Nostalgia Manchester United vs AS Roma: Dari Gerard Pique hingga Skor 7-1

Foto: Manchester Evening News.

Manchester United dan AS Roma bukanlah musuh bebuyutan. Kendati begitu, bukan berarti pertemuan antara kedua tim tidak punya cerita menarik sama sekali.

Setiap perjalanan yang mendebarkan, biasanya punya awal yang cenderung biasa-biasa saja. Gerard Pique, misalnya. Tenar sebagai salah satu bek tengah dengan raihan segudang, Pique nyatanya punya awal karier yang cukup membumi.

Pique kental dengan darah Catalunya sedari lahir. Keluarganya adalah keluarga Catalunya totok, sedangkan kakeknya, Amador Bernabeu, pernah menjadi petinggi Barcelona, klub yang sering dianggap sebagai perwakilan asli dari orang-orang Catalunya.

Ketika Pique akhirnya bergabung dengan akademi mayshur Barcelona, La Masia, semuanya seperti sudah takdir saja. Ia memang punya bakat dan bakat itu bisa makin terasah jika bergabung dengan La Masia.

Pique yang aslinya adalah gelandang bertahan itu akhirnya menemukan jati diri sebagai bek tengah. Kelak, berkat bermain di posisi itu, Pique bakal menemukan dirinya dielu-elukan banyak orang dan dirayakan sebagai salah satu pemain bertahan terbaik di Eropa (kalau bukan di dunia).

Barcelona, buat Pique, adalah rumah. Namun, untuk bisa menemukan tempatnya di dalam rumah itu, Pique terlebih dulu mengenyam perjalanan sebagai pemain muda yang hijrah ke kota asing dan mengasah diri sebagai pemain pinjaman di Zaragoza.

Pada 2004/05, ketika ia bahkan belum menandatangani kontrak profesional dengan Barcelona, Pique memutuskan untuk menerima pinangan Manchester United. Karena Pique belum menandatangani kontrak profesional, United tidak mengeluarkan duit sepeser pun untuk mendatangkannya.

Manchester bukanlah kota yang ramah untuk pendatang berusia 17 tahun. Dari Barcelona yang cerah, ia harus menghadapi Manchester yang lebih sering hujan. Belum lagi perkara makanan yang sudah jelas punya citarasa berbeda. Tidak ada paella, hanya ada fish and chips yang hambar. 

Biar begitu pun, Pique menunjukkan bahwa ia bisa bertahan. Hanya semusim setelah bergabung dengan United dan berlatih dengan tim akademinya, Pique sudah mendapatkan debut di tim utama. Ketika Sir Alex Ferguson merasa ia sudah siap, Pique mendapatkan kesempatan tampil lebih banyak.

Hanya saja, kesempatan itu tak ia dapatkan di United, melainkan di Real Zaragoza. Bersama kesebelasan asal Aragon tersebut, Pique mendapatkan kans pertamanya sebagai pemain reguler. Total, ia tampil sebanyak 28 kali sepanjang musim 2006/07.

Buat Ferguson, itu sudah cukup untuk memulangkannya ke Manchester. Pada 2007/08, Pique menjadi pelapis bagi duet bek tengah terbaik United saat itu, Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Namanya berstatus sebagai pelapis, tentu saja kesempatannya amat terbatas.

Namun, manakala mendapatkan kesempatan tampil, Pique membayarnya sampai lunas. Satu kali, ia dan rekan-rekannya sesama pemain muda pernah ditundukkan oleh Coventry City di Piala Liga, tetapi beberapa hari setelahnya mereka menebus dengan permainan yang lebih dari cukup.

Salah satu performa terbaik Pique pada musim 2007/08 itu hadir pada laga melawan AS Roma pada matchday VI di fase grup. Ia tampil bersama deretan bek yang bisa dibilang tak biasa: John O'Shea di kiri, Jonny Evans di tengah, dan Danny Simpson di kanan.

Mereka dibenturkan begitu saja dengan I Lupi yang punya banyak pemain senior dalam starting XI mereka; Francesco Totti memimpin lini depan, Mancini dan Rodrigo Taddei menyokongnya dari lini tengah, sementara David Pizarro menjaga kedalaman sebagai gelandang bertahan, lengkap dengan Philippe Mexes yang mengawal lini belakang.

