Patson Daka: Bersemi di Atas Caci Maki

Foto: @PatsonDaka20

Patson Daka tak pernah berhenti meski caci maki datang bertubi-tubi. Bahkan sebelum benar-benar menjejak arena pertarungan, Daka sudah dimusuhi orang-orang Zambia, tempat ia lahir dan bersemi.

Pada 2010, Daka belum banyak mengerti dunia. Ia masih bocah 12 tahun yang hanya mengenal sepak bola sebagai olahraga menyenangkan, bukan dunia yang disesaki ekspektasi ratusan juta orang ambisius untuk meraih kesuksesan.

Daka kecil belum tahu jika sang ayah, Nathtali, kerap mendewakan dirinya kepada Direktur Kafue Celtic, Lee Kawanu. Kepada Kawanu, ia berkata bahwa Daka adalah pesepak bola berbakat. Daka, ucap Nathtali, dapat melakukan hal-hal hebat di lapangan. 

Namun, puja-puji Nathtali soal Daka hanya omong kosong di benak Kawanu. Bagi Kawanu, bualan Nathtali laiknya seorang ayah yang mencintai anaknya dengan sangat teramat. Daka dianggapnya medioker seperti bocah-bocah lainnya di akademi Kafue Celtic. 

Sampai akhirnya pandangan Kawanu berubah drastis dua tahun kemudian, saat melihat langsung pementasan Daka bersama Kafue. Penampilannya begitu mencolok untuk pemain usia 14 tahun. Kawanu tak menyangka Daka bisa menggunakan kaki kanan dan kiri dengan sama baiknya. 

"Sejak itu, saya bertanya kepada pelatih 'Siapa anak yang bertubuh sangat kecil dan kurus itu?' Pelatih bilang itu anak Nathtali. Saya langsung teringat kata-kata Nathtali. Namun, saya tidak bisa menghubunginya kembali karena Nathtali sudah berada di surga," ucap Kawanu kepada The Athletic

Nathtali meninggal dunia karena kecelakaan. Kepergiannya menjadi kehilangan terbesar dalam hidup Daka yang saat itu masih anak-anak. Dari mendiang sang ayah Daka mengetahui banyak hal soal sepak bola. Entah itu kemegahan stadion, cara menendang bola, maupun Liverpool.

Nathtali bukan sekadar orang tua yang mengajarkan tata krama dan sopan santun. Ia juga membangunkan bunga tidur dalam diri Daka tentang betapa indahnya sepak bola. Sejak kematian sang ayah, Daka menyandarkan diri kepada sepak bola. Ia melampiaskan nestapa dengan berlatih, berlatih, dan berlatih. Ia juga memuntahkan kesedihannya dengan berlari, berlari, dan menyepak bola.

Kerja keras Daka berbuah hasil. Daka sukses masuk tim utama Kafue Celtic setahun setelah Kawanu mencium bakatnya. Kendati belum mendapat menit bermain yang banyak, Daka mampu menyerap pengalaman-pengalaman seniornya.

Hingga kemudian Kafue Celtic meminjamkan Daka ke Power Dynamos. Di sana, ia banyak belajar, terutama soal bagaimana mental seharusnya tidak menjadi persoalan. Berbekal label pemain berbakat, Daka mulai merasakan atmosfer sepak bola yang sesungguhnya. Meski masih terlalu muda, ekspektasi pendukung Power Dynamos kelewat besar. Mereka berharap Daka hadir sebagai striker tajam yang haus gol.

Ekspektasi itu seketika berubah jadi petaka bagi Daka. Tidak banyak gol yang ia rangkum. Fans Power Dynamos kecewa bukan main. Mereka menuntaskan kekecewaan dengan beragam caci maki. Setiap Daka menggiring bola, umpatan demi umpatan dilontarkan, mulai dari cap pemain buruk-lah, striker mandul, sampai pemain gadungan.

