Meneropong Bidikan Musim Dingin Newcastle

Foto: @NUFC

Ada dua opsi yang Newcastle punya: Membeli personel baru di bursa transferJanuari atau bersiap terdegradasi di akhir musim ini.

Salah satu momen yang bisa menyelamatkan Newcastle United dari jurang degradasi ini adalah transfer musim dingin. Di sanalah waktu yang tepat bagi mereka untuk berbenah, membeli suku cadang baru untuk menambal mesin yang sudah kelewat butut.

Newcastle sudah mendatangkan mantan Direktur Sepak Bola Celtic, Nick Hammond, sebagai konsultan sementara. Hammond dikenal dengan prestasi klasiknya saat membawa Reading pertama kali mentas di Premier League 15 tahun silam.

Sebagaimana dilaporkan The Athletic, tugas utama Hammond adalah untuk membantu Newcastle mendatangkan setidaknya bek tengah, full-back, dan gelandang. Well, ini seirama dengan yang pernah kami bahas bahwa barisan pertahanan menjadi titik paling rawan mereka. Pemain belakang Newcastle terlalu lambat dan grasah—grusuh dalam mengambil keputusan. Apalagi, Eddie Howe juga bukan pelatih yang punya spesialisasi bertahan.

Memang, pada akhirnya Howe berhasil membantu Newcastle mendapatkan kemenangan pertamanya di musim ini. Akan tetapi, fakta soal buruknya pertahanan mereka tak bisa dikesampingkan. The Magpies sudah kemasukan 17 gol sejak laga debut Howe atau 2,4 kali kebobolan bila dirata-rata per laga.

[Baca Juga: Horizon Eddie Howe]

Sven Botman

Incaran Newcastle paling serius sejauh ini, ya, Sven Botman. Fabrizio Romano juga mengonfirmasi bahwa mereka sudah tinggal meminta persetujuan harga dari Lille. Apa yang menjadi nilai jual dari Botman adalah spesifikasinya sebagai bek modern. Dia sama bagusnya soal distribusi bola yang apik serta duel 1 lawan 1. Nyatanya alumnus akademi Ajax itu rutin menjadi distributor utama Lille sejak dua periode terakhir kendati sudah berganti pelatih dari Christophe Galtier ke Jocelyn Gourvennec.

Sebagai gambaran, di musim ini Botman melepaskan 60 umpan per laga dengan akurasi 85,6% sebagaimana dicatat Whoscored. Jauh lebih tokcer daripada Fabian Schar yang mencatatkan akurasi 66% dari rerata 39,3%.

Botman juga lebih meyakinkan soal aksi defensif. Menyitat Fbref, sudah 88 kali dia melakukan aksi pressures dengan tingkat kesuksesan 42%. Ini lebih baik dari Jamaal Lascelles yang membukukan persentase keberhasilan 34,9% dari 83 percobaan.

Satu hal yang tak kalah penting adalah soal minimnya Botman dalam melakukan pelanggaran. Ini vital mengingat Newcastle kerap kecolongan gol via tendangan penalti. Sudah lima kali mereka memberi kado dari titik putih buat lawan, tertinggi di liga.

Sejauh ini Botman baru melakukan 6 pelanggaran dan mengantongi satu kartu kuning. Sementara Schar mencatatkan 13 fouls dan 2 kartu kuning. Lascelles lebih parah lagi karena mengoleksi 5 kartu kuning dari total 14 pelanggaran. Bek 28 tahun ini juga bertanggung jawab atas 3 penalti yang dihadapi Newcastle.

Bila benar-benar terealisasi, Botman ini bisa menjadi jawaban atas kebutuhan Newcastle di departemen belakang. Bukan cuma soal bertahan, tetapi juga tambahan alternatif jalur serangan dari lini pertama.

Opsi Lain: James Tarkowski, Boubacar Kamara

Kieran Trippier

Memang, secara performa Kieran Trippier tak lagi sebagus dulu. Dia bahkan belum menyumbang satu gol/assist di La Liga musim ini. Cedera bahu menjadi salah satu penyebab anjloknya penampilan eks Burnley itu.

