Mengapa Liverpool Lambat di Bursa Transfer?

Foto: Tembela Bohle - Pexels

Sudah dua tahun berlalu sejak Liverpool melakukan pembelian besar di bursa transfer. Setelahnya, Liverpool jadi irit betul saat klub lain berlomba-lomba memecahkan rekor belanja pemain.

Catatan Editorial: 

Tulisan ini tayang sebelum Liverpool mendatangkan Thiago Alcantara dan Diogo Jota. Namun, isinya masih menjelaskan dengan detail mengapa Liverpool tidak pernah sembarangan mengeluarkan uang.

***

Sudah dua tahun berlalu sejak Liverpool melakukan pembelian besar di bursa transfer. Pemain terakhir yang dibeli The Reds dengan harga di atas 30 juta poundsterling adalah Alisson Becker pada 19 Juli 2018. Setelah itu, Liverpool menjadi irit. Bahkan di musim lalu, tak ada satu pun pemain yang dibeli dengan banderol lebih dari 10 juta poundsterling.

Di bursa transfer musim ini, sang juara Premier League belum juga mengeluarkan uang banyak untuk membeli pemain. Satu-satunya pemain yang mereka datangkan, Kostas Tsimikas, hanya diboyong dengan harga 11,75 juta poundsterling. Untuk mendatangkan bek kiri berpaspor Yunani itu pun Liverpool kudu melego Dejan Lovren ke Zenit Saint Petersburg dan Ovie Ejaria ke Reading lebih dulu.

Gamblangnya, Liverpool kepengin dapat uang dulu, baru kemudian beli pemain baru. Ya, masih ngirit. Karena itu, hingga tulisan ini selesai ditulis, Liverpool masih belum mendatangkan Thiago Alcantara ke Anfield. Padahal, kabar mengenai transfer ini berembus kencang sejak Agustus.

Thiago dikabarkan sudah menambatkan hati pada Liverpool sebagai pelabuhan karier selanjutnya, dan Juergen Klopp selaku Manajer Liverpool juga tertarik untuk memakai jasa sang pemain. Pihak Bayern Muenchen sebagai klub Thiago bernaung saat ini pun sudah terbuka dan memberikan angka 30 juta euro (sekitar 26 juta poundsterling) pada Liverpool.

Angka tersebut, bagi Liverpool, sebenarnya bukanlah angka yang besar. Namun, progres transfer masih mandek dan Liverpool belum mau mengeluarkan uang. Pembicaraan terus berlangsung, tapi kesepakatan tak kunjung terjadi. Pun begitu dengan transfer lainnya. Uang tak juga dikeluarkan. Lantas, mengapa Liverpool begitu pasif di bursa transfer?

Jawaban pertama adalah soal uang. Pada 2019 lalu, berdasar data yang dirilis The Athletic, Liverpool meraup pemasukan sebesar 533 juta poundsterling. Peningkatan yang besar jika dibanding satu tahun sebelumnya saat mereka mendapatkan 455 juta poundsterling. 

Pemasukan mereka memang bertambah seiring kesuksesan menjadi kampiun Liga Champions edisi lalu. Namun, pandemi COVID-19 yang menerjang dunia di awal 2020 membuat ekonomi bergejolak dan itu juga berdampak pada klub besar seperti Liverpool.

Mau tak mau, demi keberlangsungan--dan kesehatan ekonomi--klub, Liverpool mesti mengencangkan ikat pinggang. Situasi ini membuat mereka jadi lebih perhitungan dalam mengeluarkan uang, tentunya termasuk dalam hal membeli pemain. Apalagi Liverpool saat ini sudah memiliki tagihan gaji tahunan sebesar 320 juta poundsterling--angka yang besar untuk memangkas pendapatan tahunan mereka.

Itu jadi satu alasan kenapa Liverpool lebih pasif. Untuk mengeluarkan uang guna membeli pemain baru, pemilik 6 trofi Liga Champions ini juga masih menunggu beberapa pemainnya terjual. Nama-nama seperti Marko Grujic, Loris Karius, Harry Wilson, Sheyi Ojo, hingga Taiwo Awoniyi jadi pemain yang diharapkan bisa mendatangkan uang untuk dibelanjakan.

Belakangan ini, kabar ketertarikan Barcelona untuk memboyong Gini Wijnaldum juga dikaitkan soal transfer Thiago. Kabar beredar bahwa Liverpool baru akan mendatangkan Thiago jika transfer Wijnaldum deal. Di luar soal uang, kabar ini cukup masuk akal mengingat Liverpool kini memiliki 8 gelandang tengah.

