Menjadi Jentelmen seperti Daniele De Rossi

Twitter @Vivo_Azzurro

Bagi De Rossi, sepak bola tak cuma soal kemenangan dan gelimang trofi. Ini semua perkara hati.

Salah satu dramawan terbaik abad 19, George Bernard Shaw, pernah berkata: Jentelmen adalah orang yang memberikan lebih banyak ke dunia daripada dirinya sendiri. Ya, begitulah penggambaran sempurna sosok Daniele De Rossi.

Ngomong-ngomong, kamu tidak salah baca. Dalam bahasa Indonesia, gentleman diterjemahkan menjadi jentelmen.

De Rossi menghabiskan lebih dari setengah hidupnya untuk AS Roma. Setelahnya De Rossi menyeberang ke Argentina untuk membela Boca Juniors. Itu tak lama. Dia memilih gantung sepatu di awal Januari tahun lalu atau lima bulan sebelum kontraknya habis.

“Keputusanku pensiun bukan karena faktor cedera, melainkan hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Aku rindu dengan anak perempuanku. Aku rasa dia juga merasakan hal yang sama," terang De Rossi, dikutip dari Football Italia.

Bagi De Rossi, sepak bola tak cuma soal kemenangan dan gelimang trofi. Ini semua perkara hati.

***

Dalam wawancaranya dengan situs resmi Roma, De Rossi mengungkapkan ketertarikannya kepada film "The Shawshank Redemption". Betul, itu adalah film legendaris soal aksi pelarian Andy Dufresne dari penjara Shawshank.

Garis besar cerita "The Shawshank Redemption" itu setali tiga uang dengan salah satu novel favoritnya: "Shantaram". Ia adalah novel otobiografi Gregory David Roberts yang menceritakan tentang perjalanan si tokoh utama, Lindsay. Dia merupakan terpidana perampokan bank yang melarikan diri dari Penjara Pentridge, Australia, ke India. Di sanalah Lindsay mulai menemukan orang-orang baru dan menata kehidupannya kembali.

Lucunya, De Rossi justru tidak mengikuti jejak Andy dan Lindsay untuk kabur. Dia tetap ‘mengurung diri’ di Roma 18 tahun lamanya. 

Roma jelas bukan penjara. Namun, kalau boleh jujur, mereka bukanlah klub yang rutin mengoleksi trofi di tiap musimnya. Makanya cuma tiga gelar yang berhasil dicicipi De Rossi selama mentas di sana (dua Coppa Italia dan sebiji Supercoppa Italia).

Pada 2017 De Rossi pernah curhat dengan Undici. Tawaran dari klub-klub besar datang kepadanya berulang kali, tetapi tak sampai hati untuk pergi meninggalkan Roma, begitu dia menjelaskan.

"Satu-satunya penyesalanku bertahan di Roma adalah aku tidak pernah merasakan atmosfer permainan di negara lain, seperti di Inggris atau Spanyol. Aku ingin tahu bagaimana hidup di tempat lain,” kata De Rossi.

Lalu dia melanjutkan, “Aku selalu sadar sepenuhnya bahwa pilihan karierku 'salah' dalam level profesional.”


Romansa De Rossi dengan Roma dimulai pada 2000. Dia datang ke Olimpico setelah menempuh pendidikan di Ostia Mare. Saat itu De Rossi masih berstatus sebagai penyerang. Sampai akhirnya pelatih junior Roma saat itu, Mauro Bencivenga, berinisiatif memasangnya sebagai pelindung backfour.

Awalnya De Rossi kesulitan buat beradaptasi. Syukurlah ada Alberto De Rossi. Ayahnya itu merupakan mantan pemain Roma dan sedang ditugasi menangani tim primavera di sana. Dari situ pula terjawab mengapa De Rossi memilih Roma, bukan Lazio. 

De Rossi mengukir debutnya setahun berselang. Dia masuk pada menit 71 saat Roma tanding lawan Anderlecht di Liga Champions. Sementara laga pertamanya sebagai starter baru tercipta pada Mei 2003. Hasilnya ciamik. De Rossi sukses mencetak gol cantik ke gawang Torino sekaligus mengantar Roma menang 3-1.

Mulai dari sini namanya diperhitungkan sebagai pemain muda potensial. Dua tahun setelahnya De Rossi dipercaya sebagai pemain reguler. Dia malah sempat mengemban ban kapten Roma, tepatnya saat berhadapan dengan Middlesbrough di Piala UEFA. Ban kapten diberikan kepadanya setelah wakil kapten Roma, Damiano Tommasi, ditarik keluar. Usia De Rossi baru 22 tahun saat itu.

Meski terhitung belia, De Rossi memperlihatkan sesuatu yang tak dimiliki pemain seumurannya: Determinasi dan jiwa kepemimpinan. Julukan Capitan Futuro melekat kepadanya. Dari sana pula De Rossi disebut sebagai kapten masa depan ideal Roma setelah Fransceco Totti.

Pada musim 2005/06 itu juga De Rossi dikalungi titel pemain muda terbaik di Italia. Penghargaan itu juga pernah disabet Filippo Inzaghi, Alessandro Nesta, dan Totti. Sampai akhirnya Marcello Lippi mengajaknya masuk ke skuat Piala Dunia 2006. Perjalanannya terasa semakin ekstravaganza karena Gli Azzurri menggondol mahkota juara untuk keempat kalinya di turnamen paling kondang sejagat tersebut.


