Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Mencari Celah Thailand

Foto: Twitter @PSSI

Thailand diunggulkan untuk meraih trofi keenamnya di Piala AFF. Namun, mereka bukannya tak punya kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh para pemain Timnas.

Hansamu Yama Pranata berjalan penuh semangat ke dalam kotak penalti Thailand. Ia bersiap-siap menyambut umpan sepak pojok yang akan Rizky Pora lepaskan.

Dengan tubuhnya yang tinggi, Hansamu memang layak menjadi target saat sepak pojok. Pada momen ini, ia memilih berdiri di tiang kedua dan sedikit menjauh dari gawang. Rizky lalu melepaskan umpannya, bola mengarah ke area Hansamu berdiri.

Kiper Thailand, Kawin Thamsatchanan, ragu. Ia bingung memilih: Antara maju atau tetap di bawah gawang. Bola kemudian disundul oleh Hansamu. Datangnya bola memang tidak keras, tetapi posisi Thamsatchanan yang sudah mati langkah membuatnya tak bisa menjangkau bola. Gol tercipta, Stadion Pakansari malam itu penuh suka cita.

Mereka yang hadir di stadion serasa mendapatkan secercah harapan. Piala yang kerap mengganggu tidur suporter Indonesia itu tinggal selangkah lagi akan digenggam oleh para pemain Timnas. Indonesia menang dengan skor 2-1 pada leg pertama babak final Piala AFF 2016 itu.

Namun, asa juara di depan mata sirna. Pada leg kedua, Siroch Chatthong menjadi pahlawan di Rajamangala Stadium, Bangkok, dengan dua golnya. Thailand menjadi juara usai unggul agregat 3-2 atas Indonesia.

Lima tahun berlalu, kedua tim akan kembali berjumpa di laga puncak. Situasi kali ini juga tak jauh berbeda, Thailand yang superior diunggulkan untuk menang atas Indonesia yang mayoritas pemainnya masih belia.

Namun, laga final tak pandang usia. Faktor penentunya banyak, mulai dari strategi, persiapan, dan, yang suka datang diam-diam, keberuntungan.

***

Thailand menjejak final untuk kesembilan kalinya sepanjang sejarah Piala AFF. Dari sembilan kesempatan final itu, The War Elephant bisa meraih kemenangan dengan jumlah lima. Itu juga yang membuat Thailand menjadi negara peraih trofi terbanyak Piala AFF.

Kans untuk menggenapkannya menjadi enam tahun ini sangat terbuka lebar. Apalagi, mereka tiba di final dengan gagah perkasa.

Materi pemain Thailand saat ini berada di usia yang matang. Mereka masih mengandalkan Teerasil Dangda untuk menjadi juru gedor pertahanan lawan.

Gayanya yang flamboyan membuat Dangda masih menjadi penyerang tajam AFF musim ini. Ia tak banyak berlari, tetapi memiliki penempatan posisi yang sangat baik.

Selain Dangda, ada Chanatip Sonkrasin yang bisa menjadi jenderal di lini tengah. Visi bermainnya yang apik ditambah dengan kemampuanya menjadi opsi gol di lini depan sangat membantu permainan Thailand.

Materi pemain berkelas berpadu dengan cara bermain yang ciamik dari Alexandre Polking. Operan cepat dan perpindahan serangan yang juga kilat menjadi ciri dari Thailand. Gol Chanatip ke gawang Vietnam menjadi contoh yang nyata. Para pemain Thailand akan selalu cepat memberikan bola kepada rekannya yang berdiri bebas.

Variasi lain serangan Thailand ada di dua bek tepinya; Theerathon Bunmathan di kiri dan Narubadin Weerawatnodom di kanan sangat agresif saat menyerang. Tak heran, nama yang disebut belakangan sudah mengoleksi tiga assist pada Piala AFF tahun ini.

Thailand memang superior. Namun, Indonesia bukannya tak bisa mengalahkan mereka di final. Masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh Ricky Kambuaya dan kolega untuk memenangi laga.

Salah satu celah ada di garis pertahanan Thailand yang cukup tinggi. Ini terlihat saat pertandingan melawan Vietnam pada babak semifinal. Manuel Bihr dan Kritsada Kaman kerap berdiri jauh dari kotak penalti, bahkan nyaris mendekati garis tengah. Beberapa kali, Vietnam bisa mencuri peluang lewat direct ball dari belakang.

Para bek Thailand naik tinggi hingga mendekati garis tengah lapangan.

Memanfaatkan celah dengan kecepatan, Indonesia jagonya. Apalagi, Indonesia punya pemain-pemain cepat dan memiliki naluri gol yang tinggi. Melihat celah ini, mungkin saja Shin Tae-yong akan mempercayakan pos lini depan kepada Irfan Jaya, Egy Maulana Vikri, dan Witan Sulaeman dari menit awal.

Ketiganya bisa bermain dinamis dan punya keberanian untuk melakukan dribel ke dalam kotak penalti lawan. Kemampuan ini yang bakal merusak organisasi pertahanan Thailand.

Peran lini kedua juga menjadi krusial. Alfeandra Dewangga dan Ricky Kambuaya bisa melayani para pemain depan lewat umpan-umpannya ke lini belakang Thailand. Khusus untuk Dewangga, pemain milik PSIS itu harus lebih aktif melepaskan direct ball saat pertahanan Thailand naik cukup tinggi.

Indonesia juga bisa bermain agresif seperti bersua Singapura dan Malaysia. Mereka menerapkan pressing yang tinggi untuk mengganggu pemain lawan membangun serangan. Permainan seperti ini yang dibuat Vietnam pada laga leg kedua semifinal melawan Thailand.

Golden Star langsung menyergap para pemain Thailand untuk sesegera mungkin menguasai bola. Ini yang membuat Thailand kesulitan menciptakan bahaya ke gawang lawan.

Untuk menangkal serangan Thailand, Shin bisa kembali menerapkan pertahanan yang kokoh dan kompak saat bersua Vietnam. Pada laga itu, para pemain belakang bermain sangat disiplin dan sangat sulit ditembus.

Kuncinya ada pada double cover yang dilakukan para pemain Indonesia. Rachmat Irianto dan Dewangga akan membantu memutus serangan para pemain Thailand.

Namun, Shin harus membereskan beberapa masalah di Timnas Indonesia. Salah satunya soal transisi bertahan yang masih menjadi titik lemah.

Saat kehilangan bola, para pemain Indonesia kerap kehilangan posisinya yang menimbulkan lubang di lini belakang. Ini harus diantisipasi mengingat Thailand memiliki serangan kilat yang sudah mereka aplikasikan di semifinal.

Selain itu, organisasi pertahanan Indonesia saat menghadapi bola mati juga masih jadi pekerjaan rumah. Empat gol yang tercipta ke gawang Indonesia bermula dari situasi bola mati. Komunikasi menjadi penting saat menerapkan zonal marking situasi menghadapi dalam bola mati.

***

Dalam konferensi pers menjelang final, Shin Tae-yong sadar betapa pentingnya mental yang kuat dalam laga seberat ini. Mental itu juga yang sudah dipupuk oleh pelatih asal Korea Selatan tersebut sebelum Piala AFF digelar. Atas dasar itu, meski tidak diunggulkan Shin amat yakin dengan kemampuan para pemainnya.

"Timnas Thailand tim kuat yang punya pemain berkualitas, tetapi bola itu bundar. Jadi, kami akan berusaha memperlihatkan kemampuan terbaik di lapangan," tegas Shin.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now