Paris Saint-Germain x Air Jordan: Menerobos Era Kosmopolitan

Foto: Twitter @PSG_English

PSG membuktikan bahwa Air Jordan bukan hanya milik mereka yang berlaga di lapangan basket. Keputusan PSG untuk bekerja sama dengan Air Jordan barangkali menjadi ketidaklaziman. Namun, bukankah PSG selalu seperti itu?

Jika Coco Chanel membuat Prancis menandai kedatangan dan mengenang hidupnya dengan Chanel No.5, Paris Saint-Germain (PSG) menggandeng Jordan untuk membuat sepak bola Eropa berdecak kagum.

PSG memang menutup duel perdana mereka di Liga Champions 2018/19 dengan kekalahan 2-3 dari Liverpool. Namun, bisa jadi mereka yang menyaksikan pertandingan di Anfield pada 19 September 2018 itu tidak lupa dengan jersi para penggawa PSG.

Warna hitam-hitam dengan ornamen garis putih vertikal bukan pemandangan yang baru-baru amat. Namun, tunggu sampai kamu melihat bagian kanan atas jersi. Bukannya logo Nike, yang melekat di situ adalah emblem berbentuk orang melompat. Tentu saja itu bukan logo klub PSG. Itu adalah logo Air Jordan yang masyhur sejak era 1980-an.

13 September 2018, Nike merilis pengumuman kerja sama PSG dengan jenama milik legenda basket Michael Jordan itu. Itu berarti PSG menjadi klub sepak bola pertama di dunia yang menjalin kesepakatan bisnis dengan Jordan.

PSG bukan klub olahraga profesional pertama yang bermitra dengan Jordan. Adalah Charlotte Hornets, klub basket milik Michael Jordan, yang pertama kali memegang lisensi menggunakan logo orang melompat itu pada kostum tim. Kesepakatan tersebut dimulai pada 31 Juli 2017.

Michael Jordan yang merupakan pemilik jenama Air Jordan menyebut kerja sama dengan PSG sebagai keputusan natural: Jenama hebat akan berkawan dengan klub hebat. Sementara, pemilik PSG, Nasser Al-Khelaifi, memercayai kemitraan PSG dan Jordan sebagai cara mewujudkan ambisi mengawinsilangkan gaya, kinerja, dan inovasi.

Kesepakatan Air Jordan dan PSG meliputi pengadaan jersi, sneakers, kaos, jaket, hingga topi. Semuanya dibuat dengan menonjolkan tanpa saling memudarkan identitas masing-masing.

Kerja sama itu tetap berlanjut hingga 2021 ini. Pada 30 Januari 2021, PSG merilis kostum keempat musim 2020/21 berbarengan dengan sneakers terbaru, Air Jordan 1 Zoom. Beberapa bulan sebelumnya, kemitraan dengan Air Jordan menghasilkan kostum ketiga PSG yang berwarna merah anggur.

Kostum keempat PSG tersebut adalah kanvas bagi perpaduan warna hitam, hyper pink, dan pyschic purple. Kombinasi itu mengingatkan orang-orang akan warna-warna khas galaksi.

Desain ini menggabungkan garis leher Jordan Point of View (POV) dengan V-neck dan crew neck menjadi satu. Perpaduan ini menghidupkan garis desain baru yang mengadaptasi bentuk potongan berlian Jordan yang ikonik.

Air Jordan adalah perayaan terhadap kebebasan yang lahir dari kekangan. Cerita Air Jordan bermula pada 1984, ketika Jordan merengkuh musim yang gemilang bersama tim basket Universitas North Carolina.

Jordan yang dianugerahi Pemain Terbaik 1984 menjadi buruan Chicago Bulls. Setelah keduanya mengikat kerja sama, giliran Nike yang mencium potensi extravaganza.

CEO Nike waktu itu, Phil Knight, merancang strategi untuk membawa Jordan ke hadapan penggemar basket Amerika Serikat. Dari situ lahirlah seri sepatu yang tidak hanya membuat Jordan dikenal sebagai pebasket, tetapi juga jenama.