De Rossi adalah gelandang bertipe komplet. Kekuatan fisiknya dipadu dengan atribut bertahan serta daya ofensif mumpuni. Itu membuatnya tak hanya menjadi pemangkas gempuran lawan, tetapi juga inisiator bahkan algojo serangan tim.

Latar belakang striker di masa lalunya cukup membantunya dalam memainkan peran sebagai gelandang bertahan: Bukan cuma soal menyerang, melainkan juga untuk aksi defensif.

“Karena aku pernah memiliki pergerakan sebagai penyerang, jadi mungkin aku bisa memahami pikiran mereka lebih dulu,” imbuh De Rossi.

Yang membedakan De Rossi dengan pemain kebanyakan adalah keteguhan hati. Dari sana dia mendapatkan kekuatan mental dan semangat yang seakan tak habis-habis. Dia pernah menjadi biang keladi saat timnya keok 1-4 dari Barcelona di perempat final Liga Champions 2017/18. 

Gol pertama El Barca lahir dari bunuh diri De Rossi. Dari situ segalanya menjadi buruk. Gerard Pique dan Luis Suarez bergiliran menjebol gawang Alisson Becker. Kostas Manolas pun 'ikut-ikutan' membuat own goal.

Roma takluk 1-4 dan menatap leg kedua dengan gontai. Bagaimana lagi, mereka kudu menang minimal tiga gol tanpa balas. Gampang kalau musuhnya Cagliari. Lha, ini gerombolannya Lionel Messi.

Namun, siapa yang menyangka De Rossi bisa mendorong Roma menembus kemuskilan itu? Barcelona mereka babat 3-0. De Rossi jadi bintangnya dengan 1 gol dan 1 assist. Kalau sudah begini, apa resepnya selain kekuatan mental?

“Aku menyadari gol bunuh diriku diperbincangkan orang-orang. Namun, aku lebih suka bermain dengan keberanian dan menghadapi risiko gol bunuh diri daripada hanya bermain aman," kata De Rossi.

Semangat tarung De Rossi lahir dari kecintaannya kepada timnya, kepada Roma dan Italia. Rasa cinta yang besar pasti mengandung konsekuensi. Terkadang dia menghadirkan dua kepribadian terbalik. Empati yang dalam atau kebencian yang berlebihan.

De Rossi tak luput dari itu. Ada saat ia tampak sebagai sosok yang kalem, ada kalanya dia muncul sebagai gladiator buas yang menebas lawan-lawannya.

Pada musim 2013/14, De Rossi pernah dihukum gara-gara memukul Mauro Icardi. Kala itu Roma tengah menjamu Inter Milan di Serie A. Buntutnya Komite Disiplin Italia menjatuhkan sanksi larangan 3 laga. Tak sampai di sana, Cesare Prandelli yang menukangi Timnas Italia saat itu juga mencoret De Rossi buat tanding di laga persahabatan.

Persaingan Inter dan Roma memang sudah meruncing tujuh musim sebelumnya, tepatnya setelah skandal Calciopoli yang meredupkan Juventus dan AC Milan. Dari situ Inter dan Roma bersaing secara intens untuk menjadi klub terbaik di Italia.

Tentu saja De Rossi memainkan peranan penting dalam rivalitas ini. Di final Coppa Italia leg pertama edisi 2006/07, dia menyumbang satu gol dan membawa Roma menang 6-2 atas Inter.

Maginya kembali tertuang di Supercoppa Italia 2007. Roma selaku kampiun Coppa Italia kembali bersua dengan Inter sebagai juara Serie A. Lagi-lagi De Rossi bikin gol. Lesakan tunggal itulah yang mengantar Roma ke tangga juara.


Dalam plot lainnya, De Rossi punya gambaran karakter yang punya rasa empati besar. Pada musim 2005/06 De Rossi mendapatkan pujian setelah melakukan aksi fair play. Itu diawali dengan golnya ke gawang Messina.

Alih-alih melakukan seleberasi, De Rossi malah menginstruksikan wasit Mauro Bergonzi untuk menganulir golnya. Pasalnya, dia memang sengaja mendorong bola dengan tangannya untuk menjebol gawang Marco Storari.

De Rossi padahal punya pilihan untuk tidak mengakuinya. Toh, Bergonzi tidak melihat itu dan VAR juga belum diterapkan. Ditambah lagi dengan kondisi Roma yang baru unggul tipis, 1-0, atas tim tamu.



Per 18 Maret 2020, De Rossi diangkat menjadi pelatih teknis Timnas Italia di bawah komando Roberto Mancini. Kehadirannya diharapkan mampu mengatrol moral para penggawa Gli Azzurri. Utamanya karena kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018 lalu. De Rossi masih ingat betul kenangan pahit itu.

“Kami punya kenangan buruk saat gagal lolos ke Piala Dunia terakhir. Itu harus tetap dalam ingatan kami. Kami mesti mengidentifikasi kesalahan dan tidak mengganggap remeh semua persoalan” kata De Rossi kepada RAI Sport.

Sekarang Italia sedang dalam proses regenerasi. Dari 23 penggawa teranyar yang dipanggil, hanya lima pemain yang usianya sudah menginjak kepala tiga. Sementara sisanya bila dirata-rata berada di angka 25 tahun. 

Untuk teknis kepelatihan, De Rossi memang masih awam. Baru Desember kemarin dia memulai kursus lisensi UEFA A. Namun, soal cara tumbuh menjadi pemain dengan keteguhan hati dan semangat juang, dia pakarnya. Para pemain Italia bisa belajar untuk menjadi jentelmen seperti De Rossi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.