Namanya Diogo Jota

Foto: @LFC.

Liverpool terkenal punya striker tajam dengan postur tak terlalu tinggi: Ian Rush, Michael Owen, Robbie Fowler, sampai Luis Suarez. Kini, mereka punya lagi. Namanya: Diogo Jota

Tinggi badan dan sepak bola. Perdebatan soal hubungan keduanya tak pernah usai.

Ada saja yang percaya bahwa tinggi badan seorang atau sekelompok pemain akan berpengaruh terhadap performa sebuah tim. Salah satunya adalah Gordon Strachan, mantan pelatih Tim Nasional Skotlandia. Ia sosok yang percaya bahwa tinggi badan amat berpengaruh untuk permainan sepak bola.

Saat Skotlandia gagal lolos ke Piala Dunia 2018, alih-alih mengakui bahwa taktiknya usang, Strachan justru menjadikan tinggi badan sebagai biang keladi di balik kegagalan anak-anak asuhnya. Para pemain Skotlandia ia nilai tak cukup tinggi dan kurang kuat untuk bertarung dengan negara-negara Eropa lainnya.

“Secara genetika, kami tertinggal (dibanding negara-negara lain),” kata Strachan seperti dilansir BBC.

Argumen seperti yang dimiliki oleh Strachan akan dengan mudah dibantah oleh kubu yang percaya bahwa tinggi badan tak ada korelasinya dengan kemampuan seorang pemain maupun performa sebuah tim. Orang-orang yang ada di kubu ini punya banyak contoh. Salah satu yang termasyhur tentu Timnas Spanyol di era 2008-2012.

Tengok saja komentar Sir Trevor Brooking, mantan pemain Timnas Inggris dan petinggi FA, yang berada di kubu kedua ini. Saat Spanyol mendominasi dunia dan menjadi kampiun Piala Dunia 2010, Brooking menjadikan mereka contoh.

“Spanyol menunjukkan bahwa ukuran (badan) bukalah segalanya. Ketika saya masuk FA enam tahun lalu, banyak klub berkata, ‘Jika tinggimu tidak 182cm, kamu tak beruntung’, dan kami (Inggris) menyingkirkan banyak pemain berbakat karena mereka terlalu kecil. Kemudian Spanyol memiliki Xavi [Hernandez], [Andres] Iniesta, [David] Silva, dan [Cesc] Fabregas,” katanya.

Jika kemudian menengok histori lagi, para suporter Liverpool seharusnya juga masuk ke dalam kubu yang kedua ini. Kenapa? Karena klub kesayangan mereka punya sejarah unik: Memiliki striker pendek yang tajam dan berbahaya. Iya, entah kalian sadar atau tidak.

Ketika para pesaing memiliki Ruud van Nistelrooy, Harry Kane, Romelu Lukaku, Dimitar Berbatov, Didier Drogba, atau Cristiano Ronaldo, Liverpool justru masyhur dengan nama Ian Rush, Robbie Fowler, Michael Owen, atau Luis Suarez. Mereka tidak terlalu tinggi kan? Terutama untuk ukuran pemain depan—karena tak ada yang lebih dari 183cm.

Atau, kalian juga bisa melihat Liverpool sekarang. Di sana ada sosok Diogo Jota, bomber tajam mereka yang tingginya cuma 178cm itu. Mestinya, sih, suporter Liverpool jadi percaya bahwa tinggi badan memang tak ada korelasinya dengan kecakapan seorang pemain, entah di mana pun posisi sang pemain.

***

Saat pertama kali didatangkan Atletico pada 2016 dari Pacos de Ferreira, Diogo Jota bilang begini dalam konferensi persnya: “Saya suka melihat (Antoine) Griezmann. Saya percaya saya bisa melakukan hal yang mirip dengannya. Secara fisik, kami punya kemiripan.” Melihat dari tinggi badan, Jota memang hanya lebih tinggi dua sentimeter dari Griezmann. Jota 178cm, Griezmann 176cm.

