Mixed Zone

Foto: Riiana Izzietova

Di Mixed Zone, pemain bisa melepas “nuklir“ yang kemudian menjadi awal mula perselisihan.

Namanya Oladapo Afolayan. Ia alumni Cobham, akademi Chelsea yang populer itu. Afolayan juga pernah berseragam West Ham, meski hanya pernah berlaga di Piala FA dan bukan Premier League.

Kariernya mulai meroket saat ia menjadi pemain terbaik Bolton Wanderers pada musim 2021-22. Namun, ia benar-benar melejit ketika pindah ke St. Pauli, menjadi salah satu pahlawan dari keberhasilan mereka menjadi kampiun 2. Bundesliga dan promosi ke Bundesliga pada musim 2023-24.

Afolayan akhirnya menjelma pemain kompetisi level teratas setelah di Inggris ia lebih banyak mencicipi divisi tiga. Namun, ceritanya di level teratas tak semanis saat ia berkarier pada level yang lebih rendah.

Well, ini bukan soal kemampuannya untuk bersaing di level teratas. Ini lebih menyoal hubungannya dengan pelatih.

Sebagai konteks, setelah St. Pauli promosi ke Bundesliga, mereka kehilangan sosok pelatih Fabian Hürzeler yang direkrut oleh Brighton. Hürzeler adalah pelatih yang memercayai Afolayan sebagai pemain andalan St. Pauli.

Kursi kepelatihan berganti ke Alexander Blessin, yang lebih menyukai pola dua penyerang tanpa mengandalkan pemain sayap seperti Afolayan pada sistem 3-5-2 miliknya. Alhasil, Afolayan tergusur dari posisi inti yang ia miliki pada era Hürzeler.

Pada musim lalu, Blessin memang sempat kembali ke pola 3-4-3 yang juga digunakan Hürzeler karena pola dua penyerangnya tidak membuahkan hasil positif. Afolayan pun perlahan kembali ke skuad inti.

Namun, saat Blessin mengubah pendekatannya dan membuat St. Pauli menjadi tim yang pasif, defensif, ia membutuhkan pemain sayap yang punya mindset bertahan yang baik. Dan ia menilai Afolayan memiliki kekurangan pada aspek tersebut— Afolayan adalah winger yang lebih dominan pada aspek ofensif, yang mana akan berguna pada tim yang bermain lebih reaktif, dominan.

Situasi ini membuat Afolayan, lagi-lagi, tak jadi pilihan utama. Ia berubah dari pemain andalan menjadi penghangat bangku cadangan. Hanya bermain saat dibutuhkan.

Oladapo Afolayan & Alexander Blessin.
Foto: Riiana Izzietova

Well, ia berkontribusi dalam empat gol St. Pauli musim lalu, dan dribel-dribelnya memang bisa membuat perubahan saat lini depan buntu. Namun, itu tak cukup untuk membuat Blessin memainkannya lebih dari 2000 menit musim lalu.

Situasi ini tampaknya membuat Afolayan tak puas. Ia merasa bahwa ia mampu memberikan kontribusi positif saat berada di atas lapangan, menjadi pembeda buat St. Pauli.

Dan tibalah momen itu. Selepas laga terakhir vs Bochum, ia meladeni wawancara media di mixed zone Millerntor. Saya ada di depan mukanya, menodongkan ponsel untuk merekam percakapan kami semua.

Afolayan secara terang-terangan mengkritisi pendekatan Blessin yang dianggapnya terlalu defensif, bahwa tim bisa menjadi lebih baik bila melakukan pendekatan menyerang—seperti musim sebelumnya. Ia tak paham mengapa dicadangkan karena merasa selalu mampu memberikan kontribusi positif saat dimainkan.

Sebagai catatan, St. Pauli finis pada posisi 14 musim lalu, memiliki catatan sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit kedua setelah Bayern München.

Komentar itu seperti sebuah “serangan” kepada sang pelatih. Dan situasi menegang, sebelum Afolayan akhirnya meminta maaf kepada Blessin pada musim panas lalu, sebelum musim ini dimulai.

