Pelajaran Hidup Hakim Ziyech

Ilustrasi: Arif Utama.

Lini depan Chelsea tak ubahnya kepingan-kepingan puzzle, Hakim Ziyech-lah yang akan menyusunnya menjadi gambar yang utuh.

Hakim Ziyech tahu betul bagaimana rasanya jatuh dan kehilangan. Dia juga tahu bagaimana caranya untuk bangkit dari masa-masa yang amat kelam.

Ziyech lahir dan tumbuh di Dronten, Belanda. Kotanya tidak besar, hanya sekitar 40.000 orang yang jadi penghuninya. Andai penduduknya memenuhi Johan Cruijff Arena (yang berkapasitas 55.500 tempat duduk), seluruh kota bakal kosong.

Ziyech adalah anak terakhir dari sembilan bersaudara. Ibunya berasal dari Maroko dan ayahnya Belanda. Namun, sedari kecil Ziyech sudah melewati masa-masa yang sulit.

Pada usia 10 tahun, Ziyech sudah kehilangan figur ayah. Penyakit Multiple Sclerosis --gangguan saraf pada otak, mata, dan telinga-- menggerogoti tubuh ayahnya. Ayah Ziyech tak bisa berjalan, makan, hingga berbicara.

"Aku ingat dengan baik, saat itu musim dingin. Ayah tidur di tempat tidur ruang tamu, dia memang sudah sakit dan kondisinya terus memburuk. Aku harus tidur tetapi aku ingin tetap bersamanya," cerita Ziyech dalam wawancara dengan Koran Belanda, De Volskrant.

"Tengah malam, aku terbangun dan pindah ke kamar. Beberapa jam kemudian, aku mendengar anggota keluargaku menangis di lantai bawah. Aku pergi ke ruang tamu dan melihat ayahku sudah meninggal," lanjutnya.

Lihat postingan ini di Instagram

❤️

Sebuah kiriman dibagikan oleh Hakim Ziyech (@hziyech) pada

Kepergian sang ayah membuat Ziyech dan keluarga sangat terpukul. Ibunya harus membesarkan Ziyech dan delapan saudaranya sendirian. Ziyech juga putus sekolah dan berhenti dari dunia sepak bola setelah ayahnya pergi.

Beruntung, Ziyech bertemu Aziz Doufikar yang membantunya bangkit dari keterpurukan. Doufikar sendiri merupakan pesepak bola asal Maroko yang bermain di Belanda.

Pada usia 13 tahun, Ziyech tinggal dengan Doufikar. Saat itu, Ziyech sudah kembali bersekolah dan bermain sepak bola.

"Ziyech tinggal denganku dalam jangka waktu yang lama. Dia berlatih dengan putraku dan mereka pergi ke sekolah bersama-sama," kenang Doufikar.

"Dia dibesarkan di keluarga miskin, dan mengalami guncangan hebat setelah kematian ayahnya. Namun, dia bisa membebaskan diri dari keterpurukan dan kembali berjuang untuk membantu keluarganya," tambahnya.

***

Ziyech memulai kariernya bersama tim muda Heerenveen. Pelatih tim muda Heerenveen saat itu, Hans de Jong, kepincut dengan bakat yang dimiliki oleh Ziyech. Bahkan, De Jong memainkan Ziyech bersama pemain lain yang umurnya lebih tua. De Jong paham, Ziyech terlalu bagus bila bermain dengan anak-anak seusianya.

De Jong juga yang merotasi posisi Ziyech. Tak melulu main sebagai gelandang serang, Ziyech diminta untuk bermain di posisi sayap atau gelandang yang lebih bertahan.

"Ziyech tak puas dengan peran yang saya berikan. Namun, saya tahu apa yang saya lakukan akan menguntungkannya ketika dewasa nanti," ujar De Jong seperti dilansir Sky Sports.

Ziyech akhirnya melakoni debut dengan tim utama Heerenveen pada Agustus 2012. Ketika berusia 19 tahun, Ziyech menjadi starter pada laga melawan Rapid Bucuresti di babak kualifikasi Liga Europa. Delapan hari kemudian, Ziyech melakoni debut di Eredivisie kala Heerenveen bertanding menghadapi NEC Nijmegen.

Total, Ziyech bermain 46 kali bersama Heerenveen di semua kompetisi. Pemain kelahiran 19 Maret 1993 itu membuat 13 gol dan 11 assist untuk De Superfrizien.

Pada 2014/15, Ziyech memutuskan angkat kaki dari Heerenveen. Pemain yang kini membela Timnas Maroko itu memilih FC Twente sebagai destinasi selanjutnya.

Ziyech datang saat Twente tak baik-baik saja. Jawara Eredivisie 2010 itu mengalami krisis keuangan. Bahkan dua pemain bintangnya, yaitu Quincy Promes dan Dusan Tadic, kudu dijual.

Namun, itu bukan masalah bagi Ziyech. Pada musim pertamanya, Ziyech langsung memberikan kontribusi yang maksimal. Ada 13 gol dan 15 assist yang Ziyech berikan kepada Twente. Ziyech pun menjadi penyumbang assist terbanyak di Eredivisie pada musim tersebut.

Pada musim kedua, Ziyech mendapat kepercayaan lebih. Tak tanggung-tanggung, ia dipercaya menjadi kapten di Twente. Namun, ban kapten tersebut hanya melingkar di lengan Ziyech selama setengah musim.

