Pedang Bermata Dua Liverpool

Foto: LFC.

Laga vs Atletico menunjukkan hal positif dan negatif sekaligus bagi Liverpool. Positifnya soal aspek ofensif, negatifnya soal aspek defensif.

Atletico Madrid adalah lawan yang menyebalkan buat Liverpool.

Ini bukan hanya tentang fakta bahwa dari lima pertemuan melawan Atletico di Liga Champions, Liverpool cuma menang sekali. Ya, baru dini hari (20/10) tadi. Kemenangan 3-2 di Wanda Metropolitano itu adalah yang pertama kali.

Ini adalah soal bahwa secara permainan, Atletico merupakan tim yang amat bisa membuat Liverpool frustrasi. Permainan menunggu, garis pertahanan rendah, dan kompaksi di setiap lini adalah musuh bebuyutan Liverpool. Kita tahu bagaimana mereka kesulitan menghadapi tim-tim seperti ini musim lalu.

Di Premier League musim ini, Liverpool memang pernah menghadapi tim yang bertahan dengan dalam: Bermain low-block dan cukup compact. Tim yang dimaksud adalah Burnley dan Watford. Namun, jelas, level mereka jauh di bawah Atletico.

Menghadapi Burnley dan Watford, sih, Liverpool tak kesulitan. Bahkan tim yang disebut terakhir berhasil dibabat habis 5-0. Makanya, ketika menghadapi Atletico, itu adalah ujian tersendiri buat Liverpool: Apakah mereka bisa menembus garis pertahanan cukup dalam dan kompaksi yang berkualitas?

Sebelumnya, perlu dicatat bahwa Atletico memang luar biasa dalam urusan bertahan. Di La Liga, Atletico jadi tim dengan angka harapan kebobolan (xGA) paling kecil kedua (6,1). Ini menunjukkan betapa kukuhnya sistem pertahanan mereka.

Selain itu, Atletico adalah tim terbaik dalam urusan mengantisipasi lawan masuk ke kotak penalti mereka. Biasanya dengan shape 4-4-2 atau 5-3-2. Sejauh musim berjalan, cuma ada 113 sentuhan yang dilakukan lawan di dalam kotak penalti Atletico.

Tak cuma itu, Jan Oblak juga baru menghadapi 12 tembakan tepat sasaran sepanjang musim ini. Angka itu adalah yang terkecil (dan berarti yang terbaik) di La Liga. Diego Simeone masih tahu betul bagaimana caranya mengantisipasi serangan lawan.

Namun, kenyataannya, Liverpool bisa bisa. Kemenangan 3-2 atas Atletico menunjukkan bahwa pasukan Juergen Klopp sudah mampu membongkar pertahanan rapat lawan. Lantas, bagaimana caranya?

Yang pertama adalah dengan menaruh banyak pemain di sisi yang jadi pusat serangan Liverpool. Kecenderungan ada di sisi kanan (49% dari total serangan di laga tersebut), tempat Trent Alexander-Arnold (pemain paling kreatif) dan Mohamed Salah (pemain paling tajam) berada. Lihat pemetaan posisi pemain Liverpool ini.

Grafis: WhoScored

Memang Liverpool terkadang tidak mendapat situasi overload, tapi paling tidak mereka mampu mendapatkan situasi tak kalah jumlah dari pemain Atletico. Ini penting agar aliran bola terus terjaga dan selalu ada opsi umpan. Liverpool juga beruntung karena, secara kemampuan individu, Salah sulit dimatikan lawan.

Ketika menghadapi lawan yang bukan Atletico, situasi menambah jumlah pemain di lajur kanan ini amat menguntungkan Liverpool. Seringkali gol tercipta dari sini. Bukan kebetulan juga bahwa, di Premier League, serangan Liverpool 43% berasal dari sisi kanan.

Salah, Keita, TAA, & Henderson menopang sisi kanan Liverpool. Jarak 4 pemain itu selalu rapat.

Hal kedua yang dilakukan Liverpool untuk menghadapi lawan model begini adalah dengan rajin melakukan perpindahan bola cepat antarsisi (switch-play). Kenapa? Karena ini bisa membuat Liverpool berhasil menyerang di ruang kosong, mengingat lawan sudah fokus bertahan di area serangan awal.

Proses ini menghasilkan gol kedua yang dicetak oleh Naby Keita. Liverpool memindahkan jalur serangan mereka secara cepat dari kiri ke kanan. Kebetulan pula, Atletico memang buruk dalam menghadapi tim yang lihai melakukan switch-play cepat.

Atletico sudah mengantisipasi serangan di sisi kiri Liverpool.
Bola langsung dipindah ke kanan, ke TAA.