Situasi finansial juga jadi penyebab Liverpool mundur dari perburuan Timo Werner beberapa bulan lalu, sehingga sang pemain urung pindah ke Anfield dan justru merapat ke Stamford Bridge untuk berseragam Chelsea. Kala itu, Liverpool enggan menebus klausul pelepasan Werner karena harga yang terlalu tinggi. Selain itu, mundurnya Piala Afrika awal tahun depan juga menurunkan urgensi mereka untuk mendatangkan pemain depan baru.

Itulah mengapa, meski cuma memiliki 3 bek tengah senior setelah Lovren hengkang, klub pemilik 19 gelar divisi teratas Liga Inggris belum juga mencari pengganti. Sedikitnya stok bek berkualitas yang bisa didapatkan dengan harga murah membuat ruang gerak Liverpool terbatas. Ben White sempat jadi incaran, tetapi harga tinggi yang dipatok Brighton Albion membuat Liverpool mundur.

Klopp sebagai manajer juga memahami bahwa saat ini Manajemen Liverpool sedang tak bisa mengeluarkan uang banyak untuk belanja pemain.

"Kami tidak akan pernah memiliki hubungan di mana saya menemui manajemen dan mengatakan 'ini uang yang saya butuhkan dan tanpanya kita tidak dapat bertahan hidup'. Ini semua tentang klub. Ada klub lain yang memiliki kebijakan berbeda, tentu saja, tetapi itulah yang harus Anda terima dan harapkan," ujarnya akhir Agustus dilansir Goal Internasional.

Aspek kedua adalah soal penilaian yang ketat Liverpool terhadap kondisi seorang pemain. Dalam hal Thiago misalnya, eks pemain Barcelona itu sudah berusia 29 tahun dan Liverpool bisa mendapatkannya secara gratis pada 2021. Belum lagi dengan riwayat cedera Thiago yang cukup mengkhawatirkan.

Di musim 2019/20 lalu, berdasarkan data catatan riwayat cedera Transfermarkt, Thiago harus absen selama 50 hari. Dia pun hanya bisa tampil di 21 dari total 34 laga Bundesliga. Pada musim-musim sebelumnya pun sama. Bahkan pada musim 2017/18, Thiago harus menepi selama 81 hari hanya karena satu cedera saja. Problem ini tentu membuat Liverpool harus berpikir dan menganalisis lebih jauh sebelum mengambil keputusan.

Kasus terkait kondisi cedera atau kesehatan pemain ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Pada 2018 tepatnya, saat Liverpool mengurungkan niatnya merekrut Nabil Fekir. Klopp dan manajemen Liverpool menilai pemain asal Prancis itu punya cedera ACL lama yang dikhawatirkan bisa kambuh kembali dan berisiko buat tim. Padahal Liverpool dan Fekir sudah menyepakati kontrak. Bahkan foto sang pemain dengan jersi tim sudah selesai diambil.

Kasus seperti itu sebelumnya juga pernah terjadi di era Brendan Rodgers dan pemainnya adalah Loic Remy. Setelah sepakat dalam hal transfer dan dilakukan pemeriksaan medis, kondisi kesehatan eks pemain Chelsea itu sedikit bermasalah dan akhirnya juga membuat Liverpool batal merampungkan transfer.

Secara taktikal, apa yang dimiliki Thiago khususnya pada kemampuan melepaskan umpan-umpan sukses ke area sepertiga akhir lawan (11,73 umpan per 90 menit musim lalu) dan kejeliannya melepaskan diri dan mengalirkan bola di ruang sempit sesuai dengan kebutuhan Liverpool. Namun, kondisi-kondisi seperti kontrak pemain dan riwayat cedera membuat Klopp dan manajemen Liverpool, khususnya Michael Edwards sebagai Direktur Olahraga, harus meninjau lebih dalam.

Poin terakhir adalah soal kebiasaan baru Liverpool. Sejak Michael Edwards ditampuk sebagai Direktur Olahraga pada 2016, kebiasaan dalam bursa transfer berubah. Bersama tim pencari bakat yang dimiliki Liverpool seperti Barry Hunter dan Dave Fallows, kerja dalam bursa transfer menjadi lebih hati-hati dan dalam prosesnya dilakukan perhitungan dan analisis yang matang. Ini tak lepas dari latar belakang Edwards sebagai analis performa di Portsmouth dan Tottenham Hotspur, yang dalam kesehariannya biasa bekerja dengan data, statistik, dan beragam tetek-bengek soal angka.

