Piala Eropa 2020: Turnamennya para Flanker

Foto: @Euro2020

Di Piala Eropa 2020, tim dengan full-back atau wing-back yang ofensif dan agresif seperti Belanda, Italia, atau Belgia mampu tampil lebih meyakinkan. Mereka lebih produktif dan atraktif.

Apa persamaan Belanda, Italia, dan Belgia di Piala Eropa 2020 ini?

Ya, mereka adalah tiga tim paling produktif di fase grup. Mereka juga merupakan tiga tim yang mampu menyapu bersih laga di fase grup dengan kemenangan meyakinkan.

Namun, bukan itu saja. Belanda, Italia, dan Belgia punya sebuah kesamaan: Jika kamu punya full-back atau wing-back yang agresif untuk membantu serangan, gol akan datang untukmu.

Di Belanda, Denzel Dumfries sudah mencetak dua gol. Tak cuma itu, ia juga mencatatkan rerata 1 umpan kunci per laga. Menurut catatan Opta, Dumfries juga punya non-penalti expected goal (nPxG) sebesar 1,86. Paling tinggi di antara flanker manapun di Piala Eropa 2020. Ia sangat buas di kotak penalti lawan.

Di sisi kiri, Patrick van Aanholt mungkin lebih defensif ketimbang Dumfries. Namun, itu tak membuatnya bisa dipandang sebelah mata. Ia mencatatkan expected assist (xA) 0,37 sepanjang gelaran Piala Eropa 2020 ini. Lebih tinggi dari Dumfries (0,11).

Frank de Boer menungaskan dua wing-back-nya ini untuk maju ke depan. Mereka juga tak cuma dituntut mampu menguasai sisi tepi saja, tapi diperbolehkan untuk masuk ke half-space atau bahkan ke area tengah. Itulah kenapa sosok Dumfries sering sekali Anda lihat berada di kotak penalti lawan.

Kehadiran kedua wing-back ini membuat Belanda bisa bermain horizontal dan vertikal sama baiknya. Memanfaatkan lebar lapangan bisa, mau menyerang langsung lewat tengah pun keduanya akan siap membantu. Ini jugalah yang membuat Belanda jadi salah satu tim dengan sentuhan terbanyak di sepertiga area akhir dan juga kotak penalti lawan.

Di Italia, kita tahu ada sosok Leonardo Spinazzola yang tampil luar biasa. Ia memang belum mencatatkan satu assist atau satu gol pun. Ia cuma pernah terlibat dalam gol Ciro Immobile ke gawang Turki. Kala itu sepakannya yang membuat Immobile mendapatkan bola muntah dan bisa mencetak gol.

Akan tetapi, kehadiran Spinazzola amat sangat penting untuk taktiknya Roberto Mancini. Ketika Italia menyerang, pemain AS Roma ini akan overlap, naik tinggi untuk mengisi sisi tepi. Kehadirannya kemudian membuat Lorenzo Insigne sebagai penyerang sayap kiri bisa leluasa menusuk ke area tengah.

Itu membuat serangan Italia lebih bervariasi. Sebagai pemain yang bertugas menyisir sisi tepi, Spinazzola juga dianugerahi kecepatan, agresivitas, dan juga umpan silang yang cukup bagus. Paket lumayan lengkap sebagai seorang full-back modern.

Di sisi kanan pun, Italia punya Rafael Toloi yang sejauh ini sudah bikin sebiji assist. Memang, dalam sistem milik Mancini, full-back kanan akan ditugaskan lebih defensif dan dalam build-up mereka biasanya akan stay di belakang. Namun, ketika dalam situasi tertentu mereka overlap, serangan Italia akan makin berbahaya.

Lalu kita ke Belgia. Orang-orang mungkin tak terlalu mempedulikan Thorgan Hazard dan Thomas Meunier karena nyawa Belgia ada pada Kevin de Bruyne serta Romelu Lukaku. Namun, jangan lupa. Selain nama dua bintang itu, pencetak gol sisa Belgia di fase grup Piala Eropa 2020 adalah Thorgan dan Meunier, wing-back mereka.

Keduanya memang tak hanya diinsturksikan untuk mengisi sisi tepi saja, tapi juga untuk switch-position dengan para pemain depan Belgia. Thorgan dan Meunier bisa menusuk ke tengah dan para penyerang sayap yang akan mengisi sisi tepi. Ini bisa membuat serangan mereka bervariasi dan bikin lawan kebingungan. Karenanya tak heran jika Anda bisa melihat Lukaku berada di flank.

***

Piala Eropa 2020 adalah turnamennya para bek tepi atau bek sayap. Para full-back atau wing-back. The flanker(s). Apa pun pola permaianannya, tiga bek atau empat bek, para pelatih bisa menginstruksikan para full-back atau wing-back untuk bermain ofensif plus agresif, dan jawabannya adalah kreativitas atau bahkan gol.

Selain tiga tim di atas, tentunya ada juga tim lain di Piala Eropa 2020 ini yang tahu betul bagaimana caranya memaksimalkan para bek sayap atau tepi mereka. Austria salah satunya, di mana mereka betul-betul mengandalkan kreativitas seorang David Alaba. Pemain Real Madrid itu sejauh ini sudah mencatatkan dua assist dan jadi salah satu pemain dengan umpan kunci terbanyak (sembilan).

Denmark juga mengandalkan sosok Joakim Maehle yang di laga terakhir grup kontra Rusia berhasil mencetak sebiji gol. Ada juga Republik Ceko yang bertumpu pada umpan-umpan silang Vladimir Coufal untuk menciptakan gol. Kebetulan sang pemain juga sudah menciptakan satu assist sejauh ini.

