Pertaruhan Tammy Abraham

Foto: Twitter @ASRomaEN.

Menurut Jose Mourinho, para pemain Inggris yang memilih untuk berkarier di luar Inggris adalah orang-orang pemberani. Mereka mau mempertaruhkan kariernya untuk membuktikan diri. Tammy Abraham salah satunya.

Kadang, hidupmu baik-baik saja sampai kemudian kepak kecil sayap kupu-kupu mengubah arah angin. Pelan-pelan, ia menjadi reaksi berantai dan hidupmu tak pernah sama lagi.

Bagi Tammy Abraham, yang namanya hidup itu adalah Chelsea sendiri. Sebagai anak seorang imigran yang lahir di Camberwell, 12 kilometer dari tempat The Blues berbasis, impian adalah apa yang ia dan keluarganya pegang erat-erat.

Ayah Abraham memutuskan bermigrasi ke Inggris dari Bayelsa State, Nigeria, dengan tujuan yang tidak muluk-muluk, tetapi juga sedikit bertaruh: Supaya penghidupan keluarganya menjadi lebih baik.

Abraham dan sang adik, Timmy Abraham, pun mulai menggeluti impian mereka sedari kecil pada tanah asing untuk sang ayah itu. Jika Abraham mulai mengayuh mimpi dengan bergabung dengan Chelsea, Timmy bergabung dengan sang tetangga, Fulham.

Datang sebagai pemain untuk tim U-8 Chelsea, Abraham menaiki tangga setapak demi setapak hingga akhirnya menjadi pemain di tim utama. Satu yang para pendukung Chelsea kenali darinya adalah bagaimana Abraham adalah striker yang produktif, terlepas dari usianya yang masih muda.

Dua masa peminjaman—dari total tiga—yang ia dapatkan dari 2016 hingga 2019 berjalan sukses. Di Bristol City, ia mencetak 23 gol dari 41 laga di Championship. Sementara di Aston Villa, pada liga yang sama, ia mencetak 25 gol dalam 37 pertandingan.

Produktivitas Abraham itu tidak lepas dari karakteristiknya sebagai striker. Kendati memiliki cukup mobilitas, kenyataannya ia adalah tipikal striker yang lebih sering melepaskan sepakan dari dalam kotak penalti.

Catatan spot tembakannya sepanjang musim 2019/20 dan 2020/21* memperlihatkan bagaimana hanya sekitar 10 tembakan yang ia lepas dari luar kotak penalti. Terlepas dari sepakannya tak melulu berasal dari area tengah—beberapa berasal dari bagian tepi di dalam kotak penalti—terlihat jelas bahwa ia lebih nyaman melakukan penyelesaian dari dalam boks.

Area spot tembakan Abraham sepanjang musim 2019/20 dan 2020/21. Sumber: Understat.

Dengan kebiasaan seperti itu, semestinya Abraham masih bisa memberikan opsi terhadap lini depan Chelsea. Namun, Thomas Tuchel, yang baru datang pada Januari 2021, berpendapat lain.

Awalnya, hidup Abraham tenang-tenang saja. Ketika Chelsea mendapatkan larangan transfer dan harus berpaling kepada pemain-pemain muda mereka pada musim perdana Frank Lampard, Abraham menerima kesempatan yang datang dengan tangan terbuka.

Ia lantas membayar kepercayaan itu dengan amat meyakinkan: Mencetak 15 gol dalam 34 pertandingan di Premier League. Musim berikutnya, seiring dengan surutnya performa Chelsea—dan didepaknya Lampard dari kursi pelatih—jalan nasib Abraham berubah.

Tuchel jelas tidak memandangnya sebagai salah satu opsi penting. Baginya, Abraham adalah cup striker semata. Maka, tak ada jalan selain menerima uluran tangan yang menawarkannya untuk meninggalkan Stamford Bridge. Tangan itu adalah tangan AS Roma.

Pada 17 Agustus 2021, ia resmi merampungkan kepindahannya ke Roma setelah kesebelasan ibu kota tersebut membayar 34 juta poundsterling kepada Chelsea. Jose Mourinho langsung mengumbar pujian. Baginya, pindah ke luar negeri adalah pertaruhan sepadan untuk pemain Inggris mana pun.

“Kamu meninggalkan Premier League karena kamu ambisius, karena kamu ingin kembali ke tim nasionalmu, karena kamu ingin bermain di Piala Dunia dan meraih keberhasilan di luar Inggris, di mana tidak banyak pemain Inggris memiliki karier yang brilian,” kata Mourinho.

Sebagai orang yang cerewet dan tidak jarang mengeluh ketika aktivitas transfer timnya tidak memuaskan, Mourinho senang dengan apa yang dikerjakan oleh I Lupi.


