Mkhitaryan Menemukan Jalan ke Roma

Foto: Twitter @HenrikhMkh

Henrikh Mkhitaryan tak hanya menjadi pendulang gol terbanyak di AS Roma sejauh musim ini berjalan, tetapi juga menjadi salah satu pencetak assist terbanyak di Serie A. Ia seperti sudah menemukan jalan menuju rumahnya.

Ketika berbicara soal Armenia, ada satu orang yang melintas di pikiran kami --dan dia bahkan bukan orang Armenia. Namanya Youri Djorkaeff.

Djorkaeff orang Prancis, dan dia mendapatkan segala kemasyhuran dalam dunia sepak bola sebagai orang berpaspor Prancis. Dua gelar terakbar dalam kariernya, Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, ia dapatkan dengan kostum Les Bleus.

Namun, selayaknya mayoritas pemain-pemain Prancis pada skuat yang menjuarai Piala Dunia 1998, Djorkaeff berasal dari beragam akar. Ayah Djorkaeff, Jean, berdarah Polandia dan Kalmyk, sementara ibunya berasal dari Armenia. Djorkaeff sendiri lahir di Lyon, Prancis.

Sebagai negara yang baru merdeka dari Uni Soviet pada 1991, Armenia tak pernah menjadi protagonis di dunia sepak bola seperti Prancis. Sejak federasinya berdiri pada 12 Oktober 1992, Armenia tak pernah ikut Piala Eropa apalagi Piala Dunia. Di ajang UEFA Nations League saja, musim ini Armenia berada di Liga C alias divisi tiga.

Luas wilayah Armenia juga cuma 29.800 km2. Hampir setengah dari luas wilayah Sulawesi Selatan (46.717 km2). Bicara soal penduduk, Armenia juga tak begitu banyak, hanya berkisar 3 juta jiwa.

Namun, untuk negara yang tak pernah betul-betul menjadi protagonis, mereka pernah menorehkan goretan di sejarah olahraga dunia. Di gulat salah satunya. Bahkan, dua medali emas Armenia sepanjang perhelatan Olimpiade didapat dari gulat. Pada Olimpiade 1996 di Atlanta (AS), Amen Nazaryan mempersembahkan emas perdana untuk Armenia. Kemudian, Artur Aleksanyan mengulanginya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro (Brasil).

Selain Nazaryan dan Aleksanyan, Armenia juga punya satu atlet lagi yang sudah cukup punya nama di Eropa dan dunia. Pria itu bernama Henrikh Mkhitaryan.

Di Armenia, Mkhitaryan sudah sembilan kali menyabet gelar pemain terbaik negara tersebut. Selain itu, Mkhitaryan menjadi pembuat gol terbanyak sepanjang sejarah Timnas Armenia dengan torehan 30 gol.

***

28 Mei 2017, Francesco Totti memainkan laga terakhirnya untuk AS Roma. Ribuan pendukung yang hadir di Stadion Olimpico Roma saat itu tak bisa menahan kesedihan di laga perpisahan Sang Pangeran.

Tak akan ada lagi sosok nomor 10 di AS Roma. Tak ada lagi pemain yang memakai kaos kaki pendek atau mengisap jempol hingga melakukan selfie sebagai sebuah selebrasi. Totti pensiun di usia 40 tahun, meninggalkan segenap legasi di sejarah Roma.

Karier sepak bola Totti memang hanya untuk Roma. Memulai debut di usia 16 tahun, Totti sudah tampil sebanyak 786 pertandingan dan mencetak 307 gol. Bicara gelar? Tak banyak, memang. Namun, suami Ilary Blasi itu bisa mendatangkan satu gelar scudetto untuk Roma pada musim 2000/01.

Di usia puncaknya, Totti menjadi penggerak serangan Roma. Saat membawa Roma juara hampir 20 tahun lalu, Totti bermain di belakang dua penyerang.

Ruang yang bebas membuatnya mampu mengkreasikan serangan Roma dengan baik. Apalagi saat itu, Totti dibantu oleh Emerson dan Damiano Tomassi di lini tengah. Maka, Totti tak perlu turun untuk membantu pertahanan.

Setelah Totti pensiun, Roma terus mencari sosok yang pas untuk menggantikan perannya sebagai kreator serangan. Giallorossi sudah mendatangkan Javier Pastore dan Nicolo Zaniolo, sayangnya kedua pemain itu malah sering berkutat dengan cedera.

Sampai akhirnya, Henrikh Mkhitaryan yang didatangkan ke Olimpico pada musim 2019/20 dengan status pinjaman dari Arsenal.

Pada awal kedatangannya, Mkhitaryan memang belum memperlihatkan penampilan yang memukau. Maklum, mungkin pemain yang kini berusia 31 tahun itu masih beradaptasi. Namun, keterlibatan golnya lebih tinggi ketimbang di Arsenal pada satu musim sebelumnya. Di Roma, Mkhitaryan sukses membuat total sembilan gol dan enam assist di semua kompetisi. Sebelumnya di Arsenal, Mkhitaryan “cuma” membuat enam gol dan tujuh assist.

