Penalti Tidak Jatuh dari Langit

Foto: @ManUtdInPidgin

Penalti tidak jatuh dari langit. Ia bisa diciptakan. Penalti adalah hasil dari sebuah proses; entah itu serangan balik yang dikoordinasi dengan baik, entah itu keuletan dalam melakukan dribel di dalam (atau ke area) kotak penalti lawan.

Manajer Liverpool, Juergen Klopp, bikin ramai dunia sepak bola setelah berkomentar begini: "Saya mendengar bahwa Manchester United mendapat lebih banyak penalti dalam dua tahun daripada yang saya dapatkan dalam lima setengah tahun (bersama Liverpool). Saya tidak tahu apakah itu salah saya, atau bagaimana itu bisa terjadi." 

Klopp berkomentar demikian setelah timnya kalah dari Southampton akhir pekan lalu. Ia melakukan protes atas kepemimpinan wasit Andre Marriner setelah timnya tak mendapatkan penalti ketika Sadio Mane dijegal Kyle Walker-Peters. Lantas dia membandingkan timnya yang tidak dapat penalti malam itu dengan Manchester United, tim dengan catatan dapat penalti terbanyak di Premier League dalam dua musim terakhir.

Namun, di tulisan ini, kami tidak akan membahas soal komentar Klopp itu. Kami justru ingin melihat bagaimana sebuah tim bisa unggul dalam jumlah mendapatkan penalti ketimbang tim-tim lainnya. Apakah ada sebuah pola atau statistik yang mirip antara tim-tim yang sering dapat penalti? Atau, apakah ini adalah situasi yang tak bisa dihitung pakai angka --atau katakanlah "jatuh dari langit"?

Kalau ternyata jumlah penalti bisa diciptakan dan tidak didapatkan hanya dari faktor keberuntungan saja, tentu rasa iri hati seperti yang diutarakan Klopp bisa dikurangi. Sebab, setiap tim harusnya bisa menduplikasi untuk mendapatkan sebanyak mungkin, bukan?

***

Manchester United, sejak musim 2019/20, total medapatkan 20 penalti. Jumlah itu terbanyak di Premier League dan dua kali lipat dibanding yang didapatkan Liverpool pada periode yang sama. Raihan United juga unggul tiga angka dari raihan Leicester, yang total mendapatkan 17 penalti sejak musim lalu dan jadi terbanyak kedua.

Lalu, apakah ada persamaan dari Leicester dan Manchester United sehingga mereka bisa lebih sering mendapatkan penalti ketimbang klub lain? Jawabannya, tentu saja ada. Yang pertama ada di faktor kualitas peluang dalam proses counter attack atau serangan balik.

Berdasarkan catatan Twenty3 Sports, Leicester menjadi tim dengan expected goal (xG) tertinggi dari situasi serangan balik sejak musim lalu. Mereka mencatatkan angka 10,29 xG dari serangan balik. Sementara itu, Manchester United ada di peringkat kelima dengan 6,66 xG dari situasi serupa.

Tingginya xG dari serangan balik inilah yang menyebabkan kedua kesebelasan bisa mendapatkan lebih banyak penalti. Mengapa? Karena serangan balik bisa membuat bek lawan berada dalam posisi yang lebih inferior, baik secara jumlah maupun penempatan posisi. Tengok saja bagaimana penalti yang didapatkan Leicester City kala Jamie Vardy dilanggar Kyle Walker ini.

Harvey Barnes yang sedang membawa bola berhasil menarik perhatian Eric Garcia yang berada tepat di depannya. Sementara tiga pemain belakang City lainnya masing-masing juga mengawal satu pemain Leicester. Ruang di belakang Garcia kemudian dimanfaatkan oleh Vardy. Sang striker bergerak ke sana dan tak bisa dikejar oleh Ake, hingga pada akhirnya dilanggar oleh Walker. Penalti buat Leicester.

Gol Vardy tadi hanya salah satu contoh bagaimana sebuah serangan balik yang diinisiasi dengan baik bisa meningkatkan probabilitas meraih penalti. Jika melihat statistik lebih jauh, tim dengan catatan xG serangan balik tertinggi selain Leicester dan United juga punya catatan mendapatkan penalti yang banyak.

Manchester City yang punya catatan 7,73 xG dari serangan balik (tertinggi kedua), misalnya. Sejak musim lalu, mereka sudah mendapatkan total 14 penalti. Sementara Chelsea, yang punya catatan 7,18 xG (tertinggi kedua), berhasil mendapatkan total 12 penalti. Sementara itu, Liverpool sama sekali tak masuk dalam 5 besar tim dengan catatan xG via serangan balik terbaik di Premier League.

Memang, tak sekadar serangan balik saja yang membuat United, City, atau Chelsea jadi sering mendapatkan penalti. Ketiga tim itu juga memiliki pemain-pemain dengan kualitas bagus dan gemar melakukan dribel. Dari daftar 20 pemain dengan total dribel per 90 menit terbanyak di Premier League musim ini, ada nama-nama seperti Christian Pulisic, Marcus Rashford, Riyad Mahrez, atau Anthony Martial yang merupakan pemain-pemain dari klub yang disebutkan di atas.