Sebab, Atletico acap terlalu fokus pada sebuah sisi dan meninggalkan lubang di sisi lain. Selain gol kedua Liverpool di laga dini hari tadi, gol kedua Villarreal di ajang La Liga bisa dijadikan contoh. Ini juga menyoroti bahwa pemain belakang Atletico tak cepat bergerak.

Hal ketiga yang dilakukan Liverpool adalah dengan menginstruksikan Sadio Mane untuk sering masuk ke area tengah. Pasalnya, Liverpool butuh pemain yang cepat dan liat untuk mengganggu bek tengah lawan. Mane adalah sosok yang tepat untuk melakukan itu.

Ini juga amat berguna ketika Liverpool sedang berada dalam fase transisi dan bertahan ke menyerang. Mane yang berada di tengah (dan biasanya tidak turun terlalu jauh ke bawah) akan siap menjadi penerima umpan. Pergerakannya bisa bikin bingung pemain belakang lawan.

Saat transisi, Mane akan menempatkan diri di tengah (antara 2 CB lawan).

Liverpool beberapa kali mendapatkan peluang dalam situasi seperti ini. Bahkan mendapat sebuah gol kala menghadapi Manchester City. Di laga vs Atletico sendiri, penempatan posisi Mane di tengah ini juga berkontribusi ke gol kedua yang dicetak Keita.

Mane masuk ke tengah kotak penalti.

Klopp sudah mengerjakan PR-nya musim lalu. Masalah yang membuat mereka kehilangan banyak poin sudah mulai teratasi. Ini bekal yang bagus untuk menghadapi Manchester United di laga lanjutan Premier League. Namun, bukan berarti masalah Liverpool selesai. Mereka punya pedang bermata dua.

Laga vs Atletico menunjukkan bahwa mereka punya masalah lain yang tak kalah krusial. Ini menyoal pertahanan. Laga itu menunjukkan bahwa Liverpool amat rentan menghadapi serangan balik, terutama yang diawali umpan lambung lawan.

Masalah ini sebenarnya sudah terlihat di laga vs Burnley. Namun, kualitas pemain depan Atletico yang lebih baik membuat borok Liverpool ini benar-benar terekspos. Peluang emas Atletico yang didapat Antoine Griezmann dan Joao Felix, ya, muaranya dari sini.

Griezmann sudah unggul langkah dari Van Dijk.

Atletico cerdik karena mereka tak asal melepas umpan lambung. Ketika melepas umpan lambung, mereka tak mengincar area tengah (area di antara Joel Matip dan Virgil Van Dijk), tapi area di tepi (di antara bek dan full-back, harusnya) dua bek tengah Liverpool itu.

Kenapa Atletico melakukannya? Itu karena, dengan memberikan bola tidak ke tengah, mereka bisa menarik Matip dan Van Dijk melakukan gerak melebar. Dengan itu, ruang di tengah kosong. Ini bisa dimanfaatkan pemain lain atau pemain yang sedang memegang bola, mengingat mereka punya kecepatan.

Felix dapat peluang setelah menerima umpan lambung di sisi kanan luar pertahanan Liverpool.

Memang, dalam mode menyerang, pertahanan Liverpool akan menyisakan dua bek tengahnya saja. Dan dua bek tengah itu berdiri di garis pertahanan tinggi. Ini jelas meninggalkan ruang di belakang mereka yang kapan saja bisa dieksploitasi lawan. Van Dijk dan Matip sebenarnya bukan bek yang lambat, mereka acap menang di situasi ini.

Namun, kecepatan pemain Atletico plus kejelian mereka dalam mengambil posisi dari samping membuat Van Dijk dan Matip harus bergerak melebar dulu, dan itu sering bikin mereka kalah langkah. Ini yang harus diperhatikan dan diperbaiki oleh Klopp. Dan kita tau itu juga pernah terlihat di laga vs Aston Villa musim lalu, saat Liverpool keok 2-7.

Terlebih, mereka akan melawan United. Kita tahu bahwa United cukup bagus di situasi transisi dan mereka acap mencetak gol via umpan direct cepat dari bek ke pemain depan. Gol Marcus Rashford setelah menerima umpan dari Victor Lindeloef di laga vs Leicester akhir pekan lalu adalah salah satu contohnya.

Apabila masalah tidak segera diatasi, Liverpool bisa kecolongan lagi via situasi tersebut. Mengingat laju mereka sedang bagus-bagusnya, belum pernah kalah di seluruh kompetisi, The Reds harus fokus untuk membalikkan mata pedang yang menancap ke diri mereka sendiri.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.