Mr. Atletico

Foto: @atleti.

Ini kisah Koke, si 'Mr. Atletico'. Pemain yang sejak bocah sampai sekarang cuma mengenal satu klub: Atletico Madrid.

Luis Suarez, Jan Oblak, Kieran Trippier, atau Marcos Llorente boleh saja mengambil sorot kamera saat Atletico Madrid resmi menjadi juara La Liga musim 2020/21 kemarin. Mereka memang sosok-sosok penting di balik kesuksesan tersebut.

Namun, jangan lupakan peran pemain satu ini. Kapten Atletico Madrid. Mr. Atletico. Jorge Resurrección Merodio atau yang kita kenal dengan nama Koke.

***

Sepanjang kariernya, Koke hanya mengenal satu klub: Atletico Madrid. Tak ada yang lain. Benar-benar tak ada, bahkan untuk masa peminjaman sekalipun. Jika sosok one-club man Anda anggap langka, maka ingatlah bahwa masih ada Koke di dunia ini.

Ia sudah berada di Akademi Atletico Madrid sejak umur enam tahun. Dari situ perjalanan panjang ditempuh Koke. Pemain kelahiran 8 Januari 1992 ini selalu berusaha untuk bisa membuat setiap pelatihnya terkesan, dari level akademi sampai senior. Dia tak ingin terlempar dari tim.

Koke kemudian mendapatkan debut seniornya pada usia 17 tahun. Saat itu dia bermain 20 menit sebagai pengganti di laga melawan Barcelona, 19 September 2009, di Camp Nou. Atletico memang kalah saat itu, tapi itu adalah permulaan yang baik untuk Koke.

Dari situ ia bolak-balik tim cadangan dan utama Atletico. Sampai kemudian kedatangan Diego Simeone pada 2011 mengubah peruntungannya. Simeone melihat bahwa Koke bisa menjadi sosok penting di skema permainannya dan, benar saja, sejak saat itu sang pemain jadi pilihan utama.

Pada musim pertama bersama Simeone, Koke turut andil dalam meraih gelar juara Liga Europa. Musim berikutnya, ketika Koke sudah tampil di lebih dari 30 laga, trofi Copa del Rey direngkuh. Lantas, semusim berselang giliran trofi La Liga yang berhasil digenggam. Pada musim yang sama Koke juga mengantarkan Atletico ke final Liga Champions.

Kalau dihitung dari 2009, Koke sudah 12 tahun berada di tim utama Atletico. Dia sudah melalui lebih dari 400 pertandingan di seluruh kompetisi. Di La Liga saja, sejak musim 2012/13, Koke selalu bermain 30 pertandingan atau lebih tiap musimnya. Ia sepenting itu buat Simeone. Dan tentu saja buat Atletico.

Koke bukannya tanpa tawaran untuk pindah. Malaga pernah datang menyodorkan tawaran. Barcelona pernah terang-terangan tertarik untuk mendatangkan Koke sebagai pengganti Xavi Hernandez. Chelsea juga dikabarkan pernah berniat meminangnya. Namun, Koke menolak.

"Atletico is the club of my life," begitu katanya.

Penampilan Koke sebagai pemain tidak selalu bagus. Ada musim di mana ia bermain buruk, ada musim di mana ia tampil luar biasa. Pada awal musim lalu, misalnya, Koke mendapatkan kritikan langsung dari para suporter Atletico di stadion: siulan bergemuruh saat ia ditarik keluar.

Secara statistik, Koke juga tak terlalu spesial. Terutama dalam beberapa musim ke belakang. Catatan gol atau assist-nya tak pernah menyentuh dua digit sejak musim 2016/17. Rekor terbaiknya datang di musim 2015/16 dengan catatan lima gol dan 14 assist serta pada musim 2013/14 dengan enam gol dan 13 assist.

Namun, mengukur seberapa bagus dan berpengaruhnya Koke buat Atleti memang tidaklah bisa berdasarkan statistik gol atau assist saja. Anda harus melihatnya bermain untuk kemudian tau bahwa Koke adalah pemain yang mau dan siap melakukan apa saja untuk tim.

Atletico butuh pemain yang bisa mengalirkan umpan progresif, Koke siap. Atletico butuh gelandang yang bisa bermain "kotor" untuk memutus serangan-serangan lawan, Koke siap. Atletico butuh pemain yang mau bergerak ke mana saja untuk jadi opsi umpan sekaligus perebut bola dari lawan, Koke pun siap.

