Merayakan Chiellini

Ilustrasi: Arif Utama.

Boleh jadi memang beginilah hidup. Ia bergerak dari satu pencapaian kecil ke pencapaian kecil lain, dari satu perayaan sunyi ke perayaan sunyi lain.

Teman saya bukan orang yang suka neko-neko. Pada sebuah akhir liputan yang berat, dia duduk di tepian tangga seraya mengeluarkan sebatang rokok. Ia kemudian membakarnya, lalu mengembuskannya dengan satu helaan panjang. Ada cengiran lebar di wajahnya; hari itu sudah ia menangi.

Bahwa hari belum tuntas, itu tidak jadi soal. Waktu kami menyelesaikan liputan itu, hari bahkan belum sore, sedangkan siang baru tergelincir sedikit. Masih ada urusan-urusan lain yang mesti kami kelarkan. Namun, setelah sekian naskah dan gambar terkirim tanpa ada halangan, kami merasa bahwa semua sudah beres.

“Ini harus kita rayakan,” katanya. Perayaan itu adalah dua batang rokok yang masing-masing kami isap pelan-pelan.

Perayaan, apa pun bentuknya, memang tidak melulu meriah. Ia tidak mesti ingar-bingar dan penuh dengan gegap gempita. Kadang, perayaan dilakukan dalam sunyi dan seperlunya saja. Ia adalah dua batang rokok itu, tetapi di lain waktu bisa berubah bentuk menjadi semangkuk mie ayam atau segelas bir dingin.

Apa-apa saja yang dirayakan pun tidak harus sesuatu yang besar. Kalau kamu mengepalkan tangan karena mendapatkan nilai 30—setelah berulang kali mendapatkan nilai 0—apa salahnya? Toh, boleh jadi memang begitulah hidup. Ia bergerak dari satu pencapaian kecil ke pencapaian kecil lain, dari satu perayaan sunyi ke perayaan sunyi lain.

Lapangan bola tidak jauh berbeda. Sudah sejak lama orang-orang Italia memperlakukannya sebagai sebuah panggung kehidupan. Di atasnya tersaji semua hal: Kemenangan, kekalahan, emosi, hasrat, amarah, luap tangis, tawa bahagia, sampai keculasan. Untuk keculasan itu, orang-orang Italia punya satu kata untuk mewakilinya: Furbizia.

Furbizia berarti mengeksploitasi sebuah kondisi sedemikian rupa hingga mencapai tujuan yang seseorang inginkan. Furbizia adalah seni gelap orang-orang Italia. Di lapangan, ia berubah menjadi sebuah cara untuk mencurangi sesuatu. Buat mereka, ini bukanlah sebuah hal yang tabu karena kenyataannya memang begitulah bagaimana adanya hidup.

Kalau keculasan saja bisa sedemikian mendapatkan tempat, jangan heran kalau kemenangan-kemenangan kecil seperti memenangi tekel atau blok bisa mendapatkan tepuk tangan yang sama riuhnya seperti mencetak gol. Atas keberhasilan-keberhasilan kecil itu, saya mengingat satu nama: Giorgio Chiellini.

Foto: Twitter @chiellini.

Chiellini selamanya bakal dirayakan sebagai manusia liar di lini pertahanan. Tubuhnya tinggi dan besar, perangainya keras, gaya mainnya tanpa tedeng aling-aling. Teman-temannya menjulukinya “King Kong” bukan karena cuma badannya yang besar, tetapi juga karena hasratnya yang meluap-luap tiap kali merayakan sesuatu—bahkan, kalau mencetak gol, hingga menepuk-nepuk dadanya sendiri.

Chiellini, kata mereka, adalah bek kuno. Yang ada di kepalanya adalah bertahan, bertahan, dan bertahan. Bahkan ketika masih bermain sebagai bek kiri, bertahan selalu menjadi prioritasnya. Padahal, mereka yang mengawal sisi lapangan biasanya punya tugas ganda, bertahan sekaligus menyerang.

Namun, jika bertahan adalah sebuah seni, Chiellini bisa dinobatkan sebagai seniman adiluhung-nya. Chiellini beruntung terlahir sebagai orang Italia di mana segala aspek defensif bisa dirayakan dengan sama gegap gempitanya dengan membobol gawang lawan.

Bahwa ia adalah bek kuno yang cuma paham menghalau, menekel, dan menempel ketat lawan sampai tak ada ruang untuk bergerak, itu bukan sebuah kelemahan. Bek semodel Chiellini adalah arketipe yang sama berharganya dengan bek-bek yang bisa mengirim umpan dari kedalaman. Kedua arketipe itu biasanya saling melengkapi sebagai palang pintu.

Pada suatu waktu, kemampuan Chiellini menghalau bola itu mendapatkan sorotan yang semestinya. London, 7 Maret 2018, Juventus sedang berusaha menyelamatkan kayuhan mimpi mereka. Sekitar tiga pekan sebelumnya, mereka membuang kesempatan memenangi pertandingan setelah bermain imbang 2-2 dengan Tottenham Hotspur.

Mimpi itu nyaris kandas lebih awal. Ketika Son Heung-min membobol gawang Gianluigi Buffon, Bianconeri tertinggal 2-3 secara agregat. Namun, arah pertandingan berubah begitu Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala mencetak gol dalam kurun tiga menit. Pada titik itu, gantian Tottenham yang mesti mengejar.

