Mencari 'Anjing' untuk Liverpool

Foto: @LFC.

Musim lalu, Liverpool krisis bek tengah. Jelang musim 2021/22 mulai, mereka diberi anugerah punya banyak bek tengah fit. Kini muncul pertanyaan: Siapa yang akan jadi partner Virgil van Dijk?

Pernah mendengar analogi anjing dan kucing dalam sepak bola? Kalau belum, kami coba jelaskan.

Michael Cox mencoba menggunakan analogi anjing dan kucing ini bukan untuk mengibaratkan dua klub yang bermusuhan. Penulis buku Zonal Marking itu memakai analogi tersebut sebagai rujukan untuk dua bek tengah yang banyak kita temui di sepak bola modern.

Anjing, sebagaimana kita tahu, adalah hewan yang bersemangat, energik, dan agresif. Cepat mengambil tindakan. Sementara kucing adalah hewan yang licik, penuh perhitungan, dan biasanya memilih diam sebelum tiba-tiba menerkam. Anda pasti paham kalau pernah melihat kucing berantem.

Dari situ, Anda mungkin sudah tahu analogi ini arahnya ke mana.

Cat-and-Dog.gif

Anjing dianalogikan sebagai bek tengah yang agresif: Mereka yang selalu berusaha mengejar bola saat pemain depan lawan tengah memegangnya. Langsung keluar mengejar. Mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk merebut bola dari lawan. Duel darat dan udara akan siap mereka hadapi.

Sementara kucing, sebaliknya, adalah analogi untuk bek tengah yang lebih pasif: Mereka yang lebih suka memantau dulu kondisi sekitar (melihat ruang, melihat lawan yang lain, sampai memastikan posisi diri bagus) dan kondisi lawannya (menunggu sampai lawan berada di posisi yang tak menguntungkan) sebelum melancarkan aksi defensif.

Kita sering menemukan duet anjing dan kucing di sepak bola. Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand di Manchester United adalah contoh masyhurnya. Vidic, tentu saja, anjingnya dan Ferdinand adalah kucingnya. Belakangan, dan yang cukup sukses, ada juga Sergio Ramos dan Raphael Varane di Real Madrid. Dan, ya, Ramos yang jadi anjingnya.

Di Piala Eropa 2020 lalu, kita juga bisa menemukannya dalam sosok Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Nama kedua yang dianalogikan sebagai anjing. Kita melihat bagaimana Chiellini lebih agresif ketimbang Bonucci, si kucing. Catatan statistik pressing dan tekel juga menunjukkan demikian.

Penggunaan duet anjing dan kucing di sepak bola memang cukup ideal. Dua orang bisa saling kover karena memiliki tipikal yang berbeda. Jika kedua bek tengah ini sama-sama berkualitas seperti contoh-contoh di atas, niscaya kesuksesan akan datang untuk tim itu.

***

Juergen Klopp adalah pelatih yang kepincut dengan analogi ini. Karena itu, ketika mendatangkan Virgil van Dijk dari Southampton, ia tahu bahwa sudah menemukan kucing terbaik. Pekerjaan rumahnya tinggal menemukan anjing yang tepat.

Pada setengah musim perdana Van Dijk di Liverpool, Dejan Lovren yang ditunjuk jadi anjing. Hasilnya tak buruk, Liverpool melaju ke final Liga Champions. Namun, itu tak membuat Klopp puas. Karenanya, ketika Matip sembuh dari cedera, musim berikutnya Matip yang menemani Van Dijk.

Duet ini berjalan begitu baik. Van Dijk menjadi kucing yang benar-benar hebat. Perhitungannya luar biasa. Ia hanya melakukan aksi ketika dibutuhkan. Sementara Matip adalah bek serbabisa. Sebenarnya ia juga bisa menjadi kucing, tapi ketika ditugaskan menjadi si anjing, ia mampu tampil agresif dan sulit dilewati lawan.

Pada musim 2018/19 itu, Van Dijk hanya melancarkan 4,6 pressing per 90 menit, sedangkan Matip menekan lawan 9,82 kali per 90 menit. Dengan duet ini, Liverpool mampu merengkuh trofi Liga Champions. Di Premier League musim itu pun, meski cuma finis di urutan dua, mereka hanya kebobolan 22 kali. Terbaik di liga.

Pada musim berikutnya, Matip tumbang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perawatan. Namun, Klopp justru menemukan sosok anjing yang tak kalah pintar. Joe Gomez orangnya. Sama seperti Matip, ia cukup intens menekan lawan, melancarkan tekel, dan melakukan tugas-tugas 'kotor' lain di lini belakang.

Gomez mencatatkan 6,77 pressing per 90 menit di musim itu. Van Dijk hanya 3,50. Pemain berpaspor Inggris ini juga mencatatkan 1,17 tekel per 90 menit, sedangkan Van Dijk hanya mencatatkan 0,79. Duet ini mampu saling melengkapi dengan baik dan membuat Liverpool jadi kampiun Premier League dengan catatan 33 kali kebobolan. Lagi-lagi terbaik di liga.