Atletico akan selalu membutuhkan Koke. Sid Lowe, dalam tulisannya di ESPN, bilang begini: "Atletico need him. Here, there, everywhere." Karena itulah ia bisa dimainkan di tengah, kanan, atau bahkan kiri. Dan kapan pun Atletico membutuhkannya, di manapun akan ditempatkan, Koke akan selalu siap. Dia selalu ada buat tim.

Dia adalah pemain yang semangatnya kelewat besar. Terlalu berinsiatif untuk melakukan apa saja. Ia bisa berlari 13 kilometer sepanjang pertandingan hanya untuk membereskan apa-apa yang dirasa kurang dari timnya. Ketika rekannya sedang kewalahan mengemban sebuah tugas, pemain bertinggi 1,76 meter akan selalu siap untuk membantu.

Salah satu orang dekat Koke yang diwawancarai The Athletic bahkan menyebut bahwa semangat itu yang terkadang jadi kelemahan Koke. Ia terlalu pengin menyelesaikan banyak hal. Padahal, sebagai gelandang, Koke juga harus tahu porsi. Seimbang. Tau kapan kudu bantu serangan, kapan harus bantu pertahanan.

Pada musim 2020/21, performa Koke sebenarnya membaik. Ia lebih seimbang. Ditempatkan di posisi sentral sebagai pengatur ritme dan arah permainan, Koke mampu mencatatkan persentase umpan sukses per pertandingan sebesar 89,3%. Nyaris 90%. Catatan musim ini jadi yang terbaik di sepanjang karier seniornya.

Per 90 menit, Koke juga mencatatkan 318,1 meter jarak progresif (ke depan) untuk umpan-umpannya. Catatan itu juga jadi yang terbaik ketimbang empat musim terakhir. Simeone mempercayakan aliran-aliran bola Atletico pada Koke.

Tugas bertahan juga diemban dengan baik. Catatan intersep per 90 menitnya musim ini ada di angka 1,13. Jadi yang terbaik dalam empat musim terakhir. Pun dengan persentase pressing suksesnya, yang musim ini ada di angka 28,7 per 90. Koke sudah tau apa yang harus dikerjakan.

Pemain berusia 29 tahun itu fokus jadi penyeimbang. Karena itu, jika dibanding dengan empat musim terakhir, angka tembakan maupun penciptaan peluangnya turun. Musim ini dia juga cuma mencetak satu gol dan mencatatkan dua assist dalam 37 pertandingan laga.

Perbaikan Koke itulah yang bisa dibilang jadi salah satu kunci keberhasilan Atletico meraih gelar juara La Liga. Perannya membuat tim lebih stabil. Apalagi karena musim ini Colchoneros juga baru ditinggal oleh salah satu gelandang andalannya, Thomas Partey.

Dermot Corrigan, dalam tulisannya di The Athletic, juga bilang bahwa musim ini adalah penampilan terbaik Koke setelah sempat inkonsisten dalam beberapa musim terakhir. Kita melihat kembali sosok yang lima tahun silam dielu-elukan publik Spanyol sebagai "Next Xavi".

Tidak mudah, bagi pemain di era modern ini, untuk terus berada di klub yang sama sepanjang tahun. Menonjol sedikit, tawaran dari para klub elite bisa datang kapan saja. Gaji besar sudah menunggu. Namun, Koke memang sebuah pengecualian.

Ia adalah sosok yang menangis terharu begitu Atletico menyodorkan kontrak baru. Sosok yang siap menghadirkan sejarah buat Atletico. Sosok yang siap menjadi pemain terpenting di tim, menjadi yang paling keras kerjanya. Yang paling rajin.

Sampai-sampai dalam sebuah wawancaranya, Alvaro Morata, mantan rekan Koke di Atletico, pernah bilang begini: "Koke adalah pemain terpenting yang Atletico punya. Jika kami (Atletico) mempunyai 11 Koke, maka kami akan memenangi seluruh pertandingan."

***

Usai membawa Atletico jadi kampiun La Liga, Koke kini dihadapkan pada tugas lain: Membawa Tim Nasional Spanyol berjaya di Piala Eropa 2020. Koke tampaknya akan jadi andalan Luis Enrique di lini tengah. Ia bisa jadi metronom, sekaligus bisa jadi pemain yang mengerjakan tugas-tugas "kotor".

Terlebih dia adalah salah satu (dari sedikit) pemain berpengalaman yang saat ini berada di skuad La Furia Roja. Kehadiran Koke jelas akan amat berpengaruh buat tim. Ia bisa jadi pemimpin, sekaligus panutan buat para pemain-pemain muda.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.