bangkit, Roy Hodgson justru membuat penyakit The Hornets makin akut. Sejak mengambil alih kursi pelatih pada 25 Januari, Hodgson baru mempersembahkan 8 poin dari 10 pertandingan. Watford yang sebelumnya berada di posisi aman pun kudu terlempar ke zona degradasi.

Emmanuel Dennis adalah pemain yang terkena impak atas peralihan rezim ini. Produktivitas pemain Nigeria ini anjlok di era Hodgson. Cuma satu gol yang dicetaknya dalam 9 pertandingan terakhir. Bandingkan saat Ranieri memimpin, 8 gol dan 4 assist sukses diukirnya.

Memang, Hodgson punya Cucho Hernandez sebagai andalan baru. Akan tetapi, pemain 22 tahun ini tak cukup kuat menggendong seluruh tim. Belum lagi dengan pertahanan Watford yang sergut. Mereka kemasukan 10 gol di 4 laga termutakhir.

Overall, Watford masih lebih meyakinkan dari Norwich dan Burnley. Namun, jadwal mereka ke depan relatif sukar. Dengan 8 pertandingan tersisa, Watford masih harus melewati adangan City dan Chelsea di pekan 34 dan 38.

Everton (Peluang Bertahan 50%)

Sad but true, Everton harus masuk nomine ini. Mereka belum pernah terdegradasi sejak format Premier League dibentuk pada 1992. Bahkan, terakhir kali The Toffees mentas di level kedua terjadi lama betul. Pada musim 1953/54 tepatnya.

Lagi-lagi, pergantian pelatih yang tak tepat menjadi sebabnya. Frank Lampard yang diharapkan mampu mendongkrak performa malah membuat Everton makin terpuruk. Dari 8 pertandingan yang dia tangani, hanya 2 yang berhasil dimenangi. Sementara 6 lainnya berujung kekalahan.

Masuknya Dele Alli dan Donny van De Beek di jendela musim dingin juga tak berimpak banyak. Kreasi peluang tetap minim dan produktivitas pun pampat. Menyitat Understat, xG Everton sejauh ini cuma 31,6—terendah keempat di liga.

Sejauh ini Everton juga tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Mereka kalah tiga kali dalam empat laga terakhir. Sisa pertandingan ke depan juga berat karena masih berhadapan dengan empat personel Big Six (United, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal).

Leeds United (Peluang Bertahan 75%)

Leeds menjadi salah satu kandidat kuat untuk tidak terdemosi musim ini. Perekrutan Jesse March sebagai pengganti Marcelo Bielsa terbukti tepat. Leeds yang semula menjadi lumbung gol, perlahan membaik.

March tidak mengubah warisan permainan Bielsa yang telah mengakar. Raphinha cs. masih bermain dengan intensitas tinggi dengan tetap menjaga produktivitas. Cederanya Patrick Bamford juga mulai bisa dicover oleh Rodrigo dan penyerang muda, Joe Gelhardt.

Tiga pertandingan terakhir menjadi buktinya. Leeds menang atas Norwich dan Wolverhampaton Wanderers. Disusul imbang dengan Southampton pekan lalu.

Leeds memang telah memainkan 31 pertandingan (terbanyak di antara lima tim dalam daftar ini). Mereka juga masih akan melawan City, Arsenal, dan Chelsea. Namun, bila melihat performa yang membaik, Leeds masih bisa mengelak turun ke Championship musim depan. Lagi pula, The Peacocks sudah mengumpulkan 30 poin atau unggul 8 angka dari Watford di peringkat 18.

Newcastle United (Peluang Bertahan 75%)


Kekalahan di tiga laga beruntun menyeret Newcastle ke dalam daftar ini. Ironis sebenarnya, sebab Eddie Howe sebelumnya sukses membawa anak asuhnya tak terkalahkan di 9 pertandingan.

Di lain sisi, tren negatif Newcastle ini cukup logis. Dua aib mereka itu berasal dari klub mapan macam Chelsea dan Tottenham Hotspur. Sementara kekalahan dari Everton bisa dibilang apes. FYI, lesakan semata wayang Alex Iwobi lahir di menit 90+8.

PR Howe tinggal bagaimana memaksimalkan laga sisa. Khususnya ketika berduel dengan Wolves, Leicester, Crystal Palace, Norwich, dan Burnley. Pasalnya, Newcastle masih harus meladeni Liverpool, City, dan Arsenal di pekan 35, 36, dan 37. Mengacu pada performa impresif yang The Magpies tunjukkan di periode Januari hingga Maret, harusnya, sih, mereka bisa lolos dari jeratan degradasi. 

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now