Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Mengapa Chanathip Songkrasin Begitu Berbahaya?

Foto: AFF.

Untuk kesekian kalinya, Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand yang diperkuat Chanathip Songkrasin. Untuk kesekian kalinya pula, skuat Garuda mesti super waspada.

Hampir semua negara punya ‘Lionel Messi’-nya masing-masing. Di Thailand, Chanathip Songkrasin-lah pemain tersebut. Orang-orang di sana lantas menjuluki Chanathip sebagai ‘Messi Jay’. Namun, pesepakbola kelahiran 1993 ini tak pernah sepakat dengan anggapan demikian.

“Secara pribadi saya senang dibandingkan dengan Messi karena dia adalah pesepakbola yang hebat, tetapi saya tidak berpikir kami berada di level yang sama. Dia pemain yang jauh lebih baik. Jika saya bisa memilih, saya ingin menjadi Jay Chanathip saja.”

“Ada Messi di setiap negara tetapi hanya satu Chanathip. Akan sangat keren jika seseorang memanggil pemain mereka Chanathip ini atau Chanathip itu suatu hari nanti. Saya ingin menjadi seseorang yang mereka lihat dan bandingkan,” kata Chanathip dalam sebuah wawancara dengan FourFourTwo.

Pada akhirnya memang publiklah yang menilai. Lagi pula, Chanathip hidup di dunia yang membuat anggapan semua orang bisa dilihat orang-orang lainnya dengan amat mudah. Alhasil, Chanathip terus hidup dengan ekspektasi bahwa dia bisa menjadi seperti Messi, setidaknya bagi Thailand.

Foto: AFF

Hal utama yang bikin embel-embel Messi sulit lepas adalah gaya main Chanathip sendiri. Tubuhnya yang hanya 163 cm membuat keberadaannya serupa eks pemain Barcelona tersebut. Pergerakan dan posisinya di lapangan, caranya melepaskan sepakan. Semuanya relatif sama dengan Messi.

Chanatip juga punya kemampuan menggiring bola yang spesial. Saat menguasai bola, ia bisa melewatimu dengan mudah. Ia bakal berlari dengan cepat, lalu tiba-tiba berhenti, kemudian berputar atau sekadar mengubah arah bola. Tanpa disadari ia sudah berada di depanmu.

Yang perlu diingat, Chanathip tak melakukannya tanpa tujuan. Dia selalu tahu kapan mesti melewati lawan dan kapan mesti melepaskan operan maupun tembakan. Bahkan saat situasi memungkinkan untuk mendribel, misal, sangat mungkin ia malah melakukan hal lain yang tak terduga.

Kamu tak pernah bisa menebaknya tetapi Chanathip selalu tahu apa maksud dari semuanya. Itulah kenapa, ia lebih pas disebut sebagai pemain cerdas ketimbang skillful. Gol ke gawang Malaysia pada final Piala AFF 2014 dan ke gawang Timnas Indonesia di SEA Games 2015 merangkum semuanya.

Dua kejuaraan itu memang jadi panggung pertunjukkan Chanathip. Pada dua kejuaraan itu pula julukan Jay Messi datang kepadanya. Namun, bagi kita yang orang Indonesia, justru final Piala AFF 2016-lah yang lebih pas untuk disebut sebagai tahun di mana Chanathip mencuri perhatian.

Kala itu, ia membuat lini belakang Timnas pontang-panting. Ia memang tak mencetak gol — bahkan hanya bikin satu gol sepanjang turnamen, tetapi pergerakannya di lapangan benar-benar memengaruhi permainan Thailand. Kian jelas peran tersebut begitu gelar pemain terbaik jatuh kepadanya.

Dalam tulisannya di FourFourTwo, John Duerden lantas menggambarkan performa Chanathip di AFF 2016 dengan kalimat: “Sangat cepat dan lihai menemukan ruang dalam situasi yang ketat sekalipun, sehingga bukan tidak mungkin ia bisa meluncur di tengah sibuknya lalu lintas Bangkok.”