Inilah yang membedakan tim-tim itu dengan, misalnya, Crystal Palace. Tim asuhan Roy Hodgson tersebut memang punya catatan 7,02 xG via serangan balik. Akan tetapi, sejak musim lalu, Palace cuma mampu mendapatkan total enam penalti saja. Alasannya tentu karena di kubu Palace, praktis hanya Wilfried Zaha yang secara individual punya potensi untuk sering dilanggar lawan.

Manchester United sendiri memiliki dua, yakni Rashford dengan catatan 4,7 dribel per 90 menit (tertinggi ke-7 di Premier League) dan Martial dengan angka 4,1 (tertinggi ke-16). Sekadar catatan, sejak musim lalu, Rashford dan Martial sudah menghasilkan 14 penalti untuk United. 14 penalti itu empat angka lebih banyak dari raihan Liverpool.

'Iblis Merah' diuntungkan karena dua pemain itu tak hanya sekadar melakukan dribel saja, tapi juga menyadari pentingnya melakukan dribel secara vertikal di (atau ke dalam) kotak penalti lawan. Tengok saja bagaimana penalti yang didapatkan United dalam laga vs Spurs musim lalu. Kejadiannya bermula dari dribel Rashford yang menusuk ke dalam kotak penalti sebelum akhirnya dilanggar oleh Sissoko.

United kebetulan juga jadi tim dengan catatan presentase take-on (upaya dribel melewati lawan) sukses tertinggi di antara tim-tim papan atas Premier League lain seperti Chelsea, Liverpool, City, atau Leicester. United mencatatkan 59,73% take-on sukses musim ini dan catatan itu juga bisa jadi penguat di balik keberhasilan mereka banyak mendapatkan penalti.

Soal lain yang menguntungkan United adalah bahwa ketika berada di sepertiga akhir area lawan, mereka tak punya sistem yang ajeg. Atau, mengutip kata Rossi Finza Noor, "hanya bergantung pada aksi individu". Inilah yang membuat Rashford atau Martial jadi gemar (dan lebih bebas) melakukan dribel.

Bandingkan, misalnya, dengan Liverpool yang lebih sistemis dalam urusan menyerang. Sadio Mane atau Mohamed Salah tak bisa seenaknya melakukan dribel. Itu bisa membuat Liverpool mudah kehilangan bola dan tentu saja itu tak disukai Klopp. Mane memang mencatatkan 4,3 dribel sukses per 90 menit. Namun, Salah cuma mencatatkan angka 3,3. Angka itu tak membawa Salah menembus 30 besar pemain dengan dribel terbanyak per 90 menit di Premier League.

Tak hanya di Premier League, di Serie A ada Juventus yang juga catatan penalti dan catatan dribelnya berkorelasi. Sejak musim lalu, Cristiano Ronaldo dkk. sudah mendapatkan 19 penalti dan sejak musim lalu pula mereka selalu berada dalam daftar 3 besar tim dengan catatan dribel terbanyak per 90 menit di Serie A. Musim ini, Juventus bahkan mencatatkan 19 dribel per 90 menit (terbanyak) dan sudah mendapatkan 5 penalti (terbanyak ke-2).

Juventus juga diunggulkan karena mereka punya pemain-pemain seperti Ronaldo, Federico Chiesa, dan Paulo Dybala yang doyan melakukan dribel. Ketiganya masuk dalam daftar 20 pemain dengan catatan dribel terbanyak per 90 menit musim ini.

Korelasi antara tim yang andal melakukan serangan balik dengan jumlah penalti yang didapatkan juga terlihat di Serie A. AC Milan adalah buktinya. Milan, sejauh ini muncul sebagai tim dengan catatan terbaik kedua dalam hal serangan balik (berdasarkan gol yang dicetak) dan tak usah heran jika melihat mereka sudah mengoleksi 10 penalti musim ini.

Oleh karena itu, agak kurang tepat jika ada yang menghitung probabilitas penalti berdasarkan jumlah sentuhan di dalam kotak penalti lawan saja. Sebab, tim di Premier League, tim seperti Liverpool atau City yang superior dalam hal itu, tak mendapatkan penalti lebih banyak ketimbang tim yang lebih inferior dalam hal sentuhan di dalam kotak penalti lawan seperti United dan Leicester.

Sekadar catatan saja, musim lalu Salah jadi pemain dengan sentuhan terbanyak (248) di dalam kotak penalti lawan. Kemudian Roberto Firmino (184) ada di urutan empat dan Mane di urutan enam (164). Namun, sepanjang musim, Liverpool cuma mendapat lima penalti.

***

Penalti tidak jatuh dari langit. Ia bisa diciptakan. Penalti adalah hasil dari proses melancarkan serangan balik dengan sempurna, proses pemain melakukan dribel di dalam (atau ke area) kotak penalti lawan. Meski, sepak bola juga tak pernah lepas dari yang namanya keberuntungan.

Namun, seperti kata orang-orang bijak: Mereka yang beruntung adalah mereka yang berusaha...

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.