Pog-Bloom

Foto: Instagram @paulpogba.

Mengapa Paul Pogba terlihat tampil lebih bebas ketika bersama Timnas Prancis ketimbang ketika bermain untuk Manchester United? Well, ada beberapa faktor yang jadi penyebabnya.

Saya percaya bahwa football Twitter adalah rimba yang lebih liar daripada hutan belantara. Di dalamnya banyak (nama) pemain berusaha bertahan hidup dari berbagai cercaan. Hari ini Paul Pogba, besok Bruno Fernandes, entah lusa siapa lagi.

Lihat bagaimana mudahnya opini bergulir tanpa konteks. Satu opini buruk ditanggapi dengan opini memuakkan lainnya. Tidak ada yang namanya kemungkinan. Semuanya absolut. Kalau seorang pemain sudah dianggap buruk, ya, dia pasti selamanya dapat cap buruk terus.

Saya menganggapnya sebagai sebuah kemalasan. Kemalasan untuk melihat sebuah permasalahan dari berbagai sisi dan mendudukkannya ke dalam konteks. Alih-alih berpikir secara runut—atau melatih train of thought untuk berjalan dengan rapi—orang-orang lebih suka langsung melompat ke kesimpulan.

Saya kira, ini yang membuat rimba media sosial menjadi memuakkan. Dan ini bukan perkara urusan sepak bola semata. Barangkali, semuanya cuma perkara ketergesa-gesaan saja. Karena tergesa-gesa, semuanya menjadi reaktif. Lantas, pemikiran setengah-setengah itu tumpah begitu saja di atas kanvas yang cuma mengizinkan sedikit kata.

Jangan tanya betapa menyebalkannya ini dalam urusan debat sepak bola. Alih-alih berusaha menjelaskan, yang ada hanyalah debat kusir saling menghakimi. Biasanya, perdebatan soal pemain cuma berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan banal: ‘Jelek’, ‘bagus’, ‘overrated’, ‘underrated’, dan sebagainya. 

Tidak ada yang namanya ‘sedang jelek’ atau ‘sedang bagus’, padahal penilaian akan form seorang pemain bisa dipengaruhi banyak faktor. Entah itu perkara taktik, pemain-pemain yang mengelilinginya, posisi atau deployment yang berbeda, role, hingga persoalan mental dan kebugaran fisik. Alih-alih membahas perkara ‘why’ alias mengapa si pemain bisa tampil berbeda, banyak yang lebih suka langsung lompat ke kesimpulan hanya dengan melihat permukaan.

Contoh paling dekat adalah Bruno Fernandes. Setelah tampil apik pada laga melawan Hongaria di Piala Eropa 2020—dengan mengkreasikan 3 peluang—ia “menghilang” pada laga melawan Jerman. Namun, eks pelatih Manchester United dan Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, lebih suka memukul rata dan menilai Bruno menghilang sama sekali.

Bruno kemudian dihakimi sekali lagi ketika ia disebut-sebut “tidak kelihatan” pada pertandingan Belgia vs Portugal pada babak 16 besar, sekalipun ia masuk sebagai pemain pengganti. Kenyataannya, Portugal memang lebih suka memfokuskan serangan lewat sayap. Itulah mengapa, kamu bakal melihat Diogo Jota atau Bernardo Silva lebih “kelihatan” dalam proses build-up serangan Seleccao. Ini juga yang membuat Jota lebih gampang tersorot ketika ia membuat kesalahan sehingga membuatnya dikritik habis-habisan.

Pemain lain yang juga kena sorotan adalah Paul Pogba. Begitu ia tampil impresif bersama Prancis, pertanyaan yang sering muncul adalah “mengapa ia tidak bisa menampilkan permainan serupa bersama Manchester United?”

Ironisnya, pertanyaan yang sama juga muncul dari sejumlah pendukung United. Biasanya, anggapan yang muncul adalah Pogba tidak pernah tampil sungguh-sungguh bersama ‘Iblis Merah’. Namun, anggapan ini dengan mudah bisa dibantah mengingat selama berkostum United, ia berusaha sebisa mungkin tampil profesional. Kalaupun ada kegaduhan, biasanya muncul dari agennya, Mino Raiola.

Sementara dari kubu yang merupakan non-pendukung United mengira bahwa performa-performa buruk Pogba cuma muncul di United, sedangkan yang bagus-bagus ada bersama Prancis. Padahal, faktanya tidak demikian.

Ketika Pogba mengundang decak kagum pada pertandingan antara Prancis dan Jerman, sesungguhnya ia juga sudah berulang kali memperlihatkannya bersama United. Betul bahwa Pogba tidak selalu tampil bagus bersama The Red Devils, tetapi bukan berarti ia tampil buruk terus-terusan.

Ambil contoh pada musim 2020/21 ketika ia kesulitan mengembalikan kondisi tubuhnya ke level terbaik setelah terkena COVID-19. Pogba, yang tampil selama 1.893 menit di Premier League, masih mampu membuat 3 gol dan 3 assist. Ia membuat 2,99 xG (expected goals) dan 2,07 xA (expected assist).