Keduanya “berbaikan”, tapi Blessin kembali menggunakan pola dua penyerang musim ini yang membuat Afolayan kembali tak mendapat tempat pada skuad inti. Sejauh ini ia hanya bermain selama 145 menit di Bundesliga dan dalam beberapa laga terakhir terdepak dari skuad.

Blessin berkata itu murni alasan taktikal, bahwa ada pemain depan yang lebih unggul secara performa dari Afolayan. Pelatih memang punya hak menentukan susunan terbaik. Tak ada yang salah untuk ini.

Namun, situasi ini memancing banyak asumsi yang mengira bahwa api dari perselisihan akhir musim lalu belum benar-benar padam di antara keduanya. Dan desas-desus bahwa Afolayan untuk meninggalkan Millerntor menjadi kencang belakangan ini.

***

Mixed zone adalah tempat yang unik, spesial. Ini adalah tempat di mana pemain bisa mencurahkan isi kepala, hati mereka selepas bertarung di atas lapangan: Perihal taktik, perihal wasit, perihal kemenangan, perihal kekalahan, perihal banyak hal lain—saya berbincang soal tato dan musik bersama Jackson Irvine di sini.

Ini adalah tempat yang tepat untuk melihat, mencerna emosi sesungguhnya dari para pemain. Beberapa pekan lalu saya menyaksikan sendiri seorang pemain bersitegang dengan wartawan. Afolayan bukan satu-satunya pemain yang saya dengar melontarkan kritik akan taktik pelatihnya sendiri.

Di mixed zone saya mendengar komitmen pemain untuk bertahan di sebuah klub, melihat pula wawancara terakhir sebagai sebuah perpisahan. Ada banyak hal tak terduga dari seorang pemain sepak bola di sini, dan karenanya saya tak heran bila Mohamed Salah baru-baru ini melepaskan “nuklir” di sini.

Bahwa ia merasa ada pihak di Liverpool yang tak ingin akan keberadaanya, bahwa ia merasa dijadikan kambing hitam atas tren buruk tim, bahwa ia merasa tak layak dicadangkan, bahwa hubungannya dengan Arne Slot tak lagi harmonis.

Di mixed zone, emosi bisa pecah. Frustrasi bisa dilontarkan, perselisihan bisa dimulai. Dan itu yang sepertinya tengah terjadi di Liverpool setelah wawancara yang dilakukan Salah.

Buat saya pribadi, Salah berhak berbicara mengeluarkan unek-uneknya. Pemain juga manusia yang punya rasa frustrasi—dan ketidakmampuan untuk menyimpannya sendiri. Dan, dengan berbicara, ia tentu sadar bahwa “serangan” ini akan membawanya makin tersudut.

Bahwa lebih memilih berbicara lebih dulu ketimbang memperbaiki performa saat latihan maupun di lapangan adalah langkah yang sepertinya sudah ia pikirkan masak-masak. Bahwa ia juga tau, secara objektif, bahwa ia tengah berada dalam situasi layak untuk dicadangkan dan komentarnya hanya akan menambah alasan lain bagi pelatih untuk terus melakukan ini.

Bahwa ia juga tau bila pelatih punya hak untuk memilih susunan pemain terbaik versinya dan keputusan untuk memertanyakan objektivitas akan pemilihan tersebut sebaiknya diperbincangkan secara internal lebih dulu. Bahwa ia lebih memilih untuk menyulut api.

Mungkin Salah tau berpikir bahwa legasinya sebegitu besar untuk membuatnya tidak dimainkan, bahwa kontribusinya pada musim-musim sebelumnya bisa membuatnya mendapatkan garansi menit bermain. Ia punya hak untuk berpikir demikian.

Namun, dalam sepak bola, kemenangan acap lebih penting dari legasi atau sejarah. Dan banyak yang berprinsip bahwa tak ada yang lebih besar dari klub. Setiap yang ada di dalam Liverpool juga punya hak untuk berpikir seperti ini.

Dari apa yang pernah saya lihat via Afolayan, perselisihan yang dimulai di mixed zone tidak (atau mungkin belum) berakhir menyenangkan untuk pemain. Mungkin ini pula yang akan terjadi kepada Salah, mungkin juga sebaliknya, dan bisa saja semua akan berdamai di Liverpool.