Performa Mkhitaryan menanjak pada musim 2020/21. Secara kasatmata saja, sudah ada enam gol dan lima assist yang dibuatnya dalam 13 pertandingan di semua kompetisi. Namun, yang ia berikan lebih dari sekadar gol dan assist. Ada impak lainnya yang ia berikan untuk permainan I Lupi.

Pelatih Roma, Paulo Fonseca, adalah tipikal pelatih yang menggemari gaya bermain proaktif. Baginya, mendominasi permainan sama pentingnya dengan mendapatkan kemenangan. Oleh karena itu, Fonseca selalu menyusun timnya untuk bermain narrow (rapat). Tujuannya adalah untuk memudahkan para pemain mengalirkan operan.

Ciri lainnya adalah Roma-nya Fonseca terbiasa menjaga keunggulan jumlah di lini tengah dengan kehadiran dua orang gelandang bertahan plus dua gelandang serang yang menopang seorang striker tunggal. Mkhitaryan, yang sudah mendapatkan 791 menit bermain (dari 9 laga) musim ini, adalah salah satu kepingan penting dalam taktik Fonseca.

Mkhitaryan pun membayar lunas kepercayaan Fonseca. Sepanjang musim ini berjalan, Mkhitaryan selalu dimainkan di pentas Serie A. Pengalaman serta visinya dapat membantu Roma mengkreasikan peluang.

Dengan pola 3-4-2-1, Mkhitaryan diberikan ruang dan kebebasan di belakang penyerang. Fluiditas permainan ini yang membuat Roma tak bergantung kepada seorang penyerang untuk membuat gol. Lihat saja, setelah Mkhitaryan penyumbang gol terbanyak Roma ialah Jordan Veretout dengan empat gol dan Pedro Rodriguez dengan tiga gol.

Para gelandang ini bisa mengisi ruang kosong yang dibuka oleh si penyerang. Tengok saja gol kedua Mkhitaryan melawan Parma pada pekan kedelapan Serie A.

Pemain yang pernah membela Manchester United dan Arsenal tersebut datang dari belakang untuk menyongsong bola. Mkhitaryan tak terkawal karena pemain belakang Parma fokus kepada penyerang Roma.

Tak cuma mencetak gol, Mkhitaryan juga bisa mengisi half-space, menekan area tengah, atau menyisir dari pinggir. Tak heran, jumlah assist Mkhitaryan merupakan yang terbanyak saat ini. Mkhitaryan juga memiliki umpan kunci yang cukup tinggi. Rata-rata umpan kuncinya di Serie A sejauh ini mencapai 1,9, tertinggi kedua setelah Lorenzo Pellegrini.

Mkhitaryan juga tidak perlu pusing untuk membantu pertahanan. Ia biasa mendapatkan dukungan dari gelandang pivot dan dua wingback. Dua pemain, yakni Pellegrini dan Veretout, yang biasa diplot untuk menjadi perusak permainan lawan. Oleh karena itu, Mkhitaryan dan Pedro bebas untuk berkreasi di lini depan Roma.

Peran Mkhitaryan di Roma berbeda jauh dengan apa yang dia dapatkan di Arsenal. Saat di Arsenal, Mkhitaryan lebih sering dipasang sebagai winger. Di sini, kebebasanya terkungkung mengingat Arsenal juga punya Mesut Oezil sebagai pengatur serangan di belakang penyerang.

Masalah lain Mkhitaryan di posisi winger adalah kecepatan. Ia sudah tak begitu cepat untuk berakselerasi dengan bola. Hal ini membuat dirinya tak begitu maksimal memberikan assist atau mengkreasikan peluang untuk rekan-rekannya.

Perjalanan Mkhitaryan di kota Roma masih sangat panjang. Terlebih, ia baru saja pindah secara permanen pada awal musim. Bila terus konsisten, bukan tak mungkin torehannya akan terus bertambah dan jadi yang terbanyak untuk Roma pada musim ini.

***

Jalan hidup Mkhitaryan tak melulu mudah. Ketika kecil, ia kehilangan ayahnya, Hamlet, karena tumor otak. Sama seperti Mkhitaryan, ayahnya juga bermain sepak bola (dan berkarier sebagai pesepak bola profesional).

Mkhitaryan selalu menyempatkan diri menonton video-video yang dibuat orang-orang soal ayahnya. Dari situ, ia menjadi terbiasa untuk memotivasi dirinya sendiri, meski tidak mudah. Ada kalanya, ia merasa depresi karena tak bisa menjadi lebih baik daripada pemain lain atau melakukan kesalahan.

Namun, sederet kesulitan itu telah menuntun Mkhitaryan menuju jalan ke Roma. Setelah menjadi alat tukar guling paling absurd sepanjang sejarah Premier League --ketika United dan Arsenal memutuskan untuk melakukan barter antara dia dan Alexis Sanchez--, Mkhitaryan boleh jadi sudah berjalan menuju rumahnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.