Namun, Ferguson adalah pelatih yang ajaib. Meskipun pemain-pemainnya hijau dan terlihat inferior dibanding skuad lawan, ia tidak pernah sekalipun menunduk. Buatnya, itu adalah tes mental yang baik untuk Pique, Evans, Simpson, bahkan Chris Eagles yang malam itu dimainkan sebagai sayap kanan.

Sepanjang kariernya sebagai pemain United, Pique hanya pernah mencetak 2 gol. Kedua gol tersebut, seluruhnya ia cetak pada ajang Liga Champions dengan salah satunya ia buat pada laga melawan AS Roma itu.

Gol Pique pada menit ke-34 membawa United unggul 1-0 lebih dulu, sebelum Mancini menyamakan kedudukan pada menit ke-70. Laga kemudian berakhir dengan skor 1-1.

"Hasil yang bagus," kata Pique. "Selalu ada tekanan untuk bermain bagus di United dan kami harus menjadi yang terbaik setiap harinya."

Musim 2007/08 nyatanya menjadi musim terakhir Pique di United. Pada 2008/09, ketika Pep Guardiola mendapatkan promosi dari Barcelona B ke skuad utama Barcelona, ia mengajak Pique bergabung.

Ferguson, lewat salah satu buku biografinya, mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat menjual Pique. Namun, untuk menyingkirkan Ferdinand dan Vidic yang sedang berada dalam masa emas mereka bukan perkara mudah. Maka, keputusan berat pun mesti ia ambil: Pique ia lepas pulang ke Barcelona demi mendapatkan menit bermain lebih banyak.

Sisanya, buat Pique dan Barcelona, adalah sejarah.

***

4 April 2007, satu musim sebelum cerita Pique sebagai bek pelapis di skuad utama United dimulai, 'Iblis Merah' pernah bersua AS Roma terlebih dulu. Di hadapan 77.000 penonton yang memadati Olimpico, United yang bermain dengan duet Ole Gunnar Solskjaer dan Wayne Rooney di lini depan takluk 1-2.

Di kubu Giallorossi saat itu, Totti, Taddei, Mancini, plus Daniele De Rossi, mengisi starting line-up, lengkap dengan duet Mexes dan Christian Chivu sebagai palang pintu. Namun, line-up United sendiri tidak kalah mewah; selain Solskjaer dan Rooney, mereka juga diperkuat Cristiano Ronaldo, Paul Scholes, Michael Carrick, dan Ryan Giggs.

Yang membedakan adalah bagaimana Roma menerjemahkan line-up mereka menjadi dominasi di atas lapangan. Tidak hanya unggul dalam urusan penguasaan bola, Roma juga menang dalam jumlah percobaan untuk mencetak gol. United, yang harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-34 karena Scholes mendapatkan kartu kuning kedua, kerepotan untuk keluar dari tekanan.

Tidak ada yang melihat jalan keluar kecuali Sir Alex Ferguson.

"Kami kalah 1-2 di kandang lawan dan pelatih sangat bahagia. Ia berkata, 'Kita akan baik-baik saja, kita akan menang di Old Trafforfd'. Ia sangat percaya diri dengan kemampuan kami," ucap Solskjaer kepada Manchester Evening News.

Keyakinan Ferguson itu kemudian berlaku selayaknya nubuat. Ucapan "Kita akan menang di Old Trafford" tersebut terwujud. Malah, United tidak sekadar menang, tetapi menang telak.

Hari itu, kemenangan 2-1 di Olimpico tidak berarti. United, yang hanya membutuhkan satu gol untuk bisa melaju ke semifinal, akhirnya malah mencetak tujuh gol. Skor akhir: 7-1.

"Saat skor 6-0, pemain AS Roma meminta saya untuk berhenti. Seorang lawan meminta saya untuk berhenti menggiring bola. Ada juga yang mengancam akan mencederai saya. Di akhir pertandingan tidak ada pemain yang bertukar jersi dengan saya," ucap Ronaldo yang pada pertandingan itu mencetak dua gol.

Paham bahwa mereka berada dalam posisi mengejar, United berlaku selayaknya mereka butuh gol cepat. Sebelas menit pertandingan berjalan, Carrick sudah membawa United unggul lewat sepakan setengah lob dari luar kotak penalti. Lantas, tidak sampai 20 menit, The Red Devils sudah unggul 3-0. Pada akhir babak pertama, mereka unggul 4-0.

