Oscar Mingueza: Catalunya, La Masia, dan Masa Depan Barcelona

Vitalii Vitleo - Shutterstock

La Masia pernah dikenal sebagai laboratorium tempat membentuk talenta muda Barcelona. Lewat Oscar Minguez, sepak bola sedang melihat apakah La Masia masih pantas atau tidak untuk memegang predikat itu.

Pada suatu waktu Barcelona pernah berjaya bersama para lulusan La Masia. Tempat itu ibarat Kawah Candradimuka yang melahirkan pemain dan pelatih hebat.

Semua berawal dari gagasan Presiden Joan Laporta yang menjabat pada 2003. Laporta tak cuma membuat Barcelona membeli bintang, tetapi juga mendorong Los Cules percaya pada pemain-pemain akademinya.

Andres Iniesta, Oleguer, dan Lionel Messi adalah nama-nama yang diorbitkan pada masa awal Laporta menjabat. Laporta tak cuma menggunakan pemain, usai melepas Frank Rijkaard, Barcelona menunjuk Pep Guardiola sebagai nakhoda tim.

Guardiola juga merupakan hasil didikan La Masia. Karier kepelatihannya pun dimulai dari tim muda Barcelona. Perjudian Barcelona dengan menggunakan pemain dan pelatih La Masia tak sia-sia. Kombinasi itu memampukan mereka merengkuh berbagai gelar juara, termasuk trofi Liga Champions yang diamankan saat Guardiola menjabat sebagai pelatih.


Waktu terus berjalan, pemain-pemain La Masia mulai meninggalkan Barcelona karena tergerus usia. Sergi Roberto merupakan nama terakhir yang pertama kali muncul pada awal 2010.

Setelahnya Barcelona lebih suka menempuh jalan yang lebih lazim. Belanja jorjoran demi memperkuat skuad.

Sayangnya, pola seperti itu tidak dapat dilakukan terus-menerus. Tuntutan finansial memaksa Barcelona lebih banyak mengalihkan pandangan ke La Masia. Keputusan itu pulalah yang pada akhirnya membukakan pintu bagi Oscar Mingueza untuk berlaga bersama tim utama.

****

Hukuman kartu merah yang didapatkan Gerard Pique serta cedera yang menimpa Samuel Umtiti adalah berkah untuk Mingueza. Berkat dua kejadian itu, ia melakoni debut bersama Barcelona pada 24 November 2020.

Tak tanggung-tanggung, Mingueza ditampilkan saat Barcelona melakoni laga Liga Champions melawan Dynamo Kiev. Tampil solid dengan Lenglet, Mingueza memberi kesan yang amat positif di laga debutnya. 

Pemain yang menggunakan nomor punggung 28 itu bisa mencatatkan enam intersep dan memenangi seluruh duel yang dihadapinya di laga tersebut. Jumlah itu menjadi yang tertinggi di antara semua pemain yang turun arena.

Sundulannya yang memanfaatkan sepak pojok juga menjadi assist yang membukakan jalan bagi Martin Braithwaite untuk mencetak gol. Dengan cara itulah ia berkontribusi langsung dalam kemenangan 4-0 Barcelona.

Bakat Mingueza terendus Barcelona sejak ia berusia 7 tahun. Semasa di tim junior Barcelona, Mingueza bahkan pernah menjadi salah satu kapten tim.

Kualitasnya sebagai pemimpin yang ditandai dengan keberaniannya untuk tampil vokal selama pertandingan membuat Mingueza diberi mandat besar oleh tim pelatih. Perpaduan skill dan jiwa kepemimpinannya bahkan mengingatkan suporter Barcelona akan keberadaan Carles Puyol.

Jangan lupa, Mingueza juga menjadi bagian Barcelona B menjadi juara UEFA Youth Cup 2017/18. Ia selalu tampil di semua pertandingan dan membuat Barcelona B cuma kebobolan lima kali sepanjang turnamen.

Faktor lain yang membuatnya bersinar adalah kedewasaannya di atas lapangan. Karakter ini membuat pelatih Barcelona B, Garcia Pimienta, semakin yakin dengan kemampuan Mingueza.

"Ketika mendapatkan kesempatan, Mingueza memanfaatkannya. Kedewasaanya meningkat dari sebelum-sebelumnya, itu juga yang membuat ia mudah berada di tim utama," ucap Pimienta.

Tak cuma Pimenta, Ronald Koeman yang memberi kepercayaan pada Mingueza juga puas dengan kinerjanya. Koeman memberikan pujian usai Mingueza menjalani debut bersama tim utama Barcelona.

"Mingueza bisa tampil lebih banyak sebagai bek tengah. Dalam debutnya ia menunjukkan bahwa dirinya pantas diperhitungkan. Dia memberikan impresi yang sangat bagus," puji Koeman dilansir Marca.

Semenjak itu, Mingueza terus mendapat tempat di skuad utama Barcelona. Cedera Pique dan inkonsistensi Lenglet menjadi berkah untuk pemain kelahiran 13 Mei 1999 itu.

Saat Koeman berganti pakem menjadi 3-5-2, Mingueza tetap mendapatkan tempat. Kemampuannya sebagai ball playing defender membuat Koeman menempatkannya di posisi bek tengah kanan.

Di sini, Mingueza bisa membuat Sergino Dest nyaman dalam melakukan serangan. Senjata lain yang dimiliki oleh Mingueza adalah passingnya yang akurat.


Sejauh ini Mingueza sudah bermain sebanyak 21 kali untuk Barcelona di La Liga. Rata-rata passing per laganya mencapai 57,7 dengan persentase suksesnya mencapai 92,6 persen.

Persentase passing sukses Mingueza cukup tinggi. Melebihi pemain-pemain di lini belakang lain semisal Lenglet atau Dest.

Usianya yang masih muda membuat Mingueza juga tampil agresif. Ia menjadi pemain Barcelona yang memiliki rata-rata tekel tertinggi di angka 2,1. Sementara, sapuannya di angka 1,8 dan intersepnya 0,8.

Mingueza bukan tipe bek tengah yang sangat mengandalkan kecepatan. Namun, ia pintar dalam menempatkan posisi. Tubuhnya yang kekar juga membantunya untuk memenangi duel.

****

Barcelona sangat getol untuk mendatangkan Eric Garcia dari Manchester City pada awal 2020/21. Keinginan ini wajar mengingat lini belakang Barcelona cukup renta dan rapuh. Akan tetapi, fulus yang minim menggagalkan transfer tersebut.

Kondisi tersebut membuat Koeman harus memercayai pemain-pemain mudanya masuk ke tim utama. Kabar baiknya, kepercayaan Koeman tak berubah menjadi petaka.

Beberapa pemain, termasuk Mingueza, menunjukkan pendarnya pada musim debut. Namun, kontrak Mingueza akan selesai pada akhir musim mendatang. Pertanyaannya: Seberapa panjang Barcelona harus berpikir untuk memperpanjang kontraknya?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.