Menebak Isi Buku Catatan Sarri di Lazio

Foto: Instagram @official_sslazio.

Ketika membawa Sarrismo dalam setiap pertandingan, Sarri sedang ada dalam pertarungan antara keindahan dan kekuatan, estetika dan prinsip yang penting menang.

Untuk memahami isi kepala Maurizio Sarri barangkali kita hanya butuh membaca apa yang ia tulis di buku catatannya.

Bapak saya punya kebiasaan menulis di agendanya dengan bolpoin bertinta hijau sehabis makan malam, di kamarnya sambil merokok. Sampai sekarang, lebih dari 20 tahun sejak kematiannya, saya tidak tahu pasti kenapa harus tinta hijau. Mulai dari pengalaman menyenangkan hingga hari memuakkan, dari pekerjaan sampai urusan pribadi, saya pikir semuanya ada dalam buku agenda bapak.

Fragmen bapak dan agendanya ini terlintas saat saya menyaksikan final Liga Europa 2018/19 antara Chelsea dan Arsenal yang digelar di Baku. Gelagat Sarri di pertandingan itu memantik sedikit ingatan tentang bapak. Saat Chelsea kepayahan dalam 25 menit awal, Sarri tidak berdiskusi dengan asisten-asistennya atau meminta para analis menyodorkan data demi mengubah taktik secepat mungkin. Ia malah beranjak dari tepi lapangan dan duduk di bench. Di sana ia sibuk menulis di catatannya dengan badan membungkuk.

Tak lama setelahnya, Sarri berdiri lagi di pinggir lapangan. Ia kembali berteriak dengan meledak-ledak sampai saya, yang menonton lewat televisi, merasa haus. Begitu Chelsea unggul 2-0, Sarri bergegas kembali ke bench. Dengan posisi yang sama, ia menulis di catatannya. Santai betul, seolah-olah ini bukan laga final. 

Yang kita lihat di akhir pertandingan itu bukan hanya kemenangan 4-1 Chelsea atas Arsenal, tetapi juga Sarri yang menatap medali juaranya dengan binar yang membuat kita tak lagi peduli tentang ketegaran tengkuknya.

Maka ketika Sarri ditunjuk sebagai pelatih Lazio, saya membayangkan apa saja yang ia tulis dalam buku catatannya. Tidak ada yang tahu pasti. Namun, bukan tak mungkin dengan bolpoin entah berwarna apa ia menulis kembali tentang Sarrismo dan segala sesuatu yang harus dilakukannya agar tak mati di Olimpico.

Menuliskan Ulang Sarrismo

Ketika membawa Sarrismo dalam setiap pertandingan, Sarri sedang ada dalam pertarungan antara keindahan dan kekuatan, estetika dan prinsip yang penting menang.

Sarri-ball punya karakter unik. Ia mengalirkan bola-bola lewat transisi cepat vertikal yang memanfaatkan celah-celah kecil, mengedepankan pemosisian pemain, serta mengandalkan umpan presisi. Menggunakan skema dasar 4-3-3, saat melatih Napoli, Sarri mengaplikasikan gaya ini dengan maksimal.

Sistem 4-3-3 ala Sarri memberinya kekuatan untuk membuktikan prinsip pertahanan terbaik adalah menyerang, bahwa pertahanan terkuat adalah pertahanan yang kamu lakukan ketika memegang bola.

Untuk mewujudkan ambisi itu, Sarri membutuhkan tim yang banyak menguasai bola. Itulah sebabnya bahkan saat menyerang, Sarri akan menginstruksikan timnya melakukan pergerakan tanpa bola demi merusak permainan lawan.

Yang dibutuhkan Sarri bukan pergerakan bola yang grusa-grusu, tetapi berlari dengan cerdas, sehingga tim akan memiliki kesempatan mencetak gol lebih tinggi karena operan dari pemain tersebut. Dengan berlari cerdas, seorang pemain dapat menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.

Pemain yang dapat berlari cerdas itu juga diperlukan untuk menjadi orang ketiga dalam skema serangan Sarri. Agar memiliki keunggulan positional, Sarri membutuhkan pemain yang bergerak di luar dua pemain yang telah bertukar posisi.