Chiellini, dan juga Buffon, punya satu penyesalan pada pertandingan itu. Ketika Son melepaskan tendangan yang sebetulnya tidak sempurna-sempurna amat, keduanya tertipu arah bola dan gagal menghalaunya. Chiellini kemudian membenamkan kepalanya di atas lapangan.

Namun, begitu kedudukan berbalik, keduanya mendapatkan kesempatan untuk menebus dosa. Juventus cuma punya satu tugas untuk mempertahankan kedudukan tersebut: Bertahan. Buat Chiellini, ini adalah naluri alamiah. Tidak ada yang bisa menggerecokinya kalau urusannya sudah perkara mempertahankan lini belakang timnya.

Sepuluh menit setelah Dybala mencetak gol ke gawang Tottenham, gempuran datang ke lini pertahanan Juventus. Dari kiri, Son menyambut sebuah umpan lambung dan meneruskannya dengan umpan datar. Umpan itu sedemikian akuratnya sampai-sampai kalau Chiellini telat sedikit saja, ia akan mampir ke kaki Harry Kane.

Kane bukan striker kaleng-kaleng. Kalau hari ini kita mengenalnya sebagai penyerang komplet, itu karena kebisaannya mengkreasikan peluang dan membuat assist. Namun, di luar itu, Kane adalah pembunuh di dalam boks. Kemampuan itulah yang mengantarkannya menjadi penyerang kelas satu di Inggris (kalau bukan di dunia).

Agak berlebihan, memang, kalau menyangka bahwa setiap peluang yang disodorkan kepada Kane bakal berbuah menjadi gol. Faktanya, pasti ada saja kans yang gagal ia selesaikan dengan baik. Namun, pada detik itu, Kane berdiri tepat di depan gawang. Penghalangnya cuma Chiellini yang berdiri tidak sampai satu langkah di depannya.

Dalam waktu sepersekian detik itu, Chiellini mengambil keputusan yang tepat. Alih-alih menunggu bola datang lebih dekat lagi, ia justru menjatuhkan badan sembari menyorongkan kakinya. Sebelum bola itu jatuh ke kaki Kane, Chiellini sudah keburu menghalaunya duluan.

Buat mereka yang kelewat mengagung-agungkan sepak bola ofensif, momen itu boleh jadi adalah perkara yang tidak seberapa. Namun, bagi mereka yang menghargai sepak bola secara utuh, itu adalah momen yang mengundang decak kagum. Kalau tinjumu mengepal dan melayang di udara karenanya, berbahagialah.

Pasalnya, bagi Chiellini, dan juga Buffon, itu adalah momen kecil yang cukup setimpal untuk dirayakan sebaik-baiknya. Begitu Chiellini bangkit, Buffon meraup bahunya dan menggoyang-goyangkan badannya seraya berteriak lantang. Chiellini tidak mau kalah, ia juga berteriak sama lantangnya kepada Buffon.

Detik itu, Chiellini dan Buffon tak ubahnya manusia purba yang baru berhasil menggetok kepala mamot sampai mampus. Bedanya, tidak ada mamot di situ, dan tidak ada yang bisa dirayakan dari sepak bola sampai semuanya betul-betul tuntas.

Perayaan kecil mereka itu cuma berlangsung singkat. Kerja belum selesai. Ada sepak pojok yang mesti mereka halau. Namun, mereka yang menyaksikan adegan tersebut bakal menyimpannya baik-baik di dalam ingatan.

“Adegan itu membuat saya melompat dari tempat duduk saya dan memberikan aplaus ke arah televisi. Lalu, perayaan di antara Chiellini dan Buffon itu, saya sungguh-sungguh menyukainya,” kata eks bek Liverpool, Jamie Carragher.

***

Chiellini adalah karang kokoh. Saking kokohnya, kita kerap mengidentikkannya dengan kerja-kerja keras yang tak membutuhkan logika. Oleh karena itulah, orang-orang sering mengelompokkan Chiellini ke dalam arketipe bek old-fashioned alias kuno, seolah-olah yang mereka tahu cuma bermain keras tanpa kenal basa-basi.

Namun, sesungguhnya, bermain keras tanpa kenal basa-basi juga butuh perhitungan. Di dalam kepala seorang bek, ada sebuah keputusan yang mesti diambil dalam waktu yang seringkali teramat singkat.

Mereka bisa dihadapkan pada situasi yang bisa bikin serbasalah: Meninggalkan pemain yang tengah mereka kawal atau menekel lawan yang sedang menguasai bola—dan si lawan sudah semakin dekat ke gawang timnya. Salah langkah, habis sudah.

Chiellini tak jauh berbeda. Beberapa detik sebelum menghalau umpan Son itu, ia tertinggal beberapa langkah dari Kane. Namun, ia mempercepat larinya dan mengambil keputusan tepat pada saat genting. Ini bukan perkara insting belaka.

Musim ini, rata-rata keberhasilan intersep per laga Chiellini (1,3), lebih banyak dari rata-rata keberhasilan tekel per laganya (0,6). Intersep-intersep itu menunjukkan bahwa Chiellini tidak bergerak berdasarkan insting semata, tetapi juga kepiawaiannya membaca arah gerak bola.

Juventus memang tidak menjalani musim ini senyaman musim-musim sebelumnya. Namun, tetap saja ada yang bisa mereka rayakan meskipun kecil. Sejauh ini, baru enam kali gawang mereka mencapai nirbobol di liga. Empat di antaranya mereka dapatkan karena Chiellini turun bermain.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.