Nasib Lopetegui Melesat Secepat Switch Play-nya di Sevilla

Foto: Twitter @EuropaLeague.

Julen Lopetegui gagal di Real Madrid bukan karena karma. Persoalannya lebih kompleks daripada itu. Melesatnya Sevilla lantas membuktikan bahwa sebetulnya Lopetegui bukan pelatih sembarangan.

Tiada yang lebih piawai ketimbang media dalam memilih susunan kata. Tatkala Julien Lopetegui resmi dipecat Real Madrid pada pengujung Oktober 2018, headline di banyak media nyaris seragam: Lopetegui kena karma.

Ini ada kaitannya dengan kisah pada tengah tahun 2018. Saat masih terikat kontrak dengan Timnas Spanyol, Lopetegui sudah meneken kontrak sebagai juru taktik baru Madrid. Masalahnya kian runyam mengingat itu terjadi menjelang helatan Piala Dunia 2018.

Lantas, para fans mengecam tindakan Lopetegui. Apalagi ia baru mengabari RFEF lima menit jelang pengumuman penunjukannya sebagai pelatih baru Madrid. RFEF yang kecewa akhirnya memecat sang pelatih. Kondisi inilah yang dikait-kaitkan dengan karma tadi.

Masalahnya, jika matematika saja acap tak berlaku di sepak bola, bagaimana mungkin karma yang sedemikian abstraknya bisa langsung diambil sebagai suatu kesimpulan?

Kegagalan Lopetegui tak sesederhana itu, Bung dan Nona. Dia tiba di Madrid dalam kondisi yang amat tak ideal.

Pertama-tama, persiapannya terbatas sebab banyak pemain Madrid yang tampil di Piala Dunia. Kedua, kedalaman skuat Madrid bermasalah. Ketiga, para pemain bintang mulai memasuki fase akhir karier. Keempat, Cristiano Ronaldo baru saja hengkang.

Beberapa orang sempat menyasar hubungan kurang harmonis Lopetegui dengan para pemain sebagai penyebab kegagalannya di Madrid. Ada juga yang menyebut-nyebut taktiknya yang buruk, dan sebagainya dan sebagainya. Panjang sekali.

Jika mendengar kesaksian para pemain Madrid, semua yang disasarkan itu nyatanya tidak tepat. Para pemain seperti Raphael Varane dan Isco masih sangat mendukung Lopetegui. Begitu pula dengan Toni Kroos.

“Lopetegui sangat sial di sini, dia sebetulnya melakukan pekerjaan dengan baik, tapi tidak bisa mendapatkan hasil yang kita semua inginkan,” tutur eks penggawa Bayern Muenchen itu.

“Masa-masa ini terasa berat karena adanya perubahan, dan banyak pemain yang kembali dari Piala Dunia di waktu yang berbeda. Julen Lopetegui sangat tidak beruntung,” kata Kroos.

Namun, apa guna membicarakan masa lalu? Semua sudah terjadi dan Lopetegui sudah keburu angkat kaki. Sekarang, dia berada di tempat berbeda dengan nasib yang juga berbeda.

***

Hanya sekitar enam bulan setelah Madrid memecatnya, Lopetegui sudah menemukan labuhan baru. Ia menandatangani kontrak kerja sama dengan Sevilla jelang musim 2019–20 berlangsung.

Los Nervionenses dalam kondisi buruk kala itu. Sepeninggal Unai Emery, mereka seperti tim yang lupa jati diri. Dua musim berturut-turut Sevilla terkapar di luar lima besar. Sevilla bahkan tak kuasa berbuat banyak di Liga Europa yang notabene kompetisi favorit mereka sendiri.

Di sinilah fungsi Lopetegui. Ia hadir guna menghapus segala perkara menyebalkan tersebut.

Sebagai juru taktik yang lumayan kenyang pengalaman, sosok berusia 54 tahun ini punya pakem yang jelas. Skema 4–3–3 selalu jadi andalan di hampir semua tim yang dia latih, dari Timnas Spanyol hingga Madrid. Di Sevilla, hal serupa juga dia terapkan.

Alasannya tak beda dengan banyak pelatih yang juga mengedepankan possession. Suatu kali kepada awak media, Lopetegui berkata bahwa susunan 4–3–3 dapat mengakomodir sepak bola yang dia inginkan: Sepak bola yang ofensif sekaligus fleksibel.

Pada mulanya ia mungkin menurunkan 4–3–3 sebagai skema dasar. Bahkan menurut WhoScored musim ini, tak sekalipun Sevilla turun dengan formasi dasar berbeda. Selalu 4–3–3. Namun, kala laga berjalan, kamu akan cukup sering melihat susunan 3–4–3, 4–2–3–1, dan 4–1–4–1.

Perubahan itu tergantung situasi di lapangan. Saat menguasai bola, terutama jika memulai build-up dari belakang, Sevilla akan membentuk 3–4–3. Di momen ini salah satu dari tiga gelandang akan turun sebagai bek tambahan. Klasik. Pembedanya terletak pada siapa yang mengisi peran tersebut.

