Menyerang Lewat Tepi

Foto: LFC.

Liverpool tak butuh pemain nomor 10 karena mereka punya full-back yang bisa jadi sumber kreativitas sekaligus pengatur arah serangan.

“Pemain nomor 10 tidak lagi bisa dibilang sebagai playmaker karena ruang (space) yang mereka miliki terlalu terbatas… Hari ini, playmaker juga bisa ditemukan di antara empat pemain belakang.”

Louis Van Gaal mengucapkan kalimat-kalimat di atas untuk berbicara soal Ajax yang pernah ia latih. Ya, Ajax yang meraih trofi Liga Champions pada 1995 itu.

Saat itu, Ajax memang punya Jari Litmanen yang merupakan seorang pemain nomor 10. Ia berposisi di belakang striker dan punya kreativitas mumpuni. Litmanen juga bisa mencetak gol. Akan tetapi, bagi Van Gaal, playmaker utama timnya bukanlah Litmanen.

Penentu arah permainan dan penyuplai bola ke lini depan ia bebankan pada sosok Frank Rijkaard. Rijkaard, di Ajax eranya Van Gaal, acap mengisi pos gelandang bertahan yang, ketika dalam situasi bertahan, bisa menjadi bek tengah tambahan. Ia jadi bek tengah keempat dalam formasi 3-4-3 diamond ala Van Gaal.

Rijkaard adalah orang yang mengatur permainan Ajax di masa itu. Ia bahkan juga bisa menciptakan assist. Tengoklah kembali Final Liga Champions 1995 dan lihatlah satu-satunya gol Ajax yang dicetak Patrick Kluivert. Itu berawal dari aksi dan umpan seorang Rijkaard.

***

Lebih dari dua dekade berlalu, ada Juergen Klopp yang terlihat punya kepercayaan sama dengan Van Gaal. Di Liverpool-nya Klopp, kreativitas tak datang dari seorang pemain nomor 10. Mereka bahkan tak punya sosok itu. Alih-alih menggunakan pemain nomor 10, Klopp lebih suka menurunkan dua pemain nomor 8 dan satu nomor 6 sebagai susunan lini tengahnya.

Itulah mengapa Liverpool memiliki Jordan Henderson, Thiago Alcantara, Fabinho, James Milner, Naby Keita, atau dulu Gini Wijnaldum, tapi tidak mencari pengganti Philippe Coutinho. Di sistem Klopp, para gelandang tak dibebankan tugas untuk menopang kreativitas tim. Mereka ditugaskan menjadi jembatan antarlini, penjaga struktur dan penguasaan bola. Mereka juga harus mengerjakan tugas defensif.

Maka, Klopp pun membebankan kreativitas kepada para full-back-nya. Para full-back, di sistem Klopp, jadi pemain yang punya ruang paling luas. Selain itu, mereka juga punya peluang untuk berada dalam posisi tanpa pengawalan—karena pemain lawan fokus kepada para pemain depan dan gelandang Liverpool.

Lantas bagaimana cara kerjanya? Pertama, kita harus mengetahui bahwa full-back Liverpool diberi keleluasaan untuk naik jauh ke depan, sampai ke kotak penalti lawan. Saat Liverpool menyerang, mereka akan menyisir sisi tepi, menjaga kelebaran.

Liverpool vs Away team - Football tactics and formations

Dari situ, para pemain tengah dan depan akan menciptakan ruang agar para full-back punya ruang untuk dieksploitasi. Saat Liverpool dalam posisi menyerang, para pemain depan akan merapatkan posisi, bermain narrow di area kotak penalti lawan. Para gelandang pun narrow, merapatkan jarak antarpemain.

Tujuannya adalah untuk merapatkan shape pertahanan lawan—terutama lawan dengan empat bek, yang pada akhirnya menghadirkan ruang kosong di sisi tepi. Setelah itu bola akan diarahkan pada para full-back yang sudah mendapatkan ruang kosong untuk melepaskan umpan ataupun melakukan akselerasi.

