Nacho si Anti-Galactico

Nacho Fernandez, unsung hero Real Madrid. (Twitter/@nachofi1990)

Nacho Fernandez bukan seorang Galactico. Namun, dalam situasi sulit, tak ada yang lebih siap membantu Real Madrid dibandingkan dirinya.

Nacho Fernandez sudah memulai karier sepak bola profesionalnya pada 2011, ketika umurnya 21 tahun. Namun, dia baru pertama kali merasakan cedera pada April 2018, saat usianya 28 tahun. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari bagaimana Nacho menjaga kondisi tubuhnya dengan disiplin tinggi.

Sebagai pesepak bola profesional, menjaga kondisi tubuh adalah hal wajar mestinya. Namun, bagi Nacho, itu adalah satu-satunya jalan untuk terus berkarier di lapangan hijau. Sebab, sejak berusia 12 tahun, dia sudah divonis mengidap diabetes tipe 1.

"Aku hendak berlaga dalam sebuah turnamen bersama Real Madrid, tetapi merasa tidak enak badan. Aku merasa harus buang air kecil terus dan selalu haus. Ibuku sangat khawatir dan akhirnya kami pergi ke rumah sakit. Setelah dites, ternyata gula darahku sangat tinggi. Aku didiagnonis mengidap diabetes tipe 1," tutur Nacho pada November 2016.

"Hari Jumat, dokter yang menanganiku berkata bahwa aku tidak bisa bermain sepak bola lagi. Bayangkan anak 12 tahun diberi kabar seperti itu. Menyakitkan sekali rasanya."

"Namun, pada hari Seninnya, aku kembali ke rumah sakit dan menjumpai dokter lain. Dr. Ramirez namanya. Ternyata, menurut dr. Ramirez justru sebaliknya. Katanya, olahraga malah sangat penting buatku dan aku harus terus bermain sepak bola," lanjutnya.

Nacho lahir dan besar di Alcala de Henares, sebuah kota kecil di wilayah otonom Madrid. Sewaktu kecil, dia sangat menggandrungi Fernando Hierro dan Zinedine Zidane. Setelah dua tahun menuntut ilmu di akademi CD Complutense, Nacho direkrut akademi El Real pada 2001. Bagi Nacho, masuk ke akademi Real Madrid adalah jalan untuk mengikuti jejak dua idolanya tersebut.

Pada tahun keduanya bersama akademi Madrid, pemain kelahiran 18 Januari 1990 itu mendapat vonis diabetes tipe 1 tadi. Namun, vonis itu nyatanya tidak membuat Nacho patah arang. Sebaliknya, dia berusaha sekuat tenaga supaya tubuhnya tetap bisa digunakan untuk berkarier sebagai pesepak bola.

Diabetes tipe 1 sendiri merupakan diabetes yang umum dijumpai pada anak-anak dan remaja. Tubuh para pengidap diabetes tipe 1 tidak bisa menghasilkan insulin yang berfungsi mengubah glukosa menjadi energi. Akibatnya yang seperti Nacho rasakan itu tadi. Tubuhnya lemas dan semua asupan yang masuk langsung terbuang begitu saja.

Dengan kondisi demikian, Nacho harus melakukan injeksi insulin sehingga glukosa yang masuk ke tubuhnya bisa diserap menjadi energi. Namun, injeksi insulin ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Misalnya, injeksi tidak bisa dilakukan di tengah pertandingan atau latihan karena meningkatkan risiko hipoglikemia.

Hipoglikemia adalah kondisi ketika gula darah berada di bawah normal. Apabila insulin disuntikkan saat tubuh sedang digunakan untuk aktivitas berat, penyerapan glukosa akan terjadi terlalu cepat. Akibatnya, Nacho bisa merasakan lemas, bahkan bisa sampai pingsan dan koma. Maka, injeksi insulin ini harus selalu dikonsultasikan dengan dokter.

Segala yang harus dilakukan Nacho memang berat. Namun, justru dari sinilah dia tumbuh menjadi atlet yang sangat memahami arti penting menjaga kondisi tubuh. Dia sangat menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuhnya dan tahu persis seberapa limit tubuhnya. Tidak mengherankan apabila Nacho sangat jarang menderita cedera.

Bugarnya kondisi Nacho ini punya pengaruh besar buat perjalanan kariernya. Dengan begitu, dia menjadi pemain yang hampir selalu tersedia untuk dimainkan. Sejak menjalani debut tim senior pada 23 April 2011, dalam pertandingan La Liga melawan Valencia yang dimenangi Real Madrid 6-3, Nacho sudah bermain sebanyak 245 kali di semua kompetisi.

Catatan itu dibukukan Nacho selama satu dekade. Memang, kalau dirata-rata, jumlah penampilan Nacho per musimnya bukanlah yang terbanyak. Akan tetapi, patut diingat bahwa Real Madrid ketika selalu memiliki pemain-pemain terbaik dunia, termasuk di lini belakang.

Posisi natural Nacho adalah bek tengah. Namun, tak jarang pula dia dimainkan sebagai bek kanan maupun bek kiri. Bahkan pada laga debutnya di tim senior, pemain bertinggi 180 cm ini dimainkan sebagai bek kiri. Bagi Nacho, mengidolai Hierro dan Zidane betul-betul dijiwainya sehingga dia memiliki pula kelebihan-kelebihan dari dua legenda tersebut.

