Menanti Tangan Dingin Xavi

Foto Twitter: @AlsaddSC.

Xavi jadi kandidat kuat manajer baru Barcelona. Apakah dia sosok yang tepat untuk mengangkat Blaugrana yang sedang terpuruk?

Semasa masih bermain, Xavi Hernandez merupakan pemain yang memiliki kecerdasan luar biasa. Ia memang tak seluwes Lionel Messi dalam melewati pemain lawan atau memiliki tendangan keras macam Cristiano Ronaldo. Yang dimiliki Xavi adalah operan jitu dan penempatan posisi ciamik.

Itu belum termasuk dengan visi bermain yang mumpuni. Ketika mendapatkan bola, dia sudah mahfum ke mana bola dan rekannya akan bergerak. Dari situ, kita bisa tahu betapa cepatnya otak Xavi berpikir di atas lapangan hijau.

Sebagai gelandang, Xavi piawai dalam mengejawantahkan maksud dan skema pelatih. Meski terlihat kalem dari luar, pria kelahiran 25 Januari 1980 itu nyatanya sangat vokal dalam mengatur pergerakan rekan-rekannya.

Bagi Xavi, Barcelona adalah cinta matinya. Dan ini bukan perkara banyaknya tahun yang ia habiskan bersama Blaugrana saja, tetapi juga bagaimana cara raksasa Catalunya itu bermain. Buat Xavi, idealisme sepak bolanya terwujud pada cara bermain Barcelona—dan boleh jadi, idealisme itu terbentuk karena sedari kecil, Xavi dididik oleh Barcelona.

Sepak bola, kata Xavi, semestinya dimainkan dengan indah. Seperti mengajak seorang wanita cantik berkencan. Oleh karena itu, ia mendukung betul falsafah permainan Barcelona: Ofensif, dominan, dan dimainkan dengan begitu mengalir lewat penguasaan bola.

Tentu saja, penguasaan bola bagi Xavi bukan pepesan kosong belaka. Baginya, itu adalah cara yang paling efektif untuk lebih banyak menciptakan peluang—dan oleh karenanya, memperbesar kemungkinan mencetak gol.

Ketika Barcelona, yang kelihatan betul kehilangan identitas permainannya, memanggil, si anak yang sedang merantau itu pun menyahut. Belakangan beredar kabar bahwa Xavi siap untuk menjadi pelatih anyar El Barca.

***

Kekalahan dari Rayo Vallecano membuat manajemen Barcelona naik pitam. Sang Presiden, Joan Laporta, langsung memutuskan untuk membebastugaskan Ronald Koeman yang menduduki jabatan Manajer Barcelona. Ketika keputusan pemecatan tersebut dikeluarkan, Koeman (dan tim) tengah berada dalam penerbangan pulang ke Barcelona. 

Koeman memang tak membawa impak baik untuk Barcelona. Dari segi hasil, Barcelona baru menang empat kali dan sudah tiga kali menelan kekalahan.

Hasil yang buruk merupakan wujud dari permainan yang jelek. Bersama Koeman, Barcelona tampil sangat monoton. Mereka terlalu mengandalkan dua sisi dan umpan crossing guna membahayakan gawang lawan. Catatan statistik menguatkan itu: Barcelona merupakan tim La Liga yang paling banyak melakukan crossing dengan jumlah 24 kali. Lucunya, Koeman tak melulu memasang penyerang bertipe target man guna bisa menyongsong umpan silang.

Manajemen Barcelona bergerak cepat untuk mencari pengganti Koeman. Xavi Hernandez Creus menjadi nama yang paling gencar dikabarkan untuk menduduki jabatan sebagai pelatih Barcelona.

"Saya tidak bisa menyembunyikan kalau saya ingin melatih Barcelona. Namun, saya selalu respek kepada pelatih saat ini. Saya harap dia bisa memberikan yang terbaik untuk klub," ucap Xavi beberapa tahun yang lalu.

Saat ini, Xavi berstatus sebagai pelatih di klub asal Qatar, Al Sadd. Pria yang kini berusia 41 tahun itu telah memberikan 7 gelar dan menjadikan Al Sadd tak terkalahkan dalam setahun di Qatar Star League (QSL).