Kebencian fans Power Dynamos makin meluas manakala Daka masuk skuad Timnas Zambia. Orang-orang menilai keberhasilan Daka hanya bersumber dari narasi orang-orang tua yang tidak tahu sepak bola. Seantero pencinta sepak bola Zambia pun melepaskan caci maki bertubi-tubi.

Ketika segalanya benar-benar memburuk, Daka mendapat kabar mengerikan. Sahabatnya, Changwe Kalale, yang selalu menepuk pundak dan berkata segalanya baik-baik saja, lumpuh karena kecelakaan bus.

Kepedihan demi kepedihan itu, kata Kawanu, yang membentuk gaya bermain Daka di lapangan: Keras, ambisius, dan tidak pantang menyerah. Ketika pemain merebut bola, Daka akan mengejar dan berusaha merebutnya.

"Seorang anak berusia 17 tahun dicemooh oleh negara dan dihina di media sosial sepanjang waktu. Tidak banyak orang yang bisa bangkit seperti dia. Sekarang sudah jelas, karakternya terbentuk dari caci maki yang dia dapatkan," ucapnya.

"Di Power Dynamos, meski dicemooh, musim berikutnya dia finis sebagai pencetak gol terbanyak di liga. Semua orang yang mencemoohnya meminta maaf padanya," kata Kawanu melanjutkan.

Kehebatan Daka mencetak gol terekam jelas manakala ia berhasil membawa Zambia U-20 menembus babak final Piala COSAFA U-20. Sejak itu, klub-klub eropa macam Lille dan Lyon menaruh minat kepadanya. Namun, Red Bull Salzburg-lah yang bergerak cepat mengamankan bakat Daka.

Terbang jauh-jauh dari Zambia menuju Austria, Daka menempa diri dengan sebaik-baiknya. Ia tidak hanya fokus mengasah insting mencetak gol, tetapi juga membentuk otot-otot di tubuhnya. Ia paham betul bahwa postur bisa menjadi persoalan jika tidak diasah dengan maksimal.

Daka tidak langsung bermain dengan Salzburg. Ia lebih dulu dipinjamkan ke FC Liefering. Di sana, ia terus dibenturkan dengan banyak hal. Hingga akhirnya ia terbentuk menjadi striker ganas dan bermain untuk Salzburg.

Musim 2020/21 menjadi momen terbaiknya. Daka mencetak 34 gol dalam 42 penampilan di lintas ajang. Titel top skorer dan pemain terbaik Liga Austria ia dapatkan, seiring dengan keberhasilan Salzburg menjadi kampiun delapan musim beruntun.

Kini Daka telah resmi bergabung dengan Leicester City. Ia menyusul Sadio Mane, Naby Keita, dan Takumi Minamino, para seniornya di Salzburg yang lebih dulu melancong ke Premier League. Daka nantinya juga menjadi salah satu dari empat pemain Zambia yang mentas di kompetisi nomor wahid Inggris itu.

Secara taktis, Daka bisa dibilang cocok dengan gaya main Leicester. Kecepatan dan ketajamannya bakal menjadi amunisi Brendan Rodgers yang hobi melancarkan counter attack. Lebih-lebih eks arsitek Swansea itu sekarang mengubah pakemnya ke dua penyerang. Daka akan berguna untuk meng-cover atau bahkan menggantikan Jamie Vardy serta Kelechi Iheanacho. Rodgers juga bisa memakai formasi 3-4-3 dengan Daka sebagai penyerang tengah. Nantinya, ia akan dihimpit oleh Iheanacho di sisi kanan dan James Maddison di sisi kiri.

Well, apa pun keputusan Rodgers musim depan, setidaknya lini depan Leicester semakin kaya alternatif. Kedalaman skuad ini menjadi penting mengingat The Foxes bakalan tampil di Liga Europa musim depan.


Tentu saja Premier League dengan segala tekanannya tak akan mudah buat Daka. Level mereka lebih tinggi dari segala kompetisi yang pernah ia lewati. Apakah itu berarti berujung kegagalan? Belum tentu. Daka punya potensi untuk terus bersemi, seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu saat ia berhasil mengalahkan cacian dan kepedihan hidup. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.