Segera setelah performa yang fenomenal itu, Consadole Sapporo membuat ponsel Chanathip berdering. Petualangannya di Liga Utama Jepang pun dimulai. Bahwa Chanathip masih bertahan di klub itu hingga kini, kuasa mencetak setidaknya lima assist per musim, jadi bukti performa ciamiknya.

Seperti saat bersama Thailand, Muangthong United, dan BEC Tero Sasana, yang menonjol dari Chanathip selama di Jepang adalah kreativitasnya. Bahkan, pada musim 2019 ia sanggup mencetak tujuh assist. Sementara itu, Sapporo berhasil ia bawa hingga finis di sepuluh besar.

Namun, sebetulnya kreativitas bukanlah satu-satunya istilah yang pas untuk menggambarkan Chanathip. Hal lain yang juga tak kalah spesial adalah apa yang ia lakukan saat tak menguasai bola. Agar tak terlalu jauh, kamu bisa melihatnya saat membela Thailand di Piala AFF edisi kali ini.

Pada ajang itu Chanathip berperan sebagai pemain nomor sepuluh dalam skema 4–1–2–1–2 Thailand. Tugas utamanya jelas merancang serangan. Namun, pendekatan bermain agresif dan rapat yang dibawa pelatih Alexandre Polking membuat ia juga amat terlibat saat bertahan.

Saat tak menguasai bola, Chanathip bakal menekan lawan secara intens. Ini juga berlaku ketika ia baru saja kehilangan bola. Lihat kembali aksinya dalam duel dua leg melawan Vietnam. Selain dua gol yang ia bukukan, berulang kali pressing Chanathip membuat Nguyen Quang Hai dan kolega kelabakan.

Determinasi seperti itulah yang membedakan Chanathip dengan playmaker lain yang selama ini beredar. Itulah kenapa, Timnas Indonesia mesti super waspada saat berjumpa Thailand pada final Piala AFF 2020, Rabu (29/12/2021) dan Sabtu (1/1/2022) mendatang.

Ada alasan khusus mengapa Chanathip mampu menjalankan peran tersebut dengan begitu fasih. Sebuah alasan yang berkaitan erat dengan apa yang ia lakukan ketika bocah dulu.

Dalam video berjudul The Making of Chanathip yang tayang di Youtube, Chanatip bercerita bahwa Kongkop Songkrasin, ayahnya, kerap melatihnya dengan cara yang unik. Pada mulanya, Chanathip diminta untuk berlatih dengan bola yang terbuat dari gulungan koran.

Gulungan koran itu baru berubah menjadi bola betulan saat Chanathip beranjak remaja. Sejak saat itu, intensitas latihan dari ayahnya makin tinggi. Setiap hari Chanathip berlatih dengan keras. Ia mesti berlari, menggiring bola, menendang bola tersebut, menyundulnya, lalu berlari lagi.

Usut punya usut, sang ayah terinspirasi dari metode latihan klub Korea Selatan bernama FC Anyang. Kala itu mereka tengah berlatih di Thailand, tepatnya di Stadion Supatcharasai. Kongkop mengetahui metode itu setelah membaca sebuah artikel di koran.

“Di sana tertulis bahwa pelatih akan menampar setiap pemain (jika melakukan kesalahan). Saya mengikuti metode tersebut karena orang-orang Korea terkenal disiplin dan kuat sehingga mereka bisa lolos ke Piala Dunia,” kata Kongkop. Bukan kebetulan jika Chanathip kerap ditampar ayahnya.

Metode itu membentuk fisik dan mental Chanathip. Kendati bertubuh kecil, fisiknya begitu prima. Ia juga tak segan berhadapan dengan lawan yang jauh lebih besar dari dirinya. Ditambah visi bermain yang tiada batas, sama sekali tak salah menyebut Chanathip sebagai pemain yang komplet.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now