Pesta Pora Arsenal di Markas Tottenham

Ilustrasi: Arif Utama.

Tak cuma sekali, Arsenal pernah memastikan gelar juara di markas Tottenham sebanyak dua kali.

London menjadi kota yang cukup banyak "menyumbangkan" tim untuk Premier League saat ini. Ada enam tim London yang mentas di kompetisi sepak bola tertinggi Inggris tersebut, yakni Chelsea, West Ham United, Brentford, Crystal Palace, Arsenal, dan Tottenham Hotspur.

Meski banyak, tak semua laga yang mempertemukan tim London akan berjalan dengan tensi tinggi. Contoh saja, duel antara Arsenal dan West Ham jelas tidak bisa disamakan dengan duel antara  Arsenal dan Tottenham, yang jelas-jelas punya rivalitas mengakar.

Secara teritori, Arsenal dan Tottenham adalah tetangga dekat. Jarak Tottenham Stadium dan Emirates Stadium saja hanya 7 kilometer atau 28 menit kalau berkendara dengan mobil.

Perkara teritori itu juga yang menjadi pangkal perseteruan kedua klub. Dahulu, Arsenal yang berasal dari tenggara memilih untuk pindah ke utara dan menetap di sana. Tottenham, sebagai klub yang lebih dulu berada di utara, merasa terganggu dengan kehadiran si pendatang.

Apes buat Tottenham, Arsenal yang datang belakangan itu lebih sukses dari sisi prestasi. Jadilah faktor penduduk asli London Utara itu terpinggirkan. Orang kini mengenal ada dua penghuni di London Utara dan salah satunya punya lemari trofi lebih berisi dibandingkan yang lainnya.

Di luar perseteruan panas soal asal-usul dan urusan prestasi, rivalitas Arsenal dan Tottenham juga pernah riuh ketika Sol Campbell, yang notabene adalah didikan akademi dan kapten The Lilywhites, memutuskan hengkang untuk membela The Gunners pada 2001.

Kepindahan tersebut makin menyesakkan bagi Tottenham karena tidak ada satu pun yang mengendusnya. Malah, ketika Arsene Wenger hendak memperkenalkan Campbell dengan menggelar sebuah konferensi pers, media mengira bahwa pelatih asal Prancis itu bakal memperkenalkan Richard Wright. Betapa terkejutnya mereka ketika Wenger masuk ke ruangan bersama Campbell.

Para pendukung Tottenham melabeli Campbell sebagai 'Judas'. Sebagai balasan, Campbell pun berlaku sebaik-baiknya sebagai 'Judas': Ia merayakan gelar juara Premier League di White Hart Lane bersama Arsenal tiga tahun usai membelot, sesuatu yang tak pernah ia rasakan dengan Tottenham sepanjang kariernya.

***

Bagi Arsenal dan pendukungnya, Premier League 2003/04 adalah musim yang sangat berkesan. Arsenal tak terkalahkan sepanjang musim. Tak tersentuh. Tim Arsenal pada musim itu lantas diabadikan dengan sebutan yang amat masyhur: The Invincibles.

Apa yang menjadi titik tertinggi bagi Arsenal merupakan pukulan telak untuk Tottenham. The Gunners tak cuma juara tanpa terkalahkan, mereka juga memastikan juara di rumah rivalnya itu,

Arsenal datang sebagai pemuncak klasemen Premier League dan berjarak dekat dengan ambang juara. Kekalahan Chelsea atas Newcastle United beberapa jam sebelumnya sangat menguntungkan Arsenal. Sebab, Robert Pires dan kolega membutuhkan hasil imbang untuk memastikan gelar juara.

Kedua tim mentas dengan kekuatan terbaiknya. Arsenal memainkan duet Thierry Henry dan Dennis Bergkamp di lini serang. Selain itu, Wenger menaruh empat pemain, yakni Patrick Vieira, Gilberto Silva, Robert Pires, dan Ray Parlour di lini tengah. Sementara, Campbell menjadi tembok di lini belakang bersama Kolo Toure.

Tottenham tak mau kalah. Ledley King menjadi komandan di lini belakang. Ia diduetkan bersama Stephen Kelly. Lantas, Mauricio Taricco dan Anthony Gardner mengapit keduanya sebagai bek tepi.

