Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Pisau Tajam Atalanta

Foto: Twitter @Atalanta_BC.

Bersama Gian Piero Gasperini, Atalanta menjadi tim yang identik dengan lini depan yang tajam. Bagaimana Gasperini bisa melakukannya?

Dunia berputar secepat kilat buat Gian Piero Gasperini. Pada 2011, dia tak ubahnya seorang pecundang usai ditendang dari kursi pelatih Inter Milan. Masa kerjanya bahkan tak sampai setengah musim.

Lima tahun berselang, segalanya berbalik. Bersama Atlanta yang dia pegang sejak 2016, Gasperini bersalin rupa menjadi pemenang dengan sederet catatan mencengangkan. Yang paling baru adalah keberhasilannya membawa Atalanta ke babak perempat final Liga Champions musim 2019/20.

Jelaslah Atalanta tak didesain untuk menjadi pesaing juara. Skuad mereka, sekilas, tampak seadanya. Siapa yang mengenal Robin Gosens sebelum mencuat bersama Atalanta? Pemain mana pula itu yang bernama Mario Pasalic? Atau Matteo Pessina? Atau Rafael Toloi?

Gasperini memang tak bertumpu pada sosok untuk mencapai apa yang ia pijak kini. Yang dia bawa dan andalkan adalah sistem untuk membuat Atalanta bermain kesetanan: Menekan tanpa kenal lelah dan menyerang seolah tiada lagi hari esok.

Kulminasinya, Atalanta jadi tim yang karib dengan gol. Tak sekali-dua kali mereka menang selisih 3, 4, 5, hingga 6 gol. Pada 2019–20, Atalanta bikin 98 gol, terbanyak di Serie A. Musim ini tak berbeda: Atalanta sudah mencetak 53 gol hanya dalam 23 pertandingan.

Jika sebelumnya orang-orang menjuluki Italia sebagai rajanya sepak bola defensif, Gasperini membuktikan bahwa itu tak lagi relevan. Catatan tersebut kian mencengangkan karena Gasperini mengandalkan skema tiga bek, skema yang dianggap kuno dan konon termasuk skemanya sepak bola defensif.

Anggapan skema tiga bek identik dengan sepak bola defensif sebetulnya amat mudah untuk dibantah. Faktanya, Barcelona era Pep Guardiola juga pernah bermain dengan skema tiga bek. Tentu saja, kamu layak disebut gila kalau mengatakan Barcelona-nya Guardiola memainkan sepak bola defensif.

Penerapannya bermacam-macam. Menurut WhoScored, Atalanta paling sering menggunakan 3-4-2-1 dan 3-4-1-2.

Gian Piero Gasperini. Foto: Twitter @Atalanta_BC.

Gasperini sebetulnya juga menerapkan skema itu ketika melatih Inter. Yang jadi masalah, perubahan yang dia bawa terlampau radikal. Para pemain tak cuma kesulitan beradaptasi, tetapi juga tak mampu memahami filosofi sepak bola Gasperini. Massimo Moratti yang tak sabar lantas memecatnya.

Di Atalanta, para pemain juga sempat kesulitan. Atalanta bahkan cuma meraih satu kemenangan dan kalah empat kali pada awal musim 2016/17— musim pertama Gasperini. Pembedanya, para petinggi Atalanta lebih sabar. Antonio Percassi, Presiden Atalanta, bahkan dengan tegas mengungkapkan keyakinannya.

“Sedikit pun saya tak ragu terhadap Gasperini,” ujar Percassi.

Keyakinan itu berbuah manis. Meski tak sekejap, Gasperini mampu mengubah Atalanta menjadi tim yang selalu tampil meyakinkan dan senantiasa memburu gol. Kuncinya terletak pada transisi dan sepak bola proaktif yang coba dia bawa.