Dari jumlah menit bermain itu, Pogba rata-rata membuat 1,14 umpan kunci per 90 menit. Jumlah itu tidak buruk mengingat Marcus Rashford, pemain dengan kreasi umpan terbaik kedua di United setelah Bruno Fernandes, membuat 1,35 umpan kunci per 90 menit.

Sudah begitu, Pogba bermain di berbagai posisi pula. Ia pernah dimainkan sebagai gelandang jangkar hingga akhirnya diplot sebagai false winger di sisi kiri. Posisi dan peran yang terakhir inilah yang kemudian membuat Pogba terlihat lebih impresif pada sepertiga akhir musim.

Jika itu belum cukup, mari kita bandingkan heatmap Pogba di Manchester United dan Prancis. Bersama United, Pogba nyaris menjadi gelandang sapu jagat. Ia berperan membantu pertahanan, ikut membantu melakukan build-up, hingga mengkreasikan peluang di sepertiga akhir lapangan.

Ini terlihat dari heatmap Pogba yang hampir menjamah seluruh area lapangan, baik itu area sentral maupun sayap. Selain itu, Pogba cukup bekerja keras di kedua sisi lapangan, baik di area timnya sendiri maupun area lawan.

Heatmap Paul Pogba di Manchester United pada Premier League 2020/21. Sumber: Sofascore.

Bandingkan dengan heatmap-nya bersama Timnas Prancis di Piala Eropa 2020. Terlihat jelas bagaimana Pogba hanya berfokus pada beberapa area tertentu, yakni area sentral dan sebelah kanan lapangan. Ia beruntung karena mendapatkan gelandang se-dinamis dan se-liat N’Golo Kante yang rela berbagi kerja keras.

Heatmap Paul Pogba di Timnas Prancis pada Piala Eropa 2020. Sumber: Sofascore.

Untuk urusan aksi defensif, Pogba justru terbilang lebih rajin di Prancis. Di United, menurut catatan WhoScored dan Sofascore, ia rata-rata membuat 1,4 tekel sukses, 1 intersep, 0,5 memenangi possession kembali, dan 1,4 sapuan per laga selama Premier League 2020/21. Di Prancis selama Piala Eropa 2020, ia rata-rata membuat 2,0 tekel sukses, 1,3 intersep, 1,7 memenangi possession kembali, dan 0,3 sapuan per laga.

Aksi defensif Paul Pogba bersama Manchester United di Premier League 2020/21. Sumber: Sofascore.
Aksi defensif Paul Pogba bersama Timnas Prancis di Piala Eropa 2020. Sumber: Sofascore.

Catatan tersebut pun menghadirkan pertanyaan tambahan: Mengapa Pogba terlihat bermain lebih nyaman dan lebih rela tampil habis-habisan ketika bersama Timnas Prancis?

Jawabannya sederhana: Ia lebih nyaman bermain untuk Prancis. Bersama Les Bleus, tanggung jawab yang ia emban tak sebanyak di United. Selain itu, ia dikelilingi oleh banyak superstar yang membuat kerjanya di lapangan menjadi lebih mudah.

Namun, menurut Andy Mitten di The Athletic, perbedaan performa Pogba juga ada hubungannya dengan urusan mental. Ketika pertandingan melawan Jerman belum tuntas, ponsel Mitten mendapatkan kiriman sebuah pesan. Pengirimnya adalah salah seorang yang dekat dengan Pogba.

“Paul butuh struktur (permainan). Saya tidak bilang Manchester United tidak memiliki struktur, selain itu hubungannya dengan Ole (Gunnar Solskjaer, Pelatih United) juga baik. Namun, di Prancis dia merasa dicintai oleh para pendukung dan dipercaya oleh (Pelatih Prancis, Didier) Deschamps. Dia butuh itu. Pemain-pemain yang mengelilinginya juga lebih baik di Prancis sehingga dia bermain dengan kepercayaan diri yang lebih baik dan ia bersenang-senang di sana,” kata orang itu.

Pogba, kata si orang dekat itu, juga merasa tidak perlu membuktikan apa-apa lagi di Timnas Prancis. Berbeda dengan di Inggris, di mana segala tindak-tanduk dan permainannya selalu berada dalam sorotan media. “Bersama Prancis, baik di dalam atau luar lapangan, dia tidak mendapatkan tekanan seperti itu. Lihat cara dia tertawa di konferensi pers. Itulah Paul yang sesungguhnya: Bahagia dan selalu tertawa, tidak tertekan dan stres seperti di Manchester,” ucapnya.

Sekarang tinggal bagaimana United menjaga salah satu pemain terbaiknya dengan sebaik-baiknya. Toh, Solskjaer juga pernah memperlihatkan bahwa ia bisa melindungi pemainnya—dalam kasus Mason Greenwood—dari sorotan media. Semuanya supaya Pogboom berubah menjadi Pogbloom, berkembang dan mekar sebagaimana mestinya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.