Namun, sekuat-kuatnya susunan pemain Tottenham hari itu, Arsenal terlihat akan memenangi pertandingan dengan mudah. Pasalnya, ketika laga baru berjalan tiga menit, gol sudah mereka buat lewat Vieira.

Serangan balik yang menjadi ciri khas Arsenal di musim itu menjadi skema lahirnya gol tersebut. Henry menjadi awalnya. Setelah menggiring bola, pemain asal Prancis itu lalu memberikannya kepada Bergkamp yang sedang membuka ruang di sisi kiri lapangan.

Tanpa pikir panjang, Bergkamp langsung mengirim umpan ke dalam kotak penalti. Vieira, yang muncul dari lini kedua, mengendus operan itu dengan baik. Ia kemudian menjadi penyelesainya dengan menceploskan bola ke dalam gawang Tottenham.

Vieira tidak cuma sekali menjadi pemeran penting dalam proses terciptanya gol Arsenal hari itu. Pada menit ke-35, ia gantian menjadi kreatornya. Kali ini, umpannya menjadi assist untuk gol Robert Pires ke gawang Kasey Keller.

Tottenham baru menggeberak pada babak kedua. Tendangan jarak jauh Jamie Redknapp pada menit ke-62 mempertipis skor menjadi 1-2. Gol tersebut membuat sang tuan rumah merasa punya harapan.  Setelahnya, Tottenham terus menggempur pertahanan Arsenal.

Sampai kemudian mereka mendapatkan skor penyeimbang pada injury time. Dari sebuah pelanggaran di dalam boks, The Lilywhites mendapatkan penalti. Robbie Keane, yang menjadi algojonya, tidak membuang percuma kesempatan tersebut dan membuat skor menjadi sama kuat: 2-2.

Hasil imbang tersebut dirayakan oleh para pendukung Tottenham. Mereka seakan lupa kalau Arsenal hanya butuh hasil imbang untuk meraih gelar juara.

"Mereka bisa menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Mereka merayakannya seperti memenangi Premier League. Sepertinya mereka tidak menyadari kalau kita cuma perlu satu poin untuk menjadi juara," ucap Henry seusai pertandingan.

"Kami merayakan gelar juara dan foto-foto di sana menjadi bukti hingga saat ini. Kami bisa tertawa lepas di akhir laga dan juga memberitahu kalau kami memenangi Premier League di White Hart Lane, dan itu bukan pertama kalinya," tutupnya.

Kendati begitu, perayaan juara cuma terjadi di atas lapangan. Di dalam ruang ganti, pemain Arsenal nampak frustrasi, terutama Jens Lehmann. Kiper Jerman itu tak terima Arsenal cuma bermain imbang.

Lehmann marah dan berteriak sekeras-kerasnya. Fragmen itu memperlihatkan betapa kuatnya mental pemain Arsenal pada era tersebut—dan betapa pentingnya meraih kemenangan atas Tottenham.

"Lehmann masuk ke ruang ganti dengan penuh emosi karena kami kebobolan di menit akhir. Laga tersebut memang spesial bagi para pemain yang tampil. Kami tahu laga ini sangat penting bagi suporter dan klub," kenang Gilberto Silva kepada Goal International.

Kendati masih dikenang sampai saat ini, musim 2003/04 bukanlah pertama kalinya Arsenal meraih gelar juara di White Hart Lane. Tarik mundur ke tahun 1971, Arsenal juga pernah menorehkan cerita serupa.

Kala itu, mereka bersaing dengan Leeds United untuk berburu gelar Football League (era sebelum Premier League). Pada laga terakhir, Arsenal harus bertandang ke White Hart Lane. Syarat Arsenal untuk membawa gelar juara ke Highbury cuma dua: Menang atau bermain imbang.


Keinginan Arsenal untuk mengunci gelar juara di White Hart Lane terbuka lebar. Hampir sepanjang pertandingan, mereka mampu menahan gempuran dari Tottenham. Sampai akhirnya, gelandang mereka, Ray Kennedy, yang menyarangkan bola ke gawang Tottenham usai menerima umpan George Amstrong. Pemain Arsenal bersuka cita. Mereka menjadi juara setelah unggul satu angka dari Leeds United.

Minggu (26/9/2021), Arsenal dan Tottenham akan kembali bertemu. Tak ada penentu gelar juara pada laga kali ini. Akan tetapi, yang namanya pertemuan antar-seteru, yang dipertaruhkan lebih dari sekadar hasil atau tiga poin.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.