Posisi itu semestinya sudah membuat posisi United aman. Namun, mereka memilih untuk memberondong tubuh yang sudah tergeletak lemas. Tiga gol tambahan pada babak kedua membuat satu gol Roma, yang dicetak De Rossi, tidak berarti apa-apa.

Kalau ditotal, United dan Roma sudah enam kali bertemu di ajang Liga Champions. 'Iblis Merah' sangat perkasa dengan torehan empat kemenangan, sekali imbang, dan sekali kalah.

***

Jumat (30/4) dini hari WIB, United dan Roma kembali bertemu. Panggungnya memang tidak megah; bukan Liga Champions, melainkan Liga Europa.

Solskjaer, yang ikut membantu United menang 7-1, kini sudah menjadi pelatih. Begitu juga dengan Carrick, yang kini menjadi asisten pelatih. Ia akan membantu Solskjaer beradu strategi dengan Paulo Fonseca, pelatih Roma.

Musim ini adalah musim yang sibuk buat United. Sebelum laga melawan Leeds United, sudah cukup lama mereka tidak merasakan jadwal bebas dari pertandingan pada midweek. Oleh karena itu, menjamu Roma lebih dulu di Old Trafford pada leg I semifinal Liga Europa merupakan keuntungan tersendiri. Mereka tidak perlu terbang ke kandang lawan setelah sebelumnya bermain tandang melawan Leeds.

Sebagai tim tamu, Roma masih bisa memaksimalkan kekuatan sisi tepinya untuk bisa membidik gol ke gawang United. Sejauh ini, 70 persen serangan Roma berasal dari kedua sisinya. Leonardo Spinazzola dan Bruno Peres yang biasa bergerak dari sayap sudah mengumpulkan total empat assist di pentas Liga Europa.

Selain itu, Roma juga memiliki penyerang yang klinis di depan gawang dalam diri Borja Mayoral. Sejauh ini, eks pemain Real Madrid itu sudah mengoleksi tujuh gol untuk Roma di Liga Europa.

Kemampuan Mayoral dalam mengakomodasi lini kedua untuk merangsek naik patut diacungi jempol. Mayoral tak segan untuk menarik bek lawan untuk maju sehingga pemain-pemain sayap bisa mengisi posisi yang kosong itu.

Jangan lupakan juga bahwa Mayoral memiliki kemampuan membagi bola yang cukup apik. Sejauh Liga Europa musim ini berjalan, pemain berusia 24 tahun tersebut sudah menyumbang 2 assist.

Sebagai tim yang biasa bermain direct, United bisa mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan para pemain sayap dan gelandang Roma yang terbiasa ikut naik ketika berada dalam fase menyerang. Fonseca terbiasa menginstruksikan timnya untuk bermain sebagai satu kesatuan unit dan mengincar channel untuk memukul lawan.

Meski begitu, dalam beberapa pertandingan terakhir, United menunjukkan bahwa, kendatipun masih jauh dari kata sempurna, skuad mereka cocok untuk menghadapi dua tipe pertandingan: Gaya direct untuk pertandingan yang berjalan terbuka dan inisiatif untuk memegang kontrol untuk pertandingan melawan tim yang bermain rapat.

Biasanya, ketika menghadapi lawan yang bermain amat rapat, Solskjaer bakal menurunkan Paul Pogba, Edinson Cavani, atau bahkan Donny van de Beek sebagai pemain pengganti. Pada beberapa kesempatan, Pogba biasa ditempatkan sebagai gelandang serang sebelah kiri dan Cavani sebagai penyerang tengah. Untuk mengimbanginya, biasanya ia akan memasang pemain yang memiliki kecepatan di sisi kanan--biasanya Mason Greenwood.

Kemampuan Cavani dalam memanfaatkan dan membuka ruang menjadi nilai lebih yang akan menguntungkan United. Cavani dan Greenwood akan bisa dimaksimalkan kalau melihat kelemahan di lini belakang Roma.

Ya, armada Paulo Fonseca kerap memainkan garis yang cukup tinggi dalam bertahan. Sudah begitu, jarak antarlini Roma cenderung terbuka sehingga memudahkan pemain lawan untuk mengeksploitasi.

Sampai sejauh ini, Roma sudah kebobolan 51 kali di pentas Serie A. Catatan tersebut membuat Roma jadi klub yang paling banyak kebobolan di 10 besar klasemen saat ini.

Kalau alpa menutup ruang di lini pertahanan mereka, boleh jadi Roma bakal pulang dengan kepala tertunduk dari Manchester sekali lagi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.