Sejak itulah, gerak Liverpool di bursa transfer lebih lambat dari sebelumnya. Edwards, begitu juga dengan Klopp, tak ingin transfer 'sia-sia' seperti di masa lalu terulang. Tak perlu jauh-jauh menengok, sebelum tahun 2016 saat Edwards belum punya wewenang penuh terkait transfer saja, sering kali Liverpool salah langkah. 

Transfer Iago Aspas, Lazar Markovic, hingga Mario Balotelli adalah contoh kesia-siaan itu. Nama terakhir bahkan menimbulkan friksi antara Rodgers dan Edwards serta beberapa pihak di manajemen Liverpool.

Perekrutan Mohamed Salah bisa jadi contoh bagaimana analisis dan perhitungan Edwards beserta timnya berjalan. Kala itu, di musim panas 2017, Klopp ingin mendatangkan Julian Brandt dari Bayer Leverkusen untuk memperkuat lini depan The Reds

Namun, Edwards tak ingin tergesa-gesar mengiyakan keinginan Klopp dan justru menawarkan alternatif. Ayah dua anak itu memberi nama Salah karena pemain berpaspor Mesir itu sudah dianalisis perkembangannya sejak di Basel hingga hengkang dari Chelsea. Salah dinilai cocok dengan kebutuhan Klopp, transfer kemudian terlaksana, dan kita sama-sama tahu hasilnya seperti apa sekarang.

Perekrutan Alisson juga bukti bahwa pergerakan transfer Liverpool jauh dari kata buru-buru, kendati mereka memiliki uang untuk melakukannya. Transfer eks-kiper AS Roma itu bisa saja disepakati pada Februari 2018--usai transfer Coutinho ke Barcelona dengan banderol 105 juta poundsterling. Namun, karena klub Ibu Kota Italia itu mempersulit penawaran Liverpool dengan mematok harga tinggi, Edwards mundur.

Padahal saat itu Liverpool punya uang yang cukup. Edwards datang kembali pada Roma di bulan Mei, dengan menyimpan Jack Butland dan Nick Pope sebagai alternatif, tapi harga belum juga pas. Edwards mundur lagi, tarik ulur terjadi, sampai akhirnya Roma mau menurunkan harga Alisson dari 90 ke 65 juta poundsterling di bulan Juli, transfer pun disepakati.

Transfer Virgil van Dijk pun terjadi tak sesuai rencana. Bek asal Belanda itu idealnya bergabung di musim panas 2017 usai bertemu pihak Liverpool di Blackpool. Toh, kesepakatan sudah terjalin dan Van Dijk siap pindah. 

Namun, karena Southampton berang--merasa pertemuan itu melangkahi mereka, manajemen Liverpool akhirnya memutuskan tidak melanjutkan progres dan transfer tersebut batal. Edwards, atas permintaan Klopp, kemudian kembali lagi melakukan penawaran resmi setelah musim berjalan dan pada Januari 2018, Van Dijk resmi hijrah ke Anfield..

Melihat riwayat tersebut, lambatnya Liverpool dalam transfer Thiago atau siapa pun yang jadi incaran mereka, bukanlah hal baru. Bisa saja Liverpool hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Sedang tarik ulur. Plus, ada isu finansial yang menimpa klub-klub di dunia dalam situasi transfer musim ini yang membuat setiap transfer akan makin berbelit perhitungannya.

Apa yang terjadi pada musim lalu di mana mereka begitu pasif hingga transfer musim panas rampung pun bisa saja terjadi lagi tahun ini. Walaupun, melihat dari kebutuhan tim dan penampilan mereka yang menurun sejak fase restart Premier League, Liverpool setidaknya membutuhkan satu bek tengah baru, Thiago, serta satu alternatif pemain depan dan itu semua bisa didapat dengan mengeluarkan uang di bursa transfer.

Jika pada musim lalu dengan irit di bursa transfer Liverpool masih bisa menjadi kampiun Premier League, apakah musim ini The Reds juga bisa berprestasi? Klopp mungkin sudah mempersiapkan berbagai alternatif dan plan untuk memaksimalkan skuat yang ada. Namun, perlu diingat juga bahwa para pesaing mereka seperti Manchester City, Manchester United, Chelsea, dan Arsenal aktif berbelanja demi memperkuat tim untuk musim 2020/21 ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.