Menanti Jerman Versi Hansi Flick

Hansi Flick ibarat pelatih dengan tugas khusus memperbaiki tim yang tengah hancur lebur. Setelah mengembalikan kedigdayaan Bayern Muenchen yang sempat luluh lantak, ia kini punya misi serupa di Timnas Jerman.

Kali terakhir takluk dari Inggris dalam sebuah turnamen internasional, sepak bola Jerman memulai perubahan besar yang sangat mengakar. Para pemain lawas dilepas, infrastruktur diperbarui, kurikulum dirombak total, kemudian sejumlah nama baru — baik pemain mau pun pelatih — dipromosikan.

Pada 2021 atau 21 tahun kemudian sejak momen bersejarah itu, Jerman kembali ditaklukkan Inggris. Tentu, tak akan ada perubahan mengakar bila melihat kondisi skuat Jerman saat ini. Namun, perubahan itu tetap diperlukan dan Hansi Flick bakal menjadi aktor utamanya.

Hans-Dieter Flick, begitu nama lengkapnya, segera menjadi pengganti Joachim Loew yang memastikan diri tak melanjutkan kiprahnya di Timnas Jerman. Flick resmi ditunjuk sebagai pelatih anyar Die Manschaft tak lama jelang Piala Eropa 2020 yang hasilnya mengecewakan itu bergulir.

Jelas semua menantikan bakal seperti apa Jerman di bawah Flick. Ekspektasi teramat besar dan ini sangat bisa dipahami. Sebelum menandatangani kontrak, Flick baru saja menjalani dua musim bergelimang gelar bersama Bayern Muenchen. Kurang dari dua tahun, sebanyak tujuh piala dia peroleh.

Ekspektasi itu kian tinggi mengingat Bayern dalam kondisi mengenaskan jelang Flick masuk, sebuah kondisi yang persis sama dengan yang Jerman alami saat ini. Harapannya, Flick bisa memperbaiki Jerman sebagaimana ia mengubah Bayern kembali menjadi mesin yang ditakuti.

Namun, memperbaiki Jerman yang sudah luluh lantak pada dua turnamen internasional terakhir bukanlah tugas gampang. Setidaknya ada sejumlah hal yang mesti Flick perhatikan betul-betul untuk bikin Manuel Neuer dan kolega kembali disegani.

Skema tiga bek atau empat bek?

Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2018, hal pertama yang Joachim Loew lakukan adalah mengubah gaya bermain. Ia sebisa mungkin meninggalkan permainan Jerman yang lambat dan terlalu obsesif pada penguasaan bola dengan mengembalikan kecepatan yang membawa Jerman sempat ditakuti.


Eksperimen itu mula-mula hadir dalam bentuk peremajaan skuat. Loew tak lagi memanggil Thomas Mueller, Mats Hummels, dan Jerome Boateng. Sebagai gantinya, ia mulai rutin menyertakan nama-nama belia semisal Kai Havertz, Timo Werner, Antonio Ruediger, Leroy Sane, hingga Serge Gnabry.

Beriringan dengan perubahan tersebut, Loew mengenalkan sistem 3–4–3. Sistem ini pertama-tama memperbaiki pertahanan Jerman. Kedua, kecepatan Jerman secara perlahan kembali. Laga imbang 2–2 dengan Belanda adalah salah satu penampilan terbaik Jerman sejak berganti formasi.

Namun, Euro 2020 membuktikan bahwa Jerman tak butuh sekadar perubahan formasi. Turnamen itu menunjukkan betapa Jerman tak berbeda dengan Jerman yang tersingkir di Rusia tiga tahun lalu. Kecuali laga melawan Portugal, sama sekali tak terlihat adanya determinasi dan kecepatan.

Flick bisa menjadi sosok yang mengembalikan dua aspek tersebut, setidaknya itu terlihat dari bagaimana ia menyulap Bayern dalam waktu kurang dari dua tahun. Bayern yang lamban bersama Kovac ia ubah menjadi mesin pressing yang sanggup bikin Barcelona menyerah 8–2.

Satu perubahan lain: Flick kemungkinan besar bakal membawa skema 4–2–3–1 andalannya. Pada lebih dari 80 persen pertandingan saat masih membesut Bayern, skema itulah yang Flick terapkan. Akan seperti apa susunannya? Hanya Flick yang tahu.

Joshua Kimmich sebagai gelandang atau bek sayap?

Salah satu hal yang paling disesalkan para penggemar dan sejumlah pengamat sepak bola Jerman selama Euro 2020 adalah keberadaan Joshua Kimmich. Sepanjang helatan tersebut, Joachim Loew memainkan Kimmich sebagai bek sayap kanan dalam skema 3–4–3.

Keputusan Loew sebetulnya sangat bisa kita pahami. Setelah Lukas Klostermann menderita cedera, tak banyak opsi di pos kanan pertahanan Jerman. Pada akhirnya Kimmich yang jadi pilihan. Lagi pula performanya di posisi tersebut tak mengecewakan.

Namun, posisi itu membuat potensi Kimmich yang sesungguhnya tak terlihat. Kimmich adalah gelandang bertahan dan di posisi inilah perannya bisa lebih maksimal. Dari posisi itu, Kimmich menempati urutan pertama sebagai pemain dengan umpan progresif tertinggi di Bundesliga musim lalu.