Gara-gara terlalu keras mengkritik klub, dan keinginan untuk pindah pada akhir musim, Ziyech kehilangan ban kapten pada Januari 2016. Twente pun tak punya pilihan lain. Pada akhir musim, mereka benar-benar melego Ziyech ke klub lain --tepatnya ke Ajax.

Bersama Ajax inilah karier Ziyech makin mentereng. Total, ada tiga gelar juara --Eredivisie, KNVB Beker (Piala Belanda), dan Piala Super Belanda-- Ziyech sumbangkan selama bermain untuk Ajax. Ziyech juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Eredivisie pada tahun 2018.

Ziyech memproduksi 48 gol dan 82 assist dalam 165 penampilan bersama Ajax. Ia menjadi bagian dari skuat asal Amsterdam itu yang sukses melaju ke semifinal Liga Champions 2018/19. Kehebatan Ziyech makin santer.

Tim-tim besar Eropa pun kepincut. Akhirnya, Chelsea-lah yang beruntung mendapatkan tanda tangan Ziyech.

The Blues mengeluarkan uang sebesar 36 juta poundsterling untuk mendapatkan Ziyech. Kesepakatan terjadi di Februari 2020, tetapi Ziyech baru bisa bermain untuk Chelsea pada musim 2020/21.

***

Ziyech biasa bermain di posisi sayap kanan. Musim lalu, Ziyech tampil 20 kali di posisi tersebut dan mampu membuat 6 gol dan 8 assist. Akan tetapi, kecepatan bukan senjata yang dimiliki oleh Ziyech. Ia juga tak piawai menyisir bagian tepi penyerangan.

Ziyech justru akan bergerak ke dalam dan memberikan ruang untuk bek sayap naik. Dalam posisi seperti ini, Ziyech memiliki banyak opsi untuk memberikan umpan atau melakukan tembakan langsung ke gawang.

Jangan lupa, passing merupakan senjata andalan Ziyech. Ia sukses membuat 12 assist di ajang Eredivisie musim lalu. Selain itu, ia juga mengkreasikan 78 peluang pada kompetisi yang sama. Kalau mengingat ia tampil sebanyak 21 kali musim itu, berarti ada 3,7 peluang ia buat per laga.

Untungnya, meski termasuk arketipe gelandang yang piawai membuat peluang dan mengorganisir serangan, Ziyech bukan pemain yang malas. Ia rela turun ke belakang untuk membantu timnya bertahan. Sebagai catatan, Ziyech bisa membuat 38 tekel dan 10 intersep bersama Ajax di musim lalu.

Selain di posisi sayap, Ziyech juga mahir bermain di posisi “nomor 10”. Di sini, Ziyech memiliki teritori yang luas untuk bisa mengkreasikan serangan. Dengan kemampuan passing yang mumpuni itu tadi, Ziyech bisa menciptakan situasi yang berbahaya di depan gawang lawan.

Nah, kehadiran Ziyech di musim ini memberikan variasi di lini serang Chelsea. Bersama Kai Havertz, Christian Pulisic, dan Timo Werner, lini depan Chelsea terlihat menakutkan. Keempatnya punya atribut dan skill-set yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mestinya Chelsea bisa memiliki variasi permainan yang beragam di lini depan.

Terlebih, keempat pemain ini bisa bergerak dinamis untuk mengisi pos satu sama lain. Dengan begitu, passing satu sentuhan dan pergerakan tanpa bola, yang akan menambah kreativitas serangan Chelsea, bukannya tak mungkin mereka peragakan.

Sampai saat ini, Ziyech merupakan penyumbang assist terbanyak Chelsea dengan torehan tiga. Boleh dibilang, dialah yang menjadi penyusun dari kepingan puzzle di lini depan The Blues.

Lihat postingan ini di Instagram

Great team effort and well deserved win. Focus on Saturday

Sebuah kiriman dibagikan oleh Hakim Ziyech (@hziyech) pada


Opsi lain yang bisa Ziyech berikan untuk Chelsea adalah umpan silang. Saat melakukan cut-inside, gelandang 27 tahun itu bisa bervariasi dengan melakukan umpan silang. Toh Chelsea juga memiliki penyerang-penyerang berpostur menjulang seperti Tammy Abraham dan Olivier Giroud.

Kehadiran Ziyech juga bisa membuat bek-bek sayap Chelsea makin agresif. Reece James atau Cesar Azpilicueta yang berada di bek sayap kanan akan sering mendapatkan ruang untuk membantu serangan. Sejauh ini, keduanya sudah membukukan 3 assist untuk Chelsea di semua kompetisi.

Pada laga melawan Sheffield United, Minggu (8/11) dini hari lalu, Ziyech mempertontonkan kualitasnya. Permainan Ziyech pada laga tersebut amatlah simple. Alih-alih melakukan dribel, ia memilih untuk segera memberikan bola kepada rekannya yang sudah bergerak ke daerah yang kosong.

Selain dua assist, Ziyech juga membuat 6 umpan kunci pada laga yang dimenangi Chelsea dengan skor 4-1 tersebut.

Sekarang, pendukung Chelsea tinggal menunggu konsistensi dari permainan Ziyech. Tentunya juga berdoa agar Ziyech terus fit dan tak terganggu dengan cedera.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.