Namun, kompetensi serta pengalaman Trippier akan sangat berguna untuk mengangkat moril para personel Newcastle saat ini. Dia memainkan peran penting saat Atletico Madrid menjadi kampiun La Liga 2020/21. Pun dengan pencapaian runner-up Tottenham Hotspur di Liga Champions serta Timnas Inggris pada gelaran Euro termutakhir.

Yang terpening adalah keserbabisaan Trippier sebagai pemian bertahan. Kemampuan defensif dan ofensifnya sama bagusnya. Toleh saja penampilan ciamik Trippier saat Diego Simeone memasangnya sebagai bek kanan dan wing-back kanan di musim lalu. Di sana dia mencatatkan rata-rata 2,2 tekel dan 1,4 intersep per laga (terbaik di Atletico). Sementara sumbangsih assist-nya menyentuh 6, hanya kalah dari Marcos Llorente, Yannick Carrasco, dan Angel Correa.


Karakter permainan Trippier ini beririsan dengan permainan dinamis yang dianut Howe. Pelatih 44 tahun ini hobi menggunakan lini kedua sebagai opsi serangan. Kita bisa kembali ke masa-masa terbaiknya bersama Bornemouth di musim 2016/17. Howe mengantar The Cherries finis di posisi sembilan Premier League dengan 55 gol. Yang menarik adalah kontribusi dari sepasang full-back mereka, Charlie Daniels dan Adam Smith. Keduanya berkontribusi 5 gol dan 8 assist bila dikalkulasi.

Oh, iya, spesialisasi Trippier dalam mengeksekusi bola mati bisa menjadi nilai plus lain. Terlebih, skema tersebut juga merupakan salah satu andalan Newcastle. Sudah 5 kali mereka mencetak gol lewat metode set piece atau nyaris sepertiga dari total lesakan di liga.

Opsi Lain: Nicolas Tagliafico

Ousmane Dembele

Secara garis besar, tak ada masalah serius dari sektor penyerang, khususnya perkara penyelesaian peluang. Wong xG Newcastle masih surplus 1,43. Namun, kreativitaslah titik lemah mereka.

Pemrakarsa peluang terbanyak Newcastle justru lahir dari Matt Ritchie yang intens ngepos di pos full-back kiri. Rata-rata umpan kuncinya menyentuh 1,8 per laga. Baru disusul Allan Saint-Maximin (1,5) dan Jonjo Shelvey (1,1). So, tinggi betul urgensi Howe untuk menambah divisi kreatifnya pada transfer musim dingin ini.

Itulah mengapa Newcastle getol mendatangkan Ousmane Dembele dari Barcelona. Perkara pemrakarsaan peluang, winger Prancis itu memang jagonya. Dia berhasil mengumpulkan 28 assist dari medio 2015/16 hingga 2018/19 di tiga liga berbeda.

Dembele bisa menjadi winger ideal di sisi kanan Newcastle, melengkapi kecepatan Saint-Maximin di tepi sebaliknya. Dengan begitu agresivitas Wilson bisa terkatrol. Keduanya juga melengkapi kebutuhan Howe akan ketajaman lini kedua.

Akan tetapi, kecil peluang Newcastle untuk merealisasikan kedatangan Dembele. Sebagaimana dikabarkan Romano, Xavi Hernandez masih membutuhkan keberadaan eks Borussia Dortmund itu. Manajemen Barcelona juga sudah ancang-ancang untuk menyodorkannya kontrak kerja baru dalam waktu dekat.

Alternatif lainnya, ya, Philippe Coutinho. Ini bukan pilihan yang buruk, meski bukan sebuah ide brilian juga. Sejak pindah ke Camp Nou, Coutinho tak pernah mencetak lebih dari 8 gol di ajang liga. Produktivitasnya juga terus menurun karena hanya mencetak 4 gol sejak musim lalu.
Terlepas dari semua itu, Coutinho tetaplah gelandang imajinatif yang berpengalaman main di klub besar. Inilah sosok yang dibutuhkan Newcastle sekarang.

Idealnya, Coutinho memainkan free role dalam pakem 4-5-1 yang rutin diusung Howe belakangan ini. Dia fasih bergerak di belakang striker utama atau melakukan pergerakan dari sayap. Jangan lupa kalau Coutinho pernah mencetak 13 gol dan 7 assist—kombinasi terbaik di antara seluruh pemain Liverpool musim itu.

Opsi Lain: Dele Alli

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.