Melihat bagaimana kiprahnya saat melatih Bayern, tampaknya Flick akan memainkan Kimmich di posisi tersebut, alih-alih bek sayap kanan. Bahkan ada kemungkinan dia bakal menjadikan Kimmich dan Leon Goretzka, dua andalannya di Bayern, sebagai duet dalam skema 4–2–3–1 Jerman kelak.

Kombinasi tersebut amat pas. Kimmich adalah pengatur tempo ulung dengan kemampuan mengumpan, baik dekat mau pun jauh, tingkat satu. Goretzka, sementara itu, adalah salah satu gelandang box-to-box terbaik saat ini. Kian pas lagi karena keduanya sama-sama petarung.

Yang jadi pertanyaan adalah siapa yang bakal mengisi pos bek kanan? Jika boleh menyebut satu nama, Riedl Baku mestinya dapat memerankan pos tersebut dengan baik. Simak bagaimana penampilannya bersama Wolfsburg dan kontribusinya saat membawa Jerman menjuarai Euro U-21.

Thomas Mueller?

Kembalinya Thomas Mueller nyatanya tak terlalu berpengaruh terhadap Jerman di Euro 2020. Tak ada gol mau pun asisst yang dia ciptakan. Tak salah jika banyak yang penasaran apakah Mueller bakal kembali dipanggil tatkala Hansi Flick mulai bertugas kelak.

Tentu Flick sangat menjunjung tinggi Mueller. Selama membesut Bayern, Mueller adalah salah satu kunci sistem Flick, bersamaan dengan Manuel Neuer, David Alaba, Joshua Kimmich, dan Robert Lewandowski. Namun, melihat performanya di Euro, pertanyaan tadi bakal tetap muncul.

Hal lainnya yang juga mesti jadi perhatian adalah usia Mueller. Di sisi lain, Flick punya banyak opsi lain yang lebih berorientasi jangka panjang. Ada Jamal Musiala dan Kai Havertz. Belum lagi Florian Wirtz yang punya kontribusi 17 gol dalam 47 karier seniornya bersama Bayer Leverkusen.

Mueller sendiri menegaskan bahwa dia masih ingin memperkuat Timnas Jerman. Namun, segalanya sangat bergantung pada bagaimana rencana Flick untuk si Raumdeuter. Apakah bakal terus menjadikannya tumpuan sebagaimana di Bayern atau bagaimana?

Kembali memanggil Jerome Boateng?

Asa untuk Jerome Boateng kembali memperkuat Jerman belum habis. Ketika kontraknya di Bayern berakhir, dia bahkan berkata ingin tetap memperkuat tim top Eropa karena masih merasa bisa bersaing. Di sisi lain, ditunjuknya Flick sebagai pelatih Jerman membuat pintu itu semakin terbuka.

Boateng adalah salah satu pemain yang paling dipercaya Flick. Ketika orang-orang menganggap bahwa dia sudah habis, Flick masih sangat mengandalkannya. Duetnya bersama David Alaba adalah salah satu kunci keberhasilan Bayern meraih treble winner pada 2019/20.

Sangat menarik menantikan bakal seperti apa rencana Flick terhadap Boateng. Ini juga berlaku pada beberapa pemain senior lain seperti Mueller, Mats Hummels, bahkan Manuel Neuer. Terlebih, Flick adalah pelatih yang sangat memerhatikan hubungannya dengan pemain.

Siapa jadi penyerang tengah?

Dalam beberapa tahun terakhir, Jerman krisis penyerang tengah murni. Bahkan di Euro 2020, Jerman hanya membawa Kevin Volland. Itu pun bukan pilihan utama. Loew malah memilih Kai Havertz, Timo Werner, Serge Gnabry, dan Thomas Mueller untuk bergantian menjadi ujung tombak Jerman.

Kombinasi seperti itu terbukti bukan hal bagus buat Die Manschaft. Dari empat laga yang dijalani pada Piala Eropa 2020, Jerman hanya mampu mencetak gol pada dua laga di antaranya. Tak satu pun di antara gol-gol tersebut yang berasal dari penyerang.

Sial buat Jerman, peruahan tampaknya tak bakal terjadi dalam waktu dekat. Penyerang murni yang paling sering diperbincangkan belakangan ini baru berusia 16 tahun , Youssoufa Moukoko. Ada pula Lukas Nmecha, kini 22 tahun, tetapi yang satu ini masih perlu membuktikan diri lebih jauh.

Ini bakal jadi masalah buat Flick. Di Bayern, ia mampu membuat mesin yang tak berhenti mencetak gol, tetapi itu salah satunya berkat Robert Lewandowski. Di Jerman, jangankan penyerang sekaliber Lewandowski, mencari penyerang murni saja setengah mampus sulitnya.

Mungkin saja Flick akan meneruskan ide Loew yang coba mengandalkan Havertz sebagai penyerang tengah. Atau Serge Gnabry? Atau justru muncul penyerang tengah baru yang tiba-tiba mencuri perhatian? Apa pun, ini bakal menjadi tugas pelik buat Flick.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.