Di banyak tim dengan pendekatan serupa, gelandang nomor enamlah yang memerankannya. Di Sevilla, ketiga gelandang secara bergantian mengisi posisi itu. Musim lalu, Sevilla punya trio Ever Banega, Joan Jordan, dan Gudelj. Saat Banega hengkang, Oliver Torres yang jadi andalan.

Keempatnya memang punya karakteristik yang mirip: Kuat bertahan, jago mengoper, sekaligus piawai melepaskan diri dari pressing lawan.

Dua atribut terakhir memang wajib dimiliki gelandang manapun yang bakal bermain di bawah Lopetegui. Tak cuma karena perubahan skema menjadi 3–4–3 tadi, tetapi juga ada kaitannya dengan bagaimana Sevilla membangun serangan.

Foto: Twitter @SevillaFC_ENG.

Ketika menguasai bola di lini belakang, yang memang jadi basis penyerangan Sevilla, sejumlah pemain Sevilla bakal berada di posisi berdekatan dan membentuk segitiga. Tugasnya sederhana, yakni menguasai bola selama mungkin dengan tujuan memancing pressing lawan. Semakin agresif pressing yang diterima, semakin efektif pendekatan yang mereka jalankan.

Itulah kenapa Barcelona kewalahan saat berjumpa Sevilla pada Oktober tahun lalu. Kenapa? Sebab Barcelona kerap bermain dengan pressing ketat dan pendekatan ini, seringnya, menyisakan ruang besar di sisi berbeda.

Di sisi lain, Sevilla biasa memeragakannya di salah satu sisi sayap permainan. Dalam kondisi itu pemain lain yang berada di sisi sebaliknya akan mengisi ruang kosong yang ditinggal pemain lawan. Kedengarannya amat sederhana tetapi upaya memanfaatkan ruang ini mesti dilakukan dengan cermat sekaligus cepat.

Misalnya pada menit ke-18. Setelah memancing pemain Barcelona ke sisi yang mereka inginkan, Suso yang bermain sebagai penyerang sayap kiri langsung melakukan switch play lewat umpan panjang menuju Lucas Ocampos yang berdiri bebas di sisi kanan penyerangan.

Ocampos memeragakan sedikit cut inside sebelum mengakhirinya dengan terobosan ke arah Jesus Navas yang bergerak dari belakang. Dalam hitungan detik, Navas melepaskan umpan tarik yang sayangnya gagal dijangkau Luuk de Jong di depan gawang Barcelona.

Kita bisa menyebutnya kebetulan jika hanya terjadi sekali. Namun, Sevilla memeragakan itu berkali-kali. Tahun lalu, mereka bahkan jadi tim dengan switches terbanyak kedua di La Liga.

Contoh paling anyar adalah gol kedua de Jong kala melawan Valencia di Copa del Rey, akhir Januari. Dalam prosesnya Sevilla juga mengandalkan switch play. Yang menarik, mereka sampai melibatkan semua pemain dengan total operan mencapai 37 kali. Semuanya terjadi kurang dari semenit.

Ada kerja keras Lopetegui di balik keberhasilan taktik itu. Menurut Jesus Navas, untuk satu pertandingan saja, Lopetegui bakal memikirkannya berhari-hari. Dia bahkan menyebut sang pelatih bekerja selama 24 jam per hari untuk menggambarkan kerja keras Lopetegui.

“Saya pikir kerja kerasnya akan terbayar. Dia mampu mengeluarkan potensi terbaik kami,” tutur Navas.

Walau begitu, senjata Sevilla tak cuma switch play super cepat. Saat kondisi buntu, mereka punya beragam jurus lain. Ingat bagaimana Sevilla mencetak dua dari tiga gol ke gawang Inter Milan di final Europa League tahun lalu? Betul, berawal dari eksekusi bola mati.

Juru taktik Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, bahkan sempat bergidik ngeri. Solskjaer bilang bahwa dia sengaja menyiapkan anak asuhnya untuk secara khusus mengantisipasi bola mati Sevilla jelang pertemuan di babak semifinal ajang serupa, meski akhirnya United tetap kalah.

Hingga hari ini, bola mati, juga pendekatan switch play tadi, masih menjadi metode andalan Lopetegui menjalankan misi yang diberikan Sevilla.

Bahwa Sevilla berhasil finis di zona Liga Champions tahun lalu, kemudian menjuarai Europa League, dan kini membuntuti duo Madrid dari urutan ketiga La Liga, adalah bukti Lopetegui berada di trek yang tepat. Ini sekaligus tanda bahwa yang ia alami di Ibu Kota tak ubahnya kesialan semata.

Dan semua itu Lopetegui raih dalam waktu yang relatif cepat (kurang dari dua musim), secepat bagaimana switch play-nya bekerja. Dari pesakitan di Madrid, kini Lopetegui berjaya di Sevilla. Nasibnya berbalik secepat kilat.

“Sangat penting bagi profesional mana pun untuk mampu mengatasi masa-masa sulit dalam karier mereka. Saya sangat luar biasa bahagia,” ujar Lopetegui.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.