Ketika lawan menguasai bola, para pemain Atalanta akan menekan lawan sesegera mungkin. Untuk hal ini, pemain di posisi manapun mesti terlibat, termasuk para penyerang. Mereka juga cukup sering menciptakan situasi overload di kedua sisi guna merebut bola secepat mungkin.

Menariknya, situasi overload seperti itu juga kerap terlihat tatkala Atalanta melancarkan serangan ke pertahanan lawan. Ini serupa dengan yang pernah diungkapkan Blair Newman dalam salah satu analisisnya di Tifo Football dua tahun lalu.

Dia bilang bahwa situasi overload di kedua sisi ketika menyerang terjadi karena Atalanta kerap memanfaatkan lebar lapangan. Biasanya, hal demikian terlihat saat Atalanta hendak mengubah zona bermain dari satu sisi ke sisi lainnya. Overload pun tersaji.

Masuk akal jika kemudian area possession Atalanta di sisi kiri dan kanan selalu dominan. Pada 2019–20, penguasaan bola di sisi kiri dan kanan sama-sama menyentuh angka 37%. Musim ini, penguasaan di sisi kiri mencapai 39%, sisi kanan 35%, sedangkan tengah cuma 26%.

Menurut Newman, pendekatan itu Atalanta lakukan guna membongkar pertahanan lawan yang bermain rapat. Namun, ini tak bakal berjalan lancar tanpa kehadiran dua wingback mereka: Robin Gosens di sebelah kiri dan Hans Hateboer — terkadang Joakim Maehle.

Kedua pemain itu amat aktif membuka ruang, terutama ketika melancarkan serangan. Tak hanya untuk menciptakan assist lewat crossing ataupun umpan tarik, tetapi juga sesekali mencetak gol. Kombinasi keduanya musim ini sudah menghasilkan 9 gol dan 4 assist untuk Atalanta.

Ketika Atalanta menembus perempat final Liga Champions 2019/20, kinerja duo wingback tersebut juga terbantu kehadiran Papu Gomez. Gara-garanya, Gomez yang berperan sebagai pengatur serangan di belakang dua striker kerap bergerak ke banyak sisi.

Di Atalanta, dia memang mendapatkan free role. Peran itu memberi kewenangan penuh buat Gomez dalam mengkreasi peluang. Rata-rata umpan kuncinya musim lalu mencapai 2,8 per laga. Karena peran free role pula, dia kerap berada di dekat Gosens ataupun Hateboer sebagai pembuka ruang.

Masuk akal jika kemudian para penggemar Atalanta cemas saat Gomez memutuskan hengkang. Namun, Gasperini bukan pelatih yang terpaku pada sosok. Ketajaman timnya terletak pada sistem. Maka, kepergian Gomez seolah tak berpengaruh.

Josip Ilicic. Foto: Twitter @Squawka.

Atalanta masih punya Josip Ilicic hingga Pessina untuk bergantian mengisi peran Gomez. Dari mereka, 5 gol dan 6 assist sudah tercipta. Ditambah pula, kedua penyerang Atalanta tetap tajam seperti musim lalu. Luis Muriel sudah bikin 14 gol, sedangkan Duvan Zapata 9 gol.

Dibalut sistem sepak bola yang Gasperini bawa, nama-nama itu membuat Atalanta jadi salah satu tim dengan lini serang paling menakutkan di Eropa. Catatan 53 gol mereka hanya kalah dari Inter Milan, Bayern Muenchen, Paris Saint-Germain, dan AS Monaco.

Namun, pada Kamis (25/2/2021) dini hari WIB, mereka bakal kedatangan tamu yang cukup merepotkan di 16 besar Liga Champions. Namanya Real Madrid. Beda dengan Atalanta, keunggulan tim asuhan Zinedine Zidane itu terletak pada pertahanan. Baru 19 kali mereka bobol di La Liga 2020–21.

Ini laga yang pas bagi Atalanta untuk menguji ketajaman lini depan mereka.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now