Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Musuh Masa Lampau

Ilustrasi: Arif Utama.

Mulai dari Alex Ferguson dan Arsene Wenger, lalu Roy Keane dan Patrick Vieira, Manchester United dan Arsenal memperlihatkan bagaimana seteru sebaik-baiknya berselisih.

Roy Keane bukanlah orang yang bisa ditawar-tawar. Tidak ada yang namanya setengah-setengah. Kalau bisa melahap satu loyang kue, kenapa mesti membaginya dengan orang lain?

Keane sudah terkenal badung sejak muda. Baginya, tidak ada satu orang pun yang layak ia takuti. Pelatihnya pun tidak. Malah, Keane muda pernah membuat Jack Charlton, yang dulu menukangi Timnas Republik Irlandia, pusing bukan main.

Suatu ketika, bus tim terlambat berangkat gara-gara menunggu Keane yang tak kunjung hadir. Charlton naik pitam. Begitu Keane datang, ia langsung menegurnya. Namun, Keane yang waktu itu baru berusia 20 tahun malah menjawab dengan santai: “Ya, aku ‘kan tidak menyuruhmu buat menunggu.”

Sedemikian bengalnya Keane sampai-sampai mereka yang berada di sekelilingnya cuma bisa pasrah dan menerima saja. Butuh seorang manajer yang kepalanya sama keras untuk menanganinya, entah itu Brian Clough di Nottingham Forest atau Alex Ferguson di Manchester United.

Di United, Keane bergabung dengan begundal-begundal lainnya. Pada Eric Cantona, Paul Ince, Peter Schmeichel, dan Bryan Robson, Keane seperti menemukan habitat yang semestinya. Ferguson pun beruntung karena ia memiliki pemain-pemain yang membuat tulang punggung timnya keras dan sulit untuk dibengkokkan siapa pun.

Sekumpulan pemain keras kepala dan punya karakter kuat itu akhirnya membentuk kultur tim dengan sendirinya. Tidak ada yang namanya main setengah-setengah, entah pada saat sesi latihan ataupun bertanding sungguhan dengan lawan.

Gary Neville pernah menceritakan bagaimana kompetitifnya Keane di sesi latihan. Sampai-sampai, kata Neville, melihat Keane saja rasanya sudah capek sekali.

Testimoni Neville diperkuat oleh pengakuan Ole Gunnar Solskjaer. Pria asal Norwegia itu pernah sebal betul kepada eks asisten pelatih United, Steve McClaren, karena terus-terusan menaruhnya satu tim dengan Keane pada sesi latihan.

Bukan apa-apa, Solskjaer kesal mendengar Keane berteriak terus tanpa henti sepanjang latihan. McClaren pun paham. Namun, ia memang sengaja terus-terusan menaruh Solskjaer pada tim yang sama dengan Keane untuk mengasah mentalnya.

Kisah Keane yang tidak pernah kehabisan energi itu membuatnya menjadi sosok yang ditakuti. Namun, anekdot lain juga menceritakan bahwa Keane sebetulnya orang yang cukup peduli dengan sekelilingnya.

Dalam buku “I Am the Secret Football: Lifting the Lid on the Beautiful Game”, diceritakan bagaimana Keane membela hak seorang pemain muda yang tak disebutkan namanya. Si pemain merasa gajinya mentok, sementara untuk meminta kenaikan pun sulit karena ia tak memiliki agen yang bisa mewakilinya.

Keane yang mendengar cerita ini lantas menghadap ke manajemen klub dan meminta gaji si pemain muda tadi dinaikkan. Manajemen klub setuju dan si pemain muda pun senang.

Merasa dibela, pemain muda itu pun senang. Ia juga merasa bahwa Keane kini sudah menjadi temannya. Dasar naif, ia pun langsung sok dekat terhadap Keane dan mengira Keane bakal bersikap ramah kepadanya. Kenyataannya, pada sesi latihan berikutnya, Keane justru menekel si pemain muda itu tanpa ampun.

***

Jika Darth Vader adalah anjing penggonggong buat Galactic Empire dan Emperor Palpatine, Keane adalah tukang jagal buat United dan Ferguson. Meski demikian, menggambarkan dirinya sebagai seorang penurut rasanya tak tepat juga.

Sekalipun tampil mati-matian untuk United-nya Ferguson, pada akhirnya Keane memerdekakan dirinya sendiri. Tak lama setelah mengkritik habis-habisan sejumlah rekan satu timnya, ia didepak. Semenjak saat itu, ia tak lagi melihat Ferguson sebagai sosok yang bebas kritik.

Namun, sebelum itu terjadi, Keane adalah perwujudan sikap emoh kalah dan emoh tunduk dari United (dan juga Ferguson) pada 1990-an. Ketika Arsene Wenger datang dan mengubah wujud Arsenal, Ferguson dan United mendapatkan pesaing yang kelak menguji betul kesabaran mereka.

Wenger datang dari Jepang, lengkap dengan kacamata berlensa besar dan sederet kebiasaan di berbagai bidang. Salah satu cerita yang beredar, Wenger bisa beragam bahasa.