Swiss pun sama juga. Mereka mengandalkan Steven Zuber sebagai pendulang kreativitas. Nyatanya itu terbukti ampuh. Zuber berhasil memberi tiga umpan berbuah gol saat menghadapi Turki di laga terakhir fase grup. Ia adalah salah satu pencetak assist terbanyak di Piala Eropa 2020 sejauh ini.

Spanyol dengan Jordi Alba-nya juga demikian. Kita tahu betapa bagusnya penampilan Alba di dua laga terakhir Spanyol, yakni vs Polandia dan vs Slovakia. Bahkan pada laga vs Polandia ia mendapatkan gelar Star of The Match. Selain itu, Alba juga sudah mencatat satu assist dan menjadi salah satu pemain dengan umpan kunci (via open play) terbanyak, yakni dengan angka lima.

Jerman juga bisa dijadikan contoh. Joachim Loew sebagai pelatih amat mengandalkan Robin Gosens di sisi kiri dan Joshua Kimmich di sisi kanan untuk membuat perbedaan. Dan sejauh apa yang kita lihat di fase grup, Gosens dan Kimmich memang bisa muncul sebagai pembeda saat lini depan dan tengah Jerman buntu.

Switch-play kedua pemain juga bagus dan itu bisa membuat Jerman pindah aliran serangan dengan cepat. Laga melawan Portugal jadi bukti sahih bahwa apabila Loew bisa memanfaatkan dua poemain ini dengan baik, maka Jerman dipastikan aman. Kebetulan Gosens dan Kimmich juga mendapatkan trofi Star of The Match di dua laga terakhir Jerman di fase grup.

Nah, omong-omong soal Star of The Match (gelar pemain terbaik laga di Piala Eropa 2020), ada tujuh trofi yang berhasil jadi milik para full-back atau wing-back. Adalah Dumfries (2x), Spinazzola, Alaba, Alba, Gosens, dan Kimmich yang berhasil mendapatkannya.

Tak cuma itu. Di Piala Eropa 2020, dari 60 pencetak gol (di luar pencetak gol bunuh diri) di fase grup, 9 nama merupakan pemain yang berposisi sebagai full-back atau wing-back. 15% kalau dipersentasikan. Lumayan banyak. Untuk urusan assist, dari 51 daftar pemberi umpan menjadi gol, ada 10 nama yang merupakan bek sayap/tepi. Persentasenya 19%.

***

Di luar tim-tim di atas, ada Prancis, Inggris, Swedia, dan Portugal yang mengambil jalan berbeda. Alih-alih menugaskan para full-back untuk lebih ofensif dan agresif, mereka justru membuat para full-back-nya untuk tampil lebih disiplin dan fokus pada pertahanan.

Prancis di bawah Didier Deschamps bukanlah tim yang ofensif. Karena itu, Deschamps tak menginstruksikan Benjamin Pavard atau duo Lucas, Hernandez dan Digne, untuk terus overlap guna membantu serangan. Mereka dituntut tahu diri. Naik jauh ke atas hanya di waktu yang tepat saja. Dan jika waktunya tidak pas, sebaiknya tetap di belakang dan siaga kalau ada serangan balik.

Ini memang membuat Prancis jadi lumayan sulit untuk ditembus, tapi ini juga membuat serangan mereka tak variatif. Jika sumbu serangan seperti Paul Pogba, Kylian Mbappe, dan Antoine Griezmann berhasil dimatikan lawan, maka Prancis minim alternatif. Laga melawan Hongaria bisa kita jadikan contohnya.

Inggris juga mirip-mirip. Gareth Southgate di atas kertas punya para full-back yang bagus kualitas ofensifnya. Luke Shaw, Ben Chilwell, Reece James, Kieran Trippier, atau bahkan Kyle Walker bisa ia andalkan untuk menyerang. Namun, kenyataannya, tidak demikian. Para full-back Inggris dituntut tampil lebih disiplin.

Bahkan satu dari dua full-back biasanya akan bertahan di belakang, membentuk shape tiga bek, saat Inggris dalam mode menyerang. Alhasil serangan Inggris seperti kurang garam. Sulit ditebak dan minim variasi. Ini pula yang membuat serangan jadi membosankan dan mereka cuma bisa mencetak dua gol sepanjang fase grup.

Sementara Swedia benar-benar memiliki full-back yang fokus pada pertahanan. Mikael Lustig dan Ludwig Augustinsson akan fokus pada pertahanan guna menjaga shape 4-4-2 konservatif mereka tetap kokoh. Di Portugal, Fernando Santos juga tidak memberi keleluasaan kepada Nelson Semedo dan Raphael Guerreiro untuk rajin menyerang sebagaimana yang kita lihat di level klub.

Meminimalisir peran full-back saat menyerang adalah salah satu kunci yang membuat Prancis, Inggris, dan Portugal tak seatraktif dan juga tidak segarang Belanda, Italia, atau Belgia. Mereka sama-sama tim besar, tapi Prancis, Inggris, dan Portugal lebih terlihat tidak meyakinkan di Piala Eropa 2020 ini.

***

Di Piala Eropa dan Piala Dunia sebelumnya (2016 dan 2018), kita melihat bahwa strategi yang dipakai tim seperti Portugal, Prancis, dan Inggris, dengan lebih fokus pada pertahanan dan tidak jor-joran serta terlalu agresif dalam menyerang, adalah cara yang bisa mendatangkan piala di akhir turnamen.

Namun, dengan semakin meyakinkannya tim-tim yang tampil atraktif dan ofensif berkat memanfaatkan para bek tepi atau bek sayap seperti Belanda, Italia, dan Belgia, akankah Piala Eropa 2020 ini berpihak kepada mereka yang berani tampil lebih menyerang?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.