Sudah 90 laga yang Xavi lakoni sebagai pelatih Al Sadd. Ia sukses meraih 62 kemenangan dan cuma 16 kali kalah. Al Sadd juga cukup produktif dengan rata-rata mencetak 2,7 gol per pertandingannya.

Dalam sebuah penuturannya untuk The Coaches' Voice, Xavi mengungkapkan bahwa ia memainkan formasi 3-4-3 untuk Al Sadd. Kendati begitu, ia tidak menjadikan formasi sebagai satu-satunya komponen paling penting di dalam taktiknya. Kenyataannya, ia acap mengadaptasikan timnya dengan berbagai formasi lain, mulai dari 4-3-3, 4-2-3-1, hingga 3-4-2-1.

Bagi Xavi yang terpenting adalah filosofi permainan. Formasi adalah cara untuk mengejawantahkan filosofi tersebut.

Xavi menekankan pentingnya pemosisian pemainnya saat menguasai bola. Passing (operan) dan movement (pergerakan) menjadi roh dari permainan yang ia usung. Dengan operan dan pergerakan, para pemain memiliki opsi yang banyak dan tidak akan terlalu lama saat menguasai bola. Ini juga yang bisa memecah koordinasi dari lini belakang lawan.

Ide bermain Xavi sebenarnya tak jauh beda dengan Barcelona semasa ia bermain. Ia mengutamakan semua tim dalam menyerang maupun bertahan. Xavi juga menginginkan timnya sesegera mungkin mendapatkan bola. Oleh karena itu, para pemain depan di timnya Xavi harus rajin memberikan pressing atau menjebak di area tertentu (sisi lapangan) agar lawan melakukan kesalahan. Pemosisian pemain saat bertahan juga penting untuk memotong jalur operan lawan dalam melakukan build-up.

Yang tak kalah penting baginya adalah peran dan fungsi setiap masing-masing pemain di atas lapangan. Xavi menginginkan pemain belakang yang dimainkan sebisa mungkin nyaman dan piawai dalam mendistribusikan bola.

Di tengah, Xavi meminta salah satu pemain untuk bergerak statis dan tak terlalu banyak bergerak maju. Satunya lagi akan diinstrusikan bergerak dengan bebas dan menemukan celah di lini belakang lawan.

Xavi juga meminta penyerangnya untuk bergerak. Terkadang, pemain nomor sembilan harus turun untuk membuka ruang atau menjadi penghubung serangan.

Lalu, apakah skema seperti ini akan berjalan di Barcelona?

Melihat skuad Barcelona yang ada, Xavi sebenarnya tidak terlalu rumit mengimplementasikan idenya. Mungkin, masalah terletak di lini belakang. Saat ini, Barcelona tak memiliki bek yang piawai mendistribusikan umpan atau menginisiasi serangan.

Namun, di tengah, Barcelona punya pemain yang akan cocok dengan gaya bermain Xavi. Frenkie de Jong bisa ditugaskan untuk bermain lebih dalam dan menjadi penyalur bola ke depan. Lalu, tugas gelandang yang bergerak mencari ruang kosong bisa diberikan kepada Pedri.

Perlu diingat, Pedri memiliki kemampuan yang baik dalam bergerak mencari ruang. Kegesitannya bisa dimanfaatkan Xavi untuk memecah lini belakang lawan.

Di lini depan, Barcelona punya stok yang cukup baik. Memphis Depay dan Sergio Aguero bisa menjadi opsi sebagai penyerang nomor sembilan. Kemampuan keduanya dalam melakukan build-up akan cocok dengan gaya yang diusung Xavi.

Jangan lupa, beberapa pemain muda seperti Gavi, Riqi Puig, Ansu Fati, dan Yusuf Demir bisa diberdayakan. Mereka adalah pemain potensial yang bisa saja mencuat di bawah arahan Xavi.

****

Pep Guardiola dan Luis Enrique menjadi eks pemain yang berhasil saat menukangi Blaugrana. Keduanya membawa Barcelona berjaya dengan menyumbangkan tiga gelar dalam satu musim.

Manajemen ingin kejayaan itu kembali. Dan itu semua diharapkan terwujud saat Xavi menjadi nakhodanya. Namun, mengingat pembenahan Barcelona masih berjalan, rasa-rasanya menjaga ekspektasi juga perlu dilakukan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.