Celaka buat Klopp dan Liverpool, kucing dan anjing terbaik yang ia miliki bertumbangan musim lalu. Mulai dari Van Dijk, lalu Gomez, dan terakhir Matip, semua cedera panjang. Klopp pun mencoba duet anjing dan kucing seadanya dalam sosok Nat Phillips dan Ozan Kabak.

Jika Anda cukup sering menonton Liverpool musim lalu, mudah menebak bahwa anjingnya adalah Phillips. Ia mencatatkan 11,9 pressing per 90 menit, aktif sekali. Namun, seperti yang sudah disebutkan, duet anjing-kucing tak akan berhasil jika kualitasnya rata-rata. Phillips jelas anjing bau kencur. Kabak juga kucing minim pengalaman.

Kendati performa keduanya secara keseluruhan tak bisa kita katakan buruk, tapi kualitas duet ini berada di bawah duet bek tengah Liverpool sebelumnya. Performa Liverpool menurun jauh. Beruntung, di akhir musim, tim meningkat seiring penampilan Phillips dan Kabak yang juga mulai padu. Liverpool finis di urutan tiga Premier League.

Menatap musim baru ini, Liverpool beruntung karena kucing dan anjing terbaik mereka sudah kembali. Van Dijk, Gomez, dan Matip siap tempur. Bahkan mereka membeli bek tengah baru dalam sosok Ibrahima Konate, yang kalau dilihat dari statistiknya menunjukkan bahwa ia adalah anjing Liverpool yang baru.

Dalam tiga musim terakhir, statistik pressing Konate begitu tinggi. Bahkan pada musim 2019/20 catatannya jadi yang paling tinggi (8,89 per 90 menit) ketimbang Van Dijk, Gomez, atau Matip. Pun dari beberapa uji tanding Liverpool terakhir, terlihat bahwa Konate adalah sosok bek tengah yang agresif. Ia berani keluar dari shape untuk menekan lawan demi merebut bola.

Kalau sudah begini, yang ada timbul pertanyaan: Siapa yang akan jadi 'anjing' buat Liverpool di musim 2021/22 ini? Gomez, Matip, atau Konate?

Well, jika melihat kondisinya, Matip sebenarnya jadi nama yang paling ideal. Kenapa? Pertama, Konate baru datang ke Liverpool. Ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan sistemnya Klopp dan sepak bola Inggris yang berbeda dengan Jerman. Kedua, Gomez baru sembuh dari cedera parah. Lebih parah dan panjang dari Matip.

Van Dijk memang bisa membuat siapa pun yang ada di sebelahnya menjadi lebih baik, tapi membuat dia, yang juga baru sembuh dari cedera panjang, bermain dengan bek yang masih belum berpengalaman di Premier League bisa menimbulkan sedikit risiko.

Memainkan dua bek tengah yang baru sembuh dari cedera panjang dalam sosok Van Dijk dan Gomez juga sama berisikonya. Chemistry keduanya memang bagus, tapi dua pemain ini butuh penyesuaian ulang untuk kembali diduetkan. Mereka butuh waktu untuk jadi sosok sebagus di musim 2019/20 lalu.

Makanya, duet Van Dijk dan Matip jadi yang paling ideal. Memang tak ada garansi bahwa keduanya akan bermain sebagus musim 2018/19. Namun, setidaknya, mereka adalah duet yang paling berpengalaman. Dan yang paling siap menghadapi tekanan kompetisi.

Matip juga masih mencicipi atmosfer kompetitif di Januari tahun ini. Dan musim lalu, ia memimpin Liverpool clean-sheet tiga kali dari enam penampilan penuh di Premier League dengan catatan 7,53 pressing dan 2,47 tekel + intersep per 90 menit pada musim lalu. Catatan yang masih cukup baik.

Jika ia cedera lagi, barulah Klopp akan pusing. Idealnya dia akan memilih Gomez. Namun, bila ternyata Konate mampu beradaptasi lebih cepat, pemuda Prancis ini punya peluang jadi tandem Van Dijk di lini belakang The Reds. Kebetulan secara kondisi ia juga bugar.

Bahkan, karena kebugaran itu, banyak yang meyakini bahwa Klopp akan memberikan debut buat Konate di laga perdana Premier League melawan Norwich, 14 Agustus mendatang. Dan Matip yang akan dipercaya menjadi kucing untuk membimbing Konate, si anjing baru.

***

Siapa pun duetnya nanti, yang jelas Liverpool musim ini punya banyak pilihan. Sebuah anugerah dari musim lalu yang begitu sulit. Ia punya Van Dijk si kucing terbaik, punya Matip yang bisa berperan jadi kucing dan anjing dengan sama baik, punya Gomez si anjing pintar, sampai punya Konate yang bisa jadi anjing yang menjanjikan.

Atau, ketika situasi memburuk seperti musim lalu, mereka (mungkin) masih punya Rhys Williams dan Phillips, duo anjing bau kencur yang mulai beranjak dewasa.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.