Peta Persaingan Serie A 2021/22

Grafis: Arif Utama

Melihat geliat di bursa transfer, 4 tim ini layak dijagokan untuk memanaskan persaingan juara Serie A 2021/22

Serie A 2021/22 tinggal menghitung hari dan ada banyak kejadian tidak terduga yang melibatkan tim-tim besar musim panas lalu.

Musim lalu, Inter Milan berhasil menghentikan dominasi Juventus yang menjuarai Serie A sembilan musim beruntun. Kisah Inter kian lengkap setelah dua pemain mereka, Romelu Lukaku dan Nicolo Barella, mendapatkan penghargaan di akhir musim.

Jalan Inter untuk mempertahankan gelar diprediksi tidak akan berjalan mudah. AC Milan, runner up Serie A musim lalu, bergerak lincah di bursa transfer. Demikian pula dengan AS Roma, yang bermanuver dengan mengangkat Jose Mourinho sebagai pelatih kepala.

Melihat pergerakan tim-tim besar di bursa transfer, bagaimana Serie A musim ini akan berjalan? Apakah kembali jadi milik Inter? Atau jatuh ke kesebelasan lain?

Inter Milan


Musim panas 2021 berjalan tidak menyenangkan untuk Inter Milan. Akibat masalah keuangan, mereka terpaksa melepas beberapa sosok kunci. Mulai dari pelatih Antonio Conte hingga pemain-pemain, seperti Romelu Lukaku dan Achraf Hakimi.

Tidak berselang lama setelah Conte pergi, Inter memilih Simone Inzaghi. Inzaghi boleh jadi dipilih karena sama seperti Conte, menjadikan pola 3-5-2 sebagai tumpuan, meski kadang diubah menjadi 3-5-1-1 atau 3-4-2-1.

Inzaghi juga gemar bermain dalam tempo cepat dan melakukan serangan balik. Kemiripan ini bakal membuat Inter bermain dalam gaya yang sama seperti musim lalu. Apalagi Inter juga bermanuver di bursa transfer dengan mendatangkan bek kanan, Denzel Dumfries.

Plus: Senjata di Lini Tengah

Dibandingkan tim-tim besar lain, Inter punya pemain-pemain di lini tengah dengan kualitas merata. Apiknya lagi, mereka dapat bermain dalam berbagai macam peran dan tidak jarang memberikan kontribusi maksimal.

Lini tengah Inter bisa makin kuat setelah Matias Vecino dan Stefano Sensi sembuh dari cedera yang banyak membekap mereka musim lalu. Dua pemain ini bisa bermain sama baiknya baik ketika dipasang sebagai gelandang tengah atau gelandang serang.

Kekuatan Inter di tengah kian bertambah setelah Hakan Calhanoglu datang. Musim lalu, bersama AC Milan, Calhanoglu mampu mencetak 4 gol dan 9 assist.

Minus: Edin Dzeko Belum Cukup

Kehilangan Lukaku dipercaya bakal membuat lini depan Inter tidak lagi mengerikan. Pasalnya, musim lalu Lukaku menjadi pemain yang paling banyak mencetak gol dan assist untuk Inter di Serie A. Keputusan Inter mendatangkan Edin Dzeko pun dipertanyakan.

Dzeko tak punya daya jelajah setinggi Lukaku. Ia juga hanya piawai memerankan peran targetman dan kerap kesulitan saat harus berada cepat dengan lawan. Melihat gaya penyerang yang kerap digunakan oleh Inzaghi di Lazio, rasanya posisi penyerang Inter bakal jadi titik lemah.

AC Milan

AC Milan jadi salah satu tim papan atas yang aktif di bursa transfer musim panas. Dua pemain yang musim lalu berstatus pinjaman, Sandro Tonali dan Fikayo Tomori, kini statusnya permanen. Mereka juga mendatangkan Mike Maignan didatangkan untuk menggantikan Gianluigi Donnarumma.

Meski hanya mencatat 2,6 penyelamatan per 90 menit, rasio penyelamatannya mencapai 79%. Ia juga berhasil membuat 21 cleansheet di Ligue 1 dan menjadi kiper dengan cleansheet terbanyak di 5 kompetisi paling top di Eropa.

Selain Maignan, Milan juga mendapatkan Olivier Giroud dari Chelsea dengan biaya cukup murah, 1 juta euro. Melihat penampilan Giroud di pramusim dengan total 3 gol, sepertinya Milan cukup beruntung.

Plus: Banyak Opsi di Lini Depan

Keberadaan Olivier Giroud membuat lini depan Milan kian kaya. Meski musim lalu hanya mencetak 4 gol di Premier League, ia berhasil tampil impresif di pramusim. Di laga melawan Panathinaikos, ia bahkan bermain amat baik, entah di depan gawang atau saat bertugas menekan lawan.

Adanya Giroud bakal membuat beban Zlatan Ibrahimovic berkurang. Ibrahimovic menjadi tumpuan lini depan Milan musim lalu. Berdasarkan Milannews, pada 2021, saat Ibrahimovic bermain rasio kemenangan Milan mencapai 69%, saat Ibrahimovic absen presentase tersebut turun menjadi 38%.