Di Napoli, misalnya, Marek Hamsik dan Dries Mertens saling bertukar posisi, sedangkan Lorenzo Insigne berlari sebagai orang ketiga. Pun demikian di ketika Sarri melatih Chelsea. Dalam sejumlah pertandingan terlihat Pedro Rodriguez menjadi orang ketiga, sedangkan Marcos Alonso dan Willian saling bertukar posisi.

Dalam sistem yang dibangun Sarri kita juga tidak perlu heran jika menyaksikan para full-back berkali-kali merangsek ke area tengah, sedangkan posisi para full-back tersebut ditempati olah gelandang yang bermain melebar. Pergerakan ini dibangun agar para penyerang memiliki ruang dan keleluasaan untuk melepas berbagai manuver.

Mengubah 3-5-2 Lazio Menjadi 4-3-3

Sarri menggilai formasi 4-3-3 karena memberikannya ruang untuk memainkan sepak bola yang bertumpu pada penguasaan bola. Ini adalah pakem yang kerap dibawa ke mana pun ia melatih.

Skuad Lazio telah dibangun sesuai dengan sistem 3-5-2 milik Simone Inzaghi. Itu artinya ia mengedepankan permainan agresif dan menjadikan pemain sayap sebagai kunci permainan.

Pakem ini membuat Lazio ala Inzaghi tidak memiliki fullback, melainkan wingback. Itulah sebabnya, Sarri bisa saja memodifikasi formasi 4-3-3 miliknya menjadi 4-3-1-2, mirip dengan yang digunakannya di Empoli maupun awal kepelatihan Napoli.

Lazio sebenarnya diberkati dengan performa lini pertahanan yang tangguh. Mereka diperkuat Stefan Radu yang turun arena sambil membawa pengalaman dan penempatan posisi yang meyakinkan, sedangkan Francesco Acerbi memiliki perpaduan kemampuan fisik, kecerdasan, dan teknik yang prima. Ia adalah seorang ball-playing defender yang bisa membuat Sarri bernapas lega. Memadukan Acerbi dan Luiz Felipe di pos bek tengah bisa menjadi solusi.

Persoalan terbesar barangkali adalah menemukan fullback kanan. Di sisi kiri, Elseid Hysaj yang baru didatangkan dari Napoli dan pernah dilatih Sarri, bisa jadi opsi. Ia dapat bergantian dengan Radu yang baru saja memperpanjang kontrak.

Sebenarnya Adam Marusic bisa menjadi bek kanan, tetapi dalam sistem Sarri nanti bukan mustahil ia bermain di pos sayap kanan. Dia adalah pemain yang amat mengandalkan fisik, bisa berlari cepat di sisi sayap, dan sangat menentukan dalam situasi rumit. Marusic kompeten menguasai bola dan memiliki kemampuan melepas umpan silang yang akurat.

Skema ini sesuai dengan watak Ciro Immobile yang mematikan jika diberi ruang untuk melepas tusukan dari left channel. Immobile adalah kekuatan penting dalam lini serang Lazio. Ia membukukan 20 gol dalam 35 penampilan di Serie A 2020/21. Catatan itu semacam menegaskan bahwa Immobile berhasil mengalahkan persoalannya musim lalu: Kerap buntu justru saat dibutuhkan.

Kunci permainan Sarrismo adalah pemain ala Sarri. Dulu ia memiliki Jorginho, sekarang sudah menjadi tugasnya untuk menemukan pemain seperti itu. Kabar baiknya, Lazio memiliki Sergej Milinkovic-Savic.

Aksi bertahannya pada musim 2020/21 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan musim sebelumnya. Jika awalnya ia mencatatkan 0,56 tekel per laga dengan keberhasilan 22,4%, musim 2020/21 ia membukukan 0,88 tekel dengan tingkat keberhasilan 28,3%.

Tentu saja angka tersebut belum cukup menjelaskan mengapa Sarri bisa dapat mengandalkannya. Kita pun harus melihat perannya dalam kontribusi gol. Kontribusi gol pemain Timnas Serbia tersebut pada Serie A 2020/21 adalah 0,55 per 90 menit, bandingkan dengan catatan 0,33 per 90 menit pada musim 2019/20.