Timnya, kata pria asal Setubal itu, memang tidak memiliki pengalaman sebaik AC Milan—yang mempunyai Zlatan Ibrahimovic dan Olivier Giroud—atau pemain-pemain yang sudah established seperti Juventus dengan Cristiano Ronaldo-nya. Namun, Mourinho menyebut timnya memiliki banyak potensi.

Mengingat Mourinho bakal bermain dengan 4-2-3-1, Abraham bakal bermain sebagai penyerang tunggal di lini depan Roma. The Special One beruntung langsung mendapatkannya begitu Edin Dzeko pindah ke Inter; sebuah transfer yang ia sebut cukup mengejutkan.

Dengan Abraham sebagai striker tunggal, besar kemungkinan tiga posisi di belakangnya bakal ditempati oleh Henrikh Mkhitaryan, Lorenzo Pellegrini, dan Nicolo Zaniolo. Dengan catatan 2,23 umpan kunci per 90 menit sepanjang Serie A 2020/21, Pellegrini kemungkinan besar bakal bermain tepat di belakang Abraham dan menjadi penyuplai.

Ini bukan pertama kalinya Abraham bermain sebagai striker tunggal di depan seorang gelandang kreator. Di Chelsea, ia juga pernah merasakannya ketika bermain di depan Mason Mount. Ia masuk ke dalam kategori gelandang kreator karena torehan 2,71 umpan kunci-nya per 90 menit selama 2020/21 terbilang tinggi.

Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan mobilitas gelandang-gelandang di belakang Abraham. Baik Mkhitaryan maupun Zaniolo bisa melakukan run in behind dengan memanfaatkan kemampuan Pellegrini melepaskan operan atau terfokusnya bek lawan pada penempatan posisi atau pergerakan Abraham.

Untuk melakukannya, keempat pemain depan Roma tersebut harus nyetel dengan baik. Syarat lainnya terletak pada work rate sang striker. Ia harus mau melakukan kerja-kerja selain mencetak gol, entah itu turun ke lini kedua atau melakukan off the ball movement untuk mengkreasikan ruang.

Aspek lain yang perlu disimak adalah apakah Abraham juga bisa bekerja sebagai pemberi operan kepada rekannya yang naik dari lini kedua. Dzeko, sebagai striker, masih bisa membuat 1,42 umpan kunci per 90 menit pada Serie A 2020/21. Sementara, Abraham 0,79 umpan kunci per 90 menit. Tidak buruk, tetapi jelas mesti ada aspek yang perlu diasah di sesi latihan.

Lantas, bukan kebetulan juga sejumlah striker yang pernah bekerja di bawah Mourinho biasanya memiliki dinamisme atau work rate yang bagus. Didier Drogba di Chelsea seperti itu, begitu juga Harry Kane di Tottenham Hotspur. Oleh Mourinho, Kane diberi tugas untuk sering-sering turun ke lini kedua. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat Kane jadi cukup sering mengkreasikan peluang dan mencetak assist selama 2020/21.

Abraham, sekalipun lebih sering melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti dan bisa dibilang tak memiliki work rate sebagus Drogba atau Kane, nyatanya masih mau melakukan kerja-kerja lain, terutama yang erat kaitannya dengan aspek defensif.

Per catatan Fbref dalam 365 hari terakhir—yang artinya data kebanyakan diambil ketika Abraham masih memperkuat Chelsea—striker 23 tahun itu cukup sering melakukan pressing di attacking third dan middle third. Rata-rata, Abraham melakukan 7,02 pressures di attacking third dan 5,74 di middle third. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa ketika bicara soal memberikan tekanan terhadap lawan, Abraham tidak hanya bekerja di seputaran area serang, tetapi juga area sentral lapangan.

Ini belum termasuk dengan rata-rata keberhasilannya melakukan intersep per 90 menit yang mencapai 0,2, angka yang tidak terlalu buruk untuk seorang penyerang.

***

Ketika hidup hanya memberimu segelintir pilihan untuk bertahan, yang biasanya bisa kamu lakukan adalah berpikir keras bagaimana memaksimalkan pilihan yang sedikit itu sebaik mungkin.

Abraham boleh terbuang dari Chelsea, tetapi bukan berarti kesempatan untuknya habis. Di Roma, boleh jadi dia bakal menemukan jalan lain untuk membuktikan diri. Terlebih, kans untuk menjadi pemain utama dan nyetel dengan sistem yang diterapkan terbuka lebar.

====

*Sampel diambil dalam dua musim mengingat pada paruh kedua musim 2020/21, kesempatan main Abraham menurun seiring kedatangan Thomas Tuchel.