Masalahnya, keputusan bisnis itu tak disambut baik oleh para penggemar dan NBA. Jika para penggemar menganggap kombinasi warna hitam dan merah sepatu Air Jordan itu tidak cocok dengan kostum Bulls, NBA mengecam karena pemilihan warna itu dianggap melanggar regulasi bahwa warna sepatu pebasket harus putih.

Air Jordan dan Nike peduli setan. Denda 5.000 dolar AS yang dijatuhkan setiap kali Jordan mengenakan sepatu itu saat bertanding bukan persoalan besar.

Semakin dikekang, Air Jordan semakin berkembang. Knight malah memerintahkan timnya untuk mempromosikan sepatu Air Jordan secara besar-besaran. Iklan-iklan yang menangkap setiap detail pergerakan Jordan dengan sepatu itu saat bertanding ditampilkan di mana-mana.

Perlawanan Nike tidak sia-sia. Mereka menuai keuntungannya pada akhir 1980-an. Air Jordan menjadi buruan para penggila sang bintang Bulls.

Lalu sampailah kita di era ketika PSG membuktikan bahwa Air Jordan bukan hanya milik mereka yang berlaga di lapangan basket. Keputusan PSG untuk bekerja sama dengan Air Jordan barangkali menjadi ketidaklaziman. Namun, bukankah PSG selalu seperti itu?

Tadinya kaum kelas menengah atas dan intelektual Paris tak sudi memandang sepak bola. Orang-orang Paris akan memalingkan wajah dari tim lokal mereka karena sepak bola adalah olahraga rakyat kelas bawah. Mengakui diri sebagai pendukung klub asal Paris sama dengan mencoreng nama baik dan merendahkan martabat sendiri.

Namun, jangan lupa bahwa Paris ada di Prancis. Negeri ini adalah tanah yang selalu terbuka pada pembaruan. Di Prancis-lah, persisnya pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi dahsyat yang meruntuhkan tembok penjara Bastille yang selama 400 tahun lebih menjadi tempat raja menjebloskan musuh politiknya.

Rezim lama yang despotik dan bobrok tumbang. Prancis mengenang hari itu sebagai awal titimangsa yang baru. Hari bersejarah itu tidak hanya menginspirasi orang-orang di belahan negara lain melakukan gebrakan senapas. Ia juga membuat Prancis kerap melahirkan orang-orang merdeka yang merayakan hidup dengan melepaskan diri dari tatanan kolot.

Lihatlah bagaimana Chanel membebaskan perempuan-perempuan Eropa dari korset ketat yang sudah menyiksa sejak Era Victoria. Di negeri yang sama, Jacques Derrida menjungkirbalikkan tatanan filsafat dunia dengan teori dekonstruksinya dan Simone de Beauvoir menyerukan ide bahwa perempuan adalah manusia merdeka.

Perubahan dan pembaruan tak berhenti. Prancis menjadi negeri yang dicari orang. Generasi Terhilang yang merupakan veteran Amerika Serikat di Perang Dunia I memilih Paris sebagai tempat memulihkan diri. Di kota itulah Ernest Hemingway menulis novel yang diakui sebagai buku berbahasa Inggris terbaik yang pernah ada, The Sun Also Rises.

Dalam tarikan napas yang sama, Qatar Sports Investment (QSI) mencari orang yang membutuhkan kelahiran baru di Paris. Pada 2011, QSI membeli PSG dan membentuk klub itu sebagai Paris-nya sepak bola Prancis.

Gelontoran uang tersebut membuat PSG menjadi mansion bagi para pemain bintang. Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, David Beckham, Angel di Maria, Thiago Silva, Kylian Mbappe, hingga Neymar bergantian didatangkan.

Barangkali PSG tidak punya legenda yang membuat orang-orang menahan napas ketika berpapasan. Akan tetapi, QSI bisa mendatangkan Kylie Jenner, Jay-Z, Rihanna, Tyga, Kendall Jenner, Gigi Hadid, dan Kanye West duduk di tribune elite Parc des Prancis demi menyaksikan PSG berlaga.