Statistik lantas membuktikan bahwa para full-back Liverpool memang jadi tujuan umpan dalam setiap pertandingan. Musim ini, Trent Alexander-Arnold di sisi kanan jadi target umpan terbanyak kedua di Liverpool (1125 umpan mengarah padanya). Sementara Andrew Robertson jadi target umpan terbanyak keenam (898 umpan mengarah padanya).

Yang bikin lebih berbahaya lagi, para bek tepi Liverpool punya tabiat yang bagus tiap sampai di sepertiga akhir area lawan: Mereka akan bergerak menusuk (inverted) mendekati area kotak penalti lawan. Tujuannya tentu untuk memperpendek jarak dengan pemain depan, sekaligus untuk mendapatkan angle yang bagus untuk melepas umpan kunci.

Itulah mengapa di musim ini para full-back Liverpool terus-menerus menghasilkan assist. Trent Alexander-Arnold bahkan sudah mencatatkan sembilan assist—torehan terbanyak di Premier League bersama Salah. Selain itu, Robertson juga sudah mencatatkan lima assist dan Tsimikas menyumbang satu.

Catatan itu meneruskan tren positif sejak 2018/19 di mana para full-back Liverpool selalu menyumbangkan dua digit assist (secara total) tiap musimnya. Bahkan, jika pun menengok statistik kreatif lainnya, kita akan melihat Alexander-Arnold memuncaki daftar expected assist (xA)—yang membuktikan bahwa umpan-umpan yang ia lepaskan punya kualitas untuk menghadirkan gol—serta daftar pelepas umpan kunci paling banyak di Premier League.

Catatan Andrew Robertson pun tak buruk, ia selalu masuk 25 besar di dua statistik itu (dan bahkan 5 besar di kalangan pemain belakang saja). Selain itu, musim ini, Alexander Arnold mampu menghasilkan 5,75 tembakan per 90 menit dari aksi ofensif yang ia lakukan (umpan, dribel, memenangkan pelanggaran). Robertson, sementara itu, punya catatan 3,41.

Untuk Alexander-Arnold, di musim ini ia memang diberi keleluasaan lebih. Pemain berusia 23 tahun itu tak cuma boleh menyisir sisi tepi saja, tapi juga dibebaskan untuk masuk ke area half-space atau area tengah lapangan. Intinya untuk mengokupasi ruang kosong dan memberikan umpan matang ke lini depan.

Arkian, ia tak hanya menjadi sumber kreativitas Liverpool saja, tapi juga pengatur arah serangan. Dalam catatan statistik yang dihumpun Josh Williams (lewat akun @DistanceCovered) terlihat bahwa Alexander-Arnold adalah pemain yang akan menentukan ke arah mana serangan Liverpool. Sebab, ia adalah pemain yang paling sering melakukan switch (memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain di dalam lapangan).

Jika kemudian kita merujuk definisi playmaker sebagai “a player who controls the flow of the team's play, and is often involved in offensively and defensively play passing moves which lead to goal, through their vision, technique, ball control, creativity and passing ability”, Alexander-Arnold jelas masuk. Ia (dan Robertson dalam beberapa situasi) bisa kita sebut sebagai seorang playmaker.

***

Pemain nomor 10 memang belum mati. Kita, misalnya, masih bisa melihat sosok Bruno Fernandes atau Kevin de Bruyne. Namun, seiring makin modernnya sepak bola, kita juga akan menemukan tim seperti Liverpool yang kreativitas dan serangannya tak lagi bergantung pada mereka yang berdiri di belakang striker.

Bahwa kreativitas dan arah serangan pun bisa dibebankan kepada pemain di posisi lain, seperti para full-back. Dan ini sama baik dan berbahayanya. Kita sudah pernah jadi saksi bagaimana Liverpool menguasai Inggris dan Eropa lewat serangan yang mereka tumpukan pada dua bek tepinya.

Musim ini pun, dengan cara yang sama, The Reds masih jadi tim paling produktif dan kreatif (mengukur dari statistik xG dan xA) di Inggris. Juga jadi salah satu yang mengerikan di Eropa. Mereka cuma belum mendapat hasil maksimal (menang terus) saja.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.