Kedua pemain itu sama-sama punya teknik bagus dan bisa bermain di banyak posisi lini depan. Ada peluang buat Atletico untuk punya dua Griezmann sekaligus. Namun, sayangnya, Diego Simeone selaku pelatih tak percaya itu. Ia tak pernah memberi kesempatan buat Jota untuk menjadi Griezmann kedua. Selama berada di Atletico pada medio 2016-2018, Jota tak pernah mencicipi laga kompetitif.

Pria dengan nama asli Diogo Jose Teixeira da Silva ini bahkan dua kali dipinjamkan. Pertama ke Porto, lalu ke Wolves. Pada masa peminjaman itulah ia kemudian membuktikan diri. Total ada 27 gol yang ia catatkan selama dua musim masa peminjaman di dua klub itu. Yang menarik, jika kita melihat Atletico pada medio yang sana, hanya Griezmann yang mencatatkan jumlah gol lebih banyak dari Jota.

Pada musim 2017/18, Jota kemudian benar-benar dilepas oleh Atletico. Ia dijual ke Wolves. Dan dari sinilah namanya mulai dikenal. Bermain menonjol di Wolves yang impresif membuat Jota mudah diingat. Ia juga mencetak sembilan gol di musim itu dan tujuh gol satu musim setelahnya. Semua di Premier League. Tak heran kalau catatan dan performa impresifnya itu membuat Liverpool kepincut. Jota pun pindah ke Anfield pada musim 2020/21.

Di awal kedatangannya, banyak orang mengira bahwa Jota cuma akan jadi pelapis trio lini depan Liverpool (Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino). Well, itu tak salah. Awalnya memang begitu. Namun, seiring performa yang konsisten, ia naik tingkat. Bukan lagi jadi pelapis, tapi jadi anggota keempat. Melengkapi kuartet lini depan The Reds—meski memang mainnya bergantian mengingat Liverpool menerapkan pola 4-3-3.

Pada musim ini, Jota bahkan lebih gemilang lagi. Cederanya Roberto Firmino membuat ia tak tergantikan di lini depan Liverpool. Dari total 22 penampilan di seluruh kompetisi, ia sudah mencetak 12 gol. Ia hanya butuh satu gol lagi untuk menyamai catatan gol di seluruh kompetisi pada musim lalu. Hal yang sepertinya akan segera ia lakukan.

Dimainkan sebagai seorang penyerang tengah, Jota begitu buas. Terutama di dalam kotak penalti. 12 Gol yang ia cetak itu semua tercipta di dalam kotak penalti lawan. Catatan sepakannya di area yang sama pun meningkat musim ini. Jika menengok angka dari Premier League saja, Jota mencatatkan 2,6 tembakan per laga di dalam kotak penalti. Bandingkan dari musim lalu yang hanya 2 tembakan per laga.

Kendati posturnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang striker, Jota bisa menembak dan mencetak gol lewat bagian tubuh mana saja. Dari 62 tembakan yang ia lepaskan di seluruh kompetisi pada musim ini, ada 23 yang berasal dari kepala. Dari 23 sundulan itu, ada empat yang berbuah gol. Sekali lagi menunjukkan bahwa postur tubuh sangat tak berpengaruh buatnya. Bahwa ia tetap bisa menjadi poacher yang buas.

Poacher, seperti pengertiannya di pelbagai situs, adalah arketipe buat seorang pemain yang amat tajam di dalam kotak penalti lawan. Seorang poacher biasanya memiliki kemampuan mengendus pelung di atas rata-rata. Mereka bisa menemukan ruang dan berdiri di tempat yang tepat untuk menerima bola, dan kemudian mencetak gol. Jika Anda memperhatikan, Jota sungguh seperti itu.

Ia punya penempatan posisi yang baik, acap bergerak atau berada di tempat yang tepat untuk menerima bola dan menuntaskan peluang dengan manis. Ini tentu saja konteksnya di dalam kotak penalti. Berkat kemampuan itu, Jota mampu memiliki peluang yang berkualitas. Kita bisa menilai itu dari catatan angka ekspektasi gol (xG) per 90 menit miliknya.