Keunggulan utama Nacho adalah kecepatan. Pada 2020, Nacho tercatat bisa berlari dengan kecepatan hingga 34,62 km/jam. Ini membuatnya jadi pesepak bola tercepat kesepuluh pada tahun tersebut. Karena itulah tidak aneh melihat Nacho menyisir sisi sayap meski posisi naturalnya adalah bek tengah.

Selain itu, Nacho punya akurasi umpan yang mumpuni. Menurut catatan FBRef, akurasi umpan Nacho musim ini mencapai 91,1%. Dia juga sanggup mencatatkan 2,59 umpan progresif (umpan yang menggerakkan bola setidaknya 10 yard ke arah gawang lawan) per pertandingan. Belum lagi, Nacho mampu membuat 3,93 progressive carries (membawa bola setidaknya 5 yard ke arah gawang lawan) di tiap laganya.

Untuk urusan bertahan, keterampilan utama Nacho ada pada bagaimana dia memberi tekanan kepada pemain lawan dan melakukan tekel. Di tiap laganya, Nacho memberi 11,52 tekanan terhadap pemain lawan dan membuat 1,8 tekel sukses. Kemahiran dalam bertahan dan membantu serangan inilah yang menunjukkan sisi Hierro dan Zidane dalam permainan Nacho.

Nacho sendiri mencapai puncak permainannya pada musim 2016/17 dan 2017/18. Dia berkontribusi besar bagi keberhasilan Real Madrid menjuarai La Liga, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub dalam kurun waktu tersebut. Dia juga dibawa oleh Luis Enrique untuk memperkuat Spanyol di Piala Dunia 2018.

Akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan pada alinea pertama tulisan ini, pada April 2018 Nacho mengalami cedera. Meski sama sekali tak pernah cedera sebelumnya, setelah April 2018 itu dia jadi kerap masuk ruang perawatan. Menurut data Transfermarkt, sudah enam cedera dialami kakak Alex Fernandez itu dari 2018 sampai 2021.

Musim terburuk Nacho adalah musim 2019/20 ketika dia mengalami cedera MCL (medial collateral ligament) dan hamstring. Cedera MCL itu merupakan cedera kambuhan yang pertama kali dia derita pada musim 2018./19. Karena cedera MCL dan hamstring itu, Nacho mesti absen dalam 20 pertandingan. Ini belum termasuk ketika dia mengalami flu dan harus absen satu laga.

Musim 2020/21 pun tidak terlalu menyenangkan bagi Nacho karena dia harus mengalami cedera hamstring dan sempat mengidap COVID-19. Namun, secara umum, penampilan Nacho pada musim 2020/21 itu sangat bagus. Di La Liga, menurut catatan WhoScored, dia sanggup mencatatkan 6,7 aksi defensif per laga. Dia bermain dalam 24 pertandingan musim itu.

Maka, banyak orang yang heran ketika Enrique tidak membawa Nacho ke dalam skuad Euro 2020 (yang diselenggarakan pada musim panas 2021). Nacho dipandang sebagai salah satu bek terbaik Spanyol tetapi Enrique mengacuhkannya.

Kendati begitu, Nacho tidak ambil pusing. Penampilannya musim ini sama baiknya dengan musim lalu meskipun dia sempat mengalami cedera pada masa pramusim. Apa yang ditunjukkan Nacho pada musim 2020/21 dan 2021/22 ini merupakan bukti lain dari dirinya. Dia sering absen pada musim 2019/20 tetapi, ketika sudah bisa bermain, langsung bisa menunjukkan kemampuan terbaik.

Pada musim 2021/22 ini sendiri Real Madrid harus kehilangan dua pilar sekaligus: Sergio Ramos dan Raphael Varane. Memang ada David Alaba yang kemudian datang sebagai pengganti dan, hingga kini, Alaba-lah bintang terbesar Real Madrid di posisi bek tengah. Namun, peran Nacho sebagai pemain senior tak kalah penting. Dia adalah pemimpin jantung pertahanan meski tak selalu bermain.

Pelatih Carlo Ancelotti senantiasa merotasi tiga bek tengah utama yang dimilikinya: Nacho, Alaba, dan Eder Militao. Di antara mereka, Alaba dan Militao lebih sering dimainkan, termasuk dalam laga El Clasico. Namun, ketika salah satu diistirahatkan, Nacho selalu muncul jadi pemain yang bisa diandalkan.

Boleh dikatakan, Nacho sebenarnya hampir tak pernah jadi pemain bintang Real Madrid di lini belakang. Namun, dia punya pengaruh lebih dari itu. Dia adalah sosok yang didengarkan di ruang ganti dan sudah cukup sering mengapteni Real Madrid di lapangan. Dia serbabisa, hampir selalu dalam kondisi fit, dan selalu ada setiap kali dibutuhkan.

Nacho juga sosok yang amat dicintai oleh Madridista. Selain karena merupakan lulusan La Fabrica, Nacho sampai sekarang juga masih tinggal di tempatnya tumbuh besar, Alcala de Henares. Dia tidak pindah ke area mewah tempat bintang-bintang lain tinggal. Sampai kini, Nacho masih dilihat sebagai salah satu dari suporter Real Madrid itu sendiri.

Itulah arti penting Nacho bagi Real Madrid. Dia bukan sosok yang bersinar paling terang. Dia bukan seorang Galactico. Akan tetapi, dalam situasi sulit, tak ada yang lebih siap membantu Real Madrid ketimbang Nacho Fernandez.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.