Minus: Yakin Tidak Mencari Calhanoglu?

Kepergian Hakan Calhanoglu ke Inter diprediksi membuat Milan kesulitan. Meski kontribusi gol pemain asal Turki tersebut musim lalu menurun ketimbang musim 2019/20, ia punya pengaruh besar di atas lapangan.

Calhanoglu jadi satu-satunya pemain Milan yang mampu menciptakan 2 umpan ke kotak penalti atau lebih per 90 menit musim lalu. Ia juga berhasil membuat 6 shot-creating actions per 90 menit. Ibrahimovic yang jadi pemain terbanyak kedua dalam shot-creating actions hanya mampu membuat 3,73 per 90 menit.

Juventus


Berbeda dengan musim lalu yang jor-joran di bursa transfer, Juventus kini memilih lebih cermat dalam pengeluaran. Hanya ada dua pemain yang masuk, Kaio Jorge dan Manuel Locatelli.

Pembelian Locatelli terbilang menarik dan membuat pos gelandang tengah mereka kian sesak. Adanya Locatelli membuat Juventus kini memiliki gelandang yang bisa menghentikan lawan, sekaligus memulai serangan.

Musim lalu, Locatelli berhasil melepaskan 4,9 umpan jauh dan 1,5 intersep per pertandingan. Catatan tersebut lebih baik ketimbang gelandang Juventus lain, seperti Adrien Rabiot (1,2 umpan lambung dan 1,3 intersep) dan Weston McKennie (0,7 umpan lambung dan 0,8 intersep).

Plus: Variasi Taktik Massimiliano Allegri

Selain Locatelli, keputusan terbaik Juventus awal musim ini adalah mengangkat kembali Massimiliano Allegri sebagai pelatih. Pengalaman Allegri menangani tim niscaya bakal memperbaiki Juventus yang musim lalu kesusahan.

Dengan komposisi pemain yang dalam, Allegri diprediksi bakal menggunakan banyak pola--berbeda dengan Pirlo yang cenderung memilih 4-4-2. Variasi pola ini sendiri digunakan Allegri pada musim 2016/17 (yang jadi musim terbaiknya) dan 2018/19.

Minus: Bergantung pada Cristiano Ronaldo

Persoalan Juventus adalah ketergantungan pada Cristiano Ronaldo. Musim lalu, 3 dari 5 pertandingan yang tidak diikuti oleh Ronaldo, tidak berakhir dengan kemenangan. Persoalan Juventus kian besar apabila melihat turunnya performa Ronaldo.

Musim lalu, Ronaldo hanya mampu membuat 1,93 shot on target per 90 menit. Catatan ini menurun dibandingkan musim sebelumnya yang mencapai 2,07 shot on target per 90 menit.

AS Roma


AS Roma punya ambisi yang amat besar musim ini. Hal tersebut tidak hanya dibuktikan dengan keputusan memilih Jose Mourinho tapi juga keberanian mereka merogoh kocek dalam-dalam di bursa transfer. Sejauh ini, Roma nyaris menggelontorkan 100 juta euro untuk belanja pemain baru.

Tammy Abraham jadi nama termahal yang didatangkan Roma musim panas ini. Angka 40 juta euro yang dikeluarkan oleh Roma bahkan menjadikannya sebagai pemain termahal kedua sepanjang sejarah klub.

Pemain termahal Roma musim ini, Eldor Shomurodov, sejauh ini jadi bintang selama pramusim. Ia memiliki determinasi yang amat tinggi dan kecakapan dalam mencari ruang. Jika potensinya dimanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin ia bakal jadi senjata mematikan.

Plus: Perubahan-perubahan Jose Mourinho

Saat pertama datang, Mourinho langsung meninggalkan pola 3-4-2-1 yang jadi senjata Roma musim lalu. Ia menggunakan 4-2-3-1 yang kerap digunakannya selama menangani Tottenham Hotspur.

Mourinho juga membuat Roma bermain lebih ngeyel dengan menekan lawan lebih sering. Di masa pramusim tampak bagaimana Roma kerap membuat lawan kesusahan menekan karena pendekatan tersebut.

Minus: Lubang di Belakang

AS Roma merogoh 8 juta euro untuk mendapatkan jasa Roger Ibanez dari Atalanta. Apakah Ibanez cukup untuk menutup lubang besar di lini belakang Roma? Melihat musim lalu, rasanya ini belum cukup.

Roma kebobolan 58 kali musim lalu. Jumlah tersebut nyaris setara dengan angka kebobolan Cagliari yang menghuni posisi ke-16. Lantas masalahnya di mana?

Menurut pelatih Roma musim lalu, Paulo Fonseca, masalah mereka adalah ketidakmampuan pemain belakang menjaga organisasi saat ditekan lawan yang serangannya variatif. Simak saja laga uji tanding Roma melawan Real Betis dan tampak bagaimana banyaknya lubang di lini belakang mereka.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.