Nasib Victor Lindeloef sebagai Duet Harry Maguire

Foto: Arif Utama.

Harry Maguire dan Victor Lindeloef memang sering tampil solid. Masalahnya, dari sisi role, keduanya belum bisa melengkapi satu sama lain dengan baik.

Victor Lindeloef mungkin orang paling tidak beruntung. Jika manusia pada umumnya akan menerima penghakiman di hari akhir, ia hampir selalu dihakimi di akhir pertandingan.

Sudah banyak kasus bagaimana Lindeloef disalahkan atas penampilan buruk yang diperlihatkan oleh pertahanan United. Bahkan, saat ia mengakhiri pertandingan dengan penampilan apik, niscaya ia juga akan dikritik.

Tengok saja pertandingan Manchester United melawan Everton, Februari lalu. Meski gagal membawa United menang, penampilannya terbilang solid. Catatan defensifnya bahkan paling tinggi dibandingkan empat pemain belakang United yang diturunkan saat itu.

Hal tersebut tidak membuatnya tenang. Selesai pertandingan, ia justru dihakimi dan dianggap sebagai biang keladi atas gol terakhir Everton, karena membiarkan Dominic Calvert-Lewin berdiri bebas di kotak penalti United.

Paul Scholes jadi salah satu orang yang berlagak sebagai juri atas penampilan Lindeloef saat itu. Scholes berkata, “Saya pikir Lindeloef tidak layak berada di samping Maguire. Saya akan selalu mempertanyakan keputusan (Ole Gunnar Solskjaer) memainkannya.”

Pernyataan Scholes menjadi semakin panas setelah adanya isu soal rencana United merekrut bek tengah baru. Sejauh ini memang belum ada nama yang masuk ke dalam rencana tersebut, tapi tanpa adanya gosip saja, Lindeloef sudah dihakimi, apalagi kali ini.

Berangkat dari sana, kami bertanya-tanya apakah Lindeloef memang benar-benar seburuk itu? Dan, apakah dia layak untuk disingkirkan?

***

Bagi Michael Cox, menyerang dan bertahan memiliki fondasi yang berbeda. Saat menyerang, Anda hanya memerlukan satu orang pemain yang dapat mengubah segala bentuk kesempatan menjadi gol.

Sedangkan, untuk menciptakan pertahanan yang solid, dibutuhkan pemain yang mampu bekerja sama, disiplin dalam melakoni tugas yang diberikan, dan saling melengkapi. Tanpa tiga atribut ini, sulit bagi sebuah tim membentuk pertahanan yang solid.

Selain bertindak sebagai kapten tim, Maguire memegang tanggung jawab paling besar di pertahanan United. Tanggung jawab ini dapat dilihat dari peran covering centre back yang diemban Maguire.

Covering centre back adalah peran khusus bagi seorang bek tengah untuk berada di posisi paling belakang dalam garis pertahanan. Ia tidak hanya bertugas untuk menjadi lapis kedua, tapi juga memastikan agar pemain lain mampu mengerjakan tugas bertahannya.

Bermain di peran ini membawa banyak keuntungan bagi Maguire. Satu contoh paling mudah, ya, dari statistik duel maupun intersepnya. Pada musim ini, Maguire mengoleksi 4,14 kemenangan duel dan 1,79 intersep per 90 menit.

Mengapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan saat berhadapan dengan covering centre back, lawan biasanya sudah tidak berada di posisi yang seimbang. Kondisi ini kemudian mempermudah kerja covering centre back.

Bagaimana dengan Lindeloef? Jika melihat pemaparan yang sudah dijelaskan oleh Cox, United seharusnya menggunakan pemain yang dapat berperan sebaliknya dari Maguire, yakni aggressive centre back dan tentu peran ini tidak sesuai dengan kemampuan Lindeloef.

Ada dua atribut yang dibutuhkan agar menjadi seorang aggressive centre back, yakni inisiatif untuk mengganggu pergerakan lawan dan tekel. Lindeloef tidak mempunyai statistik yang menawan berkaitan dengan atribut tersebut.

Per catatan fbref, Lindeloef hanya memenangi 0,48 tekel sukses per pertandingan. Angka tersebut bahkan berada di rata-rata Maguire yang mencapai 0,5 tekel per pertandingan. Pun demikian dengan inisiatif melakukan pressure. Dari 123 pressure, hanya 35% yang berakhir dengan mendapatkan bola.

Catatan tersebut sebenarnya tak buruk. Rata-rata tekel suksesnya bahkan terhitung tinggi untuk ukuran pemain yang telah tampil di atas 15 pertandingan di Premier League musim ini. Di luar tekel, penampilan Lindeloef musim ini terbilang paling mending dibandingkan tiga musim lain.

Musim ini, Lindeloef membukukan 1 intersep dan 2,3 kemenangan duel udara per pertandingan. Rata-rata tersebut lebih baik ketimbang yang ia catat dalam tiga musim terakhir, yakni 0,8 intersep dan 2,1 kemenangan duel.

***

Ada hal menarik apabila melihat kombinasi bek tengah yang digunakan oleh Manchester City saat menjuarai Premier League musim 2017/18 dan Liverpool musim lalu. Di atas lapangan, kedua tim ternyata menggunakan bek tengah dengan peran yang berbeda.

Saat menjuarai Premier League 2017/18, City menggunakan duet aggressive centre back dan covering centre back. Nicolas Otamendi berperan sebagai aggressive centre back, sementara Vincent Kompany dan John Stones bergantian dimainkan di peran covering centre back.

Kombinasi serupa juga dilakukan oleh Liverpool pada musim lalu. Juergen Klopp menggunakan Virgil van Dijk dalam peran covering centre back dan Joe Gomez lewat tugas aggressive centre back.

Keputusan City dan Liverpool menggunakan dua bek tengah dengan peran berbeda bisa menjadi opsi untuk pertahanan United. Namun demikian, solusi ini hanya dapat berjalan maksimal apabila ada pemain yang mampu memainkan peran sebagai aggressive centre back.

Kini, pilihan ada di tangan Solskjaer: Membiarkan Lindeloef terus diserang atau membawa United lebih baik di masa depan?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.