Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Mesin Baru Tottenham Hotspur Itu Adalah Tanguy Ndombele

Foto: Twitter @ndombele_22.

Tanguy Ndombele dan Jose Mourinho sama-sama mengesampingkan ego. Hasilnya pun manis: Ndombele tampil lebih baik musim ini.

Tanguy Ndombele, sama seperti manusia lainnya, pernah menjalani masa sulit dalam hidup. Masa itu datang saat ia pertama kali datang ke Premier League pada musim 2019/20.

Datang sebagai pemain berbanderol 55,45 juta poundsterling (sekitar Rp1,05 triliun) dari Olympique Lyon, harapan fans tersemat di pundak Ndombele. Mereka ingin melihat lini tengah Tottenham yang bertenaga, seperti ketika Moussa Dembele masih ada di sana.

Dengan stamina dan pergerakan yang prima, Dembele memang mampu mencuri hati para fans Tottenham. Ia rajin bergerak di lini tengah, melakoni peran box-to-box dengan apik, sehingga ia kerap jadi pemecah kebuntuan serta pelindung lini pertahanan dari serangan lawan.

Ndombele sebenarnya memiliki atribut serupa seperti Dembele. Stamina oke, dribel mumpuni, plus kecerdasan dalam melakukan umpan. Apa yang ia peragakan selama di Lyon membuat fans berharap, tenaga yang hilang di lini tengah Tottenham bisa kembali.

Akan tetapi, pada musim 2019/20, harapan tinggallah harapan. Kesulitan Ndombele beradaptasi dengan Premier League, ditambah lagi tekanan dari manajer baru Tottenham saat itu, Jose Mourinho, membuat Ndombele kelimpungan. Mourinho bahkan pernah mengkritik Ndembele seperti ini:

"Saya tahu beradaptasi dengan Premier League itu susah. Nanun, ia sudah punya banyak waktu (buat adaptasi). Ia seharusnya bisa memberikan lebih buat kami."

Masa sulit itu terus terjadi sepanjang 2019/20. Ekspektasi fans runtuh setelah melihat Ndombele tampil sebanyak 29 kali buat Tottenham di semua ajang pada musim tersebut.

Hal ini akhirnya sempat membuat Ndombele diisukan akan hengkang pada musim panas 2020. Sebuah kemungkinan yang wajar, menilik performa Ndombele memang tidak memuaskan.

***

Musim panas datang. Klub-klub Eropa mulai berbelanja pemain baru atau membuang pemain lama di bursa transfer. Chelsea memboyong dua bintang asal Jerman, Kai Havertz dan Timo Werner, Manchester United mendatangkan Edinson Cavani dan Donny van de Beek, lalu bagaimana nasib Ndombele?

Alih-alih hengkang, Ndombele justru tetap bertahan di Tottenham. Masa sulit yang ia alami pada musim 2019/20 nyatanya jadi masa baginya untuk berevolusi. Ia mengaku banyak berdiskusi dengan Mourinho perkara peran yang harus ia jalani. Ia mau mengesampingkan ego demi tim.

"Manajer (Mourinho) dan saya kerap berbeda pendapat musim lalu. Namun, musim ini, kami rela mengesampingkan ego kami dan berjalan bersama-sama, demi kebaikan klub," ujar Ndombele.

Proses mengesampingkan ego antara Ndombele dan Mourinho ini berbuah manis. Mourinho, dalam formasi dasar 4-2-3-1 kesukaannya, memberikan peran baru untuk Ndombele. Peran baru ini berkaitan dengan perubahan yang memang ia lakukan di tubuh Tottenham itu sendiri.

Ketika menyerang, Mourinho mulai memberikan beban kreativitas serangan kepada Harry Kane yang kerap turun menjemput bola di area sepertiga akhir. Son Heung-min atau Lucas Moura (bisa juga Steven Bergwijn, Gareth Bale, atau Erik Lamela) nantinya akan menembus dari sisi sayap.

Dengan turunnya Kane hingga ke area sepertiga akhir ini, maka ia butuh satu gelandang penopang di belakangnya. Nah, Mourinho memercayakan tugas ini kepada Ndombele. Ia diberi peran sebagai gelandang box-to-box yang ditempatkan di posisi no. 10. Lho, memangnya bisa?

Sepanjang 25 laga yang sudah Ndombele jalani bersama Tottenham musim ini di semua ajang, dengan 16 di antaranya di ajang Premier League, Ndombele mampu melakukannya. Meski ditempatkan pada posisi no. 10, pada praktiknya ia tetap seorang penjelajah lini tengah. Ia akan bergerak secara bebas di tengah, entah itu menopang Kane atau membantu Harry Winks dan Moussa Sissoko menggalang pertahanan.

Praktik dari apa yang dilakukan Ndombele ini bisa terlihat saat Tottenham bermain imbang 1-1 melawan Wolverhampton Wanderers pada ajang Premier League. Ia memang ditempatkan sebagai pemain no. 10. Namun, peran penjelajah yang ia jalani di lini tengah memberikan dua efek: Serangan balik Wolves terhenti, sekaligus Tottenham memiliki sosok yang dapat meneruskan progresi serangan dari tengah ke area sepertiga akhir.

Tidak cuma itu, Ndombele juga diberikan keleluasaan menerobos kotak penalti lawan. Ia juga dibebaskan untuk melepas tembakan dari luar kotak jika memang diperlukan. Hasilnya ciamik: Satu tembakan jarak jauh bersarang manis di gawang Wolves dalam laga itu.

Berkat kebebasan yang diberikan ini pula, Ndombele jadi memiliki catatan defensif dan ofensif yang sama baik. Dari aspek defensif, ia menorehkan rata-rata intersep sebanyak 1,7 kali per laga (tertinggi di antara para gelandang tengah Tottenham) serta rata-rata tekel sebanyak 2 kali per laga (tertinggi kedua di antara gelandang tengah Tottenham).

Sedangkan dari aspek ofensif, Ndombele mampu mencatatkan rataan tembakan per laga sebanyak 1,7 kali (tertinggi di antara gelandang tengah Tottenham), rataan dribel per laga sebanyak 2,3 kali (tertinggi di antara gelandang tengah Tottenham), serta rataan umpan kunci sebanyak 0,3 kali (tertinggi keempat di antara gelandang tengah Tottenham).

Dengan meningkatnya penampilan Ndombele ini, tak heran Mourinho mulai menaruh kepercayaan pula kepadanya. Buah dari perubahan posisi yang ia terapkan menjadikan Ndombele mampu mengeluarkan potensinya sebagai pemain.

Di sisi lain, Ndombele juga mampu menjawab kepercayaan Mourinho ini. Simbiosis mutualisme pun terjadi di antara keduanya, yang berbuah apiknya permainan Tottenham di Premier League 2020/21.

***

Kini, Ndombele sudah keluar dari masa sulit yang sudah membekapnya selama musim 2019/20. Ia pun menyambut masa baru di Tottenham, sekaligus cakrawala baru yang mungkin sebelumnya belum pernah lihat karena banyak berkutat dengan hal-hal negatif selama musim 2019/20.

Ya, memang benar kata sebuah adagium bahwa apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu jadi lebih kuat. Omongan pedas Mourinho di musim 2019/20 lalu, walau itu mungkin melukai sanubari Ndombele, nyatanya membuat sosok berusia 24 tahun itu berevolusi jadi pemain yang lebih baik.

Kini, fans pun perlahan sudah bisa melupakan Moussa Dembele. Mereka sudah memiliki lagi mesin baru penggerak permainan di lini tengah.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now