Kebisaan Wenger membuat pers Inggris kagum dan gumun. Namun, tidak untuk Ferguson. Ketika mendapatkan pertanyaan dari jurnalis mengenai bagaimana tanggapannya soal Wenger, Ferguson menjawab dengan setengah mengejek.

“Mereka bilang, dia orang pintar ‘kan? Bisa lima bahasa, katanya? Aku juga punya bocah dari Pantai Gading, usianya baru 15 tahun, dan bisa lima bahasa,” kata Ferguson.

Wenger dan Ferguson pada "perpisahan" Wenger di Old Trafford. Foto: Twitter @ManUtd.

Tak ada yang tahu pasti siapa si bocah Pantai Gading yang dimaksud Ferguson. Setelah bertahun-tahun, sejumlah pendukung Man United bersepakat bahwa jangan-jangan Ferguson cuma ngarang. Yang ingin ia tunjukkan lewat ucapannya itu adalah Wenger tidak istimewa-istimewa amat.

Rasa-rasanya memang begitulah kamu di hadapan orang yang bisa menggoyang dominasimu atau mengganggu kenyamananmu. Sikap ketus Ferguson bisa dilihat sebagai pengakuannya bahwa Wenger adalah ancaman.

Kenyataannya memang begitu. Wenger mengubah Arsenal menjadi tim yang bermain ofensif, mengutamakan possession football, dan amat teknis. Ketika Ferguson dengan pongahnya tidak membeli cukup pemain pada musim 1997/98—transfer mayor mereka hanya Teddy Sheringham dan Henning Berg—ia menanggung risikonya sendiri.

Musim itu, United keropos karena kehilangan banyak pemain akibat cedera. Salah satunya adalah Keane. Alhasil, Arsenal melenggang. Tak sampai dua tahun semenjak kedatangannya, Wenger berhasil membawa The Gunners meraih double pada 1998: Premier League dan Piala FA.

Keberhasilan Asrsenal itu bak pukulan buat Ferguson. Menjelang 1998/99, ia berbenah. Jaap Stam, Dwigh Yorke, dan Jesper Blomqvist ia gaet sebagai upaya memugar skuad. Hasilnya, United meraih treble musim itu dan selama tiga musim menguasai Inggris.

Pada masa-masa itu, kita melihat semuanya. United dan Arsenal berseteru tanpa ada satu tim pun yang mengganggu. Keane dan Patrick Vieira, kapten Arsenal, menjadi jenderal yang berdiri paling depan dalam perseteruan ini.

Keane dan Vieira kelak dilabeli sebagai best of enemies. Mereka bukan sekadar musuh, mereka nemesis. Yang satu tidak bisa hidup tanpa yang lainnya karena masing-masing punya hasrat untuk saling menaklukkan.

Perseteruan Keane dan Vieira terpampang dengan vulgar, mulai dari tengah lapangan sampai lorong stadion. Pertandingan antara United dan Arsenal seolah tak afdal jika kedua sosok ini tidak mempertontonkan permusuhan mereka.

Namun, begitulah memang United dan Arsenal dulu. Sadar atau tidak, perseteruan tersebut membuat keduanya justru makin terpacu. Keinginan Ferguson memugar skuad pada 1998/99 tak lepas dari raihan ganda Arsenal pada 1997/98.

Demikian juga ketika ia mendandani lini belakang timnya pada 2002/03 dengan mendatangkan Rio Ferdinand. Semuanya tak lepas dari keberhasilan Arsenal yang sekali lagi berhasil meraih double pada 2001/02.

Permusuhan antara kedua kubu juga makin panas lewat pizzagate dan bagaimana Wayne Rooney yang masih bocah ikut andil menghentikan catatan tak terkalahkan Arsenal di Premier League pada angka 49.

Sampai kemudian, persaingan ini meredup dengan sendirinya. Hadirnya Chelsea bersama Roman Abramovich, lalu Manchester City dengan Sheikh Mansour, lantas kebangkitan Liverpool, membuat kita perlahan-lahan melupakan persaingan sendiri.

Yang benar-benar merawat, pada akhirnya, hanya pendukung dari kedua kesebelasan.

***

Di balik perselisihan yang kerap mereka pertontonkan, Ferguson dan Wenger kabarnya menyimpan hormat satu sama lain. Rivalitas, bagi mereka, hanya ada di atas lapangan.

Ketika keduanya bersanding dalam sebuah acara yang digelar oleh asosiasi para manajer, yang terlihat hanya keakraban. Ferguson bahkan sempat berlagak hendak menggetok kepala Wenger ketika si pria asal Prancis itu mengaku hampir mendapatkan Cristiano Ronaldo.

Bahkan ketika Wenger memutuskan mengundurkan diri dari Arsenal, United dan Ferguson tidak ketinggalan memberikannya penghormatan di Old Trafford. Jose Mourinho, pria yang sering berselisih dengan Wenger dan waktu itu menukangi United, juga ikut memberikan selamat.

Aroma permusuhan itu seolah padam. Sementara, banyak pendukung United berpendapat, Ferguson mulai bersikap ramah kepada Wenger karena pelan-pelan sudah tidak lagi menganggapnya sebagai pengganggu.

Kini, terlepas dari permusuhan yang masih dirawat oleh pendukung masing-masing, United dan Arsenal terlihat seperti seperti sepasang musuh dari masa lampau.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now