Langkah tersebut diambil karena QSI tak mau membuat PSG sebagai sekadar klub sepak bola. Les Parisiens harus bisa menjadi Paris-nya sepak bola Prancis. Kebanyakan orang mungkin menganggap Paris sebagai kota romantis. Namun, Paris adalah kota kosmopolitan. Ia dihuni oleh orang-orang cerdas, peduli dengan karier, pemburu kesuksesan, dan melek teknologi.

Citra PSG seperti itulah yang ingin dibentuk oleh QSI. PSG harus ada dalam cerita orang-orang ketika mereka membicarakan Paris. PSG mesti menjadi klub yang tidak hanya diperbincangkan oleh para ultras dan atlet, tetapi juga para elite, selebritas, pebisnis, dan politisi.

Kiprah PSG bersama konglomerat Qatar itu dituding merusak sepak bola. Suntikan dana ekstravaganza memampukan PSG membayar gaji dan staf dengan harga selangit. Klub-klub lain akhirnya seperti dipaksa mengambil langkah serupa. Akibatnya, yang berjaya adalah mereka yang berkantong tebal. Mereka yang pas-pasan tak akan pernah dilirik oleh pesepak bola bertalenta.

Akan tetapi, sepak bola memang sudah berubah dari olahraga murni menjadi industri olahraga. Mereka yang tidak bisa beradaptasi akan sulit bertahan. PSG bukan klub seperti Manchester United, Bayern Muenchen, Real Madrid, Barcelona, atau AC Milan yang memiliki fondasi historis yang kokoh. Jika tidak dapat mencari cara, PSG habis sudah dilahap zaman.

Terlepas dari merusak sepak bola atau tidak, manuver demi manuver QSI membuat PSG sanggup menembus pasar dunia, dimensi yang awalnya tidak dapat dijangkau oleh klub tradisional Eropa seperti mereka.

Nike tahu betul bahwa mereka tidak akan bisa membuat orang-orang yang memakai Air Jordan menjadi Michael Jordan yang baru. Jordan adalah fragmen imajinasi tentang keberadaan manusia super bagi para penggemarnya.

Nike sadar benar bahwa tidak akan ada satu orang pun yang sanggup menjadi manusia super seperti Jordan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membuat orang-orang terhubung dengan Jordan.

Keterhubungan itu membuat Jordan lebih dari sekadar pebasket yang wajahnya mereka lihat saban hari pada poster yang ditempel di dinding kamar. Ikatan demikian membuat Jordan lebih dari sekadar bintang dan legenda yang cuma dapat mereka kagumi lewat televisi. Dengan mengenakan Air Jordan, orang-orang bisa mewujudkan imajinasi terliar untuk melangkah bersama sang manusia super.

Maka, ketika membuka Jordan Bastille pada 2016 dan bekerja sama dengan Federasi Bola Basket Prancis, Air Jordan merasakan sendiri kegigihan Paris untuk hidup sebagai kota yang mengakomodasi gejolak dan ambisi heroik kaum revolusioner.

Kerja sama PSG dengan Air Jordan merupakan salah satu revolusi yang terjadi di Paris. Keputusan ini menegaskan bahwa PSG dan Air Jordan sama-sama menolak stagnasi, enggan bergerak dalam pakem yang itu-itu saja.

PSG tak mau hanya menjadi klub sepak bola, Air Jordan tak puas cuma menjadi jenama yang tertutup untuk para pencinta basket. Di Kota Paris, keduanya menerabas kewajaran demi merengkuh sensasi yang belum pernah dibayangkan oleh siapa pun.

[MAS]

====

*Buat yang mau tahu lebih banyak soal jersey, lengkap dengan panduan fashion dan lifestyle-nya, bisa main-main ke KultureKit. Cek Instagram mereka di: @kulturekit.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.