Di Premier League musim ini, xG per 90 menit Jota ada di angka 0,76. Di antara pemain yang setidaknya sudah lima kali bermain penuh, angka Jota itu adalah yang tertinggi di liga. Jika diartikan, setiap 90 menit Jota hampir selalu memiliki satu peluang yang kualitasnya tinggi, yang diekspektasikan bisa menghasilkan satu gol.

Yang menarik, jika melihat catatn per 90 menit, jumlah sentuhan Jota di kotak penalti musim ini sebenarnya menurun. Ia hanya punya catatan 6,74 sentuhan per 90 menit musim ini, berbanding cukup jauh dari musim lalu di mana ia mencatatkan 7,74 sentuhan per 90 menit.

Namun, ada hal positif dari menurunnya statistik itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jota jauh lebih efektif di dalam kotak penalti lawan. Artinya, ia tak perlu menyentuh bola banyak-banyak untuk melepas tembakan atau menciptakan gol. Bukti lain kebuasaannya.

Selain terus menunjukkan diri sebagai striker yang tajam, Jota di musim ini juga berhasil menunjukkan bahwa ia bukan striker yang malas. Ia masih mau bergerak ke mana-mana, ke kanan maupun kiri, untuk membantu Salah maupun Mane. Bahkan, di tengah laga, ia acap bertukar posisi dengan kedua nama itu untuk merusak konsentrasi dan shape lawan.

Pria berpaspor Portugal itu juga terus membuktikan diri sebagai pemain depan yang paripurna buat Liverpool. Ini tentu saja berkaitan dengan aspek bertahan. Karena, sebagaimana dikatakan Juergen Klopp, Jota direkrut bukan hanya karena teknik yang bagus, multifungsi, dan kemampuan mencetak golnya saja. Ia juga direkrut karena merupakan “pressing monster”. Dan jangan heran bila melihat catatan pressing-nya membaik musim ini.

Per 90 menit, Jota mencatatkan persentase pressing sukses sebesar 27,8% musim ini. Naik dari catatannya musim lalu yang sebesar 25,3%. Selain itu, ia juga jadi cukup agresif. Angka tekel + intersep yang ia catatkan per 90 menit musim ini meningkat jadi 2 dari angka 1,77 musim lalu. Dan sebagian besar ia ciptakan di area lapangan lawan, mengingat ia harus bisa merebut bola secepat mungkin.

Begitulah Diogo Jota. Ia terus tumbuh menjadi striker yang dibutuhkan oleh Klopp dan Liverpool. Menjadi striker yang berbahaya dan amat haus gol di dalam penalti, tapi juga tak malas untuk berkontribusi dan bergerak ke tempat-tempat lain. Entah itu untuk membuka ruang, entah itu untuk menyokong teman.

Dan, ya, Jota membuktikan bahwa ia bisa melakukan apa yang dilakukan Griezmann. Bahkan mungkin bisa lebih baik lagi bersama Liverpool.

***

Dalam sejarahnya, Liverpool memang pernah punya penyerang dengan postur tinggi besar. Ada nama Emile Heskey, Nicolas Anelka, Peter Crouch, atau Andy Carroll. Namun, semua tak lebih masyhjur dari nama-nama yang lebih, maaf, pendek yang sudah disebutkan di atas: Rush, Fowler, Owen, Suarez, dan kini Jota.

Khusus untuk Jota, mengingat masih berusia 25 tahun, ia bisa terus membuktikan bawa ia juga bisa segemilang nama-nama lain. Peluangnya untuk mencetak banyak gol atau bahkan jadi top-skorer Premier League—dan masuk ke jajaran pencetak gol terbanyak Liverpool—terbuka lebar.

Dan maaf, Strachan, dengan begini argumentasimu (dan semua orang yang berada di kubu yang sama denganmu) jadi tak relevan lagi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.