Tandem sepadan buat Milinkovic-Savic di pos gelandang adalah Luis Alberto. Ia pun dapat diandalkan sebagai opsi lain serangan Lazio.

Dalam skema Inzaghi, performanya justru membaik begitu tak mengemban tanggung jawab sebagai kreator serangan. Ia tampil meyakinkan di dalam kotak penalti dan banyak menyelesaikan peluang penting dengan membukukan 9 gol dan 2 assist. Alberto juga penting mengingat performa Immobile dalam skema 4-3-3 di Timnas Italia tak segarang di 3-5-2 ala Lazio.

Yang tak kalah krusial adalah peran penjaga gawang. Jika tim menekan Lazio tinggi-tinggi, Sarri akan menggunakan kemampuan Pepe Reina untuk melewati tekanan dengan umpan-umpan tinggi ke bek sayap yang maju.

Kualitas penyelamatan Reina pun tidak bisa diremehkan. Reina membukukan 76,4% penyelamatan per pertandingan. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang Thomas Strakosha yang hanya memiliki rasio penyelamatan per pertandingan 59,3%.

Mengingat Baik-baik Apa yang Gagal

Sarri tahu persis cara membuat orang-orang mengingatnya. Ia menciptakan permainan indah yang mengandalkan umpan-umpan pendek dan cepat serta kedisiplinan posisi yang dikenal sebagai Sarrismo. Sarriball.

Sistem ini semacam menjadi antitesis akan fakta bahwa Sarri merupakan salah satu pelatih tertua di Italia. Hanya karena usia tua, bukan berarti sepak bolanya kaku dan membosankan. Meski demikian, sepak bola ala Sarri tidak selalu luwes.

Kekakuan itu justru terjadi di balik layar. Sarri adalah tipe pelatih yang menuntut para pemainnya berlaga sesuai dengan peran yang dia inginkan. Semuanya harus sama persis sehingga pemain tidak cenderung bebas.

Ambil contoh Federico Bernardeschi di Juventus. Sarri betul-betul memaksakannya untuk menjadi trequartista meski peran itu terbukti tak sanggup mengeluarkan potensi terbaik Bernardeschi. Watak ini pula yang dikhawatirkan akan kembali muncul di Lazio. Jika Sarri enggan melunak, bukan berarti kekeraskepalaannya itu yang membuatnya hancur.

Sarriball adalah sistem yang menarik. Permainan ini membuat tim-tim asuhan Sarri menyenangkan untuk ditonton. Masalahnya, Sarriball acap melempem jika diperhadapkan dengan pressing. Kecenderungannya, Sarrismo seperti terhenti jika lawan menekan agresif dan lebih tinggi.

Statistik Umpan Panjang Juventus Serie A 2019/20

Player

Pos

Age

Cmp

Att

Cmp%

Danilo

DF

29

305

406

75.1

Cristiano Ronaldo

FW

35

55

87

63.2

Wojciech Szczęsny

GK

30

279

376

74.2

Federico Chiesa

MF,DF

22

77

118

65.3

Rodrigo Bentancur

MF

23

234

298

78.5

Juan Cuadrado

DF,MF

32

229

371

61.7

Adrien Rabiot

MF

25

132

147

89.8

Matthijs de Ligt

DF

20

268

319

84

Leonardo Bonucci

DF

33

287

377

76.1

Álvaro Morata

FW

27

45

68

66.2

Alex Sandro

DF

29

165

245

67.3

Dejan Kulusevski

MF,FW

20

50

77

64.9

Weston McKennie

MF

21

54

72

75

Giorgio Chiellini

DF

35

177

225

78.7

Paulo Dybala

FW

26

75

126

59.5

Arthur Melo

MF

23

140

152

92.1

Aaron Ramsey

MF

29

63

85

74.1

Merih Demiral

DF

22

64

81

79

Federico Bernardeschi

DF,MF

26

60

109

55

Gianluigi Buffon

GK

42

67

113

59.3

Gianluca Frabotta

DF

21

29

52

55.8

Manolo Portanova

FW,MF

20

1

1

100

Douglas Costa

MF,FW

29

1

3

33.3

Mattia De Sciglio

DF

27

2

3

66.7

Carlo Pinsoglio

GK

30

1

2

50

Nicolò Fagioli

MF

19

0

1

0

Alessandro Di Pardo

MF,DF

21

0

1

0

Félix Correia

MF

19

0

0


Radu Drăgușin

DF

18

0

0


Giacomo Vrioni

MF

21

0

0


Total

2860

3915

73.1

Statistik Umpan Panjang Chelsea Premier League 2019/20
Player Pos Age Cmp Att Cmp%
César Azpilicueta DF 28 1043 1185 88
Jorginho MF 26 1091 1214 89.09.00
Kepa Arrizabalaga GK 23 506 514 98.04.00
David Luiz DF 31 1188 1275 93.02.00
N'Golo Kanté MF 27 676 741 91.02.00
Antonio Rüdiger DF 25 1176 1236 95.01.00
Eden Hazard FW 27 513 625 82.01.00
Marcos Alonso DF 27 705 843 83.06.00
Willian FW 29 407 486 83.07.00
Pedro FW 31 306 373 82
Mateo Kovačić MF 24 480 517 92.08.00
Ross Barkley MF 24 336 369 91.01.00
Gonzalo Higuaín FW 30 72 89 80.09.00
Álvaro Morata FW 25 54 72 75
Olivier Giroud FW 31 30 50 60
Emerson Palmieri DF 23 145 158 91.08.00
Ruben Loftus-Cheek MF,FW 22 192 218 88.01.00
Andreas Christensen DF 22 227 243 93.04.00
Callum Hudson-Odoi FW 17 63 76 82.09.00
Willy Caballero GK 36 22 22 100
Cesc Fàbregas MF 31 78 85 91.08.00
Davide Zappacosta DF 26 32 33 97
Victor Moses FW 27 5 6 83.03.00
Gary Cahill DF 32 10 11 90.09.00
Total 2722 3838 70.09.00

Chelsea dan Juventus didikan Sarri pun demikian. Ketika bola masih dipegang para bek, penyerang lawan langsung menekan sehingga memaksa tim Sarri menggulirkan bola kembali ke belakang atau melepas bola-bola panjang ke depan.

Ingatlah bahwa tim Sarri tidak didesain untuk mengandalkan bola panjang dan permainan lambat. Berangkat dari situ, umpan-umpan panjang itu jadi tak efektif dan tim Sarri kebingungan karena aliran bola diputus dengan intersep. Di Premier League 2018/19, keberhasilan umpan panjang Chelsea hanya mencapai 70,9%, sedangkan Juventus di Serie A 2019/20 cuma mencatatkan keberhasilan 73,1% untuk atribut serupa

Terlepas dari segala kekurangannya, Sarriball adalah sistem yang membuat sepak bola Sarri begitu khas. Dengan cara itu Sarri meninggalkan legasi tpa merengkuh banyak trofi.

Namun, Sarri bukan pelatih amatir, ia tidak memimpin tim yang turun arena hanya untuk memuaskan hasrat bersenang-senang. Sarri tidak hanya membutuhkan kemenangan, tetapi juga gelar juara. Bagi Sarri, itu adalah cara untuk membuktikan bahwa sepak bolanya bukan omong kosong.

****

Serupa dengan saya yang hingga kini tidak tahu persis apa yang ditulis bapak dalam agendanya, tidak ada yang paham dengan jelas apa yang ditulis Sarri di buku catatannya. Barangkali di dalamnya ada cerita tentang kekalahan, nama-nama pemain yang pantas dihukum berlari keliling lapangan 20 kali, umpatan-umpatan terhadap hari yang buruk, atau hal-hal tak terkatakan lainnya.

Agaknya segala sesuatu di dalam buku terlalu penting sampai-sampai Sarri tak mau membagikannya kepada orang lain, sampai-sampai ia menyimpannya sendirian.

Kalaupun Sarri menempatkan segala sesuatu di buku itu dalam kotak berlabel bukan urusan orang lain, saya berharap ia juga menulis hal-hal menyenangkan di sana. Mungkin soal gelar juara setelah 29 tahun, tentang Lazio yang menyambutnya dengan sukacita, soal tawa-tawa hangat yang meringankan beban, atau tentang Tuhan yang memeluknya--dan kita semua--dengan sama erat dalam kebangkitan dan kejatuhan, di saat menang maupun kalah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.