Mimpi Joaquin Correa

Selebrasi Joaquin Correa. Foto: @tucucorrea.

Salah satu mimpi terbesar Correa sudah terwujud. Setelah itu, apa yang akan ia petik? Trofi atau kegagalan?

Telinga Joaquin Correa selalu terbuka lebar untuk kata-kata Juan Sebastian Veron. Apa saja ucapan Veron adalah petunjuk bagi Correa untuk menemukan jati diri dan menentukan pijakan sebagai pesepakbola.

Veron mencium bakat Correa ketika keduanya sama-sama membela Estudiantes La Plata pada 2012. Usia Correa baru 17 tahun saat itu, tapi Veron tidak pernah meragukan kualitas juniornya itu.

"Dia adalah partner saya di Estudiantes. Dia masih kecil, bahkan belum berusia 18 tahun. Sedangkan saya sudah tua. Tapi, kami selalu bersenang-senang di lapangan," kata Veron kepada La Gazzetta dello Sport.

Ada banyak nasihat yang Veron lontarkan kepada Correa. Entah itu soal bagaimana mengasah kapasitas dan kapabilitas, menggiring bola, mengumpan bola, melesakkan tembakan jarak jauh, maupun usulan-usulan berkarier di Serie A.

Correa tidak pernah muak dengan nasihat-nasihat Veron. Semakin banyak Veron berpetuah, semakin rekat hubungan mereka. Jika ditanya soal Correa, mata Veron akan berkaca-kaca. Begitu juga Correa. Ia akan tersenyum ketika bercerita tentang Veron.

"Veron seperti ayah dalam karier sepak bola saya. Saya melihat dia melakukan banyak hal luar biasa," kata Correa dilansir Football Italia.


Nasihat Veron menjadi pembuka karier Correa di luar Argentina. Selain menyarankan Serie A, Veron merekomendasikan Correa bergabung dengan klub-klub papan tengah. Itu dilakukan semata-mata agar Correa bisa berlatih dengan sungguh-sungguh tanpa tekanan besar.

Pada 2015, Sampdoria datang dengan mengajukan proposal untuk merekrut Correa. Berbekal banyak nasihat Veron, Correa menerima tawaran tersebut. Estudiantes pun bersedia melepas Correa dengan mahar 8 juta euro.

Bersama Sampdoria, Correa merangkum 3 gol dan 1 asis dari 31 laga. Meski catatan itu tidak bagus-bagus amat, gaya bermain Correa semakin matang dan terbentuk. Bahkan, 18 bulan setelah memperkuat Sampdoria, Sevilla merekrut Correa dengan mahar 18 juta euro.

Saat membela Sevilla, Correa dapat bermain di tiga posisi berbeda, yakni gelandang serang, penyerang sebelah kiri, maupun penyerang tengah. Kemampuan tersebut dilengkapi dengan daya jelajah yang tinggi.

Correa bisa berlari ke semua area pertahanan lawan. Entah itu sisi kanan, tengah, maupun kiri. Selama membela Sevilla, Correa merangkum 15 gol dan 10 asis dari 73 pertandingan.

Apa yang dilakukan pria 27 tahun itu bersama Sevilla membuat Lazio tertarik untuk merekrutnya pada musim 2018 dengan harga transfer 15 juta euro. Kembali ke Serie A, ia bertemu dengan Simone Inzaghi. Sejak itu, karier Correa mulai menanjak.

Inzaghi terkenal sebagai pelatih kalem. Ia tidak begitu banyak omong, tetapi bisa membuat hubungan yang hangat dengan pemain. Ia adalah pelatih yang tidak ragu memeluk layaknya kawan lama atau berdiskusi untuk memangkas gap pemain-pelatih.

"Ia terus mengirimkan pesan untuk menenangkan kami. Walaupun kami berada berjauhan, kami selalu berusaha mendekatkan diri," kata Correa soal Inzaghi kepada Sky Italia.

Correa menjadi komponen penting dalam serangan Lazio di bawah kepelatihan Inzaghi yang mengusung pakem 3-5-2. Dalam formasi tersebut, Correa berposisi sebagai penyerang bersama Ciro Immobile.

Correa punya tugas membuka ruang sekaligus merusak bentuk pertahanan dengan menggiring bola. Musim 2020/21, Correa merangkum 1,3 dribel sukses per 90 menit. Catatan itu terbaik kedua setelah Luis Alberto yang mencatatkan 1,5 dribel per laga.

Jangan lupa, Correa juga mahir menjadi pelayan bagi rekan-rekannya. Ia punya kebiasaan berlari ke belakang untuk menarik lawan dan menyodorkan umpan terobosan. Ia mencatatkan 1 umpan kunci per 90 menit dan 3 asis di Serie A musim lalu.

Performa apik tidak menjamin Correa mendapat tempat utama di Lazio musim 2021/22. Selain kepergian Inzaghi, Correa dinilai tidak cocok dengan sistem pelatih anyar Lazio, Maurizio Sarri.

Situasi tersebut dimanfaatkan Inter untuk mempertemukan kembali Inzaghi dengan Correa. Selain Inter, ada sejumlah klub yang berkeinginan mendatangkan Correa. Tapi, Inter lah yang berhasi mendapatkan tanda tangannya.

Bersama Inter, Correa tidak membutuhkan waktu untuk mengintegrasikan diri dengan hal-hal baru. Pertama, ia sudah paham dengan skema permainan Inzaghi. Kedua, ada Lautaro Martinez yang merupakan kompatriotnya di Argentina.

Musim 2021/22, Inter menerapkan pola dasar 3-5-1-1. Pola yang tidak berbeda jauh dengan yang Inzaghi terapkan selama melatih Lazio, yakni 3-5-2.

Secara permainan, Inzaghi mengedepankan perpindahan bola-bola pendek dengan cepat. Saat menyerang, Inzaghi memberikan kebebasan pemain untuk mencari posisi. Kebebasan ini berdampak pada serangan Inter yang amat cair, terutama di area belakang penyerang.

Correa dengan kemampuan dribel yang mumpuni cocok dengan gaya serangan tersebut. Ia bisa berlari ke kanan-kiri untuk membuka ruang atau opsi umpan. Debut Correa bersama Inter saat melawan Hellas Verona di Stadion Marc'Antonio Bentegodi pada pekan kedua Serie A menjadi buktinya.

Hebatnya, Correa mampu mencetak dua gol. Hanya ada lima pemain Inter, termasuk Correa, sepanjang sejarah yang berhasil mencetak dua gol dalam debutnya. Selain Correa, ada Alvaro Recoba, Nicola Ventola, Mohamed Kallon, dan Giampaolo Pazzini.

“Ini debut impian dan saya tidak mungkin berharap lebih. Saya sudah mempersiapkan diri sebelum bergabung dengan Inter, dan saya senang bisa langsung berkontribusi," ucap Correa, mengutip dari situs resmi Inter.

***

Sebagian dari kita adalah Correa: Bermimpi menjadi ini dan itu, mengorbankan banyak hal untuk angan-angan yang belum pasti terwujud.

Bagi Correa, sepak bola adalah soal mimpi. Untuk bisa mengunjungi taman bunga tidur di dunia nyata, ia harus mempertahukan banyak hal. Entah itu masa mudanya atau bahkan keluarganya.

Karier Correa sebagai pesepakbola dimulai saat ia berusia 11 tahun. Ketika itu, ia mendapat panggilan dari akademi River Plate. Panggilan itu tidak ia sia-siakan meski harus berjarak dengan keluarga selama satu tahun. Setelah pulang dari River Plate, ia masuk sekolah sepak bola Renato Cesarini.

Correa berpandangan bahwa mimpi sekeras apapun dibayangkan tidak akan pernah menjadi nyata jika tidak diperjuangkan dengan sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya.

Pernyataan Correa "Saya akan memberikan yang terbaik untuk tim" bukan lah omong kosong atau formalitas saat jumpa pers pertama dengan klub baru. Itu adalah prinsip yang ia pegang teguh. Memberi yang terbaik, untuk mendapatkan yang terbaik juga.

Pelatih Atletik Pribadi Correa, Pablo Dip, mengonfirmasi hal tersebut: "Dia selalu fokus dan tidak pernah berhenti bekerja untuk tim. Ia selalu ingin yang terbaik."

Awal musim 2021/22, Correa berhasil mewujudkan mimpi yang ia bentuk sejak anak-anak.

"Saya selalu memiliki mimpi bermain untuk Inter sejak masih kecil," ucap Correa. “Saya hampir bergabung dengan klub ini ketika saya masih sangat muda. Saya sudah melihat banyak pemain hebat di Inter."

Kini, ia sedang berjalan-jalan di taman bunga tidur dengan seragam La Beneamata. Taman bunga tidur itu betul-betul nyata. Meski begitu, ia tidak tahu apa yang akan dipetik pada akhir musim 